[Buku Bahasa Indonesia] Man's Search for Meaning - Viktor E. Frankl

POSTSKRIP 1984
Argumen bagi Optimisme Tragis

Dipersembahkan untuk mengenang Edith Weisskopf-Joelson, yang upaya perintisnya dalam logoterapi di Amerika Serikat telah dimulai sejak tahun 1955 dan yang sumbangannya bagi bidang ini sungguh tak ternilai.

Marilah terlebih dahulu kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang dimaksud dengan “optimisme tragis.” Secara singkat, istilah ini berarti bahwa seseorang tetap bersikap optimistis meskipun berhadapan dengan apa yang dalam logoterapi disebut sebagai “triad tragis,” yakni tiga aspek keberadaan manusia yang ditandai oleh: (1) penderitaan; (2) rasa bersalah; dan (3) kematian. Bab ini, pada hakikatnya, mengajukan pertanyaan: bagaimana mungkin seseorang mengatakan “ya” kepada kehidupan meskipun segala sesuatu yang demikian itu ada? Dengan kata lain, bagaimana kehidupan tetap dapat mempertahankan potensi maknanya walaupun memuat sisi-sisi tragis?

Bagaimanapun juga, “mengatakan ya kepada kehidupan meskipun dalam segala keadaan”—sebagaimana ungkapan yang menjadi judul salah satu buku saya dalam bahasa Jerman—mengandaikan bahwa kehidupan pada dasarnya selalu memiliki potensi makna dalam kondisi apa pun, bahkan dalam keadaan yang paling menyedihkan sekalipun. Hal ini pada gilirannya mengandaikan adanya kemampuan manusia untuk secara kreatif mengubah aspek-aspek negatif kehidupan menjadi sesuatu yang positif atau konstruktif. Dengan kata lain, yang terpenting adalah menjadikan setiap situasi yang ada sebagai yang terbaik mungkin. “Yang terbaik” itu, dalam bahasa Latin, disebut optimum—dan karena itulah saya berbicara tentang optimisme tragis: suatu optimisme di hadapan tragedi dan dalam pandangan terhadap potensi manusia yang, dalam bentuknya yang paling luhur, selalu memungkinkan: (1) mengubah penderitaan menjadi pencapaian dan prestasi manusiawi; (2) menjadikan rasa bersalah sebagai kesempatan untuk mengubah diri menjadi lebih baik; dan (3) menjadikan kefanaan hidup sebagai dorongan untuk bertindak secara bertanggung jawab.

Namun harus diingat bahwa optimisme bukanlah sesuatu yang dapat diperintahkan atau dipaksakan. Seseorang bahkan tidak dapat memaksa dirinya sendiri untuk bersikap optimistis secara sembarangan—melawan segala kemungkinan, melawan segala harapan. Dan apa yang berlaku bagi harapan juga berlaku bagi dua komponen lain dari triad tersebut: iman dan cinta pun tidak dapat diperintahkan atau dipaksakan.

Bagi orang Eropa, salah satu ciri khas budaya Amerika adalah bahwa berulang kali orang diperintahkan untuk “berbahagia.” Padahal kebahagiaan tidak dapat dikejar; ia harus muncul sebagai akibat. Seseorang harus memiliki alasan untuk “berbahagia.” Namun begitu alasan itu ditemukan, kebahagiaan akan hadir dengan sendirinya. Dengan demikian kita melihat bahwa manusia bukanlah makhluk yang mengejar kebahagiaan, melainkan makhluk yang mencari alasan untuk menjadi bahagia—terutama dengan mewujudkan makna potensial yang terkandung dan terpendam dalam suatu situasi tertentu.

Kebutuhan akan alasan ini serupa dengan fenomena manusiawi lain yang khas, yakni tawa. Jika Anda ingin seseorang tertawa, Anda harus memberinya alasan—misalnya dengan menceritakan sebuah lelucon. Sama sekali tidak mungkin membangkitkan tawa yang sungguh-sungguh dengan hanya menyuruhnya tertawa atau menyuruhnya memaksa dirinya sendiri untuk tertawa. Hal itu sama saja seperti menyuruh orang-orang yang berpose di depan kamera untuk mengatakan “cheese,” hanya untuk kemudian mendapati bahwa dalam foto yang jadi, wajah mereka membeku dalam senyum yang dibuat-buat.

Dalam logoterapi, pola perilaku semacam ini disebut hiper-intensi. Pola ini memainkan peranan penting dalam timbulnya neurosis seksual, baik berupa frigiditas maupun impotensi. Semakin seorang pasien—alih-alih melupakan dirinya dengan memberikan dirinya kepada yang lain—secara langsung berusaha mencapai orgasme, yakni kenikmatan seksual, semakin upaya mengejar kenikmatan seksual itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya, apa yang disebut “prinsip kenikmatan” pada kenyataannya justru menjadi perusak kenikmatan itu sendiri.

Begitu pencarian makna seseorang berhasil, hal itu bukan saja membuatnya bahagia, tetapi juga memberinya kemampuan untuk menghadapi penderitaan. Namun apa yang terjadi apabila pencarian makna itu berakhir sia-sia? Keadaan ini sangat mungkin berujung pada kondisi yang fatal. Ingatlah, misalnya, apa yang kadang-kadang terjadi dalam situasi ekstrem seperti kamp tawanan perang atau kamp konsentrasi. Di kamp tawanan perang, sebagaimana diceritakan kepada saya oleh para prajurit Amerika, muncul suatu pola perilaku yang mereka sebut give-up-itis. Di kamp konsentrasi, pola ini tampak pada mereka yang pada suatu pagi, pukul lima, menolak bangun untuk bekerja dan tetap tinggal di dalam barak, berbaring di atas jerami yang basah oleh air seni dan kotoran. Tidak ada apa pun—baik peringatan maupun ancaman—yang dapat membuat mereka mengubah keputusan mereka.

Kemudian sesuatu yang khas terjadi: mereka mengeluarkan sebatang rokok dari saku terdalam tempat rokok itu disembunyikan, lalu mulai merokok. Pada saat itu kami tahu bahwa dalam waktu sekitar empat puluh delapan jam ke depan kami akan menyaksikan mereka meninggal. Orientasi terhadap makna telah runtuh, dan sebagai gantinya pencarian kesenangan yang segera pun mengambil alih.