[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman
CARA PERTIMBANGAN TERJADI
Tak ada batas untuk jumlah pertanyaan yang bisa Anda jawab, baik itu pertanyaan yang diajukan orang lain maupun diri sendiri. Tak ada pula batas untuk jumlah sifat yang Anda bisa nilai. Anda bisa menghitung jumlah huruf besar di halaman ini, membandingkan tinggi jendela rumah Anda dengan jendela rumah tetangga, dan menaksir prospek politik wakil Anda di parlemen dengan skala dari bagus sekali sampai buruk sekali.
Pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan ke Sistem 2, yang akan mengarahkan perhatian dan membuka ingatan untuk mencari jawaban. Sistem 2 menerima pertanyaan atau membuat pertanyaan: dalam kedua kasus, Sistem 2 mengarahkan perhatian dan membuka ingatan untuk mencari jawaban.
Sistem 1 beroperasi secara berbeda. Sistem 1 terus-menerus memantau apa yang terjadi di luar dan di dalam akal budi, serta terus-menerus memunculkan penilaian atas berbagai aspek situasi tanpa niat khusus dan tanpa perlu usaha. Penilaian dasar tersebut berperan penting dalam pertimbangan intuitif, karena mudah digantikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang lebih sukar—ini gagasan inti pendekatan heuristik dan bias. Dua ciri lain Sistem 1 juga mendukung penggantian satu pertimbangan dengan pertimbangan lain. Satu adalah kemampuan menerjemahkan nilai lintas dimensi, yang Anda lakukan kalau menjawab pertanyaan yang sebagian besar orang anggap mudah: "Kalau tinggi tubuh Sam setara dengan kecerdasannya, setinggi apa dia?" Terakhir, ada senapan tabur mental. Satu niat Sistem 2 untuk menjawab pertanyaan tertentu atau menilai sifat tertentu dalam situasi otomatis memicu perhitungan lain, termasuk penilaian dasar.
PENILAIAN DASAR
Sistem 1 telah dibentuk oleh evolusi untuk menyediakan penilaian terus-menerus atas masalah-masalah utama yang harus dipecahkan suatu organisme untuk bertahan hidup: Bagaimana keadaan sekarang? Adakah ancaman atau kesempatan besar? Apakah semuanya normal? Sebaiknya saya dekati atau jauhi? Pertanyaan-pertanyaan itu barangkali kurang penting bagi manusia dalam lingkungan kota dibanding bagi kijang di hutan, tapi kita mewarisi mekanisme saraf yang berevolusi untuk menyediakan penilaian terus-menerus atas tingkat ancaman, dan mekanisme itu tidak mati. Situasi selalu dinilai baik-buruknya, apakah perlu kabur atau boleh mendekat. Suasana hati yang baik dan kemudahan kognitif adalah padanan penilaian keamanan dan keakraban pada manusia.
Untuk contoh spesifik satu penilaian dasar, pikirkanlah kemampuan membedakan kawan dari lawan dengan sekilas pandang. Kemampuan itu membantu peluang bertahan hidup dalam dunia yang berbahaya, dan memang telah berevolusi. Alex Todorov, kolega saya di Princeton, telah meneliti akar biologis pertimbangan cepat mengenai keamanan berinteraksi dengan pihak asing. Todorov menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan mengevaluasi wajah orang asing dengan sekilas pandang, melihat dua fakta yang mungkin penting mengenai orang itu: seberapa dominan (dan kemungkinan mengancam) dia, serta apakah dia bisa dipercaya, apakah niatnya bersahabat atau bermusuhan. Bentuk wajah memberi petunjuk untuk menilai dominasi: dagu persegi "kuat" adalah salah satu petunjuknya. Ekspresi wajah (senyum atau cemberut) menyediakan petunjuk untuk menilai niat orang asing.
Ketepatan pembacaan wajah itu jauh dari sempurna: dagu bulat tidak mesti berarti lemah, dan senyum bisa dipalsukan. Tapi kemampuan tak sempurna untuk menilai pihak asing masih bisa memberikan keuntungan bagi kelestarian. Mekanisme kuno itu digunakan untuk keperluan baru di dunia modern: mekanisme itu ada pengaruhnya bagi cara orang memberi suara. Todorov menunjukkan foto-foto wajah laki-laki kepada para mahasiswanya, kadang secepat sepersepuluh detik, lalu dia meminta mereka menilai berbagai atribut wajah-wajah tersebut, termasuk kemungkinan disukai dan kompetensi. Para pengamat memberi nilai yang mirip satu sama lain. Wajah-wajah yang Todorov tunjukkan bukan sembarangan: wajah-wajah itu adalah potret para politikus untuk kampanye. Todorov lalu membandingkan hasil pemilihan umum dengan nilai kompetensi yang diberikan para mahasiswa Princeton, berdasarkan paparan singkat terhadap foto, tanpa konteks politik.
Di sekitar 70% hasil pemilihan senator, anggota kongres, dan gubernur, pemenangnya adalah calon yang wajahnya mendapat nilai kompetensi lebih tinggi. Hasil yang mencolok itu terulang kembali dalam penelitian terhadap pemilu nasional di Finlandia, pemilihan anggota dewan kota di Inggris, dan berbagai pemilu di Australia, Jerman, serta Meksiko. Yang mengherankan, nilai kompetensi jauh lebih bisa menjadi prediksi hasil pemungutan suara dalam penelitian Todorov ketimbang nilai kemungkinan disukai.
Todorov telah menemukan bahwa orang menilai kompetensi dengan memadukan dimensi kekuatan dan sifat bisa dipercaya. Wajah yang mengesankan kompetensi memadukan dagu yang kuat dengan senyum kecil percaya diri. Tidak ada bukti bahwa bentuk wajah seperti itu benar-benar menunjukkan seberapa becus si politikus bekerja sewaktu menjabat. Tapi penelitian terhadap tanggapan otak kepada calon yang menang dan kalah menunjukkan bahwa kita secara biologis cenderung menolak calon yang tak punya ciri-ciri yang kita sukai—dalam penelitian, mereka yang kalah menimbulkan tanda tanggapan emosional (negatif) yang lebih kuat. Itulah contoh sesuatu yang akan saya sebut heuristik pertimbangan di bab-bab berikut. Para pemberi suara mencoba membentuk kesan mengenai seberapa becus seorang calon kalau menjabat, dan mereka memanfaatkan penilaian lebih sederhana yang dibuat dengan cepat dan otomatis serta tersedia kalau Sistem 2 harus memutuskan.
Para ahli ilmu politik melanjutkan riset awal Todorov dengan mencari kategori pemilih yang paling banyak dipengaruhi kesukaan otomatis Sistem 1. Mereka menemukan yang mereka cari di antara para pemilih awam politik yang banyak menonton televisi. Efek kompetensi wajah terhadap pemberian suara tiga kali lebih besar pada pemilih yang miskin informasi dan sering menonton TV dibanding pemilih lain yang punya informasi lebih banyak dan lebih sedikit menonton TV.
Tentu saja Sistem 1 mengerti bahasa, dan pemahaman bergantung pada penilaian dasar yang secara rutin dilakukan sebagai bagian persepsi peristiwa serta penangkapan makna pesan. Penilaian-penilaian itu mencakup perhitungan kemiripan dan keterwakilan, pencarian sebab akibat, serta evaluasi ketersediaan asosiasi dan contoh. Semua dilakukan bahkan ketika tak ada tugas tertentu, walau hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tugas yang muncul.
Daftar penilaian dasar itu panjang, tapi tidak semua atribut dinilai. Sekilas Gambar 7: sekilas pandang memberikan kesan langsung atas banyak ciri di gambar. Anda tahu kedua menara sama tinggi dan lebih mirip satu sama lain dibandingkan kumpulan kotak di tengah. Namun, Anda tidak langsung tahu bahwa jumlah kotak di menara kiri sama dengan jumlah kotak yang tertata di lantai, dan Anda tak punya kesan mengenai tinggi menara yang bisa dibangun dengan kotak-kotak itu. Untuk memastikan jumlahnya sama, Anda bakal perlu menghitung jumlah kotak di kedua kumpulan dan membandingkan hasilnya, suatu kegiatan yang hanya bisa dilakukan Sistem 2.
SET DAN PROTOTIP?
Untuk contoh lain, simak pertanyaan ini: Berapa rata-rata panjang garis di Gambar 8?
Pertanyaannya mudah dan Sistem 1 menjawabnya tanpa perlu berhenti. Percobaan menunjukkan bahwa waktu di bawah sedetik sudah cukup bagi orang untuk memperkirakan panjang rata-rata sekelompok garis dengan presisi cukup tinggi. Keakuratan pertimbangan tersebut tidak berkurang kalau pikiran sang pengamat sedang sibuk dengan tugas mengingat. Mereka tak mesti tahu bagaimana menjabarkan rata-rata itu dalam inci atau sentimeter, tapi mereka akan tepat menyesuaikan panjang garis lain agar sama dengan rata-rata. Sistem 2 tak diperlukan untuk membentuk kesan norma panjang dalam sekelompok garis. Sistem 1 melakukannya, secara otomatis dan tanpa usaha, sambil menangkap warna garis-garis dan fakta bahwa garis-garis itu tak sejajar. Kita juga bisa membentuk kesan langsung atas jumlah benda dalam satu kelompok—dengan tepat kalau jumlahnya empat atau kurang, dengan kasar kalau jumlahnya di atas empat.
Sekarang ada pertanyaan baru: Berapa total panjang semua garis di Gambar 8? Ini pengalaman yang berbeda karena Sistem 1 tidak memberi saran. Satu-satunya cara menjawab pertanyaan itu adalah mengaktifkan Sistem 2, yang akan dengan susah payah memperkirakan rata-rata panjang garis, memperkirakan atau menghitung jumlah garis, lalu mengalikan rata-rata panjang dengan jumlah garis.
Kegagalan Sistem 1 menghitung total panjang garis dalam satu kelompok sepintas tampak wajar bagi Anda: Anda tak pernah mengira Anda bisa melakukannya. Kegagalan itu memang contoh satu keterbatasan penting Sistem 1. Karena Sistem 1 merepresentasikan kelompok dengan satu prototipe atau satu set contoh khas, Sistem 1 bisa menangani rata-rata tapi tidak mampu menangani penjumlahan. Ukuran kelompok, jumlah benda dalam kelompok, cenderung diabaikan dalam pertimbangan atas apa yang akan saya sebut variabel mirip jumlah.
Para peserta dalam salah satu percobaan yang terilhami proses pengadilan sesudah bencana tumpahan minyak dari kapal tanker Exxon Valdez ditanya mengenai kesediaan mereka membayari pembelian jaring untuk menutupi genangan minyak yang sering menenggelamkan burung. Berbagai kelompok peserta dimintai pendapat mengenai kesediaan mereka menyelamatkan 2.000, 20.000, atau 200.000 burung. Jika penyelamatan burung itu dianggap baik secara ekonomi, seharusnya hal itu adalah suatu variabel mirip jumlah: menyelamatkan 200.000 burung seharusnya bernilai lebih tinggi daripada menyelamatkan 2.000 burung. Tapi sumbangan rata-rata ketiga kelompok adalah $80 (untuk 2.000), $78 (untuk 20.000), dan $88 (untuk 200.000). Jumlah burung yang diselamatkan hampir tidak membuat perbedaan jumlah sumbangan. Yang membuat para peserta bereaksi di ketiga kelompok adalah satu prototipe—gambar menyedihkan burung yang tak berdaya ketika tenggelam, bulu-bulunya berlumur minyak kental. Pengabaian kuantitas yang hampir total dalam konteks emosional seperti itu telah ditemukan berkali-kali.
PENYESUAIAN INTENSITAS
Pertanyaan-pertanyaan mengenai kebahagiaan Anda, kepopuleran presiden, hukuman yang pantas untuk pelaku kejahatan keuangan, dan prospek masa depan seorang politikus punya kesamaan ciri penting: semuanya merujuk pada dimensi intensitas atau jumlah, yang memperkenankan penggunaan kata lebih: lebih bahagia, lebih populer, lebih keras, atau lebih berkuasa (untuk politikus). Contohnya, masa depan politis seorang kandidat bisa berkisar dari ujung bawah "Dia akan kalah pada pemilu pendahuluan" sampai ujung atas "Suatu hari dia akan menjadi presiden Amerika Serikat".
Di sini kita temukan satu kemampuan baru Sistem 1. Suatu skala intensitas memperkenankan penyesuaian lintas dimensi. Jika kejahatan disamakan dengan warna, pembunuhan adalah warna merah yang lebih gelap daripada pencurian. Jika kejahatan disetarakan dengan musik, pembantaian massal bakal dimainkan fortissimo (keras sekali) sementara salah parkir pianissimo (lembut sekali). Dan tentu saja Anda punya perasaan yang sama mengenai intensitas hukuman.
Dalam percobaan klasik, orang menyesuaikan kerasnya bunyi dengan parahnya kejahatan; orang lain menyesuaikan kerasnya bunyi dengan kerasnya hukuman. Jika Anda mendengar dua nada, satu mewakili kejahatan dan satu mewakili hukuman, Anda bakal merasa tidak adil kalau nada yang satu lebih keras daripada yang lain.
Lihatlah satu contoh yang akan kita temui lagi belakangan: Julie lancar membaca ketika berumur empat tahun. Sekarang sesuaikan kemampuan membaca Julie sewaktu kecil dengan skala intensitas berikut: setinggi apakah orang yang tingginya setara dengan kecerdasan Julie? Bagaimana kalau 1,5 meter? Jelas kurang. Bagaimana dengan 2 meter? Barangkali terlalu tinggi. Anda mencari tinggi badan yang sama mencoloknya dengan prestasi bisa membaca pada umur empat tahun. Lumayan mencolok, tapi tidak sangat luar biasa. Bisa membaca pada umur lima belas bulan baru luar biasa, barangkali seperti orang dengan tinggi badan 2,5 meter.
Gaji sebesar apa dalam profesi Anda yang setara dengan kemampuan membaca Julie? Kejahatan apa yang parahnya setara dengan kegeniusan Julie? Berapa IPK kelulusan di universitas bergengsi yang setara dengan kemampuan membaca Julie? Tidak susah, kan? Selanjutnya, Anda bisa yakin bahwa penyesuaian Anda akan mirip dengan penyesuaian orang lain dalam lingkungan budaya Anda. Ketika orang diminta memprediksi Indeks Prestasi (IP) Julie ketika kuliah berdasarkan informasi mengenai umur dia mulai belajar membaca, mereka menjawab dengan menerjemahkan dari satu skala ke skala lain dan memilih IP yang sesuai. Dan akan kita lihat juga mengapa cara prediksi dengan penyesuaian itu salah secara statistik—walau wajar bagi Sistem 1 dan, bagi kebanyakan orang selain ahli statistik, wajar juga bagi Sistem 2.
SENAPAN TABUR MENTAL
Sistem 1 terus-menerus melakukan banyak perhitungan sekaligus. Sebagiannya adalah perhitungan rutin yang tak pernah berhenti. Selama Anda membuka mata, otak Anda mengolah penggambaran tiga dimensi atas apa yang ada di medan pandangan Anda, lengkap dengan bentuk benda, posisi benda dalam ruang, dan identitas benda. Tak diperlukan niat untuk memicu operasi tersebut atau pantauan terus-menerus untuk mencari harapan yang tak terpenuhi.
Berbeda dengan penilaian rutin itu, perhitungan lain hanya dilakukan kalau dibutuhkan: Anda tidak terus-menerus mengevaluasi seberapa bahagia atau kaya Anda, dan kalaupun Anda pencandu politik, Anda tidak terus-menerus menilai prospek presiden. Pertimbangan yang terjadi sekali-sekali itu dilakukan dengan sadar, hanya terjadi jika Anda menginginkannya.
Anda tidak otomatis menghitung jumlah suku kata di tiap kata yang Anda baca, tapi bisa melakukannya kalau mau. Kendali atas perhitungan yang diniatkan sangat tidak presisi: sering kali kita menghitung lebih banyak daripada yang kita inginkan atau butuhkan. Saya menyebut perhitungan berlebihan itu senapan tabur mental. Senapan tabur tidak bisa dipakai untuk membidik satu titik karena menembakkan peluru yang menyebar, dan tampaknya Sistem 1 juga sulit tidak melakukan lebih dari yang diminta Sistem 2. Dua percobaan memberikan kesan seperti itu.
Para peserta di satu percobaan mendengarkan pasangan-pasangan kata, dengan perintah untuk memencet satu tombol cepat-cepat kalau mereka mendeteksi bahwa kedua kata itu bersajak. Kata-kata dalam pasangan berikut bersajak:
VOTE-NOTE
VOTE-GOAT
Perbedaannya jelas bagi Anda karena Anda melihat dua pasang sekaligus. VOTE dan GOAT bersajak pengucapannya, tapi berbeda ejaannya. Para peserta hanya mendengar kata-kata diucapkan, tapi mereka juga dipengaruhi ejaan. Mereka lebih lambat mengenali sepasang kata bersajak jika ejaan keduanya tidak mirip. Walau perintah hanya menuntut pembandingan bunyi, para peserta juga membandingkan ejaan, dan ketidaksesuaian pada dimensi yang tak relevan memperlambat mereka. Niat untuk menjawab satu pertanyaan menimbulkan niat menjawab pertanyaan lain, yang tak hanya berlebihan tapi juga mengganggu tugas utama.
Dalam penelitian lain, orang mendengarkan serangkaian kalimat, dengan perintah menekan satu tombol secepat mungkin untuk menunjukkan bahwa kalimatnya benar (secara harfiah), dan tombol lain bila kalimatnya tidak benar (secara harfiah). Apa tanggapan yang tepat untuk kalimat-kalimat berikut?
Some roads are snakes.
Some jobs are snakes.
Some jobs are jails.
Ketiga kalimat itu secara harfiah tidak benar. Namun, Anda barangkali memperhatikan bahwa kalimat kedua lebih kentara tak benarnya dibanding dua yang lain—catatan waktu reaksi dalam percobaan membenarkan adanya perbedaan. Alasan perbedaan itu adalah dua kalimat lain bisa benar secara kiasan. Lagi-lagi niat melakukan satu perhitungan menimbulkan niat melakukan perhitungan lain. Dan lagi-lagi jawaban yang benar menang dalam konflik, tapi konflik dan jawaban yang tak relevan mengganggu pelaksanaan tugas. Di bab berikut akan kita lihat bahwa kombinasi senapan tabur mental dan intensitas menjelaskan mengapa kita punya pertimbangan intuitif mengenai banyak hal yang hanya sedikit kita ketahui.
BICARA TENTANG PERTIMBANGAN
"Menilai orang menarik atau tidak itu bukan penilaian dasar. Suka tidak suka Anda melakukan penilaian dasar secara otomatis, dan penilaian itu memengaruhi Anda."
"Ada sirkuit dalam otak yang menilai dominasi dari bentuk wajah. Wajahnya cocok untuk peran pemimpin."
"Hukumannya belum terasa adil kalau belum setimpal dengan kejahatan. Seperti kita bisa menyesuaikan kerasnya bunyi dengan terangnya cahaya."
"Ini contoh senapan tabur mental. Dia ditanya apakah dia pikir kondisi keuangan perusahaan itu baik, tapi dia tidak bisa lupa bahwa dia menyukai produk perusahaan itu."
MENJAWAB PERTANYAAN YANG LEBIH MUDAH
Satu aspek luar biasa kehidupan mental Anda adalah Anda jarang tersandung. Memang, adakalanya Anda bertemu pertanyaan seperti 17 x 24 = ? yang jawabannya tak langsung muncul di kepala, tapi saat membingungkan semacam itu jarang terjadi. Keadaan normal akal budi Anda adalah memiliki perasaan dan pendapat intuitif terhadap hampir segala hal yang Anda temui. Anda suka atau tak suka orang lama sebelum Anda tahu banyak mengenai mereka; Anda percaya atau tak percaya orang asing tanpa tahu mengapa; Anda merasa suatu usaha akan berhasil tanpa menganalisis. Dinyatakan atau tidak, Anda sering punya jawaban bagi pertanyaan yang tak sepenuhnya Anda pahami, mengandalkan bukti yang tak bisa Anda jelaskan atau pertahankan.
SUBSTITUSI PERTANYAAN
Saya mengusulkan satu penjelasan sederhana mengenai bagaimana kita membuat pendapat intuitif mengenai perkara-perkara rumit. Jika jawaban memuaskan untuk satu pertanyaan sukar tidak ditemukan dengan cepat, Sistem 1 akan mencari pertanyaan terkait yang lebih mudah lalu menjawabnya. Saya sebut operasi menjawab satu pertanyaan pengganti pertanyaan lain substitusi. Saya juga menggunakan istilah-istilah berikut:
- Pertanyaan target adalah penilaian yang Anda ingin hasilkan.
- Pertanyaan heuristik adalah pertanyaan lebih sederhana yang Anda jawab sebagai pengganti.
Definisi teknis heuristik adalah prosedur sederhana yang membantu mencari jawaban yang memadai meski sering kali belum sempurna bagi pertanyaan sukar. Kata tersebut berasal dari akar yang sama dengan eureka.
Gagasan substitusi muncul pada awal kerja sama saya dengan Amos, dan menjadi inti apa yang kemudian merupakan pendekatan heuristik serta bias. Kami bertanya kepada diri sendiri bagaimana orang bisa membuat pertimbangan probabilitas tanpa tahu pasti apa itu probabilitas. Kami menyimpulkan bahwa entah bagaimana, orang harus menyederhanakan tugas yang berat itu, dan kami mencoba mencaritahu cara melakukannya. Jawaban kami adalah ketika diminta mempertimbangkan probabilitas, orang sebenarnya mempertimbangkan sesuatu yang lain dan merasa sudah mempertimbangkan probabilitas.
Sistem 1 sering membuat langkah tersebut ketika menghadapi pertanyaan target yang sukar, jika jawaban bagi pertanyaan heuristik yang berhubungan dan lebih gampang langsung muncul dalam benak. Substitusi satu pertanyaan dengan pertanyaan lain bisa menjadi strategi yang bagus untuk menjawab soal-soal sulit, dan George Pólya memasukkan substitusi dalam buku klasiknya, How to Solve It: "Jika Anda tak bisa menjawab suatu soal, ada soal lebih mudah yang bisa Anda jawab: carilah soal itu." Heuristik Pólya adalah prosedur strategis yang sengaja diterapkan oleh Sistem 2. Namun, heuristik yang saya bahas di bab ini tidak dipilih, melainkan konsekuensi senapan tabur mental, kendali tak sempurna terhadap pengarahan jawaban bagi pertanyaan.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Pikirkanlah pertanyaan-pertanyaan yang dicantumkan di kolom kiri Tabel 1. Pertanyaan-pertanyaan itu sulit, dan sebelum bisa menghasilkan jawaban beralasan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut Anda harus menghadapi perkara sulit lainnya. Apa arti kebahagiaan? Seperti apa kemungkinan perkembangan politik enam bulan ke depan? Apa hukuman standar untuk kejahatan keuangan lain? Apa saja lingkungan dan penyebab lainnya yang harus dipertimbangkan? Berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan itu secara serius benar-benar tidak praktis.
Tapi Anda tak hanya punya jawaban beralasan untuk pertanyaan. Ada alternatif heuristik bagi penalaran saksama, yang kadang bekerja lumayan baik dan kadang mengarah ke kesalahan serius.
Senapan tabur mental memudahkan pembuatan jawaban-jawaban cepat untuk pertanyaan sukar tanpa menyuruh Sistem 2 yang malas bekerja keras. Pertanyaan pasangan di kolom kanan sangat mungkin muncul dan mudah dijawab. Perasaan Anda mengenai lumba-lumba dan penjahat keuangan, suasana hati Anda sekarang, kesan Anda mengenai keahlian politik si calon anggota legislatif, atau kondisi presiden sekarang akan langsung terpikir. Pertanyaan heuristik menyediakan jawaban siap saji untuk tiap pertanyaan target yang sukar.
Masih ada sesuatu yang hilang dalam cerita ini: jawaban-jawaban perlu disesuaikan dengan pertanyaan-pertanyaan asli. Contohnya, perasaan saya mengenai lumba-lumba sekarat harus diekspresikan dalam jumlah uang. Kapabilitas lain Sistem 1, penyesuaian intensitas, tersedia untuk menuntaskan masalah itu. Ingat bahwa perasaan dan besar sumbangan sama-sama merupakan skala intensitas. Saya bisa merasa lebih atau kurang peduli terhadap lumba-lumba, dan ada nilai sumbangan yang sesuai dengan intensitas perasaan saya. Jumlah uang yang akan terpikir oleh saya adalah jumlah yang sesuai. Penyesuaian intensitas yang sama juga tersedia bagi semua pertanyaan tadi.
Contohnya, keahlian politik seorang kandidat bisa berkisar dari payah sampai sangat mengesankan, dan skala keberhasilan politik bisa berkisar dari ujung bawah "Dia akan kalah di pemilu awal" sampai ujung atas "Dia akan jadi presiden Amerika Serikat suatu hari."
Proses otomatis senapan tabur mental dan penyesuaian intensitas sering menyediakan satu atau beberapa jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mudah yang bisa diterakan ke pertanyaan target. Dalam beberapa kesempatan, substitusi akan terjadi dan satu jawaban heuristik akan disetujui oleh Sistem 2. Tentu saja Sistem 2 punya kesempatan untuk menolak jawaban intuitif itu, atau mengubahnya dengan melibatkan informasi lain. Namun Sistem 2 yang malas sering kali memilih jalan paling mudah dan menerima jawaban heuristik tanpa banyak tanya mengenai benar tidaknya. Anda tidak akan tersandung, tidak perlu bekerja sangat keras, dan boleh jadi tidak sadar Anda tak menjawab pertanyaan yang diajukan. Selanjutnya, boleh jadi Anda tak menyadari bahwa pertanyaan target itu sukar, karena jawaban intuitifnya langsung muncul dalam benak.
HEURISTIK 3-D
Lihatlah gambar tiga orang berikut dan jawab pertanyaan yang menyertainya.
Gambar 9
Sebagaimana tercetak di halaman ini, apakah sosok di kanan lebih besar daripada sosok di kiri?
Jawaban gamblang segera muncul di kepala: sosok di kanan lebih besar. Tapi jika Anda ukur dengan penggaris, Anda akan menemukan bahwa sebenarnya semua sosok itu sama besar. Kesan ukuran relatif yang Anda dapat didominasi satu ilusi kuat, yang dengan baik menggambarkan proses substitusi.
Koridor tempat sosok-sosok berada digambar dengan perspektif dan tampak memiliki kedalaman. Sistem persepsi Anda otomatis menafsirkan gambar itu sebagai gambar tiga dimensi, bukan gambar di atas permukaan kertas yang datar. Dalam tafsir 3-D, orang di kanan lebih jauh sekaligus lebih besar daripada orang di kiri. Bagi kebanyakan kita, kesan ukuran 3-D sangat kuat. Hanya para seniman visual dan fotografer berpengalaman yang punya keahlian memandang gambar sebagai objek di atas lembaran. Bagi yang lain, substitusi terjadi: kesan dominan ukuran 3-D mengatur pertimbangan atas ukuran 2-D. Ilusi disebabkan heuristik 3-D.
Yang terjadi adalah ilusi sejati, bukan kesalahpahaman atas pertanyaan. Anda tahu pertanyaannya mengenai ukuran sosok di gambar, sebagaimana dicetak di halaman buku. Jika diminta memperkirakan ukuran sosok-sosok, jawaban bakal menggunakan ukuran inci, bukan kaki. Anda tidak bingung dengan pertanyaannya, tapi dipengaruhi jawaban pertanyaan yang diajukan: "Setinggi apakah ketiga orang itu?"
Langkah inti dalam heuristik—substitusi ukuran dua dimensi dengan tiga dimensi—terjadi secara otomatis. Gambar mengandung petunjuk yang mendorong penafsiran 3-D. Petunjuk itu tak ada sangkut-pautnya dengan tugas pertimbangan ukuran sosok di gambar dan seharusnya Anda abaikan, tapi tidak bisa melakukannya. Bias yang terkait heuristik membuat benda-benda yang tampak lebih jauh juga tampak lebih besar di gambar. Seperti ditunjukkan contoh ini, pertimbangan yang didasarkan pada substitusi pasti bias dalam cara yang bisa diprediksi. Dalam kasus ini, bias terjadi sangat dalam di sistem persepsi sehingga tak bisa dihindari.
HEURISTIK SUASANA HATI UNTUK KEBAHAGIAAN
Satu survei atas mahasiswa Jerman adalah contoh terbaik substitusi. Survei yang dijawab peserta muda berisi dua pertanyaan:
- Sebahagia apakah Anda akhir-akhir ini?
- Berapa kencan yang Anda lakukan bulan lalu?
Para pelaku percobaan tertarik dengan korelasi antara jawaban kedua pertanyaan. Akankah mahasiswa yang mengaku sering kencan merasa lebih bahagia daripada yang jarang kencan? Herannya, tidak: korelasi antara jawaban kedua pertanyaan nyaris nol. Rupanya, kencan bukan hal pertama yang muncul dalam benak peserta ketika diminta menilai kebahagiaan.
Kelompok mahasiswa lain disodori dua pertanyaan yang sama, tapi urutannya dibalik:
- Berapa kencan yang Anda lakukan bulan lalu?
- Sebahagia apakah Anda akhir-akhir ini?
Hasilnya sangat berbeda. Dengan urutan seperti itu, korelasi antara jumlah kencan dan kebahagiaan sangat tinggi. Penjelasannya gamblang, dan merupakan contoh bagus substitusi. Kencan rupanya bukan inti kehidupan mahasiswa (di survei pertama, kebahagiaan dan kencan tidak berkorelasi), tapi waktu diminta memikirkan kehidupan romansa, mereka jelas mengalami reaksi emosional. Mahasiswa yang sering kencan teringat satu aspek membahagiakan dalam hidup mereka, sementara yang tak pernah kencan mengingat kesendirian dan penolakan. Emosi yang ditimbulkan pertanyaan kencan masih ada dalam benak ketika pertanyaan mengenai kebahagiaan muncul.
Psikologi yang menjelaskan apa yang terjadi setara dengan psikologi ilusi ukuran di Gambar 9. "Kebahagiaan akhir-akhir ini" bukan penilaian alami atau gampang. Jawaban yang baik membutuhkan banyak pemikiran. Namun, mahasiswa yang baru ditanya soal kencan tidak perlu berpikir keras karena dalam kepala mereka sudah ada jawaban untuk pertanyaan yang berhubungan: sebahagia apa mereka dengan kehidupan cinta. Mereka substitusikan pertanyaan itu dengan pertanyaan yang sudah mereka pegang jawabannya.
Sekali lagi, seperti untuk ilusi, kita bisa bertanya: Apakah mahasiswa itu kebingungan? Apa mereka benar-benar berpikir bahwa kedua pertanyaan itu—yang diajukan dan yang mereka jawab—sama? Tentu saja tidak. Mereka tidak kehilangan kemampuan membedakan kehidupan romantis dengan kehidupan secara keseluruhan. Kalau ditanya mengenai kedua konsep itu, mereka bakal jawab keduanya berbeda. Tapi mereka tak ditanya apakah keduanya berbeda. Yang ditanyakan adalah seberapa bahagia mereka, dan Sistem 1 punya jawaban yang sudah tersedia.
Kencan tidaklah unik. Pola yang sama ditemukan kalau pertanyaan mengenai hubungan mahasiswa dengan orangtua atau keadaan keuangan diajukan sebelum pertanyaan mengenai kebahagiaan umum. Dalam kedua kasus, kepuasan di bidang yang ditanyakan mendominasi laporan kebahagiaan. Pertanyaan apa pun yang penting secara emosional dan mengubah suasana hati orang akan punya efek yang sama.
WYSIATI. Suasana hati terkini berpengaruh sangat besar ketika orang mengevaluasi kebahagiaan.
HEURISTIK AFEKSI
Dominannya kesimpulan terhadap argumen paling menonjol kalau emosi terlibat. Psikolog Paul Slovic mengusulkan heuristik afeksi: orang membiarkan rasa suka dan tak suka memengaruhi kepercayaan mereka mengenai dunia. Preferensi politik menentukan argumen yang dianggap meyakinkan. Jika menyukai kebijakan kesehatan sekarang, Anda percaya manfaatnya lebih besar dan biayanya lebih bisa dikelola ketimbang alternatif lain. Jika bersikap suka perang (hawk) terhadap negara lain, Anda mungkin berpikir negara lain relatif lemah dan bisa tunduk. Jika suka damai (dove), Anda pikir negara lain kuat dan tidak akan mudah dipaksa. Sikap emosional terhadap hal-hal seperti makanan hasil rekayasa, daging merah, tenaga nuklir, tato, atau sepeda motor menyetir kepercayaan mengenai manfaat dan risiko semua hal itu. Jika tak suka hal-hal itu, Anda percaya risikonya tinggi dan manfaatnya tak banyak.
Menonjolnya kesimpulan bukan berarti akal budi sepenuhnya tertutup dan pendapat tak bisa dimasuki informasi dan penalaran masuk akal. Kepercayaan dan sikap emosional bisa berubah (setidaknya sedikit) ketika tahu bahwa risiko suatu kegiatan yang tak disukai ternyata lebih kecil daripada yang dikira. Namun informasi mengenai risiko lebih kecil akan mengubah pandangan mengenai manfaatnya juga (menjadi lebih baik), biarpun informasi yang diterima tak menyebutkan apa-apa mengenai manfaat itu.
Di sini terlihat sisi baru "kepribadian" Sistem 2. Sampai sekarang, Sistem 2 dijabarkan sebagai pemantau yang menyetujui sambil diam-diam, memberi banyak ruang bagi Sistem 1. Sistem 2 juga aktif melakukan pencarian sengaja dalam ingatan, perhitungan rumit, perbandingan, perencanaan, dan pemilihan. Di soal tongkat pemukul-bola dan banyak contoh lain interaksi kedua sistem, terlihat Sistem 2-lah yang akhirnya berkuasa, menolak saran Sistem 1, memperlambat, dan memaksakan analisis logis. Kritik diri adalah salah satu fungsi Sistem 2. Namun, dalam konteks sikap, Sistem 2 lebih merupakan apologis bagi emosi-emosi Sistem 1 dibanding pengkritik emosi—pemberi persetujuan, bukan penegak disiplin. Pencarian informasi dan argumen oleh Sistem 2 sebagian besar terbatas pada informasi yang konsisten dengan kepercayaan yang sudah ada, tidak dengan niat memeriksa. Sistem 1 yang aktif dan mencari koherensi mengusulkan solusi kepada Sistem 2 yang tak banyak menuntut.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
BICARA TENTANG SUBSTITUSI DAN HEURISTIK
"Apa kita masih ingat pertanyaan yang kita coba jawab? Ataukah kita sudah beralih ke pertanyaan lebih gampang?"
"Pertanyaan yang kita hadapi adalah apakah calon ini bisa berhasil. Pertanyaan yang tampaknya kita jawab adalah apakah dia bagus dalam wawancara. Mari jangan lakukan substitusi."
"Dia suka proyek ini, jadi dia pikir biayanya rendah dan manfaatnya besar. Contoh bagus heuristik afeksi."
"Kita menggunakan prestasi tahun lalu sebagai heuristik untuk memprediksi nilai perusahaan beberapa tahun ke depan. Apakah heuristiknya cukup bagus? Informasi apa lagi yang kita butuhkan?"
Tabel berikut berisi daftar ciri dan aktivitas yang telah dikaitkan dengan Sistem 1. Tiap kalimat aktif menggantikan satu pernyataan, yang secara teknis lebih akurat tapi lebih sukar dimengerti, supaya terjadi suatu peristiwa mental otomatis dan cepat. Harapan saya, daftar sifat ini akan membantu mengembangkan pemahaman intuitif atas "kepribadian" Sistem 1 yang fiktif. Sebagaimana tokoh-tokoh lain yang diketahui, Anda akan punya dugaan mengenai apa yang akan dilakukan Sistem 1 dalam berbagai keadaan, dan sebagian besar dugaan benar.
Sifat-sifat Sistem 1
- Membuat kesan, perasaan, dan kecenderungan; kalau disetujui Sistem 2, semua itu menjadi kepercayaan, sikap, dan niat.
- Beroperasi otomatis dan cepat, dengan sedikit atau tanpa usaha, dan tak terasa dikendalikan dengan sengaja.
- Bisa diprogram oleh Sistem 2 untuk mengerahkan perhatian kalau pola tertentu terdeteksi (pencarian).
- Melaksanakan tanggapan berdasarkan keahlian dan menghasilkan intuisi pakar, sesudah dilatih memadai.
- Menciptakan pola koheren gagasan aktif dalam ingatan asosiatif.
- Mengaitkan rasa kemudahan kognitif dengan ilusi kebenaran, perasaan enak, dan penurunan kewaspadaan.
- Membedakan yang mengejutkan dan yang normal.
- Menyimpulkan dan menggagas sebab dan niat.
- Mengabaikan ambiguitas dan meredam keraguan.
- Cenderung percaya dan membenarkan.
- Membesar-besarkan konsistensi emosional (efek halo).
- Memusatkan perhatian pada bukti yang ada dan mengabaikan bukti yang tak ada (WYSIATI).
- Menghasilkan set terbatas penilaian dasar.
- Mewakili set dengan norma dan prototipe, tidak mengintegrasikan.
- Menyesuaikan intensitas lintas skala (misalnya ukuran dengan kekerasan bunyi).
- Menghitung lebih banyak daripada yang diniatkan (senapan tabur mental).
- Kadang mengganti pertanyaan sulit dengan pertanyaan lebih mudah (heuristik).
- Lebih peka terhadap perubahan daripada keadaan (teori prospek)*
- Melebih-lebihkan probabilitas kecil*
- Menunjukkan kepekaan yang terus mengecil terhadap kuantitas (psikofisika)*
- Menanggapi kerugian lebih kuat daripada keuntungan (benci rugi)*
- Membingkai masalah keputusan secara sempit, terpisah dari yang lain*
*Sifat yang disajikan terperinci di Bagian 4







Comments (0)