[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

KETERSEDIAAN, EMOSI, DAN RISIKO

Para peneliti risiko cepat melihat bahwa gagasan ketersediaan itu bersangkut-paut dengan urusan mereka. Sebelum karya kami dipublikasikan pun ahli ekonomi Howard Kunreuther, yang waktu itu ada dalam tahap awal karier yang dihabiskan untuk studi risiko dan asuransi, memperhatikan bahwa efek ketersediaan membantu menjelaskan pola pembelian asuransi dan tindakan perlindungan sesudah bencana. Korban dan orang yang nyaris jadi korban sangat khawatir sesudah bencana terjadi. Tiap kali setelah terjadi gempa besar, warga California untuk sementara membeli banyak asuransi dan melakukan tindakan perlindungan serta pencegahan. Mereka mengikat ketel pemanas untuk mengurangi kerusakan akibat gempa, menyegel pintu ruang bawah tanah agar tak kebanjiran, dan menyiapkan perbekalan darurat. Tapi ingatan bencana lama-lama pudar, demikian pula kekhawatiran dan kesiagaan. Dinamika ingatan membantu menjelaskan daur bencana, kekhawatiran, dan ketidakacuhan yang diakrabi para peneliti bencana berskala besar.

Kunreuther juga memperhatikan bahwa tindakan perlindungan, baik oleh individu maupun pemerintah, biasanya dirancang agar sesuai dengan bencana terburuk yang benar-benar dialami. Sejak zaman Mesir kuno, masyarakat telah mengukur ketinggian maksimal air sungai yang sering banjir dan selalu bersiap-siap berdasarkan pengukuran itu, menganggap banjir tidak akan naik lebih tinggi daripada batas air tertinggi yang ada. Bayangan bencana lebih parah tak mudah muncul dalam benak.

Penelitian bias ketersediaan yang paling berpengaruh dilakukan oleh teman-teman kami di Eugene, Paul Slovic, dan kolaborator lamanya, Sarah Lichtenstein, bersama mantan mahasiswa kami, Baruch Fischhoff. Mereka melaksanakan riset perintis mengenai persepsi masyarakat terhadap risiko, termasuk survei yang telah menjadi contoh standar bias ketersediaan. Mereka meminta para peserta survei memikirkan pasangan-pasangan penyebab kematian: diabetes dan asma, atau stroke dan kecelakaan. Pada tiap pasangan, peserta harus memilih penyebab yang lebih sering terjadi dan memperkirakan rasio frekuensi keduanya. Hasil mereka dibandingkan dengan statistika kesehatan pada waktu itu. Berikut contoh temuan mereka:

Stroke menyebabkan kematian dua kali lebih banyak daripada gabungan semua kecelakaan, tapi 80% responden menilai kematian akibat kecelakaan lebih mungkin terjadi.
Tornado dipandang lebih sering membunuh orang daripada asma, walau asma menyebabkan kematian 20 kali lipat lebih banyak.
Kematian akibat tersambar petir dianggap lebih kecil kemungkinannya daripada kematian akibat botulisme walaupun sebenarnya 52 kali lebih sering.
Kematian akibat penyakit 18 kali lebih banyak daripada kematian akibat kecelakaan, tapi keduanya dianggap berpeluang sama besar.
Kematian akibat kecelakaan dianggap 300 kali lebih mungkin terjadi daripada kematian akibat diabetes, tapi rasio sebenarnya adalah 1:4.

Hikmahnya jelas: perkiraan mengenai penyebab kematian dilencengkan liputan media. Peliputan itu sendiri bias, mengutamakan hal baru dan menyedihkan. Media bukan hanya membentuk minat masyarakat, melainkan juga dibentuk minat masyarakat. Para redaktur tak bisa mengabaikan tuntutan masyarakat untuk meliput secara luas topik dan pandangan tertentu. Peristiwa-peristiwa luar biasa menarik perhatian secara berlebihan, sehingga dipersepsi sebagai tak seluar biasa kenyataannya. Dunia dalam kepala kita bukanlah replika persis realitas; harapan kita atas frekuensi peristiwa terdistorsi kelimpahan dan kekuatan emosional pesan-pesan yang kita terima.

Perkiraan penyebab kematian merupakan penggambaran nyaris langsung atas aktivasi gagasan dalam ingatan asosiatif, dan juga contoh bagus substitusi. Namun, Slovic dan para koleganya mendapat wawasan lebih dalam: mereka melihat kemudahan gagasan berbagai risiko diingat dan reaksi emosional terhadap risiko-risiko itu terkait erat. Pemikiran dan gambar menakutkan mudah teringat oleh kita, dan pemikiran tentang bahaya yang mudah muncul serta gamblang membuat rasa takut makin besar.

Seperti sudah disebut, Slovic kemudian mengembangkan gagasan heuristik afeksi, yakni ketika orang membuat pertimbangan dan keputusan dengan melibatkan emosi: Apakah saya menyukainya? Apakah saya membencinya? Sekuat apa perasaan saya terhadapnya? Di banyak ranah kehidupan, kata Slovic, orang membentuk pendapat dan membuat pilihan yang langsung mengekspresikan perasaan mereka dan kecenderungan dasar mereka untuk mendekat atau menjauh, sering kali tanpa mengetahui mereka berbuat demikian. Heuristik afeksi adalah satu contoh substitusi, saat jawaban pertanyaan mudah (Bagaimana perasaan saya terhadap hal ini?) menjadi jawaban untuk pertanyaan yang jauh lebih sukar (Apa yang saya pikirkan mengenai hal ini?) Slovic dan para koleganya menghubungkan pandangan mereka dengan karya ahli neurosains Antonio Damasio, yang telah menggagas bahwa evaluasi emosional yang dilakukan orang, berikut keadaan tubuh dan kecenderungan mendekat/menjauh yang terkait, berperan penting dalam membimbing pengambilan keputusan. Damasio dan para koleganya telah mengamati bahwa orang yang tak menampilkan emosi yang tepat sebelum memutuskan, misalnya karena kerusakan otak, juga cacat kemampuannya untuk membuat keputusan baik. Ketidakmampuan dipandu "rasa takut yang sehat" terhadap konsekuensi buruk adalah cacat yang mengundang bencana.

Dalam suatu demonstrasi meyakinkan mengenai cara kerja heuristik afeksi, tim riset Slovic menyurvei pendapat mengenai berbagai teknologi, termasuk pemberian fluorida ke air, pabrik zat kimia, pengawet makanan, dan mobil, lalu meminta peserta survei mendaftar manfaat dan risiko tiap teknologi. Mereka mengamati korelasi negatif kelewat tinggi antara dua perkiraan yang dibuat para peserta: tingkat manfaat dan tingkat risiko yang mereka kaitkan dengan teknologi. Ketika orang menyukai suatu teknologi, mereka menganggapnya punya banyak manfaat dan risikonya kecil; ketika orang tidak menyukai suatu teknologi, mereka hanya dapat memikirkan kerugian akibat teknologi itu, dan hanya sedikit manfaat yang terpikirkan. Karena teknologi dipandang baik atau buruk saja, tidak ada hitung-hitungan untung-rugi yang perlu dihadapi. Perkiraan risiko dan manfaat makin erat hubungannya ketika dilakukan dengan batas waktu. Yang luar biasa, anggota-anggota British Toxicology Society menanggapi dengan cara yang sama: mereka menemukan sedikit manfaat pada benda atau teknologi yang mereka anggap merugikan, dan demikian pula sebaliknya. Afeksi konsisten adalah satu unsur inti apa yang saya sebut koherensi asosiatif.

Kemudian datanglah bagian terbaik percobaan itu. Sesudah menyelesaikan survei pertama, peserta membaca tulisan pendek berisi argumen mendukung berbagai teknologi. Beberapa diberi argumen yang berfokus pada berbagai manfaat suatu teknologi; yang lain diberi argumen yang menekankan rendahnya risiko. Pesan-pesan itu ampuh mengubah daya tarik emosional teknologi. Temuan mengejutkannya adalah bahwa orang yang sudah mendapat pesan mengenai manfaat suatu teknologi juga mengubah kepercayaannya mengenai risiko teknologi tersebut. Walau mereka tak menerima bukti yang relevan, teknologi yang jadi lebih mereka sukai itu juga dipandang kurang berisiko. Begitu pula, peserta yang hanya diberitahu bahwa risiko suatu teknologi itu kecil mengembangkan pandangan lebih positif terhadap manfaat teknologi tersebut. Kesimpulannya jelas: seperti dikatakan psikolog Jonathan Haidt dalam konteks lain, "Ekor emosional menggoyang anjing rasional." Heuristik afeksi menyederhanakan kehidupan kita dengan menciptakan dunia yang jauh lebih rapi dibanding realitas. Dalam dunia khayal itu, teknologi yang baik keburukannya sedikit, teknologi buruk tidak punya manfaat, dan semua keputusan itu mudah. Tentu saja di dunia nyata kita sering menghadapi perhitungan untung-rugi yang menyakitkan.

Paul Slovic barangkali tahu lebih banyak mengenai keanehan-keanehan pertimbangan risiko manusia dibanding siapa pun. Karyanya menawarkan gambaran Tuan dan Ny. Warganegara yang tak membanggakan: dipandu emosi, bukan nalar, mudah digoyahkan perincian remeh, dan kurang peka terhadap perbedaan probabilitas rendah dan sangat rendah. Slovic juga telah mempelajari para pakar, yang jelas lebih unggul dalam menangani angka dan jumlah. Para pakar menunjukkan banyak bias yang sama dengan kita dalam bentuk lebih lemah, tapi sering kali pertimbangan dan preferensi mereka mengenai risiko berbeda dengan orang lain.

Perbedaan antara pakar dan masyarakat sebagian dijelaskan oleh bias pertimbangan awam, tapi Slovic menarik perhatian ke situasi-situasi ketika perbedaan itu mencerminkan konflik nilai sungguhan. Slovic menunjukkan bahwa pakar sering mengukur risiko dengan jumlah jiwa (atau tahun masa hidup) yang hilang, sementara masyarakat membuat pembedaan lebih tajam, misalnya antara "kematian baik" dan "kematian buruk", atau antara kematian acak akibat kecelakaan dan kematian yang terjadi dalam kegiatan sengaja seperti main ski. Pembedaan yang sah ini sering diabaikan dalam statistika yang sekadar menghitung kasus. Berdasarkan pengamatan seperti itu Slovic berpendapat masyarakat punya konsep risiko yang lebih kaya daripada pakar. Alhasil, Slovic menolak keras pandangan bahwa pakar harus berkuasa, dan pendapat pakar harus diterima tanpa dipertanyakan kalau bertentangan dengan pendapat dan keinginan masyarakat lain. Ketika pakar dan masyarakat tidak sepakat, kata Slovic, "tiap pihak harus menghormati wawasan dan kecerdasan pihak lainnya."

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Dalam hasratnya membebaskan kendali atas kebijakan risiko dari pakar, Slovic telah menantang dasar kepakaran mereka: gagasan bahwa risiko itu objektif.

"Risiko" tidak ada "di luar sana", terbebas dari akal budi dan budaya kita, menunggu diukur. Manusia telah menciptakan konsep "risiko" untuk membantu mengerti dan menghadapi bahaya dan ketidakpastian dalam kehidupan. Walau segala bahaya itu nyata, tidak ada "risiko riil" atau "risiko objektif".

Untuk menggambarkan klaimnya, Slovic mencatat sembilan cara mendefinisikan risiko kematian terkait lepasnya satu bahan beracun ke udara, dari "kematian per sejuta orang" sampai "kematian per sejuta dolar nilai produk yang dihasilkan". Intinya evaluasi risiko bergantung kepada pilihan cara mengukur, dengan kemungkinan jelas pilihan itu dipengaruhi kesukaan terhadap satu hasil atau lainnya. Slovic lalu menyimpulkan bahwa "dengan demikian, definisi risiko adalah penggunaan kekuasaan". Boleh jadi Anda tak menduga bahwa perkara kebijakan yang serius bisa timbul dari percobaan psikologi pertimbangan! Tapi kebijakan ujung-ujungnya menyangkut orang juga, apa yang orang inginkan dan apa yang terbaik bagi orang. Tiap persoalan kebijakan melibatkan asumsi mengenai hakikat manusia, terutama perihal pilihan yang bisa diambil orang serta konsekuensi pilihan mereka bagi diri mereka sendiri dan masyarakat.

Cendekiawan lain dan kawan yang saya sangat kagumi, Cass Sunstein, sangat tidak setuju dengan pandangan Slovic mengenai perbedaan antara pakar dan masyarakat, dan membela peran pakar sebagai benteng terhadap ekses "populis". Sunstein seorang cendekiawan hukum paling terkemuka di Amerika Serikat, dan seperti pemimpin lain dalam profesinya dia juga punya keberanian intelektual. Sunstein tahu dia bisa menguasai bidang pengetahuan apa pun dengan cepat dan menyeluruh, dan dia memang menguasai beberapa bidang, termasuk psikologi pertimbangan dan pilihan, serta perkara peraturan dan kebijakan risiko. Menurut Sunstein, sistem peraturan yang ada di Amerika Serikat memiliki penetapan prioritas yang buruk, lebih mencerminkan reaksi terhadap tekanan masyarakat dibanding analisis objektif saksama. Sunstein memulai dari posisi bahwa pengelolaan risiko dan campur tangan pemerintah untuk mengurangi risiko harus dipandu perhitungan biaya dan manfaat yang rasional, dan bahwa satuan wajar untuk analisis tersebut adalah jumlah jiwa yang selamat (atau barangkali jumlah tahun kehidupan yang selamat, sehingga memberi bobot lebih besar kepada penyelamatan kaum muda) dan biaya dalam dolar kepada ekonomi. Peraturan yang buruk mengancam jiwa dan memboroskan uang, dan kedua hal itu bisa diukur secara objektif. Sunstein tak terbujuk oleh argumen Slovic bahwa risiko dan pengukuran risiko itu subjektif. Banyak aspek penilaian risiko bisa dipertanyakan, tapi Sunstein percaya kepada objektivitas yang bisa dicapai sains, kepakaran, dan pertimbangan mendalam.

Sunstein percaya bahwa reaksi bias terhadap risiko adalah suatu sumber penting kesalahan prioritas dalam kebijakan publik. Legislatif dan eksekutif bisa terlalu menanggapi keprihatinan masyarakat yang tak rasional, sebagian karena kepekaan politik dan sebagian lagi karena mereka sama-sama rentan mengalami bias kognitif sebagaimana masyarakat. Sunstein dan seorang kolaborator, ahli hukum Timur Kuran, menciptakan nama untuk mekanisme mengalirnya bias ke dalam kebijakan: kucuran ketersediaan. Mereka berkomentar bahwa dalam konteks sosial, "semua heuristik setara, tapi ketersediaan lebih setara dibanding yang lain." Mereka memikirkan gagasan heuristik yang lebih luas, saat ketersediaan menjadi heuristik untuk pertimbangan selain frekuensi. Khususnya, pentingnya suatu gagasan sering ditentukan oleh kemudahan mencari (dan muatan emosional) gagasan itu.

Suatu kucuran ketersediaan adalah rangkaian peristiwa yang menopang diri sendiri, yang bisa berawal dari laporan media atas satu peristiwa relatif kecil dan mengarah ke kepanikan publik dan tindakan skala besar pemerintah. Di beberapa kesempatan, satu berita media mengenai suatu risiko menarik perhatian sebagian masyarakat, yang menjadi terpancing dan gelisah. Reaksi emosional itu menjadi berita lagi, menambah jumlah liputan media, sehingga menghasilkan kekhawatiran dan keterlibatan lebih besar. Siklusnya kadang dipercepat dengan sengaja oleh "wiraswasta ketersediaan", individu atau organisasi yang bekerja memastikan aliran berita mengkhawatirkan terus-menerus. Bahaya dibesar-besarkan selagi banyak media bersaing menarik perhatian dengan judul berita. Para ilmuwan dan pihak lain yang mencoba meredam rasa takut dan ngeri hanya sedikit diperhatikan, dan perhatiannya pun negatif: siapa pun yang mengatakan bahwa bahaya tersebut dilebih-lebihkan dituduh terlibat persekongkolan. Perkara itu menjadi penting secara politis karena ada dalam kepala semua orang dan tanggapan sistem politik dipandu kekuatan sentimen masyarakat. Kucuran ketersediaan sudah mengubah prioritas. Risiko lain, dan cara lain menggunakan sumber daya untuk kemaslahatan umum, terlupakan.

Kuran dan Sunstein berfokus kepada dua contoh yang masih kontroversial sampai sekarang: peristiwa Love Canal dan Alar. Di Love Canal, negara bagian New York, limbah beracun yang dikubur terangkat kembali dalam satu musim hujan tahun 1979, menyebabkan pencemaran air yang parah dan bau busuk. Penduduk setempat marah dan ketakutan, dan salah seorangnya, Lois Gibbs, sangat aktif berusaha menghidupkan perhatian terhadap masalah di sana. Kucuran ketersediaan terjadi seperti biasa. Pada puncaknya, setiap hari ada berita mengenai Love Canal, para ilmuwan yang mencoba menyatakan bahwa bahayanya dilebih-lebihkan diabaikan atau disuruh diam, ABC News menayangkan program berjudul The Killing Ground, dan peti mati kosong untuk bayi dipamerkan di depan gedung DPRD. Sejumlah besar penduduk direlokasi atas tanggungan pemerintah, dan pengendalian limbah beracun menjadi isu lingkungan besar 1980-an. Peraturan perundang-undangan yang memerintahkan pembersihan situs yang tercemar limbah beracun, disebut CERCLA atau Superfund, dianggap sebagai prestasi besar perundang-undangan lingkungan. Peraturan itu juga mahal, dan sebagian pihak telah mengklaim bahwa uang yang diserap Superfund bisa saja menyelamatkan lebih banyak jiwa andai disalurkan ke prioritas lain. Pendapat mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Love Canal masih saling bertentangan, dan klaim kerusakan kesehatan sungguhan tampaknya tak terbukti. Kuran dan Sunstein menulis mengenai Love Canal hampir sebagai peristiwa khayalan, sementara di pihak lawan, para aktivis lingkungan masih menyebutnya "bencana Love Canal".

Perbedaan pendapat juga terjadi pada contoh kedua yang digunakan Kuran dan Sunstein untuk menggambarkan konsep kucuran ketersediaan, peristiwa Alar, yang dikenal oleh para pengecam isu lingkungan sebagai "teror Alar" tahun 1989. Alar adalah zat kimia yang disemprotkan ke apel untuk mengatur pertumbuhan dan memperbaiki penampilan. Teror dimulai dengan berita bahwa zat kimia tersebut, kalau dikonsumsi dalam dosis sangat besar, menyebabkan tumor kanker pada tikus. Berita itu jelas menakutkan masyarakat, dan ketakutan mendorong lebih banyak liputan media, mekanisme dasar kucuran ketersediaan. Topik Alar mendominasi berita dan menimbulkan peristiwa media dramatis seperti kesaksian aktris Meryl Streep di Kongres AS. Industri apel mengalami kerugian besar karena apel dan produk apel jadi ditakuti. Kuran dan Sunstein mengutip seorang warga yang menelepon untuk bertanya "apakah lebih aman membuang jus apel ke selokan atau ke pembuangan sampah beracun?". Pembuat Alar menarik produk tersebut dan FDA melarangnya. Riset selanjutnya menunjukkan bahwa Alar bisa saja berisiko sangat kecil sebagai penyebab kanker, tapi insiden Alar jelas reaksi berlebihan terhadap masalah kecil. Efek total insiden itu kepada kesehatan masyarakat malah mungkin merugikan karena apel yang baik-baik saja jadi lebih jarang dikonsumsi.

Cerita Alar menggambarkan satu keterbatasan dasar pada kemampuan akal budi kita menghadapi risiko kecil: kita abaikan atau besar-besarkan risiko kecil itu—tidak ada sikap di antaranya. Tiap orangtua yang tak tidur semalaman menunggu anak perempuannya yang terlambat pulang dari pesta tahu perasaan itu. Boleh jadi Anda tahu sebenarnya (hampir) tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi Anda tak bisa tidak membayangkan sesuatu yang buruk. Seperti dikatakan Slovic, jumlah perhatian tidak sesuai dengan peluang bencana; Anda membayangkan kasus-kasusnya—kisah tragis yang Anda lihat di berita—dan tidak memikirkan keseluruhan. Sunstein menciptakan istilah "pengabaian probabilitas" untuk menjabarkan pola itu. Kombinasi pengabaian probabilitas dengan mekanisme sosial kucuran ketersediaan tak pelak lagi menyebabkan dibesar-besarkannya ancaman kecil, kadang dengan konsekuensi besar pula.

Di dunia saat ini, teroris adalah pemicu kucuran ketersediaan yang paling sering. Dengan beberapa kekecualian parah seperti 11 September, jumlah korban serangan teroris sangat kecil, relatif terhadap penyebab kematian lain. Bahkan di negara-negara yang telah menjadi sasaran operasi teror intensif, seperti Israel, jumlah korban teroris mingguan hampir tidak pernah mendekati jumlah korban kecelakaan lalu lintas. Perbedaannya terletak pada ketersediaan kedua jenis risiko, kemudahan dan frekuensi kemunculannya dalam benak. Gambar-gambar mengerikan, yang diulang-ulang di media, menyebabkan semua orang gelisah. Sebagaimana pengalaman saya sendiri, sukar mengajak diri sendiri bernalar agar sepenuhnya tenang. Terorisme berbicara langsung ke Sistem 1.

Di mana posisi saya dalam debat antara teman-teman saya? Kucuran ketersediaan itu nyata dan tak diragukan lagi melencengkan prioritas alokasi sumber daya publik. Cass Sunstein kiranya mencari mekanisme yang melindungi pembuat keputusan dari tekanan masyarakat, supaya alokasi sumber daya ditentukan oleh pakar yang punya pandangan luas atas segala risiko dan sumber daya yang tersedia untuk mengurangi risiko. Paul Slovic kurang percaya pakar dan lebih percaya masyarakat daripada Sunstein, dan dia menunjukkan bahwa menjauhkan pakar dari emosi masyarakat menghasilkan kebijakan yang akan ditolak masyarakat—situasi yang mustahil dalam suatu demokrasi. Keduanya sama-sama masuk akal, dan saya sepakat dengan mereka berdua.

Seperti Sunstein, saya juga gelisah akibat pengaruh ketakutan tak rasional dan kucuran ketersediaan terhadap kebijakan publik dalam ranah risiko. Namun, seperti Slovic saya juga percaya bahwa ketakutan yang tersebar luas, biarpun tak beralasan, seharusnya tak diabaikan oleh para pembuat kebijakan. Rasional atau tidak, rasa takut itu menyakitkan dan melumpuhkan, dan para pembuat kebijakan harus berusaha melindungi masyarakat dari rasa takut, bukan hanya dari bahaya sungguhan.

Slovic dengan tepat menekankan penolakan masyarakat atas gagasan keputusan yang diambil para pakar yang tak dipilih dan tak bertanggung jawab kepada mereka. Selain itu, kucuran ketersediaan boleh jadi punya manfaat jangka panjang karena menarik perhatian ke kelas-kelas risiko dan meningkatkan ukuran total anggaran pengurangan risiko. Insiden Love Canal boleh jadi menyebabkan banyak sumber daya disalurkan ke pengelolaan limbah beracun, tapi juga punya pengaruh lebih umum berupa peningkatan prioritas pelestarian lingkungan. Demokrasi pasti berantakan, sebagian karena heuristik ketersediaan dan afeksi yang memandu kepercayaan dan sikap masyarakat itu pasti bias, biarpun secara umum menunjuk ke arah yang benar. Ilmu psikologi harus membimbing perancangan kebijakan risiko yang memadukan pengetahuan pakar dengan emosi dan intuisi masyarakat.

BICARA TENTANG KUCURAN KETERSEDIAAN
"Dia memuji-muji satu inovasi yang katanya bermanfaat besar dan tidak memerlukan biaya. Saya curiga ada heuristik afeksi."
"Ini kucuran ketersediaan: satu kejadian tidak penting dibesar-besarkan media dan masyarakat sampai terus ada di layar TV dan dibicarakan semua orang."

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment