[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman
SI PENGENDALI YANG MALAS
SI PENGENDALI YANG MALAS
Tiap tahun saya menghabiskan beberapa bulan di Berkeley, dan salah satu kebahagiaan saya adalah berjalan empat mil tiap hari di satu jalan setapak di perbukitan, dengan pemandangan San Francisco Bay. Biasanya saya mencatat waktu berjalan dan belajar banyak mengenai usaha. Saya menemukan satu kecepatan, kira-kira 17 menit per mil, yang saya anggap jalan santai. Saya melakukan usaha fisik dan membakar kalori, tapi tidak merasakan ketegangan atau kebutuhan mendorong diri sendiri, dan bisa berpikir dan bekerja sambil berjalan. Malah, sedikit rangsangan fisik dari berjalan bisa meningkatkan kewaspadaan mental.
Sistem 2 juga punya kecepatan alami. Anda menghabiskan energi mental untuk berbagai pemikiran dan mengawasi lingkungan meski akal budi tidak aktif, tapi tanpa tekanan. Mengawasi sekitar atau dalam kepala tidak menuntut banyak usaha. Anda membuat banyak keputusan kecil saat menyetir, menyerap informasi sambil membaca, dan melakukan percakapan rutin dengan sedikit usaha, seperti berjalan santai.
Biasanya berjalan sambil berpikir gampang dan menyenangkan, tapi keduanya bisa berebut sumber daya Sistem 2 yang terbatas. Percobaan sederhana: selagi berjalan santai dengan teman, minta dia menghitung 23 x 78 di kepala. Hampir pasti dia berhenti berjalan. Saya bisa berpikir sambil berjalan, tapi tidak bisa melakukan kerja mental berat bagi ingatan jangka pendek. Jika membuat argumen rumit dalam waktu terbatas, saya lebih suka diam, lebih baik duduk daripada berdiri. Tentu, tidak semua pemikiran lambat memerlukan konsentrasi berat—beberapa pemikiran terbaik saya dilakukan sambil berjalan santai bersama Amos.
Mempercepat langkah mengubah pengalaman berjalan, karena kecepatan lebih tinggi menurunkan kemampuan berpikir koheren. Selagi melangkah lebih cepat, perhatian tertarik ke pengalaman berjalan dan mempertahankan langkah. Kemampuan membawa aliran pemikiran ke kesimpulan berkurang. Pada kecepatan tertinggi di perbukitan, sekitar 14 menit per mil, saya bahkan tidak mencoba memikirkan hal lain. Usaha fisik menggerakkan tubuh dan usaha mental menahan dorongan memperlambat jalan menggunakan sumber daya yang sama.
Bagi kebanyakan orang, memelihara aliran pikiran koheren dan berpikir berat sesekali membutuhkan kendali diri. Tanpa tekanan waktu, memelihara aliran pikiran koheren membutuhkan disiplin. Seseorang yang mengamati berapa kali saya membuka e-mail atau melihat kulkas saat menulis satu jam bisa menyimpulkan dorongan untuk meninggalkan tugas dan kebutuhan kendali diri.
Kerja kognitif tidak selalu menyebalkan; kadang orang melakukan usaha cukup besar dalam waktu lama tanpa mengerahkan kehendak. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi mempelajari keadaan bekerja tanpa usaha, yang disebut alir (flow). Orang yang mengalami alir menjabarkannya sebagai "keadaan berkonsentrasi penuh tanpa berusaha sampai-sampai lupa waktu, lupa diri, lupa masalah," dan pengalaman itu sangat membahagiakan, disebut "pengalaman optimal." Banyak kegiatan memicu alir, dari melukis sampai balap motor, dan bagi beberapa penulis, menulis buku sering menjadi pengalaman optimal. Alir memisahkan dua bentuk usaha: konsentrasi pada tugas dan kendali perhatian disengaja. Mengendarai sepeda motor dengan cepat atau bertanding catur membutuhkan usaha, tapi dalam alir, mempertahankan perhatian fokus tidak membutuhkan kendali diri sehingga sumber daya bisa diarahkan menyelesaikan tugas.
SISTEM 2 YANG SIBUK DAN TERKURAS
Kendali diri dan usaha kognitif adalah dua bentuk kerja mental. Penelitian menunjukkan orang yang ditantang tugas kognitif berat dan godaan sekaligus lebih mungkin menyerah. Misalnya, diminta mengingat tujuh angka selama satu-dua menit. Selagi fokus pada angka, ditawari dua makanan pencuci mulut: kue cokelat dan salad buah. Orang lebih mungkin memilih kue jika kepala penuh angka. Sistem 1 berpengaruh lebih besar saat Sistem 2 sibuk, dan Sistem 1 suka makanan manis. Orang yang sibuk kognitif juga lebih mungkin membuat pilihan egois, menggunakan bahasa seksis, dan membuat pertimbangan dangkal. Beban kognitif melemahkan kendali Sistem 2, tapi minuman keras atau kurang tidur juga mengurangi kendali diri. Kekhawatiran berlebihan tentang kesempurnaan tugas membebani ingatan jangka pendek. Kesimpulannya: kendali diri butuh perhatian dan usaha; mengendalikan pemikiran dan perilaku adalah tugas Sistem 2.
Percobaan Roy Baumeister menunjukkan segala ragam usaha sengaja—kognitif, emosional, fisik—menggunakan sumber energi mental sama. Usaha memusatkan kehendak atau kendali diri melelahkan; jika dipaksa melakukan sesuatu, kemampuan mengendalikan diri pada tantangan berikutnya menurun. Fenomena ini disebut "ego terkuras." Contoh: peserta yang meredam reaksi emosional terhadap film emosional berprestasi buruk dalam tes stamina fisik. Percobaan lain: orang menahan godaan makan cokelat setelah makan makanan sehat, kemudian menyerah lebih cepat menghadapi tugas kognitif sulit.
Situasi dan tugas yang menguras kendali diri panjang dan beragam, semua melibatkan konflik dan meredam kecenderungan alami, misalnya:
Pertanda ego terkuras antara lain:
Kegiatan yang menuntut Sistem 2 membutuhkan kendali diri; pengerahan kendali itu berat dan tidak menyenangkan. Ego terkuras sebagian adalah kehilangan motivasi. Setelah mengerahkan kendali di satu tugas, Anda jadi malas berusaha untuk tugas lain, meski bisa dilakukan jika perlu. Insentif kuat bisa mengurangi efek ego terkuras. Berbeda dengan tugas kognitif yang menuntut ingatan jangka pendek, ego terkuras bukan sama dengan kesibukan kognitif.
Penemuan Baumeister menunjukkan energi mental nyata. Sistem saraf mengonsumsi lebih banyak glukosa daripada bagian tubuh lain, dan aktivitas mental berat sangat mahal dalam ekonomi glukosa. Saat terlibat dalam penalaran sulit atau tugas kendali diri, kadar glukosa darah turun, setara pelari menggunakan simpanan glukosa otot. Efek ego terkuras bisa diatasi dengan mengonsumsi glukosa, dan percobaan membuktikan kebenarannya.
Contoh: sukarelawan menonton film pendek, diminta menafsirkan bahasa tubuh, sambil mengabaikan kata-kata yang melintas di layar. Kendali diri itu menyebabkan ego terkuras. Semua peserta minum limun sebelum tugas kedua; separuh manis dengan glukosa, separuh dengan pemanis buatan. Tugas kedua membutuhkan mengatasi tanggapan intuitif. Peminum Splenda menunjukkan efek ego terkuras; peminum glukosa tidak terkuras. Mengembalikan kadar gula otak mencegah prestasi menurun.
Contoh lain: delapan hakim Israel meninjau permohonan pembebasan narapidana. Kasus diajukan acak, rata-rata enam menit per kasus. Hanya 35% permohonan dikabulkan. Setelah istirahat makan, sekitar 65% permohonan dikabulkan. Dua jam atau lebih setelah istirahat, jumlah permohonan yang dikabulkan menurun mendekati nol menjelang istirahat berikutnya. Penjelasan terbaik: hakim capek dan lapar cenderung menolak permohonan. Kelelahan dan lapar mungkin sama-sama berperan.
Salah satu fungsi utama Sistem 2 adalah memantau dan mengendalikan pemikiran dan tindakan yang “disarankan” oleh Sistem 1, membiarkan sebagian muncul langsung dalam perilaku sambil meredam atau mengubah sebagian lain.
Contohnya, teka-teki sederhana berikut:
Tongkat pemukul dan bola berharga $1,10.
Tongkat pemukul berharga satu dolar lebih mahal daripada bola.
Berapa harga bola?
Jawaban intuitif biasanya 10 sen. Namun jika dihitung: bola 10 sen + pemukul $1,10 = $1,20, bukan $1,10. Jawaban benar adalah 5 sen. Orang yang menjawab 10 sen menuruti “hukum usaha tersedikit”: Sistem 2 mereka malas memeriksa intuisi. Orang yang menahan jawaban intuitif menunjukkan Sistem 2 yang lebih aktif.
Shane Frederick dan saya menggunakan teka-teki ini untuk mempelajari seberapa dekat Sistem 2 memantau saran Sistem 1. Mereka yang menjawab intuitif biasanya tidak memeriksa kebenaran jawabannya dan melewatkan isyarat sosial sederhana—misalnya mempertanyakan mengapa pertanyaan tersebut diajukan. Kegagalan memeriksa jawaban sangat mudah dihindari, hanya membutuhkan kerja mental beberapa detik, sedikit ketegangan otot, dan pupil membesar—namun banyak orang malas melakukannya.
Ribuan mahasiswa telah menjawab teka-teki ini: sekitar 50% mahasiswa di Harvard, MIT, dan Princeton memberikan jawaban intuitif yang salah. Di universitas lain, kegagalan memeriksa jawaban melebihi 80%. Fenomena ini menunjukkan tema yang berulang: banyak orang terlalu percaya intuisi karena usaha kognitif dianggap tidak menyenangkan dan dihindari sebisa mungkin.
Semua mawar itu bunga.
Beberapa bunga cepat layu.
Oleh karena itu, beberapa mawar cepat layu.
Sebagian besar mahasiswa menganggap argumen ini sah. Padahal cacat logika: bisa saja tidak ada mawar dalam kelompok bunga yang cepat layu. Jawaban intuitif muncul lebih dulu; memeriksanya membutuhkan usaha mental yang serius.
Dampaknya dalam kehidupan sehari-hari: jika orang percaya suatu kesimpulan, mereka juga cenderung percaya argumen yang tampak mendukungnya, meski tidak valid. Sistem 1 menghasilkan kesimpulan lebih dulu, kemudian baru disusul argumen.
Pertanyaan lain dari Frederick:
Berapa pembunuhan yang terjadi di negara bagian Michigan dalam setahun?
“Trik”nya: apakah orang mengingat Detroit, kota terbesar dengan tingkat kejahatan tinggi, yang berada di Michigan. Pengetahuan ini memengaruhi perkiraan mereka. Kebanyakan tidak mengingat, sehingga tebakan rata-rata untuk Michigan lebih rendah dibanding Detroit.
Fungsi otomatis ingatan adalah bagian Sistem 1. Namun, memperlambat berpikir untuk mencari fakta relevan adalah bagian Sistem 2. Kadar pemeriksaan dan pencarian fakta bervariasi antar individu.
Kesamaan dari teka-teki pemukul-bola, silogisme bunga, dan soal Michigan/Detroit: kegagalan sebagian besar orang biasanya karena kurang motivasi, bukan kemampuan. Orang yang tekun, “rasional”, atau aktif secara intelektual lebih skeptis terhadap intuisi mereka sendiri.
Para peneliti meneliti hubungan antara berpikir dan kendali diri. Percobaan klasik Walter Mischel: anak-anak umur empat tahun diberi pilihan antara hadiah kecil segera atau hadiah lebih besar yang harus menunggu 15 menit. Sekitar separuh berhasil menunggu dengan mengalihkan perhatian. Anak-anak yang menahan godaan lebih mampu mengalokasikan perhatian secara efektif, lebih kecil kemungkinannya menyalahgunakan obat, dan mendapat nilai tes inteligensi lebih tinggi di masa remaja.
Di University of Oregon, melatih kendali perhatian anak-anak melalui permainan komputer memperbaiki kendali eksekutif sekaligus meningkatkan nilai tes inteligensi nonverbal. Temuan lain menunjukkan genetik dan pengasuhan juga memengaruhi kendali perhatian dan emosi.
Shane Frederick membuat Tes Refleksi Kognitif, termasuk soal pemukul-bola, untuk mengukur kemampuan menahan jawaban intuitif. Mahasiswa dengan skor rendah cenderung mengikuti intuisi pertama, impulsif, dan menginginkan imbalan segera. Contoh: 63% lebih memilih $3,400 sekarang daripada $3,800 bulan depan. Mereka yang lebih rasional lebih tekun memeriksa intuisi sebelum menjawab.
Keith Stanovich dan Richard West memperkenalkan istilah Sistem 1 dan Sistem 2 (sekarang Tipe 1 dan Tipe 2). Stanovich membedakan dua bagian Sistem 2:
Inteligensi tinggi tidak menjamin bebas bias. Rasionalitas atau ketekunan intelektual adalah kemampuan memeriksa intuisi, mengontrol dorongan, dan berpikir kritis. Soal pemukul-bola dan sejenisnya lebih menunjukkan kerentanan bias daripada tes IQ biasa.
Contoh situasi nyata:
Ringkasnya, kemampuan memeriksa intuisi, menahan dorongan, dan berpikir reflektif menunjukkan kekuatan Sistem 2. Ketika Sistem 2 malas, orang mudah mengikuti jawaban intuitif, impulsif, dan kurang rasional.
Untuk memulai penjelajahan atas cara kerja Sistem 1 yang mengagetkan, lihat kata-kata berikut:
Pisang – Muntah
Banyak yang terjadi pada Anda selama satu dua detik barusan. Anda mengalami gambaran dan ingatan yang kurang menyenangkan. Wajah Anda sedikit tertarik menjadi ekspresi jijik, dan boleh jadi Anda mendorong buku ini menjauh tanpa Anda sadari. Denyut jantung Anda makin cepat, rambut di lengan Anda berdiri sedikit, dan kelenjar keringat Anda aktif. Pendek kata, Anda menanggapi kata yang menjijikkan dengan versi awal cara Anda bereaksi terhadap peristiwa sebenarnaya. Semua sepenuhnya otomatis, di luar kendali Anda.
Tak ada alasan khusus untuk melakukannya, tapi akal budi Anda otomatis menganggap ada urutan dalam waktu dan hubungan sebab akibat antara kata pisang dan muntah, membentuk skenario tak jelas ketika pisang menyebabkan muntah. Alhasil, Anda mengalami rasa jijik sementara terhadap pisang (jangan khawatir, nanti juga hilang).
Keadaan ingatan Anda juga berubah dalam hal lain: Anda sekarang jadi sangat siap mengenali dan menanggapi objek-objek yang terkait dengan "muntah" seperti sakit, bau, atau mual, dan kata-kata yang terkait dengan "pisang", seperti kuning dan buah, barangkali juga apel dan beri.
Biasanya muntah terjadi dalam konteks tertentu, seperti mabuk dan gangguan pencernaan. Anda juga jadi sangat siap mengenali kata-kata yang terkait dengan penyebab-penyebab lain akibat menyebalkan yang sama. Tambahan lagi, Sistem 1 Anda memperhatikan fakta bahwa persandingan kedua kata itu tak biasa; barangkali Anda belum pernah menemukannya. Anda mengalami sedikit keterkejutan.
Gugusan rumit tanggapan itu terjadi dengan cepat, otomatis, tanpa diusahakan. Anda tak menginginkannya terjadi dan tak dapat menghentikannya. Itulah operasi Sistem 1. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai akibat Anda melihat kata-kata itu muncul dalam proses yang disebut aktivasi asosiatif: gagasan-gagasan yang tercetus memicu banyak gagasan lain, dalam aksi berantai di otak Anda.
Ciri terpenting set rumit peristiwa mental itu adalah koheren. Tiap unsurnya terhubung, dan saling dukung. Kata memancing ingatan, yang memancing emosi, yang lalu memancing ekspresi wajah dan reaksi lain, seperti tegangnya tubuh dan kecenderungan menghindar. Ekspresi wajah dan gerak menghindar memperkuat perasaan yang terkait, dan perasaan lalu memperkuat gagasan-gagasan yang cocok. Semua itu terjadi dengan cepat dan sekaligus, menghasilkan pola tanggapan kognitif, emosional, dan fisik yang memperkuat diri sendiri, beragam, serta terintegrasi—disebut koheren secara asosiatif.
Dalam sekitar satu detik, secara otomatis dan tak sadar, Anda melakukan suatu tindakan menakjubkan. Berawal dari satu peristiwa yang sepenuhnya tak terduga, Sistem 1 Anda berusaha memahami situasi sebanyak mungkin—dua kata sederhana, disandingkan secara tak biasa—dengan mengaitkan kedua kata itu dalam cerita sebab akibat; Sistem 1 mengevaluasi kemungkinan ancaman (kecil sampai menengah) dan menciptakan konteks untuk perkembangan lanjutan dengan menyiapkan Anda menghadapi peristiwa-peristiwa yang telah menjadi makin mungkin; Sistem 1 juga menciptakan konteks untuk peristiwa sekarang dengan mengevaluasi betapa mengejutkannya peristiwa itu. Akhirnya Anda jadi tahu mengenai masa lalu dan siap menghadapi masa depan.
Satu ciri aneh pada apa yang terjadi adalah bahwa Sistem 1 Anda memperlakukan persandingan dua kata sebagai gambaran realitas. Tubuh Anda bereaksi berupa tiruan reaksi terhadap kejadian sesungguhnya, dan tanggapan emosional serta gerak fisik menghindar merupakan bagian tafsiran peristiwa. Sebagaimana telah ditegaskan para ahli kognisi baru-baru ini, kognisi itu berwujud; Anda berpikir dengan tubuh Anda, tak hanya otak.
Mekanisme yang menyebabkan peristiwa-peristiwa mental itu sudah lama dikenal: kaitan antar gagasan. Kita semua mengerti berdasarkan pengalaman bahwa gagasan-gagasan dalam akal budi sadar kita saling mengikuti secara teratur. Para filsuf Inggris abad ke-17 dan ke-18 mencari aturan yang menjelaskan urut-urutan gagasan itu. Dalam An Enquiry Concerning Human Understanding, terbit 1748, filsuf Skotlandia David Hume mereduksi kaidah-kaidah kaitan menjadi tiga saja: kemiripan, urutan dalam waktu dan tempat, serta sebab akibat.
Konsep kaitan kita sudah berubah secara radikal sejak zaman Hume, tapi ketiga kaidahnya masih menjadi titik awal yang baik.
Saya akan memakai pandangan yang luas untuk mengetahui apa itu gagasan. Gagasan bisa nyata atau abstrak, dan bisa diekspresikan dalam banyak cara: sebagai kata kerja, sebagai kata benda, atau sebagai kata sifat, atau sebagai tinju terkepal. Para psikolog menganggap gagasan sebagai simpul-simpul dalam jejaring yang amat luas, disebut ingatan asosiatif, ketika tiap gagasan berkaitan dengan banyak gagasan lain.
Ada berbagai tipe hubungan:
Satu kemajuan kita dibanding Hume adalah kita tak lagi berpikir bahwa akal budi melalui serangkaian gagasan sadar, satu per satu. Dalam pandangan terkini mengenai cara kerja ingatan asosiatif, banyak hal terjadi sekaligus. Satu gagasan yang telah diaktifkan tidak sekadar memancing satu gagasan lain. Gagasan itu mengaktifkan banyak gagasan, yang kemudian mengaktifkan makin banyak lagi.
Selain itu, hanya sedikit gagasan aktif yang akan masuk ke kesadaran; sebagian besar kerja berpikir asosiatif itu hening, tersembunyi dari diri sadar kita. Gagasan bahwa kita hanya mendapat akses terbatas pada kerja akal budi kita sendiri itu sukar diterima karena, secara alami, gagasan itu asing bagi pengalaman kita, tapi memang benar: Anda tahu lebih sedikit mengenai diri Anda daripada yang Anda rasa.
Sebagaimana biasa terjadi dalam sains, terobosan besar pertama dalam pemahaman kita mengenai mekanisme keterkaitan adalah perbaikan metode pengukuran. Sampai beberapa puluh tahun lalu, satu-satunya cara mempelajari kaitan adalah mengajukan pertanyaan ke banyak orang, seperti:
"Apa kata pertama yang muncul dalam pikiran Anda ketika mendengar kata HARI?"
Para peneliti mencatat frekuensi jawaban, seperti "malam", "cerah", atau "panjang". Pada 1980-an para psikolog menemukan bahwa ekspos satu kata menyebabkan perubahan langsung dan terukur dalam kemudahan "memanggil" banyak kata lain yang berkaitan.
Jika baru melihat atau mendengar kata EAT, Anda untuk sementara lebih mungkin melengkapi potongan kata SO_P sebagai SOUP, bukan SOAP. Tentu saja kebalikannya berlaku jika Anda baru melihat WASH. Fenomena ini disebut efek penyiapan, dan gagasan EAT menyiapkan gagasan SOUP, serta WASH menyiapkan SOAP.
Efek penyiapan ada berbagai macam. Jika gagasan EAT sedang ada di akal budi Anda (Anda sadari atau tidak), Anda akan lebih cepat mengenali kata SOUP kalau dibisikkan atau ditampilkan dengan huruf kurang jelas. Dan tentu saja Anda tak hanya disiapkan untuk gagasan sup, tapi juga banyak gagasan terkait makanan, termasuk garpu, lapar, lemak, diet, dan kue kering. Jika sebelumnya Anda makan di depan meja yang tak stabil, Anda akan disiapkan untuk stabil juga.
Selain itu, gagasan yang disiapkan punya kemampuan menyiapkan gagasan-gagasan lain, walau lebih lemah. Seperti gelombang di kolam, aktivasi menyebar melalui bagian kecil jejaring gagasan terkait yang luas. Pemetaan gelombang itu adalah salah satu penelitian paling menarik dalam riset psikologi.
Satu lagi kemajuan besar dalam pemahaman kita atas ingatan adalah penemuan bahwa penyiapan tidak terbatas pada konsep dan kata. Tentu saja Anda tidak bisa mengetahuinya dari pengalaman sadar, tapi Anda mesti menerima gagasan asing bahwa tindakan dan emosi Anda bisa disiapkan oleh peristiwa-peristiwa yang Anda sendiri tak sadari.
Dalam satu percobaan yang menjadi klasik, psikolog John Bargh dan para kolaboratornya meminta mahasiswa-mahasiswa New York University—kebanyakan berumur 18 sampai 22 tahun—menyusun kalimat empat kata dari kumpulan berisi lima kata (contohnya, "finds he it yellow instantly").
Untuk satu kelompok mahasiswa, separuh kalimat acak mengandung kata-kata yang berhubungan dengan orang lanjut usia, seperti Florida, pikun, botak, uban, atau keriput. Ketika sudah menyelesaikan tugas, si mahasiswa muda disuruh melakukan percobaan lain di satu kantor di ujung lorong. Inti percobaan adalah perjalanan dari satu ruang ke ruang lain. Para peneliti mengukur waktu yang dibutuhkan dari satu ujung lorong ke lorong lain.
Seperti diprediksi Bargh, orang-orang muda yang baru membentuk kalimat dari kata-kata bertema usia lanjut jadi berjalan lebih lambat dibanding yang lain.
"Efek Florida" itu melibatkan dua tahap penyiapan. Pertama, set kata menyiapkan pemikiran mengenai usia tua, walau kata tua tak pernah disebut; kedua, pemikiran-pemikiran itu menyiapkan suatu perilaku, berjalan lambat, yang terkait dengan usia tua. Semua itu terjadi tanpa disadari.
Ketika ditanyai sesudahnya, tak satu pun mahasiswa mengaku memperhatikan bahwa kata-kata itu punya tema sama, dan mereka semua bersikeras segala sesuatu yang mereka lakukan sesudah percobaan pertama tak dipengaruhi kata-kata yang mereka temui. Gagasan usia tua tidak masuk ke kesadaran mereka, tapi tindakan mereka tetap berubah.
Fenomena penyiapan yang luar biasa itu—gagasan yang memengaruhi tindakan—dikenal sebagai efek ideomotor. Walau pasti tidak menyadarinya, membaca paragraf ini juga menyiapkan Anda.
Jika perlu berdiri untuk mengambil segelas air, kiranya Anda bakal bangkit lebih lambat daripada biasanya dari kursi—kecuali Anda kebetulan tidak suka orang lanjut usia. Bila yang belakangan yang terjadi, riset menunjukkan bahwa Anda mungkin malah bergerak lebih cepat daripada biasanya!
Kaitan ideomotor juga bekerja pada arah sebaliknya. Satu penelitian yang dilakukan di universitas di Jerman merupakan kebalikan percobaan awal Bargh dan kolega-koleganya di New York. Dalam percobaan Jerman, para mahasiswa diminta berjalan berkeliling dalam satu ruangan selama 5 menit dengan kecepatan 30 langkah per menit, kira-kira sepertiga kecepatan jalan normal mereka.
Sesudah pengalaman singkat itu, para peserta percobaan jadi lebih cepat mengenali kata-kata yang berhubungan dengan usia tua, seperti pikun, tua, dan kesepian. Efek penyiapan bolak-balik cenderung menghasilkan reaksi koheren: jika Anda siap berpikir mengenai usia tua, kiranya Anda cenderung bertindak tua, dan bertindak tua bakal memperkuat pemikiran usia tua.
Kaitan bolak-balik banyak ditemukan dalam jejaring asosiatif. Contoh, perasaan terhibur cenderung membuat Anda tersenyum, dan senyum cenderung membuat Anda merasa terhibur.
Ambillah pensil, dan gigit selama beberapa detik dengan ujung yang tak diruncingkan berada di kanan dan ujung untuk menulis di kiri. Lalu gigit lagi pensilnya dengan posisi lain, ujung untuk menulis mengacung ke depan, dan jepit ujung tak runcingnya dengan bibir. Anda barangkali tak sadar salah satu tindakan tersebut membuat wajah Anda cemberut dan yang satunya lagi membuat Anda tersenyum.
Dalam percobaan, para mahasiswa yang sedang menggigit pensil seperti itu diminta menilai kelucuan kartun-kartun dari The Far Side karya Gary Larson. Mereka yang sedang "senyum" (tanpa sadar melakukannya) menganggap kartun lebih lucu daripada mereka yang sedang "cemberut".
Dalam percobaan lain, orang-orang yang wajahnya dibuat cemberut (mengernyitkan alis) melaporkan makin kuatnya tanggapan emosional terhadap gambar-gambar yang memprihatinkan—anak kelaparan, orang berkelahi, korban kecelakaan yang luka.
Isyarat tubuh biasa dan umum juga bisa memengaruhi pemikiran dan perasaan kita tanpa kita sadari. Di satu percobaan, orang diminta mendengarkan pesan melalui headphone baru. Mereka diberitahu bahwa tujuan percobaan adalah mengetes mutu perlengkapan audio dan diperintahkan menggerak-gerakkan kepala untuk mengecek distorsi bunyi. Separuh peserta diminta mengangguk sementara yang lain diminta menggeleng. Pesan yang mereka dengar adalah editorial radio.
Mereka yang mengangguk (gerak tubuh yang berarti ya) cenderung menerima pesan yang mereka dengar, sementara mereka yang menggeleng cenderung menolak. Sekali lagi, tidak ada kesadaran, sekadar hubungan karena kebiasaan antara sikap penolakan atau penerimaan dengan ekspresi fisiknya yang umum. Anda bisa lihat mengapa saran umum untuk "tetap bersikap tenang dan baik, apa pun yang dirasa" adalah saran yang baik sekali: Anda bisa jadi betul-betul merasa tenang dan baik.
Penelitian efek penyiapan telah menghasilkan penemuan-penemuan yang mengancam citra diri kita sebagai sosok sadar dan mandiri yang membuat pertimbangan dan pilihan. Contohnya, kebanyakan kita menganggap memberi suara dalam pemilu itu tindakan sengaja yang mencerminkan nilai-nilai dan pertimbangan kebijakan oleh kita, serta tak dipengaruhi hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya. Suara kita seharusnya tak dipengaruhi lokasi tempat pemungutan suara, misalnya, tapi sebenarnya memang ada pengaruh.
Studi pola pemberian suara di Arizona pada 2000 menunjukkan bahwa dukungan untuk usul meningkatkan anggaran untuk sekolah lebih besar secara signifikan jika tempat pemungutan suara berada di sekolah dibanding di tempat lain. Percobaan lain menunjukkan bahwa memperlihatkan gambar ruang kelas dan loker juga meningkatkan kecenderungan pemilih mendukung kebijakan terkait sekolah. Efek gambar lebih besar daripada efek perbedaan status pemilih sebagai orangtua atau bukan!
Penelitian terhadap penyiapan telah maju cukup jauh dari demonstrasi awal bahwa orang-orang yang diingatkan mengenai usia tua jadi berjalan lebih lambat. Sekarang kita tahu bahwa efek penyiapan bisa menjangkau tiap sudut kehidupan kita.
Hal-hal yang mengingatkan mengenai uang menghasilkan beberapa efek meresahkan. Para peserta di satu percobaan ditunjukkan daftar lima kata untuk menyusun frasa empat kata bertema uang ("high a salary desk paying" menjadi "a high-paying salary"). Penyiapan lain bersifat lebih halus, termasuk keberadaan benda bertema uang yang tak ada hubungannya di latar belakang, seperti setumpuk uang permainan Monopoli di meja, atau komputer dengan screen saver lembaran dolar mengapung di air.
Orang yang dipersiapkan terhadap uang menjadi lebih independen daripada kalau tidak disiapkan. Mereka bertahan dua kali lebih lama ketika mencoba menjawab suatu soal yang sangat sulit sebelum akhirnya meminta bantuan pelaku percobaan, tanda jelas peningkatan sikap mengandalkan diri sendiri.
Orang yang dipersiapkan terhadap uang juga lebih egois: mereka lebih enggan menghabiskan waktu membantu orang lain yang pura-pura bingung mengenai satu tugas percobaan. Ketika pelaku percobaan menjatuhkan sejumlah pensil ke lantai, peserta dengan uang (tanpa disadari) dalam kepalanya memunguti lebih sedikit pensil.
Di percobaan lain dalam rangkaian percobaan yang sama, para peserta diberitahu bahwa mereka bakal segera disuruh berbicara dengan seseorang dan diminta menyiapkan dua kursi selagi pelaku percobaan pergi menjemput orang itu. Peserta yang siap memikirkan uang memilih duduk lebih jauh daripada yang tidak disiapkan (118 vs. 80 sentimeter). Mahasiswa yang dipersiapkan memikirkan uang juga menunjukkan kesukaan lebih besar untuk sendirian.
Tema utama temuan-temuan itu adalah bahwa gagasan uang menyiapkan individualisme: keengganan terlibat dengan pihak lain, bergantung kepada pihak lain, atau menerima permintaan dari pihak lain.
Psikolog yang telah melakukan riset luar biasa itu, Kathleen Vohs, tidak banyak berpendapat dalam membahas arti temuannya, dan menyerahkan itu kepada pembaca. Percobaan Vohs sungguh menohok—temuannya memberi kesan bahwa hidup dalam budaya ketika kita dikelilingi hal-hal yang mengingatkan uang boleh jadi membentuk perilaku dan sikap kita tanpa kita sadari, dan mungkin tak ingin kita banggakan.
Beberapa budaya memberikan banyak pengingat untuk rasa hormat, yang lain terus-menerus menyuruh orang-orang di dalamnya ingat Tuhan, dan beberapa masyarakat membentuk kepatuhan lewat gambar-gambar besar Sang Pemimpin. Bisakah ada keraguan bahwa potret pemimpin nasional yang ada di mana-mana dalam masyarakat diktatorial bukan hanya menyebarkan perasaan bahwa "Saudara Tua Mengawasi", melainkan juga menyebabkan pengurangan sungguhan dalam pemikiran spontan dan tindakan mandiri?
Bukti dari penelitian terhadap penyiapan memberi kesan bahwa bila orang diingatkan mengenai kematian, gagasan otoriter jadi makin menarik, yang mungkin memberi kepastian di tengah teror kematian. Percobaan lain telah membenarkan wawasan ala Freud mengenai peran lambang dan kiasan dalam hubungan-hubungan yang tak disadari.
Contoh, lihatlah kata-kata tak lengkap dan ambigu ini: W_H dan S_P. Orang yang baru saja diminta memikirkan tindakan yang membuatnya merasa malu lebih cenderung melengkapi kata-kata itu menjadi WASH dan SOAP dibanding WISH dan SOUP.
Selain itu, sekadar berpikir menikam punggung rekan kerja saja sudah membuat orang lebih cenderung membeli sabun, cairan pembersih, atau deterjen dibanding baterai, jus, atau permen. Perasaan jiwa ternoda tampaknya memicu hasrat membersihkan tubuh, suatu impuls yang diberi nama "efek Lady Macbeth".
Pembersihan itu bersifat khusus bagi bagian tubuh yang terlibat dosa. Peserta suatu percobaan didorong "berbohong" kepada orang imajiner, lewat telepon atau e-mail. Dalam tes berikutnya mengenai produk apa yang paling mereka sukai, orang-orang yang berbohong di telepon lebih suka obat kumur daripada sabun, sementara mereka yang berbohong di e-mail lebih suka sabun daripada obat kumur.
Waktu saya menjabarkan penelitian tentang penyiapan kepada khalayak, reaksi mereka biasanya tidak percaya. Itu tidak mengagetkan: Sistem 2 percaya bahwa dirinya mengendalikan dan tahu alasan-alasan pilihannya.
Barangkali pertanyaan-pertanyaan juga bermunculan dalam kepala Anda: Bagaimana bisa manipulasi kecil-kecil pada konteks berpengaruh begitu besar? Apakah percobaan-percobaan itu menunjukkan bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada penyiapan apa pun yang ada di lingkungan?
Tentu saja tidak. Efek penyiapan itu kuat tapi tak harus besar. Di antara seratus pemilih dalam pemilu, hanya segelintir yang belum menentukan sikaplah yang akan memberikan suara berbeda mengenai persoalan sekolah jika tempat pemungutan suara berada di sekolah dan bukan di gereja—tapi beberapa persen saja bisa mengubah hasil pemilu.
Meski demikian, gagasan yang harus Anda perhatikan adalah tidak percaya itu bukan pilihan. Hasil percobaan-percobaan itu tidak dibuat-buat, dan bukan kesalahan statistik. Anda tak punya pilihan selain menerima bahwa kesimpulan-kesimpulan utama penelitian-penelitian itu benar.
Yang lebih penting, Anda mesti menerima bahwa kesimpulan-kesimpulan itu benar bagi Anda. Jika baru melihat screen saver bergambar lembaran dolar, Anda juga bakal lebih mungkin memunguti lebih sedikit pensil untuk membantu orang asing yang canggung menjatuhkannya.
Anda tak percaya hasil-hasil itu berlaku pada Anda karena hasil-hasil itu tidak berkaitan dengan apa pun dalam pengalaman subjektif Anda. Tapi pengalaman subjektif Anda sebagian besar terdiri atas cerita yang Sistem 2 sampaikan kepada dirinya sendiri mengenai apa yang terjadi. Fenomena penyiapan muncul di Sistem 1, dan Anda tak punya akses sadar kepadanya.
Saya tutup dengan contoh sempurna satu efek penyiapan, yang dilakukan di dapur kantor satu universitas Britania. Selama bertahun-tahun orang-orang di kantor itu membayar teh atau kopi yang mereka nikmati sepanjang hari dengan memasukkan uang ke "kotak kejujuran". Daftar harga dipasang di dekatnya.
Pada suatu hari, di atas daftar harga dipasang poster, tanpa pengumuman atau penjelasan. Selama sepuluh minggu poster itu digonta-ganti gambarnya, bunga atau mata yang seolah menatap. Tak seorang pun berkomentar mengenai dekorasi baru itu, tapi sumbangan dalam kotak kejujuran berubah signifikan.
Gambar di poster dan jumlah uang yang dimasukkan orang ke dalam kotak (relatif terhadap jumlah yang dikonsumsi) ditunjukkan di Gambar 4. Hasilnya layak disimak.
Gambar 4 – Kotak Kejujuran dan Poster
Pada minggu pertama percobaan (yang bisa Anda lihat di dasar gambar), dua mata membelalak menatap para peminum kopi atau teh, yang sumbangan rata-ratanya 70 pence per liter susu. Pada minggu kedua, posternya bergambar bunga dan sumbangan rata-rata turun ke sekitar 15 pence. Kecenderungan itu berlanjut.
Rata-rata pengguna dapur menyumbang tiga kali lipat lebih banyak pada "minggu mata" dibanding pada "minggu bunga". Jelas, penggambaran pengawasan saja bisa mendorong orang berperilaku lebih baik. Seperti kita perkirakan, efek itu terjadi tanpa disadari.
Apakah Anda sekarang percaya bahwa Anda bakal mengikuti pola yang sama?
Beberapa tahun lalu, psikolog Timothy Wilson menulis buku dengan judul yang menimbulkan renungan, Strangers to Ourselves. Anda sekarang telah diperkenalkan dengan orang asing itu, yang boleh jadi mengendalikan banyak hal yang Anda lakukan, walau Anda jarang bisa melihat kendali itu.
Sistem 1 menyediakan kesan yang sering berubah menjadi kepercayaan Anda, dan menjadi sumber impuls yang sering menjadi pilihan dan tindakan Anda. Sistem 1 menawarkan penafsiran tersirat atas apa yang terjadi kepada Anda dan sekeliling Anda, menghubungkan masa kini dengan masa lalu yang baru terjadi dan dengan harapan masa depan yang dekat.
Sistem 1 mengandung model dunia yang langsung menilai apakah suatu peristiwa itu normal atau mengagetkan. Sistem 1 adalah sumber pertimbangan intuitif yang cepat dan sering kali tepat. Dan semua itu dilakukan Sistem 1 tanpa Anda sadari aktivitasnya.
Seperti akan kita lihat di bab-bab berikut, Sistem 1 juga merupakan asal-usul banyak kesalahan sistematis pada intuisi Anda.
Comments (0)