[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman
BAGIAN 1
DUA SISTEM
1.
TOKOH-TOKOH DALAM CERITA
Untuk mengamati akal budi Anda dalam mode otomatis, lihatlah gambar berikut.
Pengalaman Anda sewaktu melihat wajah si perempuan memadukan dengan mulus apa yang biasanya kita sebut melihat dan berpikir intuitif. Sebagaimana Anda langsung yakin bahwa rambutnya berwarna gelap, Anda juga tahu dia marah. Selain itu, pandangan Anda merentang ke masa depan. Anda merasa perempuan ini akan mengeluarkan kata-kata tidak baik, barangkali dengan suara keras dan melengking.
Dugaan apa yang akan dia lakukan langsung terbayang secara otomatis, tanpa Anda perlu berusaha. Anda tidak berusaha menilai isi hati si perempuan atau menebak-nebak apa yang akan dia lakukan, dan reaksi Anda terhadap gambar itu tidak terasa seperti sesuatu yang dilakukan. Reaksi itu terjadi begitu saja. Itulah contoh berpikir cepat.
Sekarang perhatikan soal berikut:
17 x 24
Anda langsung tahu bahwa soal itu adalah perkalian, dan mungkin tahu bahwa Anda bisa menyelesaikannya dengan kertas dan pensil, kalau tidak bisa di luar kepala. Anda juga punya pengetahuan intuitif samar mengenai kisaran kemungkinan jawabannya. Anda kiranya cepat tahu bahwa 12.609 dan 123 sama-sama kecil kemungkinannya menjadi jawaban soal tersebut. Namun, tanpa menghabiskan waktu mengerjakan soal itu, Anda tak bakal yakin jawabannya bukan 568. Jawaban yang tepat tak langsung terpikir, dan Anda merasa Anda dapat memilih untuk menghitungnya atau tidak. Jika belum melakukannya, sebaiknya Anda coba kerjakan soal itu sekarang.
Anda mengalami berpikir lambat selagi menjalani serangkaian langkah. Pertama, dari ingatan Anda ambil program kognitif perkalian yang dipelajari di sekolah, lalu gunakan. Menghitung butuh usaha. Anda merasakan beban menyimpan banyak bahan dalam ingatan karena perlu tahu di mana posisi Anda dan ke mana tujuan Anda, sambil menyimpan hasil sementara. Prosesnya adalah usaha mental: disengaja, butuh usaha, dan teratur—prototipe berpikir lambat.
Perhitungan bukan hanya peristiwa di kepala; tubuh Anda juga terlibat. Otot-otot Anda menegang, tekanan darah Anda naik, dan denyut jantung makin cepat. Orang yang memandangi mata Anda dari dekat ketika Anda mengerjakan soal bakal melihat pupil Anda melebar. Pupil Anda kembali ke ukuran normal sesudah soal selesai dikerjakan—ketika Anda mendapat jawabannya (408) atau menyerah.
DUA SISTEM
Selama puluhan tahun para psikolog sangat tertarik dengan dua cara berpikir yang dipicu gambar perempuan marah dan soal perkalian, serta menawarkan banyak label untuk keduanya. Saya menggunakan istilah-istilah yang diajukan dua psikolog, Keith Stanovich dan Richard West, serta menyebut dua sistem dalam akal budi itu Sistem 1 dan Sistem 2.
Sistem 1 beroperasi secara otomatis dan cepat, dengan sedikit atau tanpa usaha dan tanpa ada perasaan sengaja dikendalikan.
Sistem 2 memberikan perhatian kepada aktivitas mental yang membutuhkan usaha, termasuk perhitungan rumit. Operasi Sistem 2 sering dikaitkan dengan pengalaman subjektif menjadi pelaku, memilih, dan berkonsentrasi.
Istilah Sistem 1 dan Sistem 2 banyak digunakan dalam psikologi, tapi saya melangkah lebih jauh dalam buku ini, yang bisa Anda baca sebagai psikodrama dengan dua tokoh.
Ketika berpikir mengenai diri sendiri, kita menganggap diri kita Sistem 2, diri yang sadar, bernalar, memiliki kepercayaan, membuat pilihan, memutuskan apa yang dipikirkan dan dilakukan. Walau Sistem 2 percaya bahwa dirinya adalah pelaku utama, Sistem 1 yang otomatislah yang menjadi tokoh utama buku ini.
Saya menjabarkan Sistem 1 sebagai pihak yang dengan mudah memunculkan kesan dan rasa yang menjadi sumber utama kepercayaan gamblang serta pilihan sengaja pada Sistem 2. Operasi otomatis Sistem 1 menghasilkan pola gagasan yang ternyata rumit, tapi hanya Sistem 2 yang lebih lambat yang bisa membangun pemikiran dalam langkah-langkah teratur.
Saya juga menjabarkan keadaan ketika Sistem 2 mengambil alih, menandingi impuls dan asosiasi bebas Sistem 1. Anda akan diajak berpikir mengenai kedua sistem sebagai pelaku-pelaku dengan kemampuan, keterbatasan, dan fungsi tersendiri.
Ini beberapa contoh kegiatan otomatis yang terkait Sistem 1, diurutkan berdasarkan perkiraan kasar kerumitan:
- Mendeteksi bahwa satu benda berjarak lebih jauh ke kita daripada benda lain.
- Menunjuk sumber bunyi yang mendadak terdengar.
- Menyelesaikan kalimat “roti dan...”
- Memasang “muka jijik” ketika diperlihatkan gambar seram.
- Menangkap rasa bermusuhan dalam suara orang.
- Menjawab 2 + 2 = ?
- Membaca kata-kata di papan iklan besar.
- Menyetir mobil di jalan kosong.
- Menemukan langkah kuat dalam catur (jika Anda jago catur).
- Mengerti kalimat-kalimat sederhana.
- Mengenali bahwa “jiwa lembut dan rapi, serta menggemari perincian” menyerupai stereotipe satu profesi.
Semua peristiwa mental itu terjadi secara otomatis dan tidak atau hanya perlu sedikit usaha. Kemampuan Sistem 1 mencakup keahlian bawaan yang kita miliki bersama-sama hewan lain. Kita terlahir dalam keadaan siap mempersepsi dunia di sekitar kita, mengenali benda, mengarahkan perhatian, menghindari kerugian, dan takut laba-laba.
Kegiatan mental lain menjadi cepat dan otomatis melalui praktik berulang-ulang. Sistem 1 mempelajari hubungan antar gagasan (apa ibukota Prancis?); juga punya keahlian yang dipelajari seperti membaca dan memahami nuansa situasi sosial. Beberapa keahlian, seperti menemukan langkah kuat dalam catur, hanya didapat oleh pakar spesialis. Yang lain dimiliki banyak orang.
Pengetahuan itu disimpan dalam ingatan dan diakses tanpa diniatkan dan diusahakan.
Beberapa aksi mental di daftar tadi sepenuhnya tanpa disengaja. Anda tak bisa menahan diri dari mengerti kalimat sederhana dalam bahasa Anda atau mengetahui asal bunyi keras tak terduga, juga tak bisa mencegah diri sendiri agar tak tahu 2 + 2 = 4 atau berpikir mengenai Paris ketika ada yang menyebut “ibukota Prancis”.
Kegiatan lainnya, seperti mengunyah, bisa dilakukan dengan sengaja tapi normalnya berjalan secara otomatis. Kendali perhatian dibagi antara dua sistem. Mengetahui arah bunyi keras normalnya operasi tak sengaja Sistem 1, yang langsung menggerakkan perhatian sengaja Sistem 2.
Namun, perhatian bisa dialihkan dari fokus yang tak diharapkan, terutama dengan cara berfokus kuat ke sasaran lain.
Berbagai operasi Sistem 2 punya satu kesamaan ciri: semuanya butuh perhatian dan terganggu kalau perhatian teralihkan.
Ini beberapa contohnya:
- Bersiap menunggu tembakan pistol tanda start dalam lomba lari.
- Berfokus memperhatikan badut di sirkus.
- Berfokus ke suara satu orang dalam ruangan yang penuh orang dan berisik.
- Mencari perempuan berambut putih.
- Membuka ingatan untuk mengenali satu bunyi yang mengagetkan.
- Berjalan lebih cepat daripada biasa.
- Menjaga kelakuan dalam situasi sosial.
- Menghitung jumlah huruf a di satu halaman penuh tulisan.
- Memberitahukan nomor telepon kepada seseorang.
- Memarkir mobil di tempat sempit (bagi kebanyakan orang).
- Membandingkan dua mesin cuci untuk melihat mana yang lebih berharga.
- Mengisi surat laporan pajak.
- Mengecek kesahihan argumen logika yang rumit.
Dalam semua situasi itu Anda harus memberi perhatian, dan Anda akan kurang berhasil atau gagal melakukan tugas-tugas tersebut jika perhatian Anda tak tertuju ke tempat yang benar.
Ucapan yang sering digunakan, “Perhatikan”, itu tepat: Anda salurkan jatah perhatian yang terbatas kepada sejumlah kegiatan, dan jika berusaha melebihi jatah, Anda akan gagal.
Tanda suatu kegiatan itu butuh usaha adalah bila kegiatan itu bisa bentrok dengan kegiatan lain yang butuh usaha sehingga sulit atau mustahil dilakukan berbarengan dengan kegiatan lain. Anda tak dapat menghitung berapa 17 x 24 sambil membelokkan mobil ke kiri memasuki jalan yang ramai, dan sebaiknya jangan coba melakukannya.
Anda bisa melakukan beberapa hal sekaligus kalau semuanya gampang dan tidak banyak menuntut. Anda barangkali bisa mengobrol dengan penumpang mobil sambil menyetir di jalan kosong, dan banyak orangtua mendapati bahwa mereka bisa membacakan dongeng untuk anak sambil memikirkan hal lain.
Semua orang tahu mengenai terbatasnya perhatian, dan perilaku sosial kita mempertimbangkan keterbatasan itu. Misalnya, ketika sopir mobil mendahului truk di jalan sempit, penumpang dewasa biasanya berhenti bicara. Mereka tahu sebaiknya mereka tak mengalihkan perhatian sopir, dan mereka juga mengira sopir untuk sementara waktu “tutup kuping” serta tak akan mendengar apa yang mereka katakan.
Fokus yang sangat intens pada satu tugas bisa membuat orang secara efektif buta, bahkan terhadap rangsang yang normalnya menarik perhatian. Contoh paling dramatis disajikan Christopher Chabris dan Daniel Simons dalam buku The Invisible Gorilla. Mereka membuat film pendek mengenai dua tim yang saling oper bola basket, satu tim memakai kaus putih, satu lagi memakai kaus hitam. Para penonton film disuruh menghitung jumlah operan yang dilakukan tim putih dan mengabaikan tim hitam.
Tugas itu sulit dan menyita perhatian. Di tengah video, seorang perempuan yang memakai baju gorila muncul, menyeberangi lapangan, memukul-mukul dada, dan pergi. Si gorila terlihat selama 9 detik. Ribuan orang telah menonton video itu, dan sekitar setengahnya tidak melihat ada yang aneh. Tugas menghitung—ditambah perintah untuk mengabaikan satu tim—menimbulkan kebutaan.
Semua yang menonton video tanpa ditugasi menghitung bisa melihat si gorila. Melihat dan menunjuk arah adalah fungsi otomatis Sistem 1, tapi keduanya bergantung pada jatah perhatian terhadap rangsangan yang berkaitan. Chabris dan Simons mencatat pengamatan terhebat dalam penelitian mereka adalah bahwa orang kaget dengan hasilnya.
Para penonton yang gagal melihat gorila awalnya yakin tidak ada gorila—mereka tak bisa membayangkan melewatkan sesuatu yang begitu mencolok. Penelitian gorila menggambarkan dua fakta penting mengenai akal budi kita: kita bisa buta terhadap hal-hal yang sangat jelas, dan kita bisa buta terhadap kebutaan kita.
SINOPSIS LAKON
Interaksi dua sistem adalah tema yang berulang kali muncul dalam buku ini, dan kita perlu sinopsis singkat lakonnya. Dalam cerita yang akan saya sampaikan, Sistem 1 dan Sistem 2 sama-sama aktif ketika kita sadar.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Sistem 1 berjalan secara otomatis dan Sistem 2 normalnya berada dalam mode santai dengan sedikit usaha, memanfaatkan hanya sebagian kapasitasnya. Sistem 1 terus-menerus memberi saran untuk Sistem 2: kesan, intuisi, niat, dan rasa.
Jika disetujui oleh Sistem 2, kesan dan intuisi berubah menjadi kepercayaan, dan impuls menjadi tindakan yang disengaja. Kalau semuanya berjalan lancar, sebagaimana lebih sering terjadi, Sistem 2 menerima saran Sistem 1 dengan sedikit atau tanpa modifikasi.
Secara umum Anda memercayai kesan Anda serta bertindak sesuai hasrat Anda, dan itu baik-baik saja—biasanya.
Kalau Sistem 1 menemukan kesulitan, dia memanggil Sistem 2 untuk mendukung pengolahan lebih terperinci yang mungkin bisa menuntaskan persoalan yang dihadapi. Sistem 2 dikerahkan kalau ada pertanyaan yang tak bisa dijawab Sistem 1, seperti yang barangkali terjadi pada Anda jika Anda menemui soal perkalian 17 × 24.
Anda juga bisa merasakan dorongan perhatian sadar kalau terkejut. Sistem 2 aktif kalau ada peristiwa yang melanggar model dunia yang dipelihara Sistem 1. Dalam dunia tersebut, lampu tidak melompat, kucing tidak menggonggong, dan gorila tidak menyeberangi lapangan bola basket.
Percobaan gorila menunjukkan bahwa sebagian perhatian dibutuhkan agar rangsangan yang mengejutkan bisa dideteksi. Keterkejutan lalu mengaktifkan dan mengarahkan perhatian Anda: Anda akan memandangi peristiwa itu, lalu membuka ingatan mencari cerita yang bisa menjelaskan peristiwa mengejutkan itu.
Sistem 2 juga bertanggung jawab mengendalikan perilaku Anda secara terus-menerus—pengendalian diri yang membuat Anda tetap sopan walaupun marah, dan waspada ketika menyetir mobil pada malam hari. Sistem 2 dikerahkan untuk bekerja lebih keras kalau dia mendeteksi ada kesalahan yang akan diperbuat.
Ingat saja ketika Anda hampir mengeluarkan kata-kata kasar dan berusaha keras mengendalikan diri. Intinya, sebagian besar yang Anda (Sistem 2 Anda) pikirkan dan lakukan berasal di Sistem 1, tapi Sistem 2 mengambil alih kalau keadaan jadi sulit, dan biasanya menjadi penentu akhir.
Pembagian tugas antara Sistem 1 dan Sistem 2 sangat efisien karena meminimalkan jumlah usaha dan mengoptimalkan kerja. Tatanan itu biasanya mempan karena Sistem 1 biasanya sangat baik melakukan tugasnya: model situasi familiernya akurat, prediksi jangka pendeknya biasanya juga akurat, dan reaksi awalnya terhadap tantangan biasanya cocok.
Tapi Sistem 1 punya bias, kesalahan sistematis yang rawan dibuatnya dalam keadaan tertentu. Seperti akan kita lihat, kadang Sistem 1 menjawab pertanyaan yang berbeda dan lebih gampang daripada yang diajukan, dan Sistem 1 hanya sedikit memahami logika dan statistika.
Satu lagi keterbatasan Sistem 1 adalah tidak bisa dimatikan. Jika Anda melihat kata dalam bahasa yang Anda kenal, Anda akan membacanya—kecuali jika perhatian Anda sedang ke tempat lain.
KONFLIK
Gambar 2 adalah satu ragam percobaan klasik yang menghasilkan konflik antara kedua sistem. Sebaiknya Anda coba melakukan latihan ini sebelum meneruskan membaca.
Hampir pasti Anda akan berhasil menyebutkan kata-kata yang benar dalam kedua tugas, dan Anda akan menemukan bahwa beberapa bagian tugas itu jauh lebih mudah daripada yang lain. Mengenali kata yang ditulis dalam huruf kecil atau besar di kolom kiri lebih mudah, sementara kolom kanan membuat Anda kagok. Ketika menyebut posisi kata, kolom kiri menyulitkan dan kolom kanan lebih mudah.
Tugas-tugas itu melibatkan Sistem 2, karena mengatakan “huruf besar/kecil” atau “kanan/kiri” bukanlah sesuatu yang rutin Anda lakukan ketika membaca kolom kata. Salah satu hal yang Anda lakukan untuk menyelesaikan tugas adalah memprogram ingatan Anda supaya kata-kata yang berkaitan (besar dan kecil untuk tugas pertama) ada “di ujung lidah”.
Memprioritaskan kata-kata terpilih itu efektif dan godaan kecil untuk membaca kata-kata lain cukup mudah ditahan ketika Anda membaca kolom pertama. Namun, kolom kedua itu berbeda, karena berisi kata-kata yang sudah Anda siapkan dan tak bisa Anda abaikan. Anda biasanya bisa menjawab dengan tepat, tapi perlu berusaha untuk mengalahkan tanggapan yang bersaing, sehingga Anda jadi lambat.
Anda mengalami konflik antara tugas yang Anda mau lakukan dan tanggapan otomatis yang mengganggunya.
Konflik antara reaksi otomatis dan niat mengendalikannya itu biasa terjadi dalam kehidupan kita. Kita semua familier dengan pengalaman berusaha tidak memandangi orang lain yang berpakaian aneh di tempat umum. Kita juga tahu apa rasanya memaksakan diri membaca buku yang membosankan, dan terus-menerus kembali ke titik ketika bacaan kita kehilangan makna.
Di tempat-tempat yang musim dinginnya parah, banyak pengemudi yang punya ingatan mobilnya selip di atas es dan berusaha keras mengikuti instruksi yang bertentangan dengan apa yang secara alami mereka lakukan: “Belokkan ke arah selip, dan jangan sekali-sekali mengerem!” Dan tiap orang punya pengalaman tidak memaki orang lain.
Salah satu tugas Sistem 2 adalah mengatasi impuls Sistem 1. Dengan kata lain, Sistem 2 bertanggung jawab atas kendali diri.
ILUSI
Untuk memahami otonomi Sistem 1, juga pembedaan antara kesan dan kepercayaan, lihatlah Gambar 3.
Gambar ini tidak mencolok: dua garis horizontal dengan panjang yang berbeda, ditambahi anak panah yang menuju ke arah yang berbeda. Garis di bawah terlihat lebih panjang daripada garis di atas. Itulah yang kita semua lihat, dan kita biasanya percaya apa yang kita lihat.
Tapi jika Anda sudah pernah melihat gambar itu, Anda mungkin mengenalinya sebagai ilusi terkenal Müller-Lyer. Kedua garis horizontal itu sebenarnya sama panjang, sebagaimana bisa dibuktikan dengan mengukur keduanya menggunakan penggaris.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Sesudah mengukur panjang garis, Anda—Sistem 2 Anda, sosok sadar yang Anda sebut “Saya”—punya kepercayaan baru: Anda tahu garis-garis itu sama panjang. Jika ditanya mengenai panjang keduanya, Anda akan bilang bahwa Anda tahu.
Tapi Anda masih melihat garis yang di bawah lebih panjang. Anda sudah memilih percaya dengan pengukuran, tapi tidak bisa menghalangi Sistem 1 melakukan kerjanya: Anda tak bisa memutuskan untuk melihat kedua garis itu sama panjang, biarpun Anda tahu keduanya sama panjang.
Untuk menghilangkan ilusi, hanya ada satu hal yang bisa Anda lakukan: Anda harus belajar untuk tak memercayai kesan yang Anda dapat mengenai panjang garis kalau ada anak panahnya. Untuk menerapkan aturan tersebut, Anda harus bisa mengenali pola ilusi dan mengingat apa yang Anda ketahui mengenainya.
Jika bisa melakukannya, Anda tidak akan lagi bisa ditipu ilusi Müller-Lyer. Tapi Anda akan tetap melihat satu garis lebih panjang daripada yang lainnya.







Comments (0)