[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

PENDAHULUAN

Saya kira tiap penulis memikirkan satu keadaan ketika karyanya bisa memberi manfaat kepada pembaca. Keadaan yang saya pikirkan adalah di depan dispenser air minum di kantor, tempat para karyawan berbagi pendapat dan bertukar gosip. Saya berharap bisa memperkaya kosakata yang orang pakai ketika mereka membicarakan ketetapan dan pilihan orang lain, kebijakan baru perusahaan, atau keputusan investasi seorang kolega. Mengapa memikirkan gosip? Karena rasanya lebih gampang dan lebih asyik mencari serta memberi label pada kesalahan orang lain dibanding kesalahan diri sendiri.

Mempertanyakan apa yang kita percaya dan inginkan selalu sulit, apalagi kalau kita sedang paling perlu mempertanyakan, tapi kita bisa mendapat manfaat dari pendapat bermutu pihak lain. Banyak di antara kita langsung menunggu bagaimana kawan dan kolega menilai pilihan kita; oleh karena itu, mutu dan isi penilaian yang ditunggu itu penting. Yang diharapkan gosip cerdas adalah motif kuat untuk kritik diri secara serius, lebih kuat daripada kaul Tahun Baru untuk memperbaiki cara mengambil keputusan di pekerjaan dan rumah.

Agar menjadi pendiagnosis andal, seorang dokter perlu mengetahui sejumlah besar label untuk penyakit, yang masing-masing mengikat gagasan mengenai suatu penyakit dengan gejalanya, kemungkinan pendahulu dan penyebabnya, kemungkinan perkembangan dan akibatnya, serta kemungkinan penanganan untuk menyembuhkan atau mengurangi penyakit tersebut. Belajar kedokteran mencakup belajar bahasa kedokteran.

Pemahaman lebih mendalam atas pertimbangan dan pilihan juga menuntut kosakata yang lebih kaya dibanding bahasa sehari-hari. Yang diharapkan dalam gosip cerdas adalah menemukan pola-pola khas pada kesalahan-kesalahan yang diperbuat orang. Kesalahan sistematis dikenal sebagai bias, yang terjadi berulangkali secara terduga di keadaan tertentu.

Misalnya, ketika seorang pembicara yang ganteng dan percaya diri tampil di panggung, bisa diperkirakan bahwa para pendengar akan menilai kata-katanya lebih baik daripada yang selayaknya. Ketersediaan label diagnostik untuk bias ini—efek halo—membuat bias tersebut lebih gampang diantisipasi, dikenali, dan dimengerti.

Ketika Anda ditanya apa yang Anda pikirkan, biasanya Anda bisa menjawab. Anda mengira tahu apa yang terjadi dalam kepala Anda, yang sering kali terdiri atas satu pemikiran sadar yang mengarah ke pemikiran sadar lain secara teratur. Tapi bukan hanya itu cara kerja akal budi, dan juga bukan cara yang paling biasa.

Sebagian besar kesan dan pemikiran muncul di pengalaman sadar Anda tanpa Anda tahu prosesnya. Anda tak bisa melacak bagaimana Anda sampai percaya bahwa ada lampu di meja di depan Anda, atau bagaimana Anda mendeteksi gelagat kekesalan di suara pasangan Anda di telepon, atau bagaimana Anda berhasil menghindari kecelakaan di jalan raya sebelum Anda menyadarinya. Kerja mental yang menghasilkan kesan, intuisi, dan banyak keputusan terjadi secara diam-diam dalam akal budi kita.

Banyak diskusi dalam buku ini membahas bias intuisi. Namun, fokusnya kepada kesalahan tidaklah dimaksudkan untuk merendahkan inteligensi manusia, sebagaimana perhatian terhadap penyakit di buku kedokteran tidak menganggap kesehatan yang baik itu tak ada. Sebagian besar kita biasanya sehat; sebagian besar pertimbangan dan tindakan kita biasanya pantas.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Selagi menjalani hidup, biasanya kita memperkenankan diri dibimbing oleh kesan dan perasaan, dan keyakinan kita terhadap kepercayaan dan kesukaan intuitif kita biasanya terbukti benar. Tapi tidak selalu benar. Kita sering kali tetap yakin biarpun kita keliru, dan pengamat yang objektif lebih bisa mendeteksi kesalahan kita daripada kita sendiri.

Jadi inilah yang ingin saya berikan untuk percakapan di depan dispenser air minum: perbaikan kemampuan mengenali dan mengerti kesalahan pertimbangan serta pilihan, pada orang lain dan kemudian pada diri kita sendiri, dengan menyediakan bahasa yang lebih kaya dan tepat untuk membahasnya. Di setidaknya beberapa kasus, diagnosis yang akurat bisa menghasilkan saran penanganan untuk membatasi kerusakan yang sering disebabkan oleh pertimbangan dan pilihan yang buruk.

ASAL-USUL

Buku ini menyajikan pemahaman saya saat ini mengenai pertimbangan dan pengambilan keputusan, yang telah dibentuk oleh penemuan-penemuan di bidang psikologi selama puluhan tahun terakhir. Namun, gagasan-gagasan intinya berasal dari satu hari mujur pada 1969 ketika saya meminta seorang kolega menjadi pembicara tamu di kelas yang saya ampu di Fakultas Psikologi, Universitas Ibrani Yerusalem.

Amos Tversky saat itu adalah bintang terang di bidang riset keputusan, jadi saya tahu kami bakal mendapat sesuatu yang menarik. Banyak kenalan Amos yang menganggap dia orang paling cerdas yang pernah mereka temui. Dia cemerlang, pandai bicara, dan karismatik. Dia juga diberkahi kemampuan kuat untuk mengingat lelucon dan menggunakan lelucon untuk menjelaskan. Kalau ada Amos, suasana tidak pernah membosankan. Dia waktu itu berumur 32 tahun; saya 35 tahun.

Amos memberitahu kelas mengenai program riset yang sedang berjalan di University of Michigan untuk menjawab pertanyaan berikut: apakah manusia secara intuitif ahli dalam statistika? Sudah kita ketahui bahwa manusia secara intuitif ahli dalam tata bahasa: pada umur empat tahun, anak kecil sudah bisa mengikuti aturan tata bahasa ketika berbicara, walau tidak tahu bahwa aturan itu ada. Apakah manusia punya rasa intuitif yang sama terhadap kaidah-kaidah dasar statistika? Menurut Amos, jawabannya ya.

Kami berdebat hangat di seminar dan akhirnya menyimpulkan jawaban yang lebih baik adalah tidak.

Amos dan saya menikmati perdebatan itu dan menyimpulkan bahwa statistika intuitif adalah topik menarik yang asyik dijelajahi bersama. Jumat sesudahnya kami bertemu untuk makan siang di Café Rimon, tempat nongkrong kesukaan kaum bohemian dan profesor di Yerusalem, serta merencanakan penelitian atas intuisi statistika para peneliti ahli.

Telah kami simpulkan di seminar bahwa intuisi kami berdua sendiri kurang memadai. Meskipun sudah bertahun-tahun mengajar dan menggunakan statistika, kami belum mengembangkan rasa intuitif mengenai keandalan hasil statistik yang diamati pada sampel kecil. Pertimbangan subjektif kami bias: kami terlalu mudah percaya hasil penelitian yang didasarkan pada bukti yang kurang memadai dan cenderung melakukan terlalu sedikit pengamatan dalam riset kami sendiri. Tujuan penelitian kami adalah memeriksa apakah para peneliti lain mengalami hal yang sama.

Kami mempersiapkan survei yang melibatkan skenario permasalahan statistik yang muncul dalam riset. Amos mengumpulkan jawaban sekelompok peserta ahli dalam satu pertemuan Society of Mathematical Psychology, termasuk para penulis dua buku ajar statistika.

Sebagaimana diperkirakan, kami mendapati bahwa para ahli kolega kami, seperti kami sendiri, membesar-besarkan peluang hasil asli suatu percobaan bakal berhasil diulang, bahkan dengan sampel kecil. Mereka juga memberi nasihat sangat buruk mengenai berapa pengamatan yang perlu dilakukan seorang mahasiswi pascasarjana fiktif. Ahli statistika sungguhan pun bukan ahli statistika yang baik secara intuitif.

Waktu menulis artikel yang melaporkan temuan itu, Amos dan saya mendapati bahwa kami suka bekerja sama satu sama lain. Amos selalu sangat lucu, dan di dekat dia saya jadi ikut-ikutan lucu, jadi kami menghabiskan berjam-jam bekerja sambil terhibur. Keasyikan bekerja sama membuat kami jadi sangat sabar; berusaha mencapai kesempurnaan lebih mudah kalau kami tidak pernah bosan.

Barangkali yang paling penting adalah kami menyingkirkan dulu senjata kekritisan kami. Amos dan saya sama-sama kritis dan suka berargumen, tapi selama berkolaborasi bertahun-tahun kami tak pernah saling main bantah begitu saja untuk segala sesuatu yang dikatakan.

Satu kebahagiaan besar yang saya temukan dalam kolaborasi dengan Amos adalah dia sering bisa melihat inti gagasan saya lebih jelas daripada saya sendiri. Amos berpikir lebih logis, dengan orientasi ke teori dan kemampuan melihat arah yang teguh. Saya lebih intuitif dan berakar di psikologi persepsi, yang menjadi sumber gagasan kami.

Kami cukup mirip satu sama lain sehingga mudah saling mengerti, tapi cukup berbeda sehingga masih bisa saling mengagetkan. Kami mengembangkan rutinitas menghabiskan sebagian besar hari kerja bersama, sering kali sambil berjalan-jalan jauh. Selama empat belas tahun, kolaborasi menjadi fokus kehidupan kami, dan pekerjaan kami dalam tahun-tahun itu adalah yang terbaik yang pernah kami lakukan.

Kami menjalani satu cara yang terus kami lakukan selama bertahun-tahun. Riset kami berupa percakapan: kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan bersama-sama memeriksa jawaban intuitif kami. Tiap pertanyaan adalah satu percobaan kecil, dan kami melakukan banyak percobaan tiap hari.

Kami tidak serius mencari jawaban yang benar untuk pertanyaan statistik yang kami ajukan. Tujuan kami adalah mengidentifikasi dan menganalisis jawaban intuitif yang pertama kali terbersit, yang pertama kali ingin diajukan biarpun kami tahu jawaban itu salah. Kami percaya bahwa intuisi apa pun yang kami berdua dapatkan juga didapatkan oleh banyak orang lain.

Suatu kali kami girang ketika menemukan bahwa kami punya gagasan-gagasan konyol yang sama mengenai profesi masa depan beberapa anak kecil yang kami kenal. Kami dapat mengenali calon pengacara berumur tiga tahun yang suka membantah, calon profesor yang kutu buku, calon psikoterapis yang empatik dan ingin tahu.

Tentu saja prediksi-prediksi itu absurd, tapi kami tetap suka. Jelas pula bahwa intuisi kami dikuasai kemiripan tiap anak dengan stereotipe budaya terhadap profesi tertentu. Main-main prediksi itu membantu kami mengembangkan teori mengenai peran kemiripan dalam prediksi.

Selagi memikirkan pertanyaan berikut, anggaplah bahwa Steve dipilih secara acak dari sampel yang merupakan perwakilan:

Seseorang dijabarkan oleh tetangganya sebagai berikut:
"Steve sangat pemalu dan penyendiri, selalu suka menolong tapi kurang tertarik kepada orang atau dunia nyata. Dia berjiwa lembut dan rapi, butuh keteraturan dan struktur, dan menggemari perincian."

Apakah Steve seorang pustakawan atau petani?

Kemiripan kepribadian Steve dengan stereotipe pustakawan langsung diperhatikan semua orang, tapi pertimbangan statistik yang sama pentingnya hampir selalu diabaikan. Terpikirkah Anda bahwa untuk setiap satu pustakawan laki-laki di Amerika, ada 20 petani laki-laki?

Karena ada jauh lebih banyak petani, hampir pasti bahwa ada lebih banyak orang berjiwa “lembut dan rapi” di atas traktor daripada di balik meja perpustakaan. Tapi kami mendapati para peserta percobaan kami mengabaikan statistik yang relevan dan hanya mengandalkan kemiripan.

Kami usulkan mereka menggunakan kemiripan sebagai heuristik penyederhana (simplifying heuristic, atau taksiran kasar) dalam membuat pertimbangan yang berat. Mengandalkan heuristik menyebabkan bias (kesalahan sistematis) dalam prediksi.

Pada kesempatan lain, Amos dan saya memikirkan jumlah perceraian di kalangan profesor di universitas kami. Kami perhatikan bahwa pertanyaan itu memicu pencarian ingatan mengenai para profesor yang bercerai yang kami kenal atau ketahui, dan bahwa kami menilai ukuran kategori berdasarkan kemudahan ingatan muncul. Kami sebut pengandalan terhadap kemudahan mengingat sebagai heuristik ketersediaan.

Di salah satu penelitian, kami meminta peserta menjawab pertanyaan sederhana mengenai kata-kata dalam teks bahasa Inggris biasa:

Pikirkanlah huruf K.
Apakah K lebih mungkin hadir sebagai huruf pertama dalam satu kata ATAU huruf ketiga dalam satu kata?

Seperti diketahui oleh para pemain Scrabble, lebih mudah mencari kata yang dimulai dengan huruf tertentu daripada mencari kata yang huruf ketiganya adalah huruf tertentu. Itu berlaku bagi semua huruf dalam alfabet. Oleh karena itu kami memperkirakan para peserta akan membesar-besarkan frekuensi huruf yang muncul di posisi pertama—bahkan bagi huruf-huruf (seperti K, L, N, R, V) yang memang lebih sering muncul di posisi ketiga dalam kata-kata bahasa Inggris. Lagi-lagi pengandalan heuristik menghasilkan bias yang bisa diprediksi dalam pertimbangan.

Contohnya, saya baru-baru ini mulai meragukan kesan yang sudah lama saya pegang bahwa perzinahan lebih umum terjadi di kalangan politikus dibanding di antara para dokter atau pengacara. Saya malah mengajukan penjelasan untuk “fakta” itu, termasuk bahwa kekuasaan itu berefek afrodisiak dan banyaknya godaan hidup di luar rumah. Akhirnya saya sadar bahwa perilaku miring para politikus jauh lebih banyak diberitakan daripada perilaku miring pengacara dan dokter. Kesan intuitif saya dapat saja ditimbulkan oleh pilihan berita yang diliput wartawan dan pengandalan saya terhadap heuristik ketersediaan.

Amos dan saya menghabiskan beberapa tahun mempelajari dan mendokumentasikan bias-bias pemikiran intuitif dalam berbagai tugas—memberikan probabilitas peristiwa, memprakirakan masa depan, menilai hipotesis, dan menakar frekuensi. Pada tahun kelima kolaborasi kami, kami sajikan temuan utama kami di majalah Science, yang dibaca kaum cendekia berbagai disiplin ilmu.

Artikel itu (yang disajikan kembali di akhir buku ini) berjudul Judgment Under Uncertainty: Heuristics and Biases (“Pertimbangan dalam Ketidakpastian: Heuristik dan Bias”). Artikel tersebut menjabarkan berbagai jalan pintas penyederhana dalam pemikiran intuitif dan menjelaskan sekitar 20 bias sebagai perwujudan kesemua heuristik itu—juga menunjukkan peran heuristik dalam pertimbangan.

Para ahli sejarah sains sering memperhatikan bahwa pada waktu tertentu, kaum cendekia di bidang tertentu cenderung memiliki asumsi-asumsi dasar yang sama terhadap bidang mereka. Ilmuwan sosial pun termasuk; mereka mengandalkan suatu pandangan mengenai hakikat manusia yang menjadi latar belakang sebagian besar diskusi mengenai perilaku tertentu tapi jarang dipertanyakan.

Para ilmuwan sosial 1970-an umumnya menerima dua gagasan mengenai hakikat manusia. Pertama, manusia lazimnya rasional, dan pemikiran manusia normalnya waras. Kedua, emosi seperti rasa takut, kasih sayang, dan benci bisa menjelaskan sebagian besar kejadian ketika manusia bertindak tidak rasional.

Artikel kami menantang kedua asumsi itu tanpa membahas keduanya secara langsung. Kami dokumentasikan kesalahan-kesalahan sistematis dalam pemikiran orang normal, dan kami telusuri kesalahan-kesalahan itu ke rancangan mekanisme kognisi, bukan karena terganggunya akal oleh emosi.

Artikel kami menarik lebih banyak perhatian daripada yang kami perkirakan, dan terus menjadi salah satu karya yang paling sering dirujuk dalam ilmu sosial. Para cendekia di disiplin ilmu lain menganggap artikel kami berguna; gagasan heuristik dan bias telah digunakan dengan produktif di banyak bidang, termasuk diagnosis kedokteran, pertimbangan hukum, analisis intelijen, filsafat, keuangan, statistika, dan strategi militer.

Sebagai contoh, para pemerhati kebijakan telah memperhatikan bahwa heuristik ketersediaan membantu menjelaskan mengapa beberapa isu sangat menonjol dalam benak masyarakat, sementara isu lainnya diabaikan. Orang cenderung menilai pentingnya isu berdasarkan kemudahan mengingatnya—dan kemudahan mengingat itu sebagian besar ditentukan oleh kadar pemberitaan dalam media.

Topik-topik yang sering dibahas memenuhi benak masyarakat, sementara yang lainnya luput dari perhatian. Sebaliknya, yang dipilih media untuk diberitakan sejalan dengan pandangan media mengenai apa yang ada dalam benak masyarakat. Bukan kebetulan rezim pemerintah otoriter menekan media independen.

Karena perhatian masyarakat paling gampang dipancing peristiwa dramatis dan pesohor, “keroyokan media” sering terjadi. Selama beberapa minggu sesudah kematian Michael Jackson, nyaris tidak ada saluran televisi yang memberitakan hal lain.

Sementara itu, hanya ada sedikit berita mengenai isu penting tapi tak menarik, seperti menurunnya standar pendidikan atau investasi berlebihan untuk sumber daya medis pada tahun terakhir kehidupan. Sambil menulis, saya sadar pilihan contoh “sedikit diberitakan” saya juga dipandu ketersediaan. Topik-topik yang saya pilih sebagai contoh masih sering disebut-sebut; isu-isu lain yang sama pentingnya tapi lebih jarang disebut tak terpikirkan oleh saya.

Waktu itu kami belum memikirkannya, tapi salah satu alasan penting sangat menariknya “heuristik dan bias” di luar psikologi adalah satu ciri khas karya kami: kami hampir selalu memuat kalimat lengkap pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan ke diri kami sendiri dan peserta penelitian.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi peragaan bagi pembaca, memperkenankan pembaca mengenali bagaimana pemikirannya sendiri tersandung bias kognitif. Saya harap Anda sendiri mendapat pengalaman itu selagi membaca pertanyaan mengenai Steve si pustakawan, yang dimaksudkan membantu Anda memahami kekuatan kemiripan sebagai isyarat probabilitas dan melihat betapa mudahnya fakta statistik yang relevan diabaikan.

Penggunaan peragaan menyediakan kesempatan unik bagi para cendekia dari berbagai disiplin ilmu—terutama filsafat dan ekonomi—untuk mengamati kemungkinan cacat pada pemikiran mereka sendiri. Karena bisa melihat diri sendiri tersandung kesalahan, mereka menjadi makin cenderung mempertanyakan asumsi dogmatis waktu itu bahwa akal budi manusia rasional dan logis.

Pilihan metodenya penting: jika kami melaporkan hasil percobaan konvensional saja, artikel kami jadi kurang penting dan kurang diingat. Selain itu, para pembaca yang skeptis bakal menjauhkan diri dari hasilnya dengan mengaitkan kesalahan pertimbangan dengan sifat kurang pengalaman pada mahasiswa, yang biasa menjadi peserta penelitian psikologi.

Tentu saja, kami tidak lebih memilih peragaan dibanding percobaan standar karena ingin memengaruhi ahli filsafat dan ahli ekonomi. Kami lebih suka peragaan karena lebih asyik, dan kami beruntung dalam pilihan metode kami serta banyak hal lain.

Satu tema yang berulang dalam buku ini adalah bahwa keberuntungan berperan besar di tiap kisah keberhasilan; kita selalu mudah melihat satu perubahan kecil dalam kisah yang, apabila terjadi, bakal mengubah prestasi tinggi menjadi hasil biasa-biasa saja. Kisah kami pun demikian.

Reaksi terhadap karya kami tak semuanya positif. Khususnya, fokus kami terhadap bias dikritik karena dianggap memberi pandangan negatif yang tak adil terhadap akal budi.

Sebagaimana bisa diharapkan dalam sains normal, beberapa peneliti mempertajam gagasan-gagasan kami dan lainnya menawarkan alternatif yang masuk akal. Namun, secara umum gagasan bahwa akal budi kita rentan mengalami kesalahan sistematis sekarang sudah diterima secara luas. Riset kami mengenai pertimbangan memiliki pengaruh besar bagi ilmu sosial, lebih besar daripada yang kami kira ketika mengerjakannya.

Segera sesudah menyelesaikan tinjauan terhadap pertimbangan, kami beralih ke pengambilan keputusan di tengah ketidakpastian. Tujuan kami adalah mengembangkan satu teori psikologi mengenai cara orang membuat keputusan terkait pertaruhan sederhana.

Contoh: Apakah Anda bakal menerima pertaruhan lempar koin ketika Anda bakal menang $130 kalau muka koin yang menghadap atas adalah angka atau kalah $100 kalau yang menghadap atas itu gambar?

Pemilihan sederhana itu sudah lama digunakan untuk meneliti pertanyaan-pertanyaan besar mengenai pengambilan keputusan, seperti bobot relatif yang diberikan orang kepada hal-hal yang pasti dan tak pasti. Metode kami tidak berubah: kami menghabiskan berhari-hari membuat pertanyaan mengenai pilihan dan kami periksa apakah kesukaan intuitif kami cocok dengan logika pilihan.

Sekali lagi, sebagaimana pada pertimbangan, kami menemukan bias sistematik di keputusan kami sendiri, kesukaan intuitif yang selalu melanggar aturan pemilihan rasional.

Lima tahun sesudah artikel di Science, kami memublikasikan Prospect Theory: An Analysis of Decision Under Risk, suatu teori pilihan yang bisa dianggap lebih berpengaruh daripada karya kami mengenai pertimbangan dan menjadi salah satu dasar ilmu ekonomi perilaku.

Sampai akhirnya terpisahkan secara geografis, Amos dan saya menikmati nasib baik berupa akal budi bersama yang lebih unggul daripada kepala kami masing-masing, serta hubungan yang membuat pekerjaan kami tak hanya produktif tapi juga asyik.

Kolaborasi kami mengenai pertimbangan dan pengambilan keputusan menjadi alasan saya menerima Hadiah Nobel pada 2002, yang sedianya bakal saya terima bersama Amos andai dia tak keburu meninggal pada umur 59 tahun, tahun 1996.

ADA DI MANA KITA SEKARANG

Buku ini tidak dimaksudkan sebagai laporan lengkap mengenai riset awal yang saya lakukan bersama Amos, karena tugas itu sudah dilakukan banyak penulis lain selama bertahun-tahun. Tujuan utama saya di sini adalah menyajikan pandangan mengenai cara kerja akal budi berdasarkan perkembangan terkini dalam psikologi kognitif dan sosial. Salah satu perkembangan penting adalah bahwa kita sekarang mengerti kelebihan-kelebihan pemikiran intuitif, tak hanya kekurangannya.

Amos dan saya tidak membahas intuisi akurat melebihi pernyataan ringan bahwa heuristik pertimbangan “cukup berguna, tapi kadang menyebabkan kesalahan parah dan sistematis”. Kami berfokus pada bias, karena kami anggap bias itu sendiri menarik dan karena bias memberi bukti untuk heuristik pertimbangan. Kami tidak bertanya apakah semua pertimbangan intuitif dalam ketidakpastian dihasilkan oleh heuristik yang kami pelajari; sekarang sudah jelas bahwa jawabannya tidak.

Khususnya, intuisi akurat para pakar lebih baik dijelaskan dengan efek latihan yang berlangsung lama dibanding heuristik. Kita sekarang bisa membuat gambaran yang lebih kaya dan berimbang, dengan keahlian dan heuristik menjadi dua dasar pertimbangan intuitif dan pilihan.

Psikolog Gary Klein bercerita mengenai regu pemadam kebakaran yang memasuki rumah yang dapurnya terbakar. Tak lama sesudah mereka mulai menyemprotkan air dengan slang ke dapur, si komandan berteriak, “Ayo keluar!” tanpa sadar mengapa. Lantai dapur langsung runtuh sesudah para pemadam kebakaran pergi dari sana.

Si komandan baru belakangan sadar bahwa kebakaran itu tidak berisik, tak seperti biasa, dan telinganya terasa lebih panas. Bersama-sama, kesan-kesan tersebut memicu apa yang dia sebut “indra keenam pendeteksi bahaya”. Dia tidak tahu apa yang tidak beres, tapi dia tahu ada yang tidak beres. Ternyata pusat kebakaran bukan di dapur, melainkan di ruang bawah tanah di bawah lantai yang diinjak para pemadam kebakaran.

Kita semua pernah mendengar cerita intuisi pakar: jago catur yang melewati orang-orang yang bermain catur di pinggir jalan lalu berkata “Putih skak mat dalam tiga langkah” tanpa perlu memperhatikan lama-lama, atau dokter yang langsung memberi diagnosis rumit sesudah melihat sekilas pasien.

Intuisi pakar sering dianggap ajaib, tapi sebenarnya tidak. Malah kita semua melakukan tindakan intuisi pakar berkali-kali tiap hari. Sebagian besar kita bisa mendeteksi rasa marah pada kata pertama yang terdengar dalam percakapan telepon, menyadari bahwa kita sedang dibicarakan ketika kita masuk ke ruangan tempat orang-orang mengobrol, dan bereaksi cepat terhadap tanda-tanda kecil yang menunjukkan pengendara mobil di jalur sebelah membahayakan.

Kemampuan intuitif harian kita tak lebih ajaib daripada intuisi seorang pemadam kebakaran atau dokter berpengalaman—hanya lebih umum.

Psikologi intuisi akurat tidak melibatkan keajaiban. Barangkali pernyataan singkat terbaik mengenainya diajukan oleh Herbert Simon, yang mempelajari para juara catur dan menunjukkan bahwa sesudah ribuan jam berlatih mereka memandang biji-biji catur dengan cara yang berbeda dari orang kebanyakan.

Simon menunjukkan ketidaksabaran terhadap “pengajaiban” intuisi pakar ketika menulis:
“Situasi menyediakan petunjuk; petunjuk membuat sang pakar mengakses informasi yang disimpan dalam ingatan, dan informasi memberi jawaban. Intuisi itu, tak kurang tak lebih, adalah pengenalan.”

Kita tidak terkejut ketika ada anak umur dua tahun melihat anjing dan berkata “doggie!” karena kita terbiasa dengan anak yang belajar mengenali dan menyebut nama benda. Simon menganggap keajaiban intuisi pakar itu sama saja.

Intuisi yang valid berkembang ketika pakar belajar mengenali unsur-unsur familier dalam situasi baru dan bertindak sesuai dengan petunjuk. Pertimbangan intuitif yang baik langsung muncul dalam benak sebagaimana “doggie!”

Sayangnya, tidak semua intuisi profesional muncul dari pengalaman sejati. Bertahun-tahun lalu saya mengunjungi chief investment officer satu perusahaan finansial besar yang memberitahu saya bahwa dia baru saja menginvestasikan beberapa puluh juta dolar dalam saham Ford Motor Company.

Waktu saya tanya bagaimana dia sampai ke keputusan itu, dia menjawab bahwa dia baru saja mendatangi pameran mobil dan terkesan. “Wah, mereka jago sekali bikin mobil!” adalah penjelasannya. Dia menyatakan bahwa dia percaya perasaan naluriahnya dan puas dengan dirinya sendiri serta keputusannya.

Saya heran karena dia tidak mempertimbangkan satu pertanyaan yang bakal dianggap relevan oleh ahli ekonomi: apakah harga saham Ford sedang turun? Dia justru mendengar intuisinya; dia suka mobil Ford, dia suka perusahaan itu, dan dia suka gagasan memiliki saham Ford. Dari yang kita ketahui mengenai akurasi pemilihan saham, masuk akallah bila kita anggap dia tidak tahu apa yang dia lakukan.

Heuristik khusus yang dipelajari Amos dan saya hanya sedikit membantu memahami bagaimana si eksekutif memilih berinvestasi pada saham Ford, tapi konsepsi heuristik yang lebih luas sekarang sudah ada dan bisa memberi gambaran yang bagus.

Satu kemajuan penting adalah sekarang diketahui bahwa emosi berpengaruh jauh lebih besar dalam pemahaman kita mengenai pertimbangan dan pilihan intuitif. Keputusan si eksekutif sekarang disebut sebagai contoh heuristik afeksi, yaitu pertimbangan dan keputusan yang langsung dibimbing oleh perasaan suka dan tak suka, tanpa penalaran.

Ketika menghadapi suatu masalah—memilih langkah dalam permainan catur atau memutuskan berinvestasi di satu saham—mekanisme pemikiran intuitif bekerja sebaik mungkin. Jika individu yang menghadapi masalah punya kepakaran yang relevan, dia akan mengenali situasinya, dan solusi intuitif yang terpikir olehnya kemungkinan akan tepat.

Itulah yang terjadi ketika seorang jago catur memandang papan catur dengan posisi biji catur tertentu: semua langkah yang langsung terpikir olehnya kuat.

Ketika persoalannya sukar dan solusi pakar tidak tersedia, intuisi masih berusaha: jawaban mungkin segera muncul dalam benak—tapi bukan jawaban bagi persoalan asli.

Persoalan yang dihadapi si eksekutif (haruskah saya berinvestasi pada saham Ford?) sukar, tapi jawaban untuk persoalan yang lebih mudah dan ada hubungannya (apakah saya suka mobil Ford?) langsung muncul dalam pikirannya dan menentukan pilihannya.

Itulah inti heuristik intuitif: ketika menghadapi pertanyaan sukar, sering kali kita malah menjawab persoalan lain yang lebih mudah, biasanya tanpa menyadari pertanyaannya berganti.

Pencarian spontan atas solusi intuitif kadang gagal—tidak ada solusi pakar atau jawaban heuristik yang terpikir. Dalam kasus-kasus seperti itu kita sering mendapati diri beralih ke cara pikir yang lebih lambat, lebih hati-hati, dan lebih butuh usaha.

Itulah “berpikir lambat” (slow thinking) yang ada di judul buku ini. Berpikir cepat (fast thinking) melibatkan pemikiran intuitif pakar dan heuristik—juga aktivitas mental otomatis persepsi dan ingatan, yang memungkinkan Anda tahu ada lampu di meja Anda atau mengingat nama ibu kota Rusia.

Pembedaan antara berpikir cepat dan lambat telah diteliti banyak psikolog selama 25 tahun terakhir. Karena alasan yang akan dijelaskan lebih lengkap di bab berikut, saya menjelaskan kehidupan mental dengan metafor dua agen, yaitu Sistem 1 dan Sistem 2.

Sistem 1 menghasilkan berpikir cepat dan Sistem 2 menghasilkan berpikir lambat. Dalam gambaran yang muncul dari penelitian terkini, Sistem 1 yang intuitif lebih berpengaruh daripada yang dikesankan pengalaman Anda, dan diam-diam menjadi pembuat banyak pilihan dan pertimbangan Anda.

Sebagian besar isi buku ini membahas cara kerja Sistem 1 dan saling pengaruh antara Sistem 1 dan Sistem 2.

ADA APA BERIKUTNYA

Buku ini dibagi menjadi lima bagian.

Bagian 1 menyajikan unsur-unsur dasar pendekatan dua sistem terhadap pertimbangan dan pilihan. Di dalamnya dibahas pembedaan antara operasi otomatis Sistem 1 dan operasi terkendali Sistem 2, serta menunjukkan bagaimana ingatan asosiatif—inti Sistem 1—terus-menerus membangun penafsiran yang koheren mengenai apa yang terjadi di dunia kita setiap saat.

Saya mencoba menunjukkan kerumitan dan kekayaan proses-proses otomatis yang mendasari pemikiran intuitif, serta cara proses-proses otomatis itu menjelaskan heuristik pertimbangan. Tujuannya menawarkan suatu bahasa untuk memikirkan dan membicarakan akal budi.

Bagian 2 menceritakan keadaan terkini studi heuristik pertimbangan dan membahas satu teka-teki besar: mengapa kita sukar sekali berpikir secara statistik? Kita mudah berpikir asosiatif, berpikir dengan perumpamaan, berpikir sebab-akibat, tapi statistika menuntut kita berpikir tentang banyak hal sekaligus, dan Sistem 1 tidak dirancang untuk melakukannya.

Kesukaran pemikiran statistik menjadi tema utama Bagian 3, yang menjabarkan satu keterbatasan akal budi kita yang membingungkan: terlalu yakinnya kita dengan apa yang kita percayai kita ketahui, dan ketidakmampuan kita mengakui kadar ketidaktahuan kita serta ketidakpastian dunia tempat kita tinggal.

Kita mudah melebih-lebihkan pengetahuan kita mengenai dunia dan meremehkan peran faktor kebetulan dalam segala kejadian. Rasa terlalu yakin itu diperbesar dengan kepastian dari kilas balik yang sebenarnya semu.

Pandangan saya mengenai topik ini dipengaruhi Nassim Nicholas Taleb, penulis The Black Swan.

Fokus Bagian 4 adalah percakapan dengan disiplin ilmu ekonomi mengenai hakikat pengambilan keputusan dan asumsi bahwa pelaku ekonomi bersifat rasional. Bagian ini menyediakan pandangan terkini mengenai konsep-konsep utama teori prospek, model terpilih yang saya dan Amos publikasikan pada 1979.

Bab-bab selanjutnya membahas berbagai cara penyimpangan pilihan manusia dari aturan-aturan rasionalitas. Saya membicarakan kecenderungan menghadapi persoalan secara terisolasi dan efek pembingkaian, ketika keputusan dibentuk oleh ciri-ciri tak penting dalam persoalan terpilih.

Bagian 5 menjabarkan riset terkini yang memberikan pembedaan antara dua diri, yakni diri mengalami dan diri mengingat, dengan kepentingan yang tidak sama.

Contohnya, kita bisa menimbulkan dua pengalaman menyakitkan kepada orang. Salah satu pengalaman lebih parah karena terjadi lebih lama. Namun pembentukan ingatan secara otomatis—satu ciri Sistem 1—punya aturan sendiri, yang bisa membuat pengalaman yang lebih parah diingat sebagai yang kurang parah.

Ketika orang kemudian memilih mengulang salah satu pengalaman, mereka dibimbing oleh diri mengingat dan memaparkan diri mengalami kepada rasa sakit yang lebih besar.

Pembedaan antara dua diri diterapkan pada pengukuran kesejahteraan. Kita mendapati lagi bahwa yang membuat diri mengalami bahagia tidak sama dengan yang memuaskan diri mengingat.

Cara dua diri dalam satu tubuh mencari kebahagiaan menimbulkan beberapa pertanyaan sulit bagi individu dan masyarakat yang memandang kesejahteraan populasi sebagai tujuan kebijakan.

Satu bab penutup menjelajahi dampak tiga pembedaan yang ditunjukkan dalam buku ini: antara diri mengalami dan diri mengingat, antara konsepsi pelaku dalam ekonomi klasik dan ekonomi perilaku, dan antara Sistem 1 yang otomatis dan Sistem 2 yang membutuhkan usaha.

Saya kembali membahas manfaat gosip cerdas dan apa yang bisa dilakukan organisasi untuk memperbaiki mutu pertimbangan serta keputusan yang dibuat berdasarkannya.

Dua artikel yang saya tulis bersama Amos disajikan sebagai lampiran buku ini. Yang pertama adalah tinjauan mengenai pertimbangan dalam ketidakpastian yang saya jabarkan tadi. Yang kedua merangkum teori prospek dan studi atas efek pembingkaian.

Artikel-artikel itu menyajikan sumbangan yang diakui oleh komite Hadiah Nobel—dan Anda boleh jadi kaget dengan betapa sederhana isi keduanya.

Dengan membaca kedua artikel itu, Anda akan mendapat gambaran mengenai seberapa banyak yang kita ketahui dulu, dan seberapa banyak yang sudah kita pelajari selama bertahun-tahun hingga kini.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment