Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-85 End

 

BAB 81 

Fungsi Reproduksi dan Hormonal pada Pria (serta Fungsi Kelenjar Pineal)

Fungsi reproduksi pada pria dapat dibagi menjadi tiga bagian utama: (1) pembentukan sperma (spermatogenesis); (2) pelaksanaan aktivitas seksual pria; dan (3) pengaturan fungsi reproduksi pria oleh berbagai hormon. Berkaitan dengan fungsi-fungsi reproduksi tersebut adalah pengaruh hormon seks pria terhadap organ reproduksi aksesori, metabolisme sel, pertumbuhan, dan berbagai fungsi tubuh lainnya.

Anatomi Fisiologis Organ Reproduksi Pria

Gambar 81-1. A, Sistem reproduksi pria. B, Struktur internal testis dan hubungan antara testis dengan epididimis. (A, Dimodifikasi dari Bloom V, Fawcett DW: Textbook of Histology, edisi ke-10. Philadelphia: WB Saunders, 1975. B, Dimodifikasi dari Guyton AC: Anatomy and Physiology. Philadelphia: Saunders College Publishing, 1985.)

Gambar 81-1A memperlihatkan berbagai bagian sistem reproduksi pria, sedangkan Gambar 81-1B menunjukkan struktur testis dan epididimis secara lebih rinci. Testis tersusun atas hingga 900 tubulus seminiferus yang berkelok-kelok, masing-masing dengan panjang rata-rata lebih dari setengah meter, tempat pembentukan sperma berlangsung. Sperma kemudian dialirkan ke epididimis, yang juga merupakan saluran berkelok dengan panjang sekitar 6 meter. Epididimis berlanjut menjadi vas deferens, yang membesar membentuk ampula vas deferens tepat sebelum vas deferens memasuki kelenjar prostat.

Dua vesikula seminalis, masing-masing terletak di sisi kanan dan kiri prostat, bermuara ke ujung ampula yang berada di dalam prostat. Isi dari ampula dan vesikula seminalis kemudian mengalir ke duktus ejakulatorius yang melintasi kelenjar prostat dan akhirnya bermuara ke uretra interna. Duktus prostat juga bermuara dari kelenjar prostat ke duktus ejakulatorius, kemudian menuju uretra prostatika.

Akhirnya, uretra merupakan saluran terakhir yang menghubungkan testis dengan bagian luar tubuh. Uretra dilapisi oleh mukus yang berasal dari banyak kelenjar uretra berukuran kecil yang tersebar di sepanjang saluran tersebut, serta dalam jumlah yang lebih banyak dari kelenjar bulbouretralis bilateral (kelenjar Cowper) yang terletak di dekat pangkal uretra.

SPERMATOGENESIS

Selama pembentukan embrio, sel germinal primordial bermigrasi ke dalam testis dan berkembang menjadi sel germinal imatur yang disebut spermatogonia. Sel-sel ini tersusun dalam dua atau tiga lapisan pada permukaan bagian dalam tubulus seminiferus (penampang melintang tubulus ditunjukkan pada Gambar 81-2A). Saat pubertas, spermatogonia mulai mengalami pembelahan mitosis, kemudian terus berproliferasi dan berdiferensiasi melalui tahapan perkembangan tertentu hingga membentuk sperma, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 81-2B.

TAHAPAN SPERMATOGENESIS

Spermatogenesis berlangsung di dalam tubulus seminiferus selama masa aktif reproduksi sebagai akibat stimulasi hormon gonadotropik dari hipofisis anterior. Pada pria, spermatogenesis dimulai pada usia rata-rata sekitar 13 tahun dan berlanjut hampir sepanjang sisa kehidupan, meskipun mengalami penurunan yang nyata pada usia lanjut.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia bermigrasi melewati sel Sertoli menuju lumen sentral tubulus seminiferus. Sel Sertoli berukuran besar dan memiliki penjuluran sitoplasma yang luas sehingga menyelubungi spermatogonia yang sedang berkembang hingga mencapai lumen sentral tubulus.

Meiosis

Gambar 81-3. Pembelahan sel selama spermatogenesis. Selama perkembangan embrio, sel germinal primordial bermigrasi ke testis dan berkembang menjadi spermatogonia. Pada saat pubertas (umumnya 12 hingga 14 tahun setelah lahir), spermatogonia berproliferasi dengan cepat melalui mitosis. Sebagian kemudian memulai meiosis menjadi spermatosit primer dan melanjutkan ke pembelahan meiosis I sehingga menghasilkan spermatosit sekunder. Setelah menyelesaikan pembelahan meiosis II, spermatosit sekunder menghasilkan spermatid, yang selanjutnya berdiferensiasi menjadi spermatozoa.

Spermatogonia yang telah melewati sawar menuju lapisan sel Sertoli mengalami modifikasi bertahap dan membesar membentuk spermatosit primer berukuran besar (Gambar 81-3). Setiap spermatosit primer kemudian menjalani pembelahan meiosis sehingga menghasilkan dua spermatosit sekunder. Beberapa hari kemudian, spermatosit sekunder juga membelah membentuk spermatid, yang selanjutnya mengalami diferensiasi menjadi spermatozoa (sperma).

Selama perubahan dari tahap spermatosit menjadi spermatid, sebanyak 46 kromosom (23 pasang kromosom) yang terdapat pada spermatosit dibagi sehingga masing-masing spermatid menerima 23 kromosom. Gen-gen kromosom juga terbagi, sehingga hanya setengah dari karakteristik genetik janin yang berasal dari ayah, sedangkan setengah lainnya berasal dari oosit yang disediakan oleh ibu.

Keseluruhan proses spermatogenesis, mulai dari spermatogonia hingga menjadi spermatozoa, memerlukan waktu sekitar 74 hari.

Kromosom Seks

Pada setiap spermatogonium, salah satu dari 23 pasang kromosom membawa informasi genetik yang menentukan jenis kelamin keturunan. Pasangan ini terdiri atas satu kromosom X yang disebut kromosom perempuan dan satu kromosom Y yang disebut kromosom laki-laki. Selama pembelahan meiosis, kromosom Y masuk ke salah satu spermatid yang kemudian berkembang menjadi sperma pembawa kromosom Y, sedangkan kromosom X masuk ke spermatid lainnya yang berkembang menjadi sperma pembawa kromosom X. Jenis kelamin keturunan ditentukan oleh tipe sperma yang membuahi ovum. Proses ini akan dibahas lebih lanjut pada Bab 83.

Pembentukan Sperma

Ketika pertama kali terbentuk, spermatid masih memiliki karakteristik khas sel epitel. Namun, tidak lama kemudian sel-sel tersebut mulai berdiferensiasi dan memanjang hingga menjadi spermatozoa. Seperti diperlihatkan pada Gambar 81-4, setiap spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor.

Kepala spermatozoa mengandung inti sel yang telah mengalami kondensasi, dengan hanya tersisa lapisan tipis sitoplasma dan membran sel yang menyelubungi permukaannya. Pada bagian luar dua pertiga anterior kepala terdapat struktur seperti tudung yang tebal, disebut akrosom, yang terutama dibentuk dari aparatus Golgi. Akrosom mengandung beberapa enzim yang serupa dengan enzim pada lisosom sel normal, termasuk hialuronidase (yang mampu mencerna filamen proteoglikan jaringan) serta enzim proteolitik yang sangat kuat (yang mampu mencerna protein). Enzim-enzim ini berperan penting dalam memungkinkan sperma menembus ovum dan melakukan fertilisasi.

Ekor sperma, yang disebut flagelum, memiliki tiga komponen utama, yaitu: (1) rangka pusat yang tersusun atas 11 mikrotubulus yang secara kolektif disebut aksonema; struktur aksonema serupa dengan silia pada permukaan berbagai jenis sel lain sebagaimana dijelaskan pada Bab 2; (2) membran sel tipis yang menyelubungi aksonema; dan (3) kumpulan mitokondria yang mengelilingi aksonema pada bagian proksimal ekor, yang disebut badan ekor.

Gerakan maju-mundur ekor (gerakan flagelar) menghasilkan motilitas sperma. Gerakan ini terjadi akibat pergeseran longitudinal yang ritmis antara mikrotubulus anterior dan posterior yang menyusun aksonema. Energi untuk proses ini disediakan dalam bentuk adenosin trifosfat (adenosine triphosphate, ATP) yang disintesis oleh mitokondria pada badan ekor.

Sperma normal bergerak dalam medium cair dengan kecepatan sekitar 1 hingga 4 mm/menit, sehingga memungkinkan sperma bergerak melalui saluran genital wanita untuk mencapai ovum.

Faktor Hormonal yang Merangsang Spermatogenesis

Peran hormon dalam reproduksi akan dibahas secara lebih rinci pada bagian berikutnya. Untuk saat ini, perlu diketahui bahwa beberapa hormon berperan penting dalam spermatogenesis. Peran hormon-hormon tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Testosteron, yang disekresikan oleh sel Leydig yang terletak di interstisium testis (lihat Gambar 81-2), sangat penting untuk pertumbuhan dan pembelahan sel-sel germinal testis, yang merupakan tahap pertama pembentukan spermatozoa.
  2. Hormon luteinizing (LH), yang disekresikan oleh hipofisis anterior, merangsang sel Leydig untuk menghasilkan testosteron.
  3. Hormon perangsang folikel (follicle-stimulating hormone, FSH), yang juga disekresikan oleh hipofisis anterior, merangsang sel Sertoli. Tanpa rangsangan ini, proses perubahan spermatid menjadi spermatozoa (proses spermiogenesis) tidak akan terjadi.
  4. Estrogen, yang dibentuk dari testosteron oleh sel Sertoli ketika dirangsang oleh FSH, kemungkinan juga sangat penting untuk proses spermiogenesis.
  5. Hormon pertumbuhan (growth hormone), bersama sebagian besar hormon tubuh lainnya, diperlukan untuk mengendalikan fungsi metabolik dasar testis. Hormon pertumbuhan secara khusus merangsang pembelahan awal spermatogonia. Jika hormon ini tidak ada, seperti pada individu dengan kekerdilan akibat gangguan hipofisis, spermatogenesis sangat berkurang atau bahkan tidak terjadi sehingga menyebabkan infertilitas.

Pematangan Spermatozoa di Epididimis

Setelah terbentuk di tubulus seminiferus, spermatozoa memerlukan beberapa hari untuk melewati tubulus epididimis yang panjangnya sekitar 6 meter. Spermatozoa yang diambil dari tubulus seminiferus maupun dari bagian awal epididimis belum memiliki kemampuan bergerak (nonmotil) dan belum mampu membuahi ovum.

Namun, setelah berada di epididimis selama 18 hingga 24 jam, spermatozoa mulai memperoleh kemampuan untuk bergerak, meskipun beberapa protein penghambat dalam cairan epididimis masih mencegah motilitas penuh hingga setelah ejakulasi.

Penyimpanan Spermatozoa di Testis

Kedua testis pria dewasa menghasilkan hingga sekitar 120 juta spermatozoa setiap hari. Sebagian besar spermatozoa ini disimpan di epididimis, sedangkan sebagian kecil disimpan di vas deferens. Spermatozoa dapat tetap disimpan sambil mempertahankan kemampuan fertilisasinya selama sedikitnya satu bulan. Selama masa tersebut, spermatozoa dipertahankan dalam keadaan sangat tertekan dan tidak aktif oleh berbagai zat penghambat yang terdapat dalam sekresi saluran reproduksi. Sebaliknya, pada individu dengan aktivitas seksual dan frekuensi ejakulasi yang tinggi, spermatozoa mungkin hanya tersimpan selama beberapa hari.

Setelah ejakulasi, spermatozoa menjadi motil dan mampu membuahi ovum melalui suatu proses yang disebut maturasi. Sel Sertoli dan epitel epididimis mensekresikan cairan nutrisi khusus yang ikut dikeluarkan bersama spermatozoa saat ejakulasi. Cairan ini mengandung hormon, termasuk testosteron dan estrogen, enzim, serta berbagai zat gizi khusus yang sangat penting untuk pematangan spermatozoa.

Fisiologi Spermatozoa Matang

Spermatozoa normal yang motil dan fertil mampu bergerak dengan bantuan flagelum melalui medium cair dengan kecepatan sekitar 1 hingga 4 mm/menit.

Aktivitas spermatozoa meningkat secara nyata dalam lingkungan yang netral atau sedikit basa, seperti pada semen yang telah diejakulasikan, tetapi sangat menurun dalam lingkungan yang sedikit asam. Lingkungan yang sangat asam dapat menyebabkan kematian spermatozoa dengan cepat.

Aktivitas spermatozoa juga meningkat seiring kenaikan suhu. Akan tetapi, laju metabolisme juga meningkat sehingga masa hidup spermatozoa menjadi jauh lebih singkat. Meskipun spermatozoa dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam keadaan tertekan di saluran reproduksi pria, harapan hidup spermatozoa setelah berada di saluran reproduksi wanita hanya sekitar 1 hingga 2 hari.

FUNGSI VESIKULA SEMINALIS

Setiap vesikula seminalis merupakan saluran berkelok-kelok yang memiliki banyak ruang (loculated) dan dilapisi oleh epitel sekretorik yang menghasilkan bahan berlendir (mucoid) yang mengandung fruktosa, asam sitrat, berbagai zat nutrisi lainnya, serta prostaglandin dan fibrinogen dalam jumlah besar.

Selama proses emisi dan ejakulasi, masing-masing vesikula seminalis mengosongkan isinya ke dalam duktus ejakulatorius segera setelah vas deferens mengeluarkan spermatozoa. Sekresi ini secara nyata menambah volume semen yang diejakulasikan. Fruktosa dan zat-zat lain dalam cairan vesikula seminalis memberikan nutrisi penting bagi spermatozoa hingga salah satunya membuahi ovum.

Prostaglandin diperkirakan membantu proses fertilisasi melalui dua cara:

  1. Bereaksi dengan mukus serviks wanita sehingga lebih mudah dilalui oleh spermatozoa.
  2. Kemungkinan menimbulkan kontraksi peristaltik retrograd pada uterus dan tuba falopi sehingga membantu mendorong spermatozoa menuju ovarium. Beberapa spermatozoa bahkan dapat mencapai ujung atas tuba falopi dalam waktu sekitar 5 menit.

FUNGSI KELENJAR PROSTAT

Kelenjar prostat mensekresikan cairan encer berwarna seperti susu yang mengandung kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan, dan profibrinolisin.

Selama proses emisi, kapsul kelenjar prostat berkontraksi secara bersamaan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan prostat yang encer tersebut menambah volume semen.

Sifat cairan prostat yang sedikit basa kemungkinan sangat penting bagi keberhasilan fertilisasi ovum karena cairan dalam vas deferens relatif bersifat asam akibat adanya asam sitrat dan produk akhir metabolisme spermatozoa, yang pada akhirnya membantu menghambat fertilitas spermatozoa. Selain itu, sekret vagina pada wanita juga bersifat asam dengan pH sekitar 3,5 hingga 4,0.

Spermatozoa tidak akan mencapai motilitas optimal sampai pH cairan di sekitarnya meningkat menjadi sekitar 6,0 hingga 6,5. Oleh karena itu, cairan prostat yang sedikit basa kemungkinan membantu menetralkan keasaman cairan semen lainnya selama ejakulasi sehingga meningkatkan motilitas dan kemampuan fertilisasi spermatozoa.

SEMEN

Semen yang dikeluarkan selama hubungan seksual pria terdiri atas cairan dan spermatozoa dari vas deferens (sekitar 10% dari total volume), cairan dari vesikula seminalis (hampir 60%), cairan dari kelenjar prostat (sekitar 30%), serta sejumlah kecil sekret dari kelenjar mukosa, terutama kelenjar bulbouretralis. Dengan demikian, sebagian besar volume semen berasal dari cairan vesikula seminalis, yang merupakan komponen terakhir yang diejakulasikan dan berfungsi membilas spermatozoa melalui duktus ejakulatorius dan uretra.

Rata-rata pH semen sekitar 7,5, karena cairan prostat yang bersifat basa telah lebih dari cukup untuk menetralkan sedikit keasaman dari komponen semen lainnya. Cairan prostat memberikan tampilan seperti susu pada semen, sedangkan cairan vesikula seminalis dan kelenjar mukosa memberikan konsistensi berlendir.

Selain itu, enzim pembekuan dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula seminalis membentuk koagulum fibrin yang lemah sehingga semen tetap berada di bagian dalam vagina, dekat serviks uteri. Koagulum ini kemudian larut dalam waktu sekitar 15 hingga 30 menit akibat proses lisis oleh fibrinolisin yang terbentuk dari profibrinolisin prostat.

Pada beberapa menit pertama setelah ejakulasi, spermatozoa relatif tidak bergerak, kemungkinan karena viskositas koagulum tersebut. Ketika koagulum melarut, spermatozoa secara bersamaan menjadi sangat motil.

Walaupun spermatozoa dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu di dalam saluran reproduksi pria, setelah diejakulasikan bersama semen, masa hidup maksimalnya pada suhu tubuh hanya sekitar 24 hingga 48 jam. Namun, pada suhu yang lebih rendah, semen dapat disimpan selama beberapa minggu, dan bila dibekukan pada suhu di bawah −100°C, spermatozoa dapat dipertahankan selama bertahun-tahun.

Capacitation Spermatozoa Diperlukan untuk Fertilisasi Ovum

Walaupun spermatozoa dianggap telah "matang" ketika meninggalkan epididimis, aktivitasnya tetap ditekan oleh berbagai faktor penghambat yang disekresikan oleh epitel saluran reproduksi pria. Oleh karena itu, ketika pertama kali dikeluarkan bersama semen, spermatozoa belum mampu membuahi ovum.

Namun, setelah bersentuhan dengan cairan di saluran reproduksi wanita, terjadi berbagai perubahan yang mengaktifkan spermatozoa untuk menjalani tahap akhir fertilisasi. Keseluruhan perubahan ini disebut capacitation spermatozoa, yang biasanya memerlukan waktu sekitar 1 hingga 10 jam.

Perubahan-perubahan yang diperkirakan terjadi meliputi:

  1. Cairan uterus dan tuba falopi menghilangkan berbagai faktor penghambat yang menekan aktivitas spermatozoa di saluran reproduksi pria.
  2. Selama berada di dalam saluran reproduksi pria, spermatozoa terus-menerus terpapar vesikel-vesikel yang berasal dari tubulus seminiferus dan mengandung kolesterol dalam jumlah besar. Kolesterol ini terus ditambahkan ke membran sel yang menutupi akrosom spermatozoa sehingga membran menjadi lebih kuat dan mencegah pelepasan enzim-enzim akrosom. Setelah ejakulasi, spermatozoa yang berada di vagina berenang menjauhi vesikel kolesterol menuju rongga uterus, kemudian secara bertahap kehilangan sebagian besar kelebihan kolesterolnya selama beberapa jam berikutnya. Akibatnya, membran akrosom pada kepala spermatozoa menjadi jauh lebih rapuh.
  3. Membran spermatozoa juga menjadi jauh lebih permeabel terhadap ion kalsium sehingga ion kalsium masuk dalam jumlah besar. Masuknya ion kalsium mengubah aktivitas flagelum sehingga gerakannya berubah menjadi ayunan yang kuat, berbeda dengan gerakan bergelombang yang sebelumnya lemah. Selain itu, ion kalsium juga menyebabkan perubahan pada membran yang menutupi bagian depan akrosom sehingga akrosom dapat melepaskan enzim-enzimnya dengan cepat dan mudah ketika spermatozoa menembus lapisan sel granulosa yang mengelilingi ovum, terlebih lagi saat berusaha menembus zona pellucida.

Dengan demikian, berbagai perubahan terjadi selama proses capacitation. Tanpa perubahan-perubahan tersebut, spermatozoa tidak akan mampu memasuki bagian dalam ovum untuk menghasilkan fertilisasi.

Enzim Akrosom, "Reaksi Akrosom", dan Penetrasi Ovum

Di dalam akrosom spermatozoa tersimpan sejumlah besar enzim hialuronidase dan enzim proteolitik. Hialuronidase mendepolimerisasi polimer asam hialuronat pada substansi antarsel yang merekatkan sel-sel granulosa ovarium. Sementara itu, enzim proteolitik mencerna protein pada unsur struktural sel jaringan yang masih melekat pada ovum.

Ketika ovum dilepaskan dari folikel ovarium ke dalam tuba falopi, ovum masih diselubungi oleh beberapa lapisan sel granulosa. Sebelum spermatozoa dapat membuahi ovum, spermatozoa harus melarutkan lapisan sel granulosa tersebut, kemudian menembus zona pellucida, yaitu lapisan tebal yang menyelubungi ovum. Untuk mencapai hal ini, enzim-enzim yang tersimpan di dalam akrosom mulai dilepaskan. Di antara enzim tersebut, hialuronidase sangat penting karena membuka jalur di antara sel-sel granulosa sehingga spermatozoa dapat mencapai ovum.

Ketika spermatozoa mencapai zona pellucida, membran bagian anterior spermatozoa berikatan secara spesifik dengan protein reseptor pada zona pellucida. Selanjutnya, seluruh akrosom dengan cepat mengalami disolusi dan semua enzim akrosom dilepaskan. Dalam beberapa menit, enzim-enzim tersebut membuka jalur penetrasi sehingga kepala spermatozoa dapat menembus zona pellucida dan memasuki ovum.

Sekitar 30 menit kemudian, membran sel kepala spermatozoa dan membran oosit saling berfusi membentuk satu sel tunggal. Pada saat yang sama, materi genetik spermatozoa dan oosit bergabung membentuk genom sel yang sepenuhnya baru, yang mengandung jumlah kromosom dan gen yang sama banyak dari ibu maupun ayah.

Inilah proses fertilisasi. Setelah itu, embrio mulai berkembang sebagaimana dibahas pada Bab 83.

Mengapa Hanya Satu Spermatozoa yang Memasuki Oosit?

Dengan jumlah spermatozoa yang begitu banyak, mengapa hanya satu yang memasuki oosit? Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui. Namun, dalam beberapa menit setelah spermatozoa pertama menembus zona pellucida ovum, ion kalsium berdifusi ke dalam melalui membran oosit dan memicu pelepasan banyak granula kortikal ke ruang perivitelin melalui proses eksositosis. Granula-granula ini mengandung zat yang menyebar ke seluruh bagian zona pellucida dan mencegah spermatozoa lain berikatan dengannya. Zat tersebut bahkan menyebabkan spermatozoa yang telah mulai berikatan menjadi terlepas. Dengan demikian, hampir tidak pernah lebih dari satu spermatozoa memasuki oosit selama proses fertilisasi.

Spermatogenesis Abnormal dan Fertilitas Pria

Epitel tubulus seminiferus dapat mengalami kerusakan akibat berbagai penyakit. Sebagai contoh, orkitis bilateral (peradangan pada testis) akibat infeksi gondongan (mumps) dapat menyebabkan sterilitas pada sebagian pria yang mengalaminya. Selain itu, beberapa bayi laki-laki lahir dengan epitel tubulus yang mengalami degenerasi akibat penyempitan saluran reproduksi atau kelainan lainnya. Penyebab sterilitas lain, yang umumnya bersifat sementara, adalah peningkatan suhu testis yang berlebihan.

Pengaruh Suhu terhadap Spermatogenesis

Peningkatan suhu testis dapat menghambat spermatogenesis dengan menyebabkan degenerasi pada sebagian besar sel tubulus seminiferus, kecuali spermatogonia. Selama ini sering dikatakan bahwa alasan testis terletak di dalam skrotum yang menggantung adalah untuk mempertahankan suhu kelenjar tersebut tetap lebih rendah daripada suhu tubuh bagian dalam, meskipun biasanya hanya sekitar 2°C lebih rendah.

Pada hari yang dingin, refleks skrotum menyebabkan otot-otot skrotum berkontraksi sehingga testis tertarik lebih dekat ke tubuh untuk mempertahankan perbedaan suhu sekitar 2°C tersebut. Dengan demikian, skrotum berfungsi sebagai mekanisme pendingin yang terkontrol bagi testis. Tanpa mekanisme ini, spermatogenesis dapat terganggu, terutama pada cuaca panas.

Kriptorkismus

Kriptorkismus adalah kegagalan satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada atau menjelang waktu kelahiran.

Selama perkembangan janin laki-laki, testis berasal dari genital ridge di rongga abdomen. Namun, sekitar 3 minggu hingga 1 bulan sebelum bayi lahir, testis secara normal turun melalui kanalis inguinalis menuju skrotum. Kadang-kadang proses penurunan ini tidak terjadi atau hanya berlangsung sebagian sehingga satu atau kedua testis tetap berada di rongga abdomen, di kanalis inguinalis, atau di lokasi lain sepanjang jalur penurunannya.

Testis yang tetap berada di rongga abdomen sepanjang hidup tidak mampu menghasilkan spermatozoa. Epitel tubulus mengalami degenerasi sehingga hanya struktur interstisial testis yang tersisa. Telah dikemukakan bahwa suhu rongga abdomen yang hanya beberapa derajat lebih tinggi daripada suhu skrotum sudah cukup untuk menyebabkan degenerasi epitel tubulus tersebut dan pada akhirnya menimbulkan sterilitas, meskipun hal ini belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Oleh karena itu, pada anak laki-laki dengan testis yang tidak turun, dapat dilakukan tindakan pembedahan untuk memindahkan testis dari rongga abdomen ke dalam skrotum sebelum memasuki masa dewasa seksual.

Sekresi testosteron oleh testis janin merupakan rangsangan normal yang menyebabkan testis turun dari rongga abdomen ke skrotum. Oleh karena itu, banyak, bahkan mungkin sebagian besar, kasus kriptorkismus disebabkan oleh pembentukan testis yang abnormal sehingga tidak mampu menghasilkan testosteron dalam jumlah yang memadai. Pada pasien seperti ini, tindakan pembedahan untuk mengatasi kriptorkismus umumnya tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Pengaruh Jumlah Spermatozoa terhadap Fertilitas

Jumlah semen yang dikeluarkan pada setiap hubungan seksual rata-rata sekitar 3,5 mL. Setiap mililiter semen mengandung rata-rata sekitar 120 juta spermatozoa, meskipun pada pria yang dianggap normal jumlah tersebut dapat berkisar antara 35 juta hingga 200 juta spermatozoa per mililiter.

Dengan demikian, setiap ejakulasi umumnya mengandung sekitar 400 juta spermatozoa. Apabila jumlah spermatozoa turun hingga di bawah sekitar 20 juta per mililiter, seseorang kemungkinan besar mengalami infertilitas.

Oleh karena itu, walaupun hanya diperlukan satu spermatozoa untuk membuahi ovum, karena alasan yang belum sepenuhnya dipahami, ejakulat biasanya harus mengandung jumlah spermatozoa yang sangat besar agar satu di antaranya berhasil melakukan fertilisasi.

Pengaruh Morfologi dan Motilitas Spermatozoa terhadap Fertilitas

Kadang-kadang seorang pria memiliki jumlah spermatozoa yang normal tetapi tetap mengalami infertilitas. Pada keadaan seperti ini, hingga setengah dari spermatozoanya dapat ditemukan memiliki kelainan bentuk, misalnya berkepala dua, bentuk kepala yang abnormal, atau ekor yang abnormal, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 81-5.

Pada keadaan lain, spermatozoa tampak memiliki struktur yang normal, tetapi karena alasan yang belum diketahui, spermatozoa tersebut sama sekali tidak bergerak atau hanya memiliki motilitas yang sangat rendah.

Apabila sebagian besar spermatozoa mengalami kelainan morfologi atau tidak motil, seseorang kemungkinan besar mengalami infertilitas, meskipun sisa spermatozoanya tampak normal.

TINDAKAN SEKSUAL PADA PRIA

RANGSANGAN SARAF UNTUK TERJADINYA TINDAKAN SEKSUAL PADA PRIA

Sumber terpenting sinyal saraf sensorik yang memulai tindakan seksual pada pria adalah glans penis. Glans mengandung sistem ujung saraf sensorik yang sangat peka, yang menghantarkan ke sistem saraf pusat suatu modalitas sensasi khusus yang disebut sensasi seksual.

Gerakan menggesek dan memijat pada glans selama hubungan seksual merangsang ujung-ujung saraf sensorik tersebut. Selanjutnya, impuls seksual dihantarkan melalui saraf pudendus, kemudian melalui pleksus sakral menuju bagian sakral medula spinalis, dan akhirnya naik ke otak.

Impuls juga dapat memasuki medula spinalis dari daerah di sekitar penis untuk membantu merangsang aktivitas seksual. Sebagai contoh, rangsangan pada epitel anus, skrotum, dan struktur perineum secara umum dapat mengirimkan sinyal ke medula spinalis yang memperkuat sensasi seksual.

Sensasi seksual bahkan dapat berasal dari struktur internal, seperti uretra, kandung kemih, prostat, vesikula seminalis, testis, dan vas deferens. Bahkan, salah satu penyebab meningkatnya dorongan seksual adalah terisinya organ-organ reproduksi dengan berbagai sekret.

Infeksi dan peradangan ringan pada organ-organ reproduksi tersebut kadang-kadang dapat meningkatkan hasrat seksual. Beberapa obat yang dikenal sebagai afrodisiak, seperti kantaridin (cantharidin), bekerja dengan mengiritasi mukosa kandung kemih dan uretra sehingga menimbulkan peradangan serta kongesti vaskular.

Peran Faktor Psikis dalam Rangsangan Seksual Pria

Rangsangan psikis yang sesuai dapat sangat meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan hubungan seksual. Sekadar memikirkan hal-hal yang bersifat seksual atau bahkan bermimpi sedang melakukan hubungan seksual dapat memicu terjadinya aktivitas seksual pada pria hingga berakhir dengan ejakulasi.

Memang, ejakulasi nokturnal saat bermimpi, yang sering disebut sebagai mimpi basah, terjadi pada banyak pria pada tahap-tahap tertentu dalam kehidupannya, terutama selama masa remaja.

Integrasi Tindakan Seksual Pria di Medula Spinalis

Meskipun faktor psikis biasanya berperan penting dalam tindakan seksual pria dan dapat memulai maupun menghambatnya, fungsi otak kemungkinan tidak mutlak diperlukan untuk pelaksanaannya. Hal ini karena rangsangan yang sesuai pada alat kelamin dapat menimbulkan ejakulasi pada beberapa hewan dan kadang-kadang juga pada manusia setelah medula spinalis terputus di atas regio lumbal.

Tindakan seksual pada pria merupakan hasil mekanisme refleks bawaan yang diintegrasikan di medula spinalis bagian sakral dan lumbal. Mekanisme ini dapat dipicu baik oleh rangsangan psikis dari otak maupun oleh rangsangan seksual langsung dari organ reproduksi, meskipun dalam keadaan normal biasanya merupakan kombinasi keduanya.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment