[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

Norma, Kejutan, dan Penyebab

Ciri dan fungsi utama Sistem 1 dan Sistem 2 sudah diperkenalkan, dengan pembahasan lebih terperinci pada Sistem 1. Bisa dibilang dalam kepala kita ada komputer yang luar biasa kuat, tidak cepat berdasarkan standar perangkat keras konvensional, tapi mampu menggambarkan struktur dunia kita dengan berbagai tipe hubungan asosiatif dalam jejaring luas berisi bermacam-macam jenis gagasan. Penyebaran aktivasi di mesin asosiatif itu otomatis, tapi kita (Sistem 2) punya kemampuan mengendalikan pencarian dalam ingatan, juga memprogramnya supaya deteksi suatu peristiwa di lingkungan bisa menarik perhatian. Kini kita akan melihat lebih terperinci kelebihan dan kekurangan Sistem 1.

Menaksir Kenormalan

Fungsi utama Sistem 1 adalah memelihara dan memperbarui model dunia pribadi Anda, yang menggambarkan apa-apa yang normal di dalamnya. Model itu dibangun dengan asosiasi-asosiasi yang menghubungkan gagasan-gagasan keadaan, peristiwa, tindakan, dan hasil yang terjadi berdekatan dengan teratur, baik pada waktu yang sama maupun saling berurutan dengan jeda singkat. Selagi hubungan-hubungan itu terbentuk dan menguat, pola gagasan-gagasan yang saling hubung menjadi mewakili struktur peristiwa-peristiwa dalam hidup Anda, dan menentukan tafsiran Anda terhadap masa kini serta harapan Anda terhadap masa depan.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Kemampuan untuk terkejut adalah aspek penting kehidupan mental kita, dan kejutan itu sendiri adalah pertanda paling peka mengenai bagaimana kita mengerti dunia kita dan apa yang kita harapkan dari dunia. Ada dua jenis kejutan.

Sebagian harapan itu aktif dan sadar—Anda tahu Anda menunggu peristiwa tertentu terjadi. Ketika waktunya sudah dekat, boleh jadi Anda berharap mendengar bunyi pintu ketika anak Anda pulang sekolah; ketika pintu terbuka, Anda berharap mendengar suara yang akrab. Anda akan terkejut jika suatu peristiwa yang diharapkan secara aktif tidak terjadi.

Tapi ada lebih banyak peristiwa yang Anda harapkan secara pasif; Anda tidak menunggu peristiwa-peristiwa itu, tapi Anda tidak terkejut ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi. Itulah peristiwa-peristiwa yang normal dalam satu situasi, walau tak cukup besar peluang terjadinya untuk diharapkan secara aktif.

Satu insiden bisa membuat peristiwa yang berulang menjadi kurang mengejutkan. Beberapa tahun lalu, saya dan istri saya berlibur di pulau wisata kecil di Great Barrier Reef, Australia. Hanya ada empat puluh kamar tamu di pulau itu. Ketika makan malam, kami terkejut karena bertemu seorang kenalan, psikolog bernama Jon. Kami saling memberi salam dan berkomentar mengenai kebetulan. Jon meninggalkan tempat wisata itu esoknya.

Dua minggu kemudian, saya dan istri berada di teater di London. Seorang penonton yang terlambat datang duduk di sebelah saya sesudah lampu teater dimatikan. Waktu lampu menyala lagi karena jeda antar babak, saya melihat bahwa yang duduk di sebelah saya adalah Jon. Saya dan istri belakangan berkomentar bahwa kami sama-sama sadar akan dua fakta: pertama, pertemuan kedua lebih luar biasa daripada yang pertama; kedua, kami jelas tak lebih terkejut bertemu Jon pada kesempatan kedua dibanding ketika pertama kali. Agaknya, pertemuan pertama sudah mengubah gagasan kami mengenai Jon. Dia menjadi "psikolog yang muncul kalau kami pergi ke luar negeri". Kami (Sistem 2) tahu itu gagasan yang lucu, tapi Sistem 1 kami membuat seolah bertemu Jon di tempat-tempat aneh itu terasa normal.

Kiranya kami bakal lebih terkejut kalau bertemu kenalan selain Jon dalam teater London. Berdasarkan ukuran probabilitas mana pun, bertemu Jon di teater itu jauh lebih kecil peluangnya daripada bertemu siapa pun di antara ratusan kenalan kami—tapi bertemu Jon tampak lebih normal.

Dalam beberapa kondisi, harapan pasif dengan cepat berubah menjadi aktif, sebagaimana kami dapati di peristiwa kebetulan lain. Pada suatu Minggu malam beberapa tahun lalu, saya dan istri sedang naik mobil dari New York City ke Princeton, sebagaimana yang telah lama kami lakukan tiap minggu. Kami melihat pemandangan tak biasa: mobil terbakar di pinggir jalan. Ketika kami melewati jalan yang sama pada hari Minggu seminggu sesudahnya, ada lagi mobil terbakar di sana. Lagi-lagi kami mendapati bahwa kami tidak lebih terkejut pada kejadian kedua dibanding ketika pertama kali melihatnya. Tempat itu menjadi "tempat mobil terbakar". Karena keadaan ketika terjadi pengulangan peristiwa itu sama, insiden kedua sudah cukup untuk membuat harapan aktif: selama berbulan-bulan, barangkali bertahun-tahun, sesudah peristiwa itu kami ingat mobil terbakar tiap kali kami mencapai tempat kami pernah melihatnya di jalan, dan siap melihat mobil terbakar lagi (tapi tentu saja kami tak pernah melihat mobil terbakar di sana lagi).

Psikolog Dale Miller dan saya menulis satu esai untuk mencoba menjelaskan bagaimana peristiwa jadi dipandang sebagai normal atau tak normal. Akan saya gunakan satu contoh dari penjabaran "teori norma" kami, walau tafsir saya atas teori itu sudah sedikit berubah:

Seorang pengamat, yang dengan santai mengamati orang-orang di meja sebelahnya di satu restoran mewah, memperhatikan bahwa orang pertama yang mencicipi sup meringis seolah kesakitan. Kenormalan banyak peristiwa akan berubah akibat insiden itu. Sekarang tak akan mengejutkan kalau orang yang pertama kali mencicipi sup mengernyit kaget ketika disentuh pramusaji; tak mengejutkan juga kalau tamu lain menahan jeritan ketika mencicipi sup yang sama. Peristiwa-peristiwa itu dan banyak yang lain tampak lebih normal daripada biasanya, tapi bukan karena membenarkan harapan yang telah ada. Justru peristiwa-peristiwa itu tampak normal karena melibatkan peristiwa pertama, mengambil peristiwa pertama dari ingatan, dan ditafsirkan sesuai peristiwa pertama.

Bayangkan Anda-lah si pengamat di restoran itu. Anda terkejut karena reaksi tak biasa si tamu pertama terhadap sup, dan terkejut lagi karena tanggapan kaget terhadap sentuhan pramusaji. Tapi peristiwa tak biasa kedua akan menarik peristiwa pertama dari ingatan dan keduanya saling menjelaskan. Kedua peristiwa itu cocok dengan satu pola, yaitu bahwa si tamu adalah orang yang sangat tegang. Di pihak lain, jika hal yang terjadi sesudah si tamu pertama meringis adalah tamu lain menolak sup, kedua kejutan itu akan dihubungkan dan suplah yang akan disalahkan.

"Berapa hewan dari tiap-tiap jenis yang dibawa Musa dalam bahtera?" Jumlah orang yang mendeteksi apa yang salah dalam pertanyaan itu kecil sekali sehingga pertanyaannya dinamai "ilusi Musa". Yang membawa hewan dalam bahtera bukan Musa, melainkan Nuh. Seperti insiden pemakan sup yang meringis, ilusi Musa langsung bisa dijelaskan oleh teori norma. Gagasan hewan dalam bahtera membangun konteks kitab suci, dan Musa tidak tak biasa dalam konteks itu. Anda tak secara positif mengharapkan kemunculan Musa, tapi penyebutan nama Musa tidak mengejutkan. "Musa" dan "Nuh" juga sama-sama pendek dan punya bunyi huruf vokal yang sama. Sebagaimana kumpulan tiga kata yang menghasilkan kemudahan kognitif, Anda tanpa sadar mendeteksi koherensi asosiatif antara "Musa" dan "bahtera" sehingga cepat menerima pertanyaan itu. Ganti Musa dengan George W. Bush dalam kalimat pertanyaan itu dan yang didapat adalah lelucon politik yang kurang lucu, bukan ilusi.

Ketika sesuatu tidak cocok dengan konteks gagasan-gagasan yang aktif, sistem mendeteksi ketidaknormalan, sebagaimana baru Anda alami. Anda tak tahu apa yang datang sesudah sesuatu, tapi Anda tahu ketika ada kata semen, kata itu tidak normal dalam kalimat barusan.

Studi tanggapan otak menunjukkan bahwa pelanggaran kenormalan dideteksi dengan sangat cepat dan terperinci. Dalam percobaan yang dilakukan baru-baru ini, orang mendengar kalimat "Bumi mengelilingi masalah tiap tahun." Terdeteksi pola khas pada aktivitas otak, dimulai dalam dua persepuluh detik sesudah permulaan kata yang ganjil. Yang lebih mengherankan, tanggapan otak yang sama terjadi dengan kecepatan yang sama ketika suara laki-laki berkata, "Saya percaya saya hamil karena saya merasa mual setiap pagi," atau kalau suara orang kelas atas berkata, "Aku punya tato besar di punggungku." Sejumlah besar pengetahuan atas dunia harus langsung dimunculkan untuk mengakui ketidaknormalan: suara tersebut harus dikenali sebagai suara berbahasa kelas atas dan dihadapkan dengan generalisasi bahwa tato besar tidak lazim di kalangan kelas atas.

Kita bisa berkomunikasi dengan sesama karena pengetahuan kita atas dunia dan penggunaan kata itu dimiliki banyak orang. Ketika saya menyebut meja, tanpa memerinci lebih lanjut, Anda mengerti bahwa yang saya maksud adalah meja biasa. Anda tahu pasti bahwa permukaannya rata dan jumlah kakinya di bawah 25. Kita punya norma untuk banyak kategori, dan norma-norma itu menyediakan latar untuk deteksi langsung anomali seperti laki-laki hamil dan bangsawan bertato.

Untuk mengapresiasi peran norma dalam komunikasi, simaklah kalimat "Tikus besar memanjat belalai gajah kecil." Saya anggap Anda punya norma mengenai ukuran tikus dan gajah yang tak jauh dari norma yang saya punya. Norma-norma itu menentukan ukuran biasa atau rata-rata kedua hewan tersebut, juga mengandung informasi mengenai kisaran atau ragam dalam kategori tersebut. Sangat kecil kemungkinan saya atau Anda membayangkan tikus yang lebih besar daripada gajah menduduki gajah yang lebih kecil daripada tikus. Kita malah secara terpisah tapi bersama-sama membayangkan tikus yang lebih kecil daripada sepatu menaiki gajah yang lebih besar daripada sofa. Sistem 1, yang mengerti bahasa, punya akses ke norma-norma kategori, yang menentukan kisaran nilai yang masuk akal beserta kasus-kasus paling umum.

Melihat Penyebab dan Niat

"Orangtua Fred datang terlambat. Makanan diharapkan segera datang. Fred marah." Anda tahu mengapa Fred marah, dan itu bukan karena makanan diharapkan segera datang. Dalam jejaring asosiasi Anda, marah dan terlambat berhubungan sebagai akibat dan kemungkinan sebab, tapi tidak ada kaitan seperti itu antara marah dan gagasan menunggu makanan. Cerita yang koheren langsung dibuat selagi Anda membaca; Anda langsung tahu penyebab Fred marah. Menemukan hubungan sebab akibat seperti itu adalah bagian dalam tindakan memahami cerita dan operasi otomatis Sistem 1. Sistem 2, diri Anda yang sadar, ditawari tafsiran sebab akibat dan menerimanya.

Satu cerita dalam The Black Swan karya Nassim Taleb menggambarkan pencarian sebab akibat yang otomatis itu. Taleb melaporkan bahwa harga obligasi awalnya naik pada hari tertangkapnya Saddam Hussein di tempat persembunyiannya di Irak. Para investor rupanya mencari aset yang lebih aman pagi itu, dan Bloomberg News menayangkan judul berita ini:

U.S. TREASURIES RISE; HUSSEIN CAPTURE MAY NOT CURB TERRORISM (Kas Pemerintah Amerika Serikat Bertambah; Penangkapan Hussein Mungkin Tak Meredam Terorisme).

Setengah jam kemudian, harga obligasi turun kembali dan judul berita berubah:

U.S. TREASURIES FALL; HUSSEIN CAPTURE BOOSTS ALLURE OF RISKY ASSETS (Kas Pemerintah Amerika Serikat Berkurang; Penangkapan Hussein Menambah Daya Tarik Aset Berisiko).

Jelas, penangkapan Saddam Hussein adalah peristiwa utama hari itu, dan karena cara pencarian sebab otomatis membentuk pemikiran kita, peristiwa itu ditakdirkan menjadi penjelasan apa pun yang terjadi di pasar pada hari itu. Dua judul berita itu sepintas tampak seperti penjelasan mengenai apa yang terjadi di pasar, tapi pernyataan yang bisa menjelaskan dua hasil yang saling bertentangan itu berarti tak menjelaskan apa-apa. Malah yang dilakukan judul-judul berita itu hanyalah memuaskan kebutuhan kita akan koherensi: suatu peristiwa besar dianggap harus punya akibat, dan akibat perlu sebab untuk penjelasan. Kita punya keterbatasan informasi mengenai apa yang terjadi pada satu hari, dan Sistem 1 ahli dalam menemukan cerita sebab akibat koheren yang menghubungkan pecahan-pecahan pengetahuan yang dimilikinya.

Bacalah kalimat berikut:
Sesudah menghabiskan satu hari menjelajahi pemandangan indah di jalan-jalan New York yang ramai, Jane mendapati dompetnya hilang. Ketika orang-orang yang sudah membaca cerita singkat itu (bersama-sama banyak orang lain) diberi tes mengingat yang mendadak, kata copet dipandang jauh lebih berhubungan dengan cerita itu dibanding kata pemandangan, walau pemandangan benar-benar ada dalam kalimat cerita sementara copet tidak. Aturan-aturan koherensi asosiatif memberitahu kita apa yang terjadi.

Peristiwa hilangnya dompet dapat mengingatkan banyak penyebab: dompet jatuh dari kantong, tertinggal di restoran, dan lain-lain. Namun ketika gagasan dompet hilang, New York, dan jalan ramai disandingkan, bersama-sama gagasan-gagasan itu memancing penjelasan bahwa copet adalah penyebab hilangnya dompet. Di cerita sup mengejutkan, hasilnya—entah itu orang lain yang meringis sesudah mencicip sup atau reaksi ekstrem orang pertama terhadap sentuhan pramusaji—mendatangkan tafsir yang koheren secara asosiatif terhadap keterkejutan awal, melengkapi suatu cerita yang masuk akal.

Psikolog Belgia Albert Michotte, yang keturunan ningrat, pada 1945 menerbitkan buku (diterjemahkan ke bahasa Inggris tahun 1963) yang menjungkirbalikkan berabad-abad pemikiran mengenai sebab akibat, sampai setidaknya ke pemeriksaan Hume atas hubungan antar gagasan. Kebijaksanaan yang biasa dianut adalah bahwa kita menyimpulkan hubungan sebab akibat fisik dari pengamatan korelasi antar peristiwa yang berulang-ulang. Kita punya banyak pengalaman ketika kita melihat satu benda bergerak menyentuh benda lain, dan benda lain itu langsung bergerak, sering kali (tapi tak selalu) ke arah yang sama. Itulah yang terjadi ketika satu bola biliar menabrak bola biliar lain, juga ketika Anda menjatuhkan vas dengan menyenggolnya.

Michotte punya gagasan yang berbeda: menurutnya, kita melihat sebab akibat, selangsung kita melihat warna. Untuk menunjukkannya, Michotte membuat episode-episode ketika satu kotak hitam yang digambar di atas kertas terlihat bergerak; kotak hitam itu menyentuh kotak lain, yang langsung bergerak. Para pengamat tahu sebenarnya tidak ada kontak fisik sungguhan, tapi mereka tetap saja mendapat "ilusi sebab akibat" yang kuat. Jika benda kedua langsung mulai bergerak, mereka menjabarkannya "digerakkan" oleh benda pertama.

Percobaan telah menunjukkan bahwa bayi umur enam bulan melihat urut-urutan kejadian sebagai suatu skenario sebab akibat, dan mereka menunjukkan keterkejutan kalau urut-urutan itu diubah. Kita rupanya sudah sejak lahir siap mendapat kesan sebab akibat, yang tidak bergantung pada penalaran mengenai pola sebab akibat. Kesan itu adalah produk Sistem 1.

Tahun 1944, berdekatan dengan waktu Michotte menerbitkan demonstrasi atas sebab akibat fisik, dua psikolog, Fritz Heider dan Mary-Ann Simmel, menggunakan metode yang sama dengan Michotte untuk menunjukkan persepsi sebab akibat berniat. Heider dan Simmel membuat film sepanjang satu menit empat puluh detik yang menampilkan satu segitiga besar, satu segitiga kecil, dan satu lingkaran yang bergerak mengelilingi suatu bentuk yang terlihat seperti rumah dengan pintu terbuka.

Penonton melihat segitiga besar agresif yang mengganggu segitiga kecil, lingkaran yang ketakutan, lalu lingkaran dan segitiga kecil bergabung mengalahkan si pengganggu; mereka juga melihat banyak interaksi di seputar pintu, lalu akhir yang meledak. Persepsi niat dan emosi tak bisa ditolak; hanya orang-orang dengan autisme yang tak mengalaminya. Semua itu terjadi dalam akal budi Anda. Akal budi Anda siap dan bahkan giat mengenali pelaku, memberi kepribadian dan niat tertentu bagi pelaku, serta memandang tindakan mereka seolah menunjukkan kecenderungan individual.

Lagi-lagi bukti menunjukkan bahwa kita terlahir dalam keadaan siap membuat kaitan dengan niat: bayi berumur di bawah satu tahun bisa mengenali pengganggu dan korban, serta berharap sesuatu yang mengejar akan mengikuti jalur paling langsung untuk menangkap apa pun yang dikejarnya.

Pengalaman akan tindakan yang dikehendaki secara bebas itu terpisah dari sebab akibat fisik. Walau misalnya tangan Anda bergerak mengambil tempat garam, Anda tidak memikirkan peristiwa itu sebagai rangkaian sebab akibat fisik. Anda mengalaminya sebagai sesuatu yang disebabkan oleh keputusan yang dibuat Anda yang tak berwujud, karena Anda ingin menambah garam ke makanan. Banyak orang menganggap biasa menjabarkan jiwa mereka sebagai sumber dan penyebab tindakan mereka.

Psikolog Paul Bloom, dalam tulisan di The Atlantic tahun 2005, menyajikan klaim provokatif bahwa kesiapan bawaan lahir kita untuk memisahkan sebab akibat fisik dan berniat menjelaskan mengapa kepercayaan keagamaan bersifat hampir universal. Bloom mengamati bahwa "kita mempersepsi dunia benda pada intinya terpisah dari dunia akal budi, sehingga kita bisa membayangkan tubuh tanpa jiwa dan jiwa tanpa tubuh."

Dua bentuk sebab akibat yang siap kita persepsi itu membuat kita wajar saja menerima dua kepercayaan pusat dalam banyak agama: keilahian imaterial sebagai penyebab pertama dunia fisik, dan jiwa abadi yang mengendalikan tubuh kita sementara selagi kita hidup dan meninggalkan tubuh ketika kita mati. Dalam pandangan Bloom, dua konsep sebab akibat dibentuk secara terpisah oleh kekuatan-kekuatan evolusioner, memasukkan asal-usul agama ke struktur Sistem 1.

Menonjolnya intuisi sebab akibat adalah tema yang berulang dalam buku ini karena orang rentan menerapkan pemikiran sebab akibat tidak pada tempatnya, pada situasi-situasi yang membutuhkan penalaran statistik. Pemikiran statistik mendapat kesimpulan mengenai kasus-kasus dari sifat kategori dan kumpulan. Sayangnya Sistem 1 tidak punya kapabilitas melakukan cara bernalar seperti itu; Sistem 2 bisa belajar berpikir statistik, tapi hanya sedikit orang yang terdidik demikian.

Psikologi sebab akibat merupakan dasar keputusan saya menjabarkan proses psikologis dengan kiasan pelaku tanpa banyak memikirkan konsistensi. Saya kadang menyebut Sistem 1 sebagai pelaku dengan sifat dan kesukaan tertentu, serta kadang sebagai mesin asosiatif yang menggambarkan realitas dengan pola kaitan yang rumit. Sistem dan mesin itu fiksi; alasan saya menggunakan keduanya adalah keduanya cocok dengan cara pikir kita mengenai sebab. Segitiga dan lingkaran Heider bukan pelaku sungguhan—tapi kita sangat mudah dan alami memikirkannya dengan cara demikian. Itu masalah ekonomi mental.

Saya anggap Anda (seperti saya sendiri) merasa lebih mudah berpikir mengenai akal budi jika kita menjabarkan apa yang terjadi dengan sifat dan niat (dua sistem) serta terkadang dengan keteraturan mekanis (mesin asosiatif). Saya tak bermaksud meyakinkan Anda bahwa sistem-sistem saya nyata, sebagaimana Heider juga tak bermaksud membuat Anda percaya segitiga besar benar-benar suka mengganggu.

Bicara Tentang Norma dan Sebab

"Waktu muncul pelamar kedua yang ternyata teman lama saya juga, saya tidak begitu kaget lagi. Pengulangan sedikit saja sudah cukup membuat pengalaman baru terasa normal!"

"Ketika menyurvei reaksi terhadap produk-produk ini, ayo kita pastikan tidak hanya berfokus ke rata-rata. Kita harus memikirkan seluruh kisaran reaksi normal."

"Dia tidak bisa terima bahwa dia sedang sial saja; dia perlu cerita sebab akibat. Dia pikir ada orang yang sengaja menyabot pekerjaannya."

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment