Buku Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-
PENGARUH HORMON TIROID TERHADAP FUNGSI TUBUH TERTENTU
Stimulasi Metabolisme Karbohidrat
Hormon tiroid merangsang hampir seluruh aspek metabolisme karbohidrat, termasuk peningkatan cepat pengambilan glukosa oleh sel, peningkatan glikolisis, peningkatan glukoneogenesis, peningkatan laju absorpsi dari saluran gastrointestinal, serta peningkatan sekresi insulin beserta efek sekundernya terhadap metabolisme karbohidrat. Seluruh efek ini kemungkinan merupakan akibat dari peningkatan umum enzim metabolik sel yang dipicu oleh hormon tiroid.
Stimulasi Metabolisme Lemak
Hampir seluruh aspek metabolisme lemak juga ditingkatkan oleh hormon tiroid. Secara khusus, lipid dimobilisasi dengan cepat dari jaringan adiposa sehingga cadangan lemak tubuh berkurang lebih besar dibandingkan hampir semua komponen jaringan lainnya. Mobilisasi lipid dari jaringan adiposa juga meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas dalam plasma dan sangat mempercepat oksidasi asam lemak bebas oleh sel.
Pengaruh terhadap Lemak Plasma dan Hati
Peningkatan hormon tiroid menurunkan konsentrasi kolesterol, fosfolipid, dan trigliserida dalam plasma, meskipun meningkatkan kadar asam lemak bebas. Sebaliknya, penurunan sekresi hormon tiroid sangat meningkatkan konsentrasi kolesterol, fosfolipid, dan trigliserida dalam plasma serta hampir selalu menyebabkan penimbunan lemak yang berlebihan di hati.
Peningkatan kadar kolesterol plasma yang besar pada hipotiroidisme berkepanjangan sering berkaitan dengan aterosklerosis berat, sebagaimana dibahas pada Bab 69.
Salah satu mekanisme hormon tiroid menurunkan konsentrasi kolesterol plasma adalah dengan meningkatkan secara nyata sekresi kolesterol ke dalam empedu sehingga meningkatkan kehilangan kolesterol melalui feses. Mekanisme yang mungkin mendasarinya adalah hormon tiroid meningkatkan jumlah reseptor low-density lipoprotein (LDL) pada sel hati, sehingga low-density lipoprotein lebih cepat dikeluarkan dari plasma oleh hati dan kolesterol yang dibawa oleh lipoprotein tersebut kemudian disekresikan oleh sel hati.
Peningkatan Kebutuhan Vitamin
Karena hormon tiroid meningkatkan jumlah berbagai enzim tubuh, sedangkan vitamin merupakan komponen penting dari sebagian enzim atau koenzim tersebut, hormon tiroid meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap vitamin. Oleh karena itu, defisiensi vitamin relatif dapat terjadi apabila hormon tiroid disekresikan secara berlebihan, kecuali jika pada saat yang sama asupan vitamin juga ditingkatkan.
Peningkatan Laju Metabolisme Basal
Karena hormon tiroid meningkatkan metabolisme pada hampir seluruh sel tubuh, kelebihan hormon ini kadang-kadang dapat meningkatkan laju metabolisme basal sebesar 60% hingga 100% di atas normal. Sebaliknya, jika hormon tiroid sama sekali tidak diproduksi, laju metabolisme basal turun hingga hampir setengah dari nilai normal.
Gambar 77-6 memperlihatkan hubungan perkiraan antara jumlah hormon tiroid yang tersedia setiap hari dengan laju metabolisme basal. Diperlukan jumlah hormon yang sangat tinggi untuk menghasilkan peningkatan laju metabolisme basal yang besar.
Penurunan Berat Badan
Peningkatan jumlah hormon tiroid yang sangat besar hampir selalu menyebabkan penurunan berat badan, sedangkan penurunan hormon tiroid yang sangat besar hampir selalu menyebabkan peningkatan berat badan. Namun, efek ini tidak selalu terjadi karena hormon tiroid juga meningkatkan nafsu makan, yang dapat mengimbangi perubahan laju metabolisme.
Peningkatan Aliran Darah dan Curah Jantung
Peningkatan metabolisme jaringan menyebabkan penggunaan oksigen yang lebih cepat dibandingkan normal serta peningkatan pelepasan hasil akhir metabolisme dari jaringan. Efek ini menyebabkan vasodilatasi pada sebagian besar jaringan tubuh sehingga meningkatkan aliran darah.
Aliran darah ke kulit terutama meningkat karena kebutuhan yang lebih besar untuk membuang panas tubuh. Sebagai akibat meningkatnya aliran darah, curah jantung juga meningkat, bahkan dapat mencapai 60% atau lebih di atas normal ketika hormon tiroid berlebihan, dan menurun hingga sekitar 50% dari normal pada hipotiroidisme berat.
Peningkatan Frekuensi Jantung
Frekuensi jantung meningkat jauh lebih besar daripada yang diperkirakan hanya berdasarkan peningkatan curah jantung. Oleh karena itu, hormon tiroid tampaknya memiliki efek langsung terhadap eksitabilitas jantung yang selanjutnya meningkatkan frekuensi denyut jantung.
Efek ini sangat penting karena frekuensi jantung merupakan salah satu tanda fisik yang sensitif yang digunakan klinisi untuk menentukan apakah pasien mengalami produksi hormon tiroid yang berlebihan atau berkurang.
Peningkatan Kekuatan Jantung
Kelebihan hormon tiroid yang ringan dapat meningkatkan kekuatan kontraksi jantung. Efek ini serupa dengan peningkatan kekuatan jantung yang terjadi pada demam ringan dan selama olahraga.
Namun, apabila hormon tiroid meningkat secara bermakna, kekuatan otot jantung justru menurun akibat katabolisme protein yang berlebihan dalam jangka panjang. Bahkan, sebagian pasien dengan tirotoksikosis berat meninggal akibat dekompensasi jantung yang terjadi sekunder terhadap kegagalan miokard dan meningkatnya beban kerja jantung akibat peningkatan curah jantung.
Tekanan Arteri Tetap Normal
Tekanan arteri rata-rata biasanya tetap mendekati normal setelah pemberian hormon tiroid. Namun, karena meningkatnya aliran darah melalui jaringan di antara denyut jantung, tekanan nadi sering meningkat, dengan tekanan sistolik naik sekitar 10 hingga 15 mmHg pada hipertiroidisme dan tekanan diastolik turun dalam besaran yang hampir sama.
Peningkatan Respirasi
Peningkatan laju metabolisme meningkatkan penggunaan oksigen dan pembentukan karbon dioksida. Efek ini mengaktifkan seluruh mekanisme yang meningkatkan frekuensi dan kedalaman pernapasan.
Peningkatan Motilitas Saluran Gastrointestinal
Selain meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan, hormon tiroid juga meningkatkan sekresi cairan pencernaan dan motilitas saluran gastrointestinal. Oleh karena itu, hipertiroidisme sering menyebabkan diare, sedangkan kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan konstipasi.
Efek Eksitatorik pada Sistem Saraf Pusat
Secara umum, hormon tiroid meningkatkan kecepatan proses berpikir, meskipun alur berpikir dapat menjadi tidak teratur. Sebaliknya, kekurangan hormon tiroid memperlambat proses berpikir.
Seseorang dengan hipertiroidisme cenderung sangat mudah gugup dan memiliki berbagai kecenderungan psikoneurotik, seperti gangguan kecemasan, kekhawatiran berlebihan, dan paranoia.
Pengaruh terhadap Fungsi Otot
Peningkatan ringan hormon tiroid biasanya membuat otot berkontraksi dengan lebih kuat. Namun, apabila hormon tiroid berlebihan, otot menjadi lemah akibat katabolisme protein yang berlebihan.
Sebaliknya, kekurangan hormon tiroid menyebabkan otot menjadi lamban, dan relaksasi setelah kontraksi berlangsung lebih lambat.
Tremor Otot
Salah satu tanda paling khas hipertiroidisme adalah tremor halus pada otot. Tremor ini berbeda dari tremor kasar pada penyakit Parkinson atau saat seseorang menggigil karena frekuensinya cepat, yaitu sekitar 10 hingga 15 kali per detik.
Tremor ini dapat diamati dengan mudah dengan meletakkan selembar kertas di atas jari-jari tangan yang direntangkan dan memperhatikan derajat getaran kertas tersebut.
Tremor ini diduga disebabkan oleh meningkatnya reaktivitas sinaps neuron pada daerah medula spinalis yang mengendalikan tonus otot. Tremor merupakan salah satu cara penting untuk menilai derajat pengaruh hormon tiroid terhadap sistem saraf pusat.
Pengaruh terhadap Tidur
Karena efek hormon tiroid yang menguras energi pada otot dan sistem saraf pusat, penderita hipertiroidisme sering merasa lelah terus-menerus. Namun, akibat efek eksitatoriknya terhadap sinaps, mereka sering mengalami kesulitan tidur.
Sebaliknya, rasa kantuk yang berlebihan merupakan ciri khas hipotiroidisme, dengan lama tidur yang kadang mencapai 12 hingga 14 jam per hari.
Pengaruh terhadap Kelenjar Endokrin Lain
Peningkatan hormon tiroid meningkatkan laju sekresi beberapa kelenjar endokrin lain, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan jaringan terhadap hormon-hormon tersebut.
Sebagai contoh, peningkatan sekresi tiroksin meningkatkan laju metabolisme glukosa hampir di seluruh tubuh sehingga meningkatkan kebutuhan terhadap sekresi insulin oleh pankreas.
Hormon tiroid juga meningkatkan berbagai aktivitas metabolik yang berkaitan dengan pembentukan tulang sehingga meningkatkan kebutuhan akan hormon paratiroid.
Selain itu, hormon tiroid meningkatkan laju inaktivasi glukokortikoid adrenal oleh hati. Peningkatan laju inaktivasi ini menyebabkan peningkatan produksi adrenocorticotropic hormone (ACTH) melalui mekanisme umpan balik oleh hipofisis anterior, sehingga meningkatkan sekresi glukokortikoid oleh kelenjar adrenal.
Pengaruh Hormon Tiroid terhadap Fungsi Seksual
Untuk mempertahankan fungsi seksual yang normal, sekresi hormon tiroid harus berada dalam kisaran normal.
Pada pria, kekurangan hormon tiroid cenderung menyebabkan penurunan libido, sedangkan kelebihan hormon tiroid yang berat kadang-kadang menyebabkan impotensi.
Pada wanita, kekurangan hormon tiroid sering menyebabkan menoragia dan polimenore, yaitu perdarahan menstruasi yang berlebihan dan terlalu sering. Namun, pada sebagian wanita lain, kekurangan hormon tiroid justru dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur, bahkan kadang-kadang amenore (tidak terjadi menstruasi).
Hipotiroidisme pada wanita, sebagaimana pada pria, juga cenderung menyebabkan penurunan libido yang nyata.
Sebaliknya, pada wanita dengan hipertiroidisme, oligomenore (perdarahan menstruasi yang sangat berkurang) sering ditemukan, dan kadang-kadang juga terjadi amenore.
Kerja hormon tiroid terhadap gonad tidak dapat dikaitkan dengan satu fungsi tertentu, tetapi kemungkinan merupakan hasil gabungan antara efek metabolik langsung pada gonad serta mekanisme umpan balik eksitatorik dan inhibitorik melalui hormon-hormon hipofisis anterior yang mengendalikan fungsi seksual.







Comments (0)