[Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
PENDAHULUAN
Akan tiba waktunya ketika penelitian yang tekun selama kurun yang panjang akan menyingkapkan hal-hal yang kini masih tersembunyi. Satu kehidupan manusia, sekalipun sepenuhnya dicurahkan untuk menatap langit, tidak akan cukup untuk menyelidiki perkara yang demikian luas … Maka pengetahuan ini hanya akan terungkap melalui rentang zaman yang panjang dan silih berganti. Akan datang suatu masa ketika keturunan kita akan merasa heran bahwa kita dahulu tidak mengetahui hal-hal yang bagi mereka begitu jelas … Banyak penemuan masih diperuntukkan bagi zaman-zaman yang belum tiba, ketika ingatan tentang kita telah lama terhapus. Alam semesta kita akan menjadi perkara yang amat sempit dan menyedihkan jika di dalamnya tidak terdapat sesuatu yang dapat diselidiki oleh setiap zaman … Alam tidak menyingkapkan rahasia-rahasiannya sekali untuk selamanya.
—Seneca, Natural Questions,
Buku 7, abad pertama
Pada masa-masa kuno, dalam percakapan sehari-hari maupun dalam adat kebiasaan, peristiwa-peristiwa yang paling biasa sekalipun dihubungkan dengan kejadian-kejadian kosmis yang paling agung. Sebuah contoh yang menawan adalah mantera melawan cacing yang oleh bangsa Asyur pada sekitar tahun 1000 S.M. dibayangkan sebagai penyebab sakit gigi. Mantera itu dimulai dengan asal-usul alam semesta dan berakhir dengan penawar sakit gigi:
Setelah Anu menciptakan langit,
Dan langit menciptakan bumi,
Dan bumi menciptakan sungai-sungai,
Dan sungai-sungai menciptakan terusan-terusan,
Dan terusan-terusan menciptakan rawa-rawa,
Dan rawa-rawa menciptakan cacing,
Cacing itu datang menghadap Shamash sambil menangis,
Air matanya mengalir di hadapan Ea:
“Apa yang akan engkau berikan kepadaku sebagai makananku,
Apa yang akan engkau berikan kepadaku sebagai minumanku?”
“Aku akan memberimu buah ara kering
Dan aprikot.”
“Apa artinya itu bagiku? Buah ara kering
Dan aprikot!
Angkatlah aku, dan biarkan aku tinggal
Di antara gigi-gigi
Dan gusi! …”
Karena engkau telah berkata demikian, wahai cacing,
Semoga Ea memukulmu dengan kekuatan
Tangan-Nya!
(Mantera melawan sakit gigi.)
Cara pengobatannya: bir kelas dua … dan minyak hendaklah engkau campurkan bersama; mantera itu hendaklah engkau ucapkan tiga kali di atasnya, lalu obat itu hendaklah engkau oleskan pada gigi.
Nenek moyang kita sangat ingin memahami dunia, tetapi mereka belum sepenuhnya menemukan metodenya. Mereka membayangkan suatu alam semesta yang kecil, ganjil, dan tertata rapi, di mana kekuatan-kekuatan yang dominan adalah para dewa seperti Anu, Ea, dan Shamash. Dalam alam semesta itu manusia memainkan peranan penting, meskipun tidak selalu sebagai pusatnya. Kita terikat secara erat dengan seluruh alam. Pengobatan sakit gigi dengan bir kelas dua pun dihubungkan dengan misteri-misteri kosmologis yang paling dalam.
Kini kita telah menemukan suatu cara yang kuat dan elegan untuk memahami alam semesta, sebuah metode yang disebut sains; metode ini telah menyingkapkan kepada kita suatu alam semesta yang begitu tua dan begitu luas sehingga urusan manusia, pada pandangan pertama, tampak seolah-olah tidak begitu berarti. Kita telah menjadi jauh dari Kosmos. Ia tampak jauh dan tidak relevan dengan kepentingan kehidupan sehari-hari. Namun sains tidak hanya menemukan bahwa alam semesta memiliki keagungan yang memabukkan dan menggugah jiwa; tidak hanya bahwa ia dapat dipahami oleh akal manusia; tetapi juga bahwa kita, dalam arti yang sangat nyata dan mendalam, merupakan bagian dari Kosmos itu—lahir darinya, dan nasib kita terjalin erat dengannya. Peristiwa-peristiwa manusia yang paling mendasar, bahkan yang paling sepele sekalipun, pada akhirnya dapat ditelusuri kembali kepada alam semesta dan asal-usulnya. Buku ini dipersembahkan bagi penjelajahan perspektif kosmis tersebut.
Pada musim panas dan musim gugur tahun 1976, sebagai anggota Viking Lander Imaging Flight Team, saya terlibat—bersama seratus rekan ilmuwan saya—dalam penjelajahan planet Mars. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita berhasil mendaratkan dua wahana antariksa di permukaan dunia lain. Hasilnya, yang dijelaskan lebih lengkap dalam Bab 5, sungguh luar biasa, dan makna historis misi itu tampak sangat jelas. Namun masyarakat luas hampir tidak mengetahui apa pun tentang peristiwa-peristiwa besar ini. Pers sebagian besar tidak memberi perhatian; televisi hampir sepenuhnya mengabaikan misi tersebut. Ketika menjadi jelas bahwa jawaban pasti mengenai apakah ada kehidupan di Mars tidak segera diperoleh, minat pun semakin merosot. Ada sedikit toleransi terhadap ambiguitas. Ketika kami menemukan bahwa langit Mars berwarna semacam kuning kemerahan—bukan biru seperti yang sebelumnya keliru dilaporkan—pengumuman itu disambut oleh paduan ejekan ringan dari para wartawan yang hadir; mereka menginginkan agar Mars, bahkan dalam hal ini, menyerupai Bumi. Mereka percaya bahwa khalayak mereka akan semakin tidak tertarik seiring Mars tampak semakin berbeda dari Bumi. Padahal bentang alam Mars sungguh menakjubkan, dan panorama yang terbentang di sana memukau. Dari pengalaman pribadi saya, saya yakin bahwa ada minat global yang sangat besar terhadap penjelajahan planet-planet dan terhadap banyak topik ilmiah yang berkaitan dengannya—asal-usul kehidupan, Bumi, dan Kosmos, pencarian kecerdasan di luar Bumi, serta hubungan kita dengan alam semesta. Saya juga yakin bahwa minat itu dapat dibangkitkan melalui medium komunikasi yang paling kuat: televisi.
Perasaan saya itu juga dibagikan oleh B. Gentry Lee, Direktur Analisis Data dan Perencanaan Misi Viking. Dengan penuh semangat kami memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap persoalan ini. Lee mengusulkan agar kami membentuk sebuah perusahaan produksi yang didedikasikan untuk menyampaikan sains dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Dalam bulan-bulan berikutnya kami didekati untuk berbagai proyek. Namun yang paling menarik sejauh ini adalah sebuah tawaran dari KCET, stasiun Public Broadcasting Service di Los Angeles. Pada akhirnya kami sepakat untuk memproduksi sebuah serial televisi tiga belas bagian yang berfokus pada astronomi, namun dengan perspektif kemanusiaan yang sangat luas. Serial itu ditujukan bagi khalayak umum, dirancang agar memukau secara visual dan musikal, serta mampu menyentuh hati sekaligus merangsang pikiran. Kami berbicara dengan para penyandang dana, merekrut seorang produser eksekutif, dan mendapati diri kami terlibat dalam sebuah proyek tiga tahun yang diberi judul Cosmos. Pada saat tulisan ini dibuat, serial tersebut diperkirakan telah ditonton oleh lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia—hampir lima persen dari populasi manusia di planet Bumi. Serial ini didedikasikan pada keyakinan bahwa masyarakat umum jauh lebih cerdas daripada yang selama ini sering diasumsikan; bahwa pertanyaan-pertanyaan ilmiah terdalam mengenai hakikat dan asal-usul dunia mampu membangkitkan minat dan gairah dari sangat banyak orang.
Zaman sekarang merupakan salah satu persimpangan besar bagi peradaban kita—mungkin juga bagi spesies kita. Jalan apa pun yang kita tempuh, nasib kita terikat secara tak terpisahkan dengan sains. Demi kelangsungan hidup yang paling sederhana sekalipun, kita perlu memahami sains. Lebih dari itu, sains adalah suatu kegembiraan; evolusi telah mengatur sedemikian rupa sehingga kita merasakan kesenangan ketika memahami—mereka yang memahami lebih mungkin untuk bertahan hidup. Serial televisi Cosmos dan buku ini merupakan suatu percobaan penuh harapan untuk menyampaikan sebagian dari gagasan, metode, dan kegembiraan dalam sains.
Buku ini dan serial televisinya berkembang secara bersamaan. Dalam arti tertentu masing-masing saling bertumpu pada yang lain. Banyak ilustrasi dalam buku ini didasarkan pada visual yang memukau yang disiapkan untuk serial televisi tersebut. Namun buku dan serial televisi memiliki khalayak yang agak berbeda serta memungkinkan pendekatan yang berlainan. Salah satu keutamaan besar sebuah buku adalah bahwa pembaca dapat kembali berulang kali kepada bagian-bagian yang samar atau sulit; hal ini baru mulai menjadi mungkin bagi televisi dengan berkembangnya teknologi pita video dan cakram video. Seorang penulis juga memiliki kebebasan yang jauh lebih besar dalam menentukan keluasan dan kedalaman topik bagi sebuah bab buku dibandingkan dengan batas yang kaku—lima puluh delapan menit tiga puluh detik—dari sebuah program televisi nonkomersial. Buku ini membahas banyak topik secara lebih mendalam daripada serial televisinya. Ada pula topik-topik yang dibicarakan dalam buku tetapi tidak dalam serial televisi, dan sebaliknya. Misalnya, representasi eksplisit dari Cosmic Calendar, yang ditampilkan dalam serial televisi, tidak dimuat di sini—sebagian karena Cosmic Calendar telah dibahas dalam buku saya The Dragons of Eden; demikian pula saya tidak menguraikan secara rinci kehidupan Robert Goddard di sini, karena terdapat sebuah bab dalam Broca’s Brain yang secara khusus didedikasikan untuknya. Namun setiap episode serial televisi mengikuti dengan cukup dekat bab yang bersesuaian dalam buku ini; dan saya percaya bahwa kenikmatan dari masing-masing akan bertambah apabila dirujuk satu sama lain. Dari lebih dari 250 ilustrasi penuh warna dalam edisi hardbound dan trade paperback dari Cosmos, hanya sebagian kecil yang dapat dimasukkan ke dalam edisi ini; tetapi semua ilustrasi yang diperlukan untuk memahami teks tetap disertakan.
Demi kejelasan, dalam sejumlah kasus saya memperkenalkan suatu gagasan lebih dari sekali—pada kemunculan pertama secara ringan, lalu dengan pembahasan yang lebih mendalam pada kemunculan-kemunculan berikutnya. Hal ini terjadi, misalnya, pada pengenalan objek-objek kosmis dalam Bab 1, yang kemudian dibahas dengan lebih rinci pada bagian-bagian selanjutnya; atau pada pembahasan mengenai mutasi, enzim, dan asam nukleat dalam Bab 2. Dalam beberapa kasus, konsep-konsep juga disajikan tidak menurut urutan sejarah. Sebagai contoh, gagasan para ilmuwan Yunani kuno dipaparkan dalam Bab 7, jauh setelah pembahasan mengenai Johannes Kepler dalam Bab 3. Namun saya berpendapat bahwa penghargaan terhadap para pemikir Yunani akan lebih baik diperoleh setelah kita melihat betapa dekatnya mereka dengan pencapaian yang nyaris mereka raih.
Karena sains tidak terpisahkan dari seluruh upaya manusia, ia tidak dapat dibahas tanpa bersentuhan—kadang sekilas, kadang secara langsung—dengan berbagai persoalan sosial, politik, religius, dan filosofis. Bahkan dalam pembuatan sebuah serial televisi tentang sains, pengabdian dunia terhadap kegiatan militer kerap menyusup ke dalamnya. Ketika kami mensimulasikan penjelajahan Mars di Gurun Mohave dengan sebuah replika skala penuh dari Viking Lander, kami berulang kali terganggu oleh Angkatan Udara Amerika Serikat yang sedang melakukan latihan pengeboman di wilayah uji coba terdekat. Di Aleksandria, Mesir, setiap pagi dari pukul sembilan hingga sebelas, hotel tempat kami menginap menjadi sasaran latihan serangan udara oleh Angkatan Udara Mesir. Di Samos, Yunani, izin untuk melakukan pengambilan gambar di mana pun ditahan hingga saat-saat terakhir karena manuver NATO dan apa yang jelas tampak sebagai pembangunan jaringan posisi artileri dan tank di bawah tanah serta di lereng-lereng bukit. Di Cekoslowakia, penggunaan walkie-talkie untuk mengoordinasikan logistik pengambilan gambar di sebuah jalan pedesaan menarik perhatian sebuah pesawat tempur Angkatan Udara Ceko, yang terus berputar-putar di atas hingga diyakinkan—dalam bahasa Ceko—bahwa tidak ada ancaman terhadap keamanan nasional yang sedang dilakukan. Di Yunani, Mesir, dan Cekoslowakia, kru film kami selalu didampingi ke mana pun oleh agen-agen aparat keamanan negara. Penyelidikan awal mengenai kemungkinan pengambilan gambar di Kaluga, Uni Soviet, untuk sebuah pembahasan yang direncanakan tentang kehidupan pelopor astronautika Rusia, Konstantin Tsiolkovsky, akhirnya tidak diteruskan—karena, sebagaimana kemudian kami ketahui, persidangan terhadap para pembangkang akan diselenggarakan di sana. Para kru kamera kami menerima tak terhitung banyaknya kebaikan hati di setiap negara yang kami kunjungi; namun kehadiran militer secara global, serta rasa takut di hati bangsa-bangsa, terasa di mana-mana. Pengalaman ini meneguhkan tekad saya untuk membahas, bila relevan, persoalan-persoalan sosial baik dalam serial maupun dalam buku ini.
Sains adalah suatu proses yang terus berlangsung. Ia tidak pernah berakhir. Tidak ada satu kebenaran mutlak terakhir yang akan dicapai, setelah itu semua ilmuwan dapat pensiun dengan tenang. Dan karena demikianlah keadaannya, dunia menjadi jauh lebih menarik—baik bagi para ilmuwan maupun bagi jutaan orang di setiap bangsa yang, meskipun bukan ilmuwan profesional, memiliki minat yang mendalam terhadap metode dan temuan-temuan sains. Maka, walaupun hanya sedikit dalam buku Cosmos ini yang telah menjadi usang sejak pertama kali diterbitkan, banyak temuan penting baru yang telah muncul.
Wahana antariksa Voyager 1 dan Voyager 2 telah menjelajahi sistem Saturnus dan menyingkapkan beragam keajaiban mengenai planet itu, sistem cincinnya yang rumit, serta gerombolan satelit yang mengitarinya. Barangkali yang paling menarik di antara semuanya adalah Titan, yang kini diketahui memiliki atmosfer yang agak menyerupai atmosfer Bumi purba, dengan lapisan kabut tebal yang tersusun dari molekul-molekul organik yang kompleks, dan mungkin pula memiliki samudra permukaan berupa hidrokarbon cair. Berbagai pengamatan juga baru-baru ini dilakukan terhadap cincin-cincin puing yang mengelilingi bintang-bintang muda. Cincin-cincin ini mungkin sedang menggumpal menjadi sistem-sistem planet yang baru, dan menunjukkan bahwa planet-planet mungkin sangat melimpah di antara bintang-bintang dalam galaksi Bima Sakti. Kehidupan juga ditemukan secara tak terduga memanfaatkan senyawa-senyawa belerang di celah-celah ventilasi bersuhu sangat tinggi di dasar samudra Bumi. Bukti baru pun terkumpul yang menunjukkan bahwa komet secara berkala terlempar ke bagian dalam tata surya, memicu kepunahan banyak spesies di Bumi. Kawasan luas ruang antargalaksi juga telah ditemukan yang tampaknya hampir tidak mengandung galaksi. Komponen-komponen baru dan penting dari alam semesta, yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai nasib akhirnya, juga telah diajukan.
Dan laju penemuan itu terus berlanjut. Wahana antariksa dari Jepang, dari Badan Antariksa Eropa, dan dari Uni Soviet dijadwalkan untuk mencegat Komet Halley pada tahun 1986. Teleskop Antariksa Amerika Serikat, observatorium yang mengorbit terbesar yang pernah dirancang, dijadwalkan diluncurkan sebelum akhir dekade ini. Peluang penting bagi misi wahana antariksa menuju Mars, menuju komet-komet lain, menuju asteroid, dan menuju Titan sedang terbuka. Wahana antariksa Amerika Serikat Galileo, yang dijadwalkan tiba di sistem Jupiter pada tahun 1988, dirancang untuk menjatuhkan wahana penyelidik pertama yang memasuki atmosfer salah satu planet raksasa. Namun laju penemuan ilmiah ini juga memiliki sisi yang suram: penelitian mutakhir menunjukkan bahwa setelah perang nuklir, jelaga dan debu yang terangkat tinggi ke atmosfer akan menggelapkan dan membekukan Bumi, menghasilkan bencana yang belum pernah terjadi bahkan bagi bangsa-bangsa yang tidak satu pun bom dijatuhkan di wilayahnya. Teknologi kita semakin memungkinkan kita menjelajahi keajaiban Kosmos—dan sekaligus mereduksi Bumi menjadi kekacauan. Kita beruntung hidup pada, dan bila kita cukup beruntung juga dapat memengaruhi, salah satu zaman paling menentukan dalam sejarah spesies manusia.
Dalam sebuah proyek sebesar ini, mustahil untuk mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah memberikan kontribusi. Namun saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada B. Gentry Lee; staf produksi Cosmos, termasuk para produser senior Geoffrey Haines-Stiles dan David Kennard serta produser eksekutif Adrian Malone; para seniman Jon Lomberg (yang memainkan peran penting dalam perancangan awal dan pengorganisasian visual Cosmos), John Allison, Adolf Schaller, Rick Sternbach, Don Davis, Brown, dan Anne Norcia; para konsultan Donald Goldsmith, Owen Gingerich, Paul Fox, dan Diane Ackerman; Cameron Beck; manajemen KCET, khususnya Greg Andorfer, yang pertama kali membawa proposal KCET kepada kami, Chuck Allen, William Lamb, dan James Loper; serta para penyandang dana dan ko-produser serial televisi Cosmos, termasuk Atlantic Richfield Company, Corporation for Public Broadcasting, Arthur Vining Davis Foundations, Alfred P. Sloan Foundation, British Broadcasting Corporation, dan Polytel International. Mereka yang turut membantu menjernihkan persoalan fakta maupun pendekatan juga dicantumkan pada bagian akhir buku ini. Namun tanggung jawab akhir atas isi buku ini tentu saja berada pada saya. Saya juga berterima kasih kepada staf di Random House, khususnya editor saya, Anne Freedgood, atas kerja mereka yang cakap serta kesabaran mereka ketika tenggat waktu serial televisi dan buku ini tampak saling bertabrakan. Saya memiliki utang budi khusus kepada Shirley Arden, asisten eksekutif saya, yang mengetik draf-draf awal buku ini dan mengawal draf-draf berikutnya melalui seluruh tahap produksi dengan kecakapan ceria yang menjadi cirinya. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cara di mana proyek Cosmos sangat berutang budi kepadanya. Saya juga sangat berterima kasih kepada pimpinan Cornell University yang memberi saya cuti dua tahun untuk mengerjakan proyek ini, kepada para kolega dan mahasiswa saya di sana, serta kepada rekan-rekan saya di NASA, JPL, dan dalam Voyager Imaging Team.
Utang terbesar saya dalam penulisan Cosmos ini tertuju kepada Ann Druyan dan Steven Soter, rekan penulis saya dalam serial televisi tersebut. Mereka memberikan sumbangan yang mendasar dan berulang terhadap gagasan-gagasan pokok beserta keterkaitannya, terhadap struktur intelektual keseluruhan setiap episode, serta terhadap keindahan gaya penulisannya. Saya sangat berterima kasih atas pembacaan kritis mereka yang penuh semangat terhadap versi-versi awal buku ini, atas saran-saran revisi mereka yang konstruktif dan kreatif melalui berbagai draf, serta atas kontribusi besar mereka terhadap naskah televisi yang dalam banyak hal memengaruhi isi buku ini. Kegembiraan yang saya rasakan dalam berbagai diskusi kami merupakan salah satu ganjaran terbesar yang saya peroleh dari proyek Cosmos.







Comments (0)