Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-85 End

Nutrisi Neonatus

Sebelum lahir, janin memperoleh hampir seluruh energinya dari glukosa yang berasal dari darah ibu. Setelah lahir, jumlah glukosa yang tersimpan di dalam tubuh bayi dalam bentuk glikogen hati dan otot hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama beberapa jam. Hati neonatus pada saat lahir masih jauh dari matang secara fungsional sehingga belum mampu melakukan glukoneogenesis dalam jumlah yang bermakna. Oleh karena itu, konsentrasi glukosa darah bayi pada hari pertama kehidupan sering kali turun hingga hanya 30 hingga 40 mg/dL plasma, yaitu kurang dari setengah nilai normal. Untungnya, terdapat mekanisme yang memungkinkan bayi memanfaatkan cadangan lemak dan protein sebagai sumber energi sampai air susu ibu tersedia dalam jumlah memadai, yaitu sekitar 2 hingga 3 hari kemudian.

Masalah khusus juga sering berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan cairan pada neonatus karena laju pergantian cairan tubuh bayi rata-rata tujuh kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, sementara produksi air susu ibu memerlukan beberapa hari untuk terbentuk. Umumnya, berat badan bayi menurun sekitar 5% hingga 10%, bahkan kadang-kadang sampai 20%, selama 2 hingga 3 hari pertama kehidupan. Sebagian besar penurunan berat badan tersebut disebabkan oleh kehilangan cairan, bukan kehilangan massa padat tubuh.

Masalah Fungsional Khusus pada Neonatus

Karakteristik penting neonatus adalah ketidakstabilan berbagai sistem pengendalian hormonal dan neurogenik. Ketidakstabilan ini sebagian disebabkan oleh perkembangan organ tubuh yang belum matang dan sebagian lagi karena sistem pengendalian tersebut belum beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim.

Sistem Pernapasan

Frekuensi napas normal pada neonatus sekitar 40 kali per menit, dengan volume tidal rata-rata 16 mL setiap kali bernapas. Dengan demikian, volume ventilasi per menit mencapai sekitar 640 mL/menit, yaitu sekitar dua kali lebih besar dibandingkan orang dewasa bila dihitung berdasarkan berat badan. Kapasitas residu fungsional paru bayi hanya sekitar setengah kapasitas residu fungsional orang dewasa jika dibandingkan berdasarkan berat badan. Perbedaan ini menyebabkan fluktuasi konsentrasi gas darah pada bayi baru lahir menjadi lebih besar apabila frekuensi napas melambat, karena udara residu di dalam paru-parulah yang berfungsi meredam perubahan kadar gas darah.

Sirkulasi

Volume Darah

Volume darah neonatus segera setelah lahir rata-rata sekitar 300 mL. Namun, apabila bayi tetap dibiarkan terhubung dengan plasenta selama beberapa menit setelah lahir atau tali pusat diperah (cord stripping) untuk mendorong darah keluar dari pembuluh darah tali pusat menuju tubuh bayi, sekitar 75 mL darah tambahan akan masuk sehingga total volume darah mencapai sekitar 375 mL. Selama beberapa jam berikutnya, sebagian cairan dari darah tersebut berpindah ke ruang jaringan neonatus sehingga hematokrit meningkat, sedangkan volume darah kembali ke nilai normal sekitar 300 mL. Sebagian dokter anak berpendapat bahwa tambahan volume darah akibat pemerahan tali pusat dapat menyebabkan edema paru ringan disertai derajat tertentu distres pernapasan, tetapi tambahan sel darah merah tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi bayi.

Curah Jantung

Curah jantung neonatus rata-rata sekitar 500 mL/menit. Seperti halnya pernapasan dan metabolisme tubuh, nilai ini sekitar dua kali lebih besar dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan. Kadang-kadang seorang bayi lahir dengan curah jantung yang sangat rendah akibat perdarahan sebagian besar volume darahnya ke plasenta pada saat persalinan.

Tekanan Arteri

Tekanan arteri pada hari pertama setelah lahir rata-rata sekitar 70 mmHg sistolik dan 50 mmHg diastolik. Tekanan ini meningkat secara perlahan selama beberapa bulan berikutnya hingga mencapai sekitar 90/60 mmHg. Setelah itu terjadi peningkatan yang lebih lambat selama masa kanak-kanak hingga akhirnya mencapai tekanan orang dewasa sekitar 115/70 mmHg pada masa remaja.

Karakteristik Darah

Gambar 84-6. Perubahan jumlah sel darah merah dan konsentrasi bilirubin serum selama 16 minggu pertama kehidupan, yang menunjukkan anemia fisiologis pada usia 6 hingga 12 minggu serta hiperbilirubinemia fisiologis selama 2 minggu pertama kehidupan.

Jumlah sel darah merah pada neonatus rata-rata sekitar 4 juta/mm³. Jika darah dari tali pusat diperah masuk ke tubuh bayi, jumlah sel darah merah meningkat sekitar 0,5 hingga 0,75 juta/mm³ selama beberapa jam pertama kehidupan sehingga mencapai sekitar 4,75 juta/mm³, seperti ditunjukkan pada Gambar 84-6.

Namun, selama beberapa minggu pertama kehidupan hanya sedikit sel darah merah baru yang dibentuk, kemungkinan karena rangsangan hipoksia yang terdapat selama kehidupan janin sudah tidak ada lagi untuk merangsang eritropoiesis. Oleh karena itu, seperti terlihat pada Gambar 84-6, jumlah rata-rata sel darah merah menurun menjadi kurang dari 4 juta/mm³ pada usia sekitar 6 hingga 8 minggu. Setelah itu, meningkatnya aktivitas bayi memberikan rangsangan yang sesuai sehingga jumlah sel darah merah kembali normal dalam waktu 2 hingga 3 bulan berikutnya.

Segera setelah lahir, jumlah sel darah putih neonatus sekitar 45.000/mm³, yaitu sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa normal.

Ikterus Neonatus dan Eritroblastosis Fetalis

Bilirubin yang terbentuk pada janin dapat melewati plasenta menuju sirkulasi ibu dan diekskresikan melalui hati ibu. Segera setelah lahir, satu-satunya cara neonatus membuang bilirubin adalah melalui hatinya sendiri. Namun, selama sekitar minggu pertama kehidupan, hati neonatus masih berfungsi kurang baik dan belum mampu mengonjugasikan bilirubin dalam jumlah bermakna dengan asam glukuronat untuk diekskresikan ke dalam empedu. Akibatnya, konsentrasi bilirubin plasma meningkat dari nilai normal kurang dari 1 mg/dL menjadi rata-rata sekitar 5 mg/dL selama 3 hari pertama kehidupan, kemudian secara bertahap kembali normal seiring dengan matangnya fungsi hati. Keadaan ini disebut hiperbilirubinemia fisiologis, seperti diperlihatkan pada Gambar 84-6, dan disertai ikterus ringan (warna kekuningan) pada kulit bayi serta terutama pada sklera mata selama satu hingga dua minggu.

Namun, penyebab abnormal yang paling penting dari ikterus neonatus berat adalah eritroblastosis fetalis, yang dibahas secara rinci pada Bab 33 dan 36 dalam kaitannya dengan inkompatibilitas faktor Rh antara janin dan ibu. Secara singkat, bayi dengan eritroblastosis mewarisi sel darah merah Rh-positif dari ayah, sedangkan ibunya Rh-negatif. Ibu kemudian mengalami imunisasi terhadap faktor Rh-positif (suatu protein) pada sel darah janin sehingga antibodi ibu menghancurkan sel darah merah janin. Akibatnya, bilirubin dilepaskan dalam jumlah yang sangat besar ke plasma janin dan sering kali menyebabkan kematian janin akibat kekurangan sel darah merah yang memadai. Sebelum berkembangnya terapi obstetri modern, kasus ringan maupun berat keadaan ini terjadi pada sekitar 1 dari setiap 50 hingga 100 neonatus.

Keseimbangan Cairan, Keseimbangan Asam-Basa, dan Fungsi Ginjal

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Laju pemasukan dan pengeluaran cairan pada bayi baru lahir sekitar tujuh kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan. Hal ini berarti bahwa perubahan kecil saja pada jumlah cairan yang masuk atau keluar dapat dengan cepat menimbulkan gangguan.

Laju metabolisme bayi juga sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa berdasarkan massa tubuh. Akibatnya, pembentukan asam juga dua kali lebih besar sehingga bayi memiliki kecenderungan mengalami asidosis. Perkembangan fungsional ginjal baru mencapai kematangan sekitar akhir bulan pertama kehidupan.

Sebagai contoh, ginjal neonatus hanya mampu memekatkan urin hingga sekitar 1,5 kali osmolalitas plasma, sedangkan ginjal orang dewasa mampu memekatkan urin hingga tiga sampai empat kali osmolaritas plasma. Oleh karena itu, jika mempertimbangkan belum matangnya fungsi ginjal, tingginya pergantian cairan tubuh, serta cepatnya pembentukan asam pada bayi, dapat dipahami bahwa masalah yang paling penting pada masa bayi adalah asidosis, dehidrasi, dan lebih jarang, kelebihan cairan (overhidrasi).

Fungsi Hati

Selama beberapa hari pertama kehidupan, fungsi hati neonatus masih sangat belum matang, sebagaimana ditunjukkan oleh keadaan berikut.

  1. Hati neonatus kurang mampu mengonjugasikan bilirubin dengan asam glukuronat sehingga hanya sedikit bilirubin yang dapat diekskresikan selama beberapa hari pertama kehidupan.
  2. Karena hati neonatus masih kurang mampu membentuk protein plasma, konsentrasi protein plasma selama beberapa minggu pertama kehidupan menjadi sekitar 15% hingga 20% lebih rendah dibandingkan anak yang lebih besar. Kadang-kadang konsentrasi protein turun sedemikian rendah sehingga terjadi edema akibat hipoproteinemia.
  3. Kemampuan hati neonatus untuk melakukan glukoneogenesis sangat kurang berkembang. Akibatnya, kadar glukosa darah pada neonatus yang belum mendapat asupan makanan turun hingga sekitar 30 hingga 40 mg/dL (sekitar 40% dari nilai normal), sehingga bayi terutama bergantung pada cadangan lemak sebagai sumber energi sampai memperoleh asupan makanan yang memadai.
  4. Hati neonatus juga biasanya menghasilkan faktor-faktor pembekuan darah dalam jumlah yang belum mencukupi untuk mendukung proses koagulasi yang normal.

Pencernaan, Absorpsi, dan Metabolisme Zat Gizi

Secara umum, kemampuan neonatus mencerna, menyerap, dan memetabolisme makanan tidak berbeda dengan anak yang lebih besar, kecuali dalam tiga hal berikut.

  1. Sekresi amilase pankreas pada neonatus masih kurang sehingga kemampuan mencerna pati lebih rendah dibandingkan anak yang lebih besar.
  2. Absorpsi lemak dari saluran cerna sedikit lebih rendah dibandingkan anak yang lebih besar. Oleh karena itu, susu dengan kandungan lemak tinggi, seperti susu sapi, sering kali tidak dapat diserap secara optimal.
  3. Karena fungsi hati belum sempurna, setidaknya selama minggu pertama kehidupan, konsentrasi glukosa darah cenderung tidak stabil dan rendah.

Neonatus memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk mensintesis dan menyimpan protein. Bahkan, apabila memperoleh asupan makanan yang memadai, hingga 90% asam amino yang dikonsumsi digunakan untuk membentuk protein tubuh, suatu persentase yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa.

Peningkatan Laju Metabolisme dan Buruknya Pengaturan Suhu Tubuh

Gambar 84-7. Penurunan suhu tubuh neonatus segera setelah lahir serta ketidakstabilan suhu tubuh selama beberapa hari pertama kehidupan.

Laju metabolisme normal neonatus berdasarkan berat badan sekitar dua kali lipat dibandingkan orang dewasa. Hal ini juga menjelaskan mengapa curah jantung dan volume ventilasi per menit pada bayi, jika dihitung berdasarkan berat badan, sekitar dua kali lebih besar dibandingkan orang dewasa.

Karena luas permukaan tubuh relatif besar dibandingkan massa tubuh, panas tubuh mudah hilang ke lingkungan. Akibatnya, suhu tubuh neonatus, terutama bayi prematur, mudah menurun. Gambar 84-7 menunjukkan bahwa suhu tubuh bahkan pada bayi normal sering kali turun beberapa derajat selama beberapa jam pertama setelah lahir, tetapi kembali normal dalam waktu 7 hingga 10 jam. Meskipun demikian, mekanisme pengaturan suhu tubuh masih belum matang selama beberapa hari pertama kehidupan sehingga memungkinkan terjadinya penyimpangan suhu yang cukup besar, seperti juga terlihat pada Gambar 84-7.

Kebutuhan Nutrisi Selama Minggu-minggu Awal Kehidupan

Pada saat lahir, neonatus umumnya berada dalam keadaan keseimbangan nutrisi yang baik, asalkan ibu memperoleh asupan gizi yang memadai selama kehamilan. Selain itu, fungsi sistem gastrointestinal biasanya lebih dari cukup untuk mencerna dan menyerap seluruh kebutuhan nutrisi bayi apabila zat gizi yang sesuai tersedia dalam makanannya. Namun, terdapat tiga masalah khusus yang sering dijumpai pada nutrisi bayi selama masa awal kehidupan.

Kebutuhan Kalsium dan Vitamin D

Karena neonatus sedang berada dalam fase osifikasi tulang yang sangat cepat saat lahir, pasokan kalsium yang memadai selama masa bayi sangat diperlukan. Kebutuhan ini umumnya dapat dipenuhi melalui konsumsi susu. Namun, penyerapan kalsium di saluran cerna akan buruk apabila tidak tersedia vitamin D. Oleh karena itu, dalam beberapa minggu saja, rakitis berat dapat berkembang pada bayi yang mengalami defisiensi vitamin D. Keadaan ini terutama terjadi pada bayi prematur karena saluran cerna mereka menyerap kalsium lebih buruk dibandingkan bayi cukup bulan.

Kebutuhan Besi dalam Makanan

Apabila ibu memperoleh asupan besi yang cukup selama kehamilan, hati bayi biasanya menyimpan cadangan besi yang cukup untuk mempertahankan pembentukan sel darah selama 4 hingga 6 bulan setelah lahir. Namun, apabila ibu mengalami kekurangan besi, bayi berisiko mengalami anemia berat setelah usia sekitar 3 bulan. Untuk mencegah hal tersebut, pemberian kuning telur yang mengandung besi dalam jumlah cukup atau suplemen besi dalam bentuk lain dianjurkan mulai bulan kedua atau ketiga kehidupan.

Defisiensi Vitamin C pada Bayi

Asam askorbat (vitamin C) tidak disimpan dalam jumlah yang bermakna di jaringan janin, padahal vitamin ini diperlukan untuk pembentukan tulang rawan, tulang, dan berbagai struktur antarsel pada bayi. Namun, air susu ibu umumnya mengandung vitamin C dalam jumlah yang memadai, kecuali bila ibu mengalami defisiensi vitamin C yang berat. Kandungan vitamin C dalam susu sapi hanya sekitar seperempat dari kandungan dalam ASI. Pada beberapa kasus, jus jeruk atau sumber asam askorbat lainnya diberikan kepada bayi yang mengalami defisiensi vitamin C.

Imunitas

Neonatus mewarisi tingkat kekebalan yang cukup tinggi dari ibunya karena banyak antibodi protein berdifusi dari darah ibu melalui plasenta menuju janin. Namun, neonatus belum mampu membentuk antibodi sendiri dalam jumlah yang bermakna. Pada akhir bulan pertama kehidupan, kadar gamma globulin bayi yang mengandung antibodi telah menurun hingga kurang dari setengah kadar semula, sehingga tingkat kekebalannya juga menurun. Setelah itu, sistem imun bayi mulai membentuk antibodi sendiri, dan konsentrasi gamma globulin kembali mendekati normal pada usia 12 hingga 20 bulan.

Meskipun kadar gamma globulin menurun segera setelah lahir, antibodi yang diwarisi dari ibu tetap melindungi bayi selama sekitar 6 bulan terhadap sebagian besar penyakit infeksi utama pada masa kanak-kanak, termasuk difteri, campak, dan poliomielitis. Oleh karena itu, imunisasi terhadap penyakit-penyakit tersebut sebelum usia 6 bulan umumnya tidak diperlukan. Akan tetapi, antibodi terhadap pertusis yang diwarisi dari ibu biasanya tidak cukup untuk memberikan perlindungan kepada neonatus. Oleh sebab itu, demi perlindungan yang optimal, bayi perlu mulai diimunisasi terhadap penyakit ini sejak sekitar usia 2 bulan. Tenaga kesehatan merekomendasikan agar anak menerima lima dosis vaksin kombinasi difteri, tetanus, dan pertusis (DTaP) pada usia 2, 4, 6, serta 15 hingga 18 bulan, kemudian diulang pada usia 4 hingga 6 tahun.

Alergi

Bayi baru lahir jarang mengalami alergi. Namun, beberapa bulan kemudian, ketika tubuh bayi mulai membentuk antibodinya sendiri, keadaan alergi yang berat dapat berkembang, kadang-kadang menimbulkan eksim berat, gangguan saluran cerna, bahkan anafilaksis. Seiring bertambahnya usia anak dan meningkatnya tingkat kekebalan tubuh, manifestasi alergi tersebut umumnya menghilang. Hubungan antara imunitas dan alergi dibahas pada Bab 35.

Masalah Endokrin

Secara umum, sistem endokrin bayi telah berkembang dengan baik saat lahir sehingga gangguan endokrin segera setelah lahir jarang ditemukan. Namun, endokrinologi pada masa bayi menjadi penting dalam keadaan-keadaan berikut.

  1. Apabila seorang ibu yang mengandung janin perempuan mendapat terapi hormon androgen atau mengalami tumor penghasil androgen selama kehamilan, bayi dapat lahir dengan maskulinisasi yang nyata pada organ kelaminnya sehingga terjadi suatu bentuk hermafroditisme.
  2. Hormon seks yang disekresikan oleh plasenta dan kelenjar ibu selama kehamilan kadang-kadang menyebabkan payudara neonatus menghasilkan air susu selama beberapa hari pertama kehidupan. Dalam beberapa kasus, payudara kemudian mengalami peradangan atau berkembang menjadi mastitis infeksi.
  3. Bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes yang tidak diobati akan mengalami hipertrofi dan hiperfungsi yang nyata pada pulau Langerhans pankreas. Akibatnya, kadar glukosa darah bayi dapat turun hingga kurang dari 20 mg/dL segera setelah lahir. Untungnya, berbeda dengan orang dewasa, syok insulin atau koma akibat hipoglikemia berat ini jarang terjadi pada neonatus.

    Diabetes melitus tipe 2 pada ibu merupakan penyebab tersering bayi lahir besar (makrosomia). Diabetes tipe 2 pada ibu berhubungan dengan resistensi terhadap efek metabolik insulin serta peningkatan kompensatorik konsentrasi insulin plasma. Kadar insulin yang tinggi diduga merangsang pertumbuhan janin sehingga meningkatkan berat lahir. Peningkatan pasokan glukosa dan zat gizi lainnya kepada janin juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan janin yang lebih besar. Namun, sebagian besar peningkatan berat badan janin disebabkan oleh bertambahnya lemak tubuh. Panjang tubuh biasanya tidak banyak meningkat, meskipun ukuran beberapa organ dapat membesar (organomegali).

    Sebaliknya, apabila ibu mengalami diabetes melitus tipe 1 yang tidak terkontrol akibat kekurangan sekresi insulin, pertumbuhan janin dapat terhambat karena defisit metabolik pada ibu, dan pertumbuhan serta pematangan jaringan neonatus juga sering terganggu. Selain itu, angka kematian intrauterin tinggi. Di antara janin yang berhasil mencapai usia cukup bulan, angka kematian tetap tinggi. Sekitar dua pertiga bayi yang meninggal disebabkan oleh sindrom distres pernapasan yang telah dibahas sebelumnya dalam bab ini.

  4. Kadang-kadang bayi lahir dengan hipofungsi korteks adrenal, yang sering kali disebabkan oleh agenesis kelenjar adrenal atau atrofi akibat kelelahan, yang dapat terjadi setelah kelenjar adrenal mengalami stimulasi yang sangat berlebihan.
  5. Apabila seorang wanita hamil mengalami hipertiroidisme atau mendapat terapi hormon tiroid dalam jumlah berlebihan, bayi kemungkinan lahir dengan hiposekresi kelenjar tiroid yang bersifat sementara. Sebaliknya, apabila seorang wanita telah menjalani tiroidektomi sebelum kehamilan, kelenjar hipofisisnya dapat mensekresikan sejumlah besar tirotropin selama kehamilan sehingga bayinya mungkin lahir dengan hipertiroidisme sementara.
  6. Pada janin yang tidak menghasilkan hormon tiroid, pertumbuhan tulang terganggu dan terjadi retardasi mental sehingga timbul keadaan yang disebut kerdil kretin (cretin dwarfism), yang dibahas pada Bab 77.

Masalah Khusus pada Bayi Prematur

Semua masalah kehidupan neonatus yang telah dibahas sebelumnya menjadi jauh lebih berat pada bayi prematur. Masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu: (1) imaturitas berbagai sistem organ dan (2) ketidakstabilan berbagai sistem pengendalian homeostasis.

Kemajuan pelayanan medis dalam beberapa tahun terakhir telah sangat meningkatkan luaran bayi prematur. Angka kelangsungan hidup bayi sangat prematur (extremely preterm), yaitu bayi yang lahir pada usia gestasi kurang dari 28 minggu, kini mencapai sekitar 80% hingga 90% dengan perawatan medis modern. Namun, setiap pengurangan satu minggu usia gestasi di bawah 28 minggu akan menurunkan angka kelangsungan hidup. Pada usia gestasi 22 minggu atau kurang, bayi prematur hampir tidak pernah dapat bertahan hidup.

Imaturitas Perkembangan pada Bayi Prematur

Hampir seluruh sistem organ tubuh pada bayi prematur masih belum matang sehingga memerlukan perhatian khusus agar kelangsungan hidupnya dapat dipertahankan.

Pernapasan

Sistem pernapasan merupakan salah satu sistem yang paling sering belum berkembang sempurna pada bayi yang sangat prematur. Kapasitas vital dan kapasitas residu fungsional paru sangat kecil dibandingkan ukuran tubuh bayi. Selain itu, sekresi surfaktan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Akibatnya, sindrom distres pernapasan merupakan penyebab kematian yang sering dijumpai. Kapasitas residu fungsional yang rendah juga sering berhubungan dengan pola napas periodik tipe Cheyne-Stokes.

Fungsi Gastrointestinal

Masalah besar lainnya adalah kemampuan bayi prematur untuk memperoleh dan menyerap makanan yang cukup. Pada bayi yang lahir lebih dari 2 bulan sebelum waktunya, sistem pencernaan dan absorpsi hampir selalu belum memadai. Penyerapan lemak sangat buruk sehingga bayi prematur memerlukan makanan dengan kandungan lemak rendah. Selain itu, karena penyerapan kalsium juga sangat kurang, rakitis berat dapat berkembang sebelum masalah tersebut dikenali. Oleh sebab itu, perhatian khusus terhadap kecukupan asupan kalsium dan vitamin D sangat diperlukan.

Fungsi Organ Lain

Imaturitas sistem organ lain yang sering menimbulkan masalah serius pada bayi prematur meliputi:

  1. Imaturitas hati, yang menyebabkan gangguan metabolisme intermediat dan sering menimbulkan kecenderungan perdarahan akibat rendahnya pembentukan faktor pembekuan darah.
  2. Imaturitas ginjal, yang terutama tampak pada rendahnya kemampuan mengekskresikan asam sehingga bayi mudah mengalami asidosis dan gangguan keseimbangan cairan yang berat.
  3. Imaturitas mekanisme pembentukan darah di sumsum tulang sehingga anemia mudah berkembang.
  4. Rendahnya pembentukan gamma globulin oleh sistem limfoid sehingga bayi sering mengalami infeksi berat.

Ketidakstabilan Sistem Pengendalian Homeostasis pada Bayi Prematur

Belum matangnya berbagai sistem organ pada bayi prematur menyebabkan mekanisme homeostasis tubuh menjadi sangat tidak stabil. Sebagai contoh, keseimbangan asam-basa dapat berubah secara drastis, terutama apabila jumlah asupan makanan berubah dari waktu ke waktu. Demikian pula, konsentrasi protein darah biasanya rendah akibat belum matangnya fungsi hati sehingga sering menimbulkan edema akibat hipoproteinemia. Ketidakmampuan mengatur konsentrasi ion kalsium dapat menyebabkan tetani hipokalsemik. Selain itu, kadar glukosa darah dapat berfluktuasi sangat luas, mulai sekitar 20 mg/dL hingga lebih dari 100 mg/dL, terutama bergantung pada keteraturan pemberian makanan.

Ketidakstabilan Suhu Tubuh

Salah satu masalah penting pada bayi prematur adalah ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh yang normal. Suhu tubuh bayi prematur cenderung mengikuti suhu lingkungan. Pada suhu ruangan normal, suhu tubuh bayi (dalam derajat Fahrenheit) dapat menetap pada kisaran awal 90-an bahkan 80-an. Penelitian menunjukkan bahwa suhu tubuh di bawah 96°F (35,5°C) berkaitan dengan angka kematian yang sangat tinggi. Hal inilah yang menjelaskan mengapa penggunaan inkubator hampir selalu diperlukan dalam perawatan bayi prematur.

Bahaya Kebutaan Akibat Terapi Oksigen Berlebihan pada Bayi Prematur

Karena bayi prematur sering mengalami distres pernapasan, terapi oksigen sering digunakan sebagai penanganan. Namun, penggunaan oksigen yang berlebihan, terutama pada bayi yang lahir sangat prematur, dapat menyebabkan kebutaan karena kadar oksigen yang terlalu tinggi menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru pada retina. Setelah terapi oksigen dihentikan, pembuluh darah kemudian tumbuh secara berlebihan untuk menggantikan pertumbuhan yang terhambat sehingga terbentuk massa pembuluh darah yang memenuhi badan kaca (vitreous humor) dan menghalangi cahaya mencapai retina.

Selanjutnya, pembuluh darah tersebut digantikan oleh jaringan fibrosa yang mengisi ruang yang seharusnya ditempati badan kaca yang jernih.

Keadaan ini dikenal sebagai fibroplasia retrolental (retrolental fibroplasia) dan menyebabkan kebutaan permanen. Oleh karena itu, sangat penting menghindari pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi pada bayi prematur. Penelitian fisiologis menunjukkan bahwa bayi prematur umumnya masih aman menghirup udara dengan kandungan oksigen hingga 40%, tetapi sebagian ahli fisiologi anak berpendapat bahwa keamanan sepenuhnya hanya dapat dicapai bila konsentrasi oksigen yang dihirup sama dengan kadar oksigen normal di udara.

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Masalah fisiologis utama pada anak setelah melewati masa neonatus terutama berkaitan dengan kebutuhan metabolik khusus untuk pertumbuhan, yang telah dibahas secara lengkap pada bagian buku ini mengenai metabolisme dan endokrinologi.

Gambar 84-8 menunjukkan perubahan tinggi badan anak laki-laki dan perempuan sejak lahir hingga usia 20 tahun. Perhatikan bahwa tinggi badan keduanya hampir sejajar hingga akhir dekade pertama kehidupan. Pada usia 11 hingga 13 tahun, estrogen pada anak perempuan mulai diproduksi dan memicu percepatan pertumbuhan tinggi badan, tetapi juga menyebabkan penutupan dini epifisis tulang panjang sekitar usia 14 hingga 16 tahun sehingga pertumbuhan tinggi badan berhenti. Sebaliknya, testosteron pada anak laki-laki menyebabkan percepatan pertumbuhan pada usia yang sedikit lebih lambat, terutama antara usia 13 hingga 17 tahun. Namun, karena penutupan epifisis pada laki-laki terjadi lebih lambat, masa pertumbuhan berlangsung lebih lama sehingga tinggi badan akhir laki-laki umumnya lebih besar daripada perempuan.

Perkembangan Perilaku

Perkembangan perilaku terutama berkaitan dengan kematangan sistem saraf. Sulit membedakan antara kematangan yang berasal dari perkembangan struktur anatomis sistem saraf dan kematangan yang diperoleh melalui proses belajar atau latihan. Penelitian anatomi menunjukkan bahwa beberapa traktus utama dalam sistem saraf pusat baru mengalami mielinisasi sempurna pada akhir tahun pertama kehidupan. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa sistem saraf belum berfungsi sepenuhnya saat lahir. Korteks serebri beserta fungsi-fungsi yang berkaitan dengannya, seperti penglihatan, tampaknya masih memerlukan beberapa bulan setelah lahir untuk mencapai perkembangan fungsional yang sempurna.

Pada saat lahir, massa otak bayi hanya sekitar 26% dari massa otak orang dewasa, meningkat menjadi sekitar 55% pada usia 1 tahun, dan mencapai hampir ukuran dewasa pada akhir tahun kedua kehidupan. Proses ini juga disertai penutupan fontanel dan sutura tulang tengkorak, sehingga pertumbuhan otak setelah usia 2 tahun hanya sekitar 20% lagi. Gambar 84-9 menunjukkan grafik perkembangan normal bayi selama tahun pertama kehidupan. Perbandingan antara grafik ini dan perkembangan nyata bayi digunakan sebagai salah satu penilaian klinis terhadap perkembangan mental dan perilaku.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander BT, Dasinger JH, Intapad S: Fetal programming and cardiovascular pathology. Compr Physiol 5:997, 2015.

Alvarez SGV, McBrien A: Ductus arteriosus and fetal echocardiography: implications for practice. Semin Fetal Neonatal Med 23:285, 2018.

Burton GJ, Jauniaux E: Pathophysiology of placental-derived fetal growth restriction. Am J Obstet Gynecol 218(2S):S745, 2018.

Di Fiore JM, Vento M: Intermittent hypoxemia and oxidative stress in preterm infants. Respir Physiol Neurobiol 266:121, 2019.

Ducsay CA, Goyal R, Pearce WJ, Wilson S, Hu XQ, Zhang L: Gestational hypoxia and developmental plasticity. Physiol Rev 98:1241, 2018.

Finken MJJ, van der Steen M, Smeets CCJ, et al: Children born small for gestational age: differential diagnosis, molecular genetic evaluation, and implications. Endocr Rev 39:851, 2018.

Gao Y, Raj JU: Regulation of the pulmonary circulation in the fetus and newborn. Physiol Rev 90:1291, 2010.

Gentle SJ, Abman SH, Ambalavanan N: Oxygen therapy and pulmonary hypertension in preterm infants. Clin Perinatol 46:611, 2019.

Gilmore JH, Knickmeyer RC, Gao W: Imaging structural and functional brain development in early childhood. Nat Rev Neurosci 19:123, 2018.

McDonald FB, Dempsey EM, O’Halloran KD: The impact of preterm adversity on cardiorespiratory function. Exp Physiol 105:17, 2020.

Muglia LJ, Katz M: The enigma of spontaneous preterm birth. N Engl J Med 362:529, 2010.

Perico N, Askenazi D, Cortinovis M, Remuzzi G: Maternal and environmental risk factors for neonatal AKI and its long-term consequences. Nat Rev Nephrol 14:688, 2018.

Ream MA, Lehwald L: Neurologic consequences of preterm birth. Curr Neurol Neurosci Rep 2018 Jun 16;18(8):48. doi: 10.1007/s11910-018-0862-2.

Reynolds LA, Finlay BB: Early life factors that affect allergy development. Nat Rev Immunol 17:518, 2017.

Ringholm L, Damm P, Mathiesen ER: Improving pregnancy outcomes in women with diabetes mellitus: modern management. Nat Rev Endocrinol 15:406, 2019.

Sferruzzi-Perri AN, Sandovici I, Constancia M, Fowden AL: Placental phenotype and the insulin-like growth factors: resource allocation to fetal growth. J Physiol 595:5057, 2017.

Short KM, Smyth IM: The contribution of branching morphogenesis to kidney development and disease. Nat Rev Nephrol 12:754, 2016.

Zhang X, Zhivaki D, Lo-Man R: Unique aspects of the perinatal immune system. Nat Rev Immunol 17:495, 2017.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment