[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

KEMUDAHAN KOGNITIF

Apabila Anda sedang sadar, dan barangkali juga ketika Anda tak sadar, banyak perhitungan berlangsung dalam otak Anda, untuk memelihara dan memperbarui jawaban-jawaban terkini bagi sejumlah pertanyaan penting:

  • Adakah hal baru yang terjadi?
  • Adakah ancaman?
  • Apakah semua berjalan baik-baik saja?
  • Haruskah saya mengalihkan perhatian?
  • Apakah tugas ini butuh usaha lebih?

Anda bisa membayangkan kokpit pesawat, dengan sejumlah meteran yang menunjukkan nilai terbaru masing-masing variabel. Penilaiannya dilakukan secara otomatis oleh Sistem 1, dan salah satu fungsinya adalah menentukan perlu tidaknya usaha tambahan dari Sistem 2.

Salah satu meteran itu mengukur kemudahan kognitif, dengan kisaran antara "Mudah" dan "Susah".

  • Mudah adalah pertanda bahwa segalanya berjalan baik-baik saja: tak ada ancaman, tak ada berita besar, tak perlu mengalihkan perhatian atau mengerahkan usaha.
  • Susah berarti ada masalah, yang akan membutuhkan peningkatan pengerahan Sistem 2.

Dalam keadaan demikian, Anda mengalami kesusahan kognitif. Kesusahan kognitif dipengaruhi tingkat usaha terkini dan kehadiran kebutuhan yang belum dipenuhi. Yang mengagetkan adalah satu pengukur kemudahan kognitif berhubungan dengan jejaring besar berbagai masukan dan keluaran. Gambar 5 di halaman 55 menjelaskannya.

SIAP MENERIMA GAGASAN

SUASANA HATI BAIK

Gambar itu menggagas bahwa suatu kalimat yang ditulis dengan huruf-huruf yang jelas, atau sudah diulangi, atau sudah disiapkan untuk pikiran, akan diproses lancar dengan kemudahan kognitif.

Jika Anda mendengarkan seseorang dengan suasana hati yang baik, atau bahkan ketika Anda menggigit pensil melintang sehingga "tersenyum", kemudahan kognitif juga terpicu.

Sebaliknya, Anda mengalami kesusahan kognitif ketika:

  • Membaca perintah yang hurufnya tak jelas,
  • Warna tulisannya pudar,
  • Bahasanya rumit,
  • Suasana hati Anda buruk,
  • Bahkan ketika Anda cemberut.

Bermacam-macam penyebab kemudahan atau kesusahan memiliki efek yang saling timbal balik. Saat berada dalam keadaan kemudahan kognitif, suasana hati Anda cenderung baik. Anda menyukai apa yang Anda lihat, mempercayai apa yang Anda dengar, yakin pada intuisi, dan merasa situasi yang dihadapi akrab serta nyaman. Anda pun relatif santai, berpikir ringan, dan mudah menerima informasi.

Sebaliknya, ketika mengalami kesusahan kognitif, Anda lebih waspada dan curiga. Segala tindakan memerlukan lebih banyak usaha, kenyamanan berkurang, dan kesalahan menjadi lebih sedikit. Namun, kreativitas dan intuisi Anda pun menurun.

Ilusi Mengingat

Kata ilusi sering membuat kita teringat pada ilusi pandangan, karena kita familiar dengan gambar yang mengecoh mata. Namun, ilusi tak hanya muncul pada penglihatan; ingatan pun rentan terhadapnya.

Bayangkan nama-nama berikut: David Stenbill, Monica Bigoutski, Shana Tirana. Nama-nama ini sengaja dibuat. Jika beberapa menit kemudian Anda melihat salah satu nama tersebut, Anda mungkin ingat di mana pertama kali melihatnya. Anda tahu, setidaknya sementara, bahwa nama-nama itu bukanlah pesohor terkenal.

Sekarang bayangkan beberapa hari ke depan Anda disodori daftar panjang nama, yang mencampur pesohor dan nama-nama baru. Tugas Anda adalah menandai semua pesohor. Kemungkinan besar, Anda akan mengidentifikasi David Stenbill sebagai orang terkenal, meski tidak tahu dalam konteks film, olahraga, atau politik.

Larry Jacoby, psikolog yang pertama kali meneliti fenomena ini, menamai artikelnya “Becoming Famous Overnight”. Jacoby menunjukkan bahwa rasa akrab ini muncul bukan karena pengetahuan faktual, tetapi karena kemudahan kognitif: kata-kata yang pernah dilihat menjadi lebih mudah diproses dan terasa familiar.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Eksperimen lain menunjukkan bahwa kata baru yang dipersiapkan sebelumnya—misalnya ditampilkan sebentar atau lebih menonjol—lebih mudah dikenali. Sebaliknya, kata yang sulit dibaca terasa asing. Fenomena ini membuktikan bahwa kemudahan dan kesusahan kognitif bisa saling bertukar, sehingga apa yang kita anggap akrab tidak selalu mencerminkan pengalaman nyata.

Ilusi Kebenaran

Pertimbangkan kalimat-kalimat berikut:

  • “New York adalah kota besar di Amerika Serikat.”
  • “Bulan mengelilingi Bumi.”
  • “Ayam berkaki empat.”

Dua kalimat pertama jelas benar, yang terakhir salah. Namun, “Ayam berkaki tiga” terasa lebih jelas salah daripada “Ayam berkaki empat”, karena mekanisme asosiatif memperlambat penilaian, menunjukkan bahwa banyak hewan memang berkaki empat. Sistem 2 kemudian meninjau fakta itu, menyaring informasi, dan memverifikasi kebenaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat tes SIM, kita sering menggunakan kemudahan kognitif untuk menebak jawaban yang terasa akrab. Sistem 1 memberikan kesan cepat, dan Sistem 2 mengandalkannya untuk membuat pertimbangan benar atau salah.

Pelajaran dari eksperimen ini: pengulangan dan rasa familiar meningkatkan kepercayaan. Bahkan satu frasa yang akrab dalam pernyataan sudah cukup untuk membuat keseluruhan kalimat terasa benar, meski informasinya palsu.

Menulis Pesan Persuasif

Jika Anda ingin menulis pesan yang dipercaya:

  1. Kurangi kesusahan kognitif pembaca
    • Gunakan teks yang mudah dibaca, kertas berkualitas, dan kontras huruf-latar yang tinggi.
    • Pilih warna yang mudah dilihat: biru terang atau merah lebih efektif daripada hijau, kuning, atau biru pucat.
    • Gunakan bahasa sederhana; hindari kosakata berlebihan yang terlihat mengesankan tapi membingungkan. Penelitian Danny Oppenheimer menunjukkan bahasa rumit justru menurunkan kredibilitas.
  2. Buat pesan mudah diingat dan menarik
    • Sampaikan gagasan dalam kalimat puitis atau bersajak. Misalnya:
      • Bersajak: “Woes unite foes” → Kesedihan mempersatukan lawan
      • Tak bersajak: “Woes unite enemies” → Kesedihan mempersatukan musuh
    • Peribahasa bersajak cenderung dianggap lebih berbobot dan persuasif dibanding versi tak bersajak.

Terakhir, jika menyebut sumber, pilihlah yang namanya mudah disebut. Dalam sebuah eksperimen, peserta diminta menilai prospek perusahaan Turki fiktif berdasarkan laporan dari dua firma pialang. Untuk tiap saham, satu laporan berasal dari firma dengan nama mudah disebut (misalnya, Artan) dan yang lain dari firma dengan nama sulit disebut (misalnya, Taahhut). Kadang, kedua laporan bertentangan.

Prosedur ideal adalah menimbang keduanya secara adil, tetapi para pengamat lebih cenderung percaya pada laporan Artan. Sistem 2 itu malas, dan usaha mental terasa menyebalkan. Penerima pesan cenderung menghindari apa pun yang memerlukan usaha, termasuk sumber dengan nama sulit.

Namun, kualitas penyampaian—kertas bermutu tinggi, warna terang, bahasa puitis dan sederhana—tidak membantu jika pesan tidak masuk akal atau bertentangan dengan fakta yang dianggap benar audiens. Psikolog tidak percaya bahwa semua orang bodoh atau mudah ditipu. Yang mereka temukan adalah bahwa kita sebagian besar hidup dibimbing oleh kesan Sistem 1, tanpa menyadari sumbernya.

Bagaimana kita tahu suatu pernyataan benar? Jika sesuai logika, asosiasi dengan kepercayaan kita, atau berasal dari sumber yang disukai, kita merasakan kemudahan kognitif. Masalahnya, kemudahan itu bisa timbul dari sebab lain—misal, font yang enak dibaca atau bahasa puitis—dan sulit menelusuri sumber perasaan tersebut. Gambar 5 menunjukkan bahwa rasa kemudahan atau kesusahan punya banyak penyebab, dan kita sulit memilahnya. Sulit, tapi tidak mustahil. Orang bisa mengatasi sebagian ilusi kebenaran jika termotivasi, tetapi biasanya Sistem 2 yang malas akan mengikuti saran Sistem 1.

Kesusahan dan Usaha

Simetri banyak hubungan asosiatif adalah tema koherensi asosiatif. Orang yang dibuat tersenyum atau cemberut dengan pensil di mulut cenderung merasakan emosi terkait ekspresi itu. Hal serupa terjadi dengan kemudahan kognitif: kesusahan kognitif muncul ketika Sistem 2 bekerja keras, dan pengalaman kesusahan mendorong Sistem 2 untuk beralih dari intuisi santai ke analisis tekun.

Tes Refleksi Kognitif Shane Frederick mencontohkan fenomena ini. Contoh soal:

  1. Jika 5 mesin butuh 5 menit untuk membuat 5 barang, berapa lama 100 mesin untuk membuat 100 barang? (Jawaban: 5 menit)
  2. Di danau, luas permukaan teratai bertambah dua kali lipat tiap hari. Jika danau penuh dalam 48 hari, berapa lama untuk setengah luas? (Jawaban: 47 hari)

Dalam percobaan dengan 40 mahasiswa Princeton, separuh membaca soal dengan font abu-abu pudar (sulit dibaca). Hasil: 90% mahasiswa dengan font normal membuat setidaknya satu kesalahan, tetapi hanya 35% ketika tulisan sulit dibaca. Kesusahan kognitif meningkatkan keterlibatan Sistem 2 dan mengurangi jawaban intuitif yang salah.

Menyenangkannya Kemudahan Kognitif

Percobaan “Mind at Ease Puts a Smile on the Face” menunjukkan bahwa kemudahan visual memicu reaksi emosional positif, meski pengamat tidak sadar melihatnya. Kata-kata atau nama yang mudah diucapkan juga memancing rasa suka.

Contohnya: perusahaan dengan nama mudah diucapkan atau kode saham mudah dibaca cenderung lebih baik kinerjanya, meski efek ini bersifat sementara. Studi di Swiss menemukan investor percaya saham dengan nama mudah diucapkan (misal, Emmi, Swissfirst, Comet) akan memberi hasil lebih tinggi daripada yang sulit diucapkan (misal, Geberit, Ypsomed).

Efek paparan belaka (mere exposure effect) Robert Zajonc menunjukkan bahwa pengulangan rangsangan memicu rasa suka, bahkan tanpa kesadaran. Contoh: kata-kata Turki fiktif muncul di koran mahasiswa dengan frekuensi berbeda. Kata yang muncul lebih sering dinilai lebih baik. Efek ini berlaku pada kata, gambar, aksara, bahkan rangsangan yang tidak disadari.

Zajonc menekankan efek ini adalah fakta biologis: hewan bereaksi hati-hati pada rangsangan baru, tetapi menganggapnya aman setelah terbukti tidak berbahaya. Studi pada ayam menunjukkan anak ayam yang mendengar nada tertentu saat masih dalam telur lebih tenang setelah menetas jika mendengar nada yang sama.

Zajonc memberikan ringkasan yang baik mengenai program penelitiannya:
Konsekuensi pengulangan paparan itu berguna bagi organisme dalam hubungannya dengan lingkungan hidup dan tak hidup di sekelilingnya. Organisme jadi bisa membedakan benda dan habitat yang aman dengan yang tidak, dan itulah dasar keterikatan sosial yang paling primitif. Oleh karena itu, pengulangan paparan adalah dasar organisasi dan kohesi sosial—sumber dasar kestabilan psikologis dan sosial.

Kaitan antara emosi positif dan kemudahan kognitif di Sistem 1 pun punya riwayat evolusioner yang panjang.

Kemudahan, Suasana Hati, dan Intuisi

Sekitar tahun 1960, seorang psikolog muda bernama Sarnoff Mednick berpikir dia telah menemukan esensi kreativitas. Gagasannya sederhana sekaligus kuat: kreativitas adalah ingatan asosiatif yang bekerja sangat baik. Mednick membuat satu tes, disebut Remote Association Test (RAT, Tes Asosiasi Jarak Jauh), yang masih sering digunakan dalam penelitian kreativitas.

Untuk contoh mudahnya, simak tiga kata berikut:

  • cottage – Swiss – cake

Bisakah Anda pikirkan satu kata yang berhubungan dengan ketiganya? Barangkali Anda bisa menemukan bahwa jawabannya adalah cheese (keju).

Sekarang coba yang ini:

  • dive – light – rocket

Soalnya jauh lebih sukar, tapi punya satu jawaban benar yang unik, yang dikenali tiap penutur bahasa Inggris, walau kurang dari 20% dalam sampel mahasiswa bisa menemukannya dalam 15 detik. Jawabannya adalah sky (langit).

Tentu saja, tak semua kumpulan tiga kata punya keterkaitan dengan satu kata. Contohnya, kata-kata dream – ball – book tak punya hubungan bersama yang semua orang anggap sah.

Beberapa tim psikolog Jerman yang telah mempelajari RAT akhir-akhir ini telah mendapat penemuan-penemuan luar biasa mengenai kemudahan kognitif. Salah satu tim mengajukan dua pertanyaan:

  1. Bisakah orang merasakan bahwa suatu kumpulan tiga kata punya kesamaan tema sebelum mereka tahu apa temanya?
  2. Bagaimana suasana hati memengaruhi prestasi dalam tugas itu?

Untuk mencaritahu, mereka pertama-tama membuat beberapa subjek mereka bahagia dan yang lainnya sedih, dengan meminta para subjek memikirkan peristiwa bahagia atau sedih dalam kehidupan mereka selama beberapa menit. Mereka lalu menyajikan sejumlah kumpulan tiga kata kepada para subjek, yang setengahnya punya hubungan satu sama lain (seperti dive – light – rocket) dan setengahnya lagi tak punya hubungan (seperti dream – ball – book), serta menyuruh para subjek menekan satu dari dua tombol dengan cepat untuk menandakan dugaan mereka, apakah tiga kata itu ada hubungannya satu sama lain atau tidak. Waktu yang diperkenankan untuk membuat tebakan, 2 detik, terlalu pendek bagi kemunculan jawaban sebenarnya dalam pikiran siapa pun.

Kejutan pertama adalah bahwa tebakan orang jauh lebih akurat daripada kalau menebak secara acak. Saya anggap itu luar biasa. Rasa kemudahan kognitif rupanya dibangkitkan oleh sinyal sangat samar dari mesin asosiatif, yang "tahu" bahwa ketiga kata itu koheren (ada hubungannya satu sama lain) lama sebelum hubungan itu ditemukan.

Peran kemudahan kognitif dalam pertimbangan ditunjukkan kembali dalam percobaan oleh tim Jerman lain: manipulasi yang meningkatkan kemudahan kognitif (penyiapan, jenis huruf yang gampang dibaca, menampilkan kata-kata lebih awal) meningkatkan kecenderungan melihat kata-kata itu sebagai saling berkaitan.

Satu penemuan luar biasa lainnya adalah efek suasana hati yang kuat pada prestasi intuitif. Para pelaku percobaan menghitung "indeks intuisi" untuk mengukur akurasi. Mereka mendapati bahwa membuat para peserta berada dalam suasana hati yang baik sebelum tes, dengan menyuruh peserta memikirkan hal baik, membuat peserta menebak lebih akurat. Yang lebih mengejutkan adalah subjek yang tidak bahagia sepenuhnya tak mampu melakukan tugas intuitif dengan akurat; tebakan mereka tidak lebih baik daripada tebakan acak. Agaknya suasana hati memengaruhi operasi Sistem 1: ketika kita tak nyaman dan tak bahagia, kita kehilangan hubungan dengan intuisi kita.

Temuan-temuan itu menambah bukti yang menunjukkan bahwa suasana hati yang baik, intuisi, kreativitas, kemungkinan ditipu, dan peningkatan pengandalan Sistem 1 membentuk satu gugusan. Di ujung lain, kesedihan, kewaspadaan, kecurigaan, pendekatan analitis, dan peningkatan usaha juga menjadi satu gugusan. Suasana hati yang baik mengendurkan kendali Sistem 2 atas prestasi: kalau suasana hati sedang baik, orang menjadi lebih intuitif dan kreatif tapi juga kurang waspada dan lebih rawan mengalami kesalahan logika. Lagi-lagi, seperti pada efek paparan belaka, hubungan itu masuk akal secara biologis. Suasana hati yang baik adalah tanda bahwa segalanya berjalan lancar, lingkungan aman, dan tidak apa-apa kalau menurunkan kewaspadaan. Suasana hati yang buruk menandakan bahwa ada yang tidak beres, mungkin ada ancaman, dan kehati-hatian dibutuhkan. Kemudahan kognitif adalah sebab sekaligus akibat perasaan yang enak.

Remote Association Test dan Koherensi

Remote Association Test memberitahu kita lebih banyak lagi mengenai hubungan antara kemudahan kognitif dan pengaruh positif. Simak dua kumpulan kata ini:

  • sleep – mail – switch
  • salt – deep – foam

Anda tentu saja tidak tahu, tapi pengukuran kegiatan elektrik di otot wajah Anda kiranya menunjukkan senyum kecil ketika Anda membaca kumpulan kedua, yang koheren (jawabannya sea [laut]). Reaksi senyum terhadap koherensi muncul di subjek yang tak diberitahu apa-apa mengenai kesamaan tema; mereka sekadar ditunjukkan tiga kata dan diperintahkan menekan tombol sesudah membacanya. Kesan kemudahan kognitif yang datang bersama penampilan kumpulan kata yang koheren tampaknya sedikit menyenangkan.

Bukti yang kita punya mengenai perasaan enak, kemudahan kognitif, dan intuisi terhadap koherensi itu, sebagaimana kata ilmuwan, berkorelasi tapi tak mesti berhubungan sebab akibat. Kemudahan kognitif dan senyum terjadi bersamaan, tapi apakah perasaan enak benar-benar menyebabkan intuisi koherensi? Ya, benar. Buktinya datang dari satu pendekatan percobaan cerdas yang telah menjadi makin populer. Beberapa peserta diberi penjelasan yang menyediakan tafsiran alternatif untuk perasaan enak mereka: mereka diberitahu mengenai musik yang dimainkan di earphone bahwa "riset terdahulu menunjukkan bahwa musik itu memengaruhi reaksi emosional orang". Penjelasan itu langsung menghilangkan intuisi koherensi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tanggapan emosional singkat yang mengikuti tampilan kumpulan tiga kata (menyenangkan kalau tiga kata itu koheren, tidak menyenangkan kalau tidak koheren) sebenarnya menjadi dasar pertimbangan koherensi. Tidak ada yang tak bisa dilakukan Sistem 1 di sana. Perubahan emosional bisa diperkirakan, dan karena tak mengejutkan, perubahan itu tak berhubungan sebab akibat dengan kata-kata.

Itulah sebaik-baiknya riset psikologi sejauh ini, dengan kombinasi teknik percobaan dan hasil, yang sama-sama kuat sekaligus sangat mengejutkan. Kita sudah belajar banyak mengenai kerja otomatis Sistem dalam beberapa puluh tahun belakangan. Banyak yang kita ketahui sekarang mungkin terdengar seperti fiksi sains tiga puluh atau empat puluh tahun lalu. Dulu tak terbayangkan bahwa bentuk huruf yang jelek memengaruhi pertimbangan kebenaran dan prestasi kognitif, atau bahwa tanggapan emosional terhadap kemudahan kognitif tiga kata membantu munculnya kesan koherensi. Psikologi sudah melangkah jauh.

Bicara Tentang Kemudahan Kognitif

  • "Jangan tolak rencana bisnis mereka hanya karena jenis hurufnya susah dibaca."
  • "Kita pasti terpengaruh untuk percaya karena hal itu sering sekali diulang-ulang, tapi ayo kita pikirkan lagi."
  • "Keakraban menimbulkan rasa suka. Ini efek paparan belaka."
  • "Suasana hatiku sedang baik sekali hari ini, dan Sistem 2-ku lebih lemah daripada biasanya. Sebaiknya aku lebih berhati-hati."

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment