[Buku Bahasa Indonesia] The Lean Startup - Eric Ries
5. LOMPATAN KEYAKINAN (LEAP)
Pada tahun 2004, tiga mahasiswa tingkat dua tiba di Silicon Valley dengan jejaring sosial kampus yang masih sangat awal tahapnya. Situs itu sudah aktif di beberapa kampus. Namun, itu bukan jejaring sosial terkemuka, bahkan bukan pula jejaring sosial kampus pertama; perusahaan lain telah meluncurkannya lebih dahulu dan dengan lebih banyak fitur. Dengan 150.000 pengguna terdaftar, pendapatannya sangat kecil, tetapi pada musim panas tahun itu mereka berhasil memperoleh pendanaan modal ventura pertama sebesar $500.000. Kurang dari setahun kemudian, mereka mengumpulkan tambahan $12,7 juta.
Tentu saja, sekarang Anda sudah menebaknya: tiga mahasiswa tersebut adalah Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes dari Facebook. Kisah mereka kini terkenal di seluruh dunia. Banyak hal dari cerita itu yang luar biasa, tetapi saya ingin menyoroti satu hal saja: bagaimana Facebook mampu mengumpulkan begitu banyak dana ketika tingkat penggunaannya masih sangat kecil.
Menurut berbagai laporan, ada dua fakta utama tentang pertumbuhan awal Facebook yang paling mengesankan para investor.
1. Intensitas penggunaan pengguna
Fakta pertama adalah jumlah waktu yang dihabiskan pengguna aktif di situs tersebut. Lebih dari setengah pengguna kembali ke situs itu setiap hari. Ini merupakan contoh bagaimana sebuah perusahaan dapat memvalidasi hipotesis nilai (value hypothesis)—bahwa pelanggan memang menganggap produk tersebut bernilai dan bermanfaat.
2. Kecepatan pertumbuhan
Hal kedua yang mengesankan adalah kecepatan Facebook menguasai kampus-kampus pertamanya. Laju pertumbuhannya sangat mencengangkan. Facebook diluncurkan pada 4 Februari 2004, dan pada akhir bulan itu hampir tiga perempat mahasiswa sarjana Harvard sudah menggunakannya, tanpa satu dolar pun dikeluarkan untuk pemasaran atau iklan.
Dengan kata lain, Facebook juga telah memvalidasi hipotesis pertumbuhan (growth hypothesis).
Kedua hipotesis ini merupakan dua “lompatan keyakinan” (leap-of-faith questions) paling penting yang harus dihadapi oleh setiap startup baru.
Kritik terhadap Facebook pada Masa Awal
Pada saat itu, banyak orang mengkritik para investor awal Facebook. Mereka mengatakan bahwa Facebook “tidak memiliki model bisnis” dan memiliki pendapatan yang sangat kecil dibandingkan dengan valuasi yang diberikan investor.
Bagi para pengkritik, Facebook tampak seperti kembalinya kegilaan era dot-com, ketika perusahaan dengan pendapatan minim mengumpulkan dana besar untuk strategi:
- “menarik perhatian pengguna”
- “tumbuh secepat mungkin”
Banyak startup era dot-com berencana menghasilkan uang dengan menjual perhatian pengguna kepada pengiklan setelah mereka memiliki cukup banyak pengguna.
Namun kenyataannya, banyak perusahaan tersebut hanyalah perantara yang pada dasarnya:
- Membayar untuk memperoleh perhatian pengguna.
- Kemudian mencoba menjual perhatian itu kepada pihak lain.
Mengapa Facebook Berbeda
Facebook berbeda karena menggunakan mesin pertumbuhan (engine of growth) yang berbeda:
- Tidak membayar biaya akuisisi pelanggan
- Tingkat keterlibatan pengguna sangat tinggi
- Setiap hari mereka mengumpulkan perhatian pengguna dalam jumlah besar
Tidak pernah diragukan bahwa perhatian tersebut akan bernilai bagi pengiklan. Satu-satunya pertanyaan hanyalah berapa besar pengiklan bersedia membayar.
Kebingungan Para Pendiri Startup
Banyak wirausahawan mencoba membangun “Facebook berikutnya.” Namun ketika mereka mencoba meniru pelajaran dari Facebook dan kisah sukses startup lainnya, mereka sering menjadi bingung.
Misalnya:
- Apakah pelajaran dari Facebook adalah startup tidak perlu menagih uang kepada pelanggan di awal?
- Ataukah startup tidak boleh mengeluarkan uang untuk pemasaran?
Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab secara abstrak, karena hampir selalu ada banyak contoh yang bertentangan untuk setiap teknik.
Sebaliknya, seperti yang telah kita lihat pada Bagian Satu, startup harus melakukan eksperimen untuk menentukan teknik mana yang benar-benar bekerja dalam situasi unik mereka sendiri.
Bagi startup, peran strategi adalah membantu menentukan pertanyaan yang tepat untuk diajukan.
Strategi Berdasarkan Asumsi
Setiap rencana bisnis dimulai dengan serangkaian asumsi. Rencana tersebut memaparkan strategi yang menganggap asumsi-asumsi itu benar, lalu menunjukkan bagaimana mencapai visi perusahaan.
Namun karena asumsi-asumsi itu belum terbukti benar—dan sering kali bahkan keliru—tujuan utama dari upaya awal startup adalah menguji asumsi tersebut secepat mungkin.
Strategi bisnis tradisional sangat baik dalam membantu manajer mengidentifikasi dengan jelas asumsi apa saja yang digunakan dalam suatu bisnis.
Bagi seorang wirausahawan, terdapat dua tantangan utama:
- Membangun organisasi yang mampu menguji asumsi tersebut secara sistematis.
- Melakukan pengujian yang ketat tanpa kehilangan fokus pada visi perusahaan secara keseluruhan.
Lompatan Keyakinan (Leap of Faith)
Banyak asumsi dalam rencana bisnis sebenarnya biasa saja, misalnya:
- fakta industri yang sudah mapan
- kesimpulan logis dari pengalaman sebelumnya
Dalam kasus Facebook, misalnya, sudah jelas bahwa pengiklan bersedia membayar untuk perhatian pengguna.
Namun di antara asumsi-asumsi biasa tersebut terdapat beberapa asumsi yang jauh lebih berani, misalnya:
- “Kami mengasumsikan bahwa pelanggan sangat ingin menggunakan produk seperti milik kami.”
- “Kami mengasumsikan bahwa supermarket akan menjual produk kami.”
Bertindak seolah-olah asumsi tersebut benar adalah kekuatan super klasik seorang wirausahawan.
Asumsi ini disebut leap of faith (lompatan keyakinan) karena keberhasilan seluruh usaha bergantung padanya.
- Jika asumsi itu benar → peluang besar terbuka.
- Jika salah → startup berisiko gagal total.
Argumen Analogi dalam Rencana Bisnis
Sebagian besar lompatan keyakinan disampaikan dalam bentuk analogi.
Contohnya:
“Sama seperti teknologi progressive image loading memungkinkan penggunaan luas World Wide Web melalui koneksi dial-up, teknologi progressive rendering kami akan memungkinkan produk kami berjalan pada komputer pribadi kelas rendah.”
Intinya adalah pola argumen berikut:
Kami memiliki teknologi baru X2 yang juga memiliki atribut Z,
maka kami akan memenangkan pasar Y2.
Masalahnya, analogi seperti ini sering menyembunyikan lompatan keyakinan yang sebenarnya. Tujuannya adalah membuat bisnis tampak lebih tidak berisiko, sehingga lebih mudah meyakinkan investor, karyawan, atau mitra.
Jika ditulis secara jujur, lompatan keyakinan tersebut sebenarnya berbunyi seperti ini:
- Ada banyak orang yang sudah ingin menggunakan produk seperti milik kita sekarang juga.
- Mereka mampu membayarnya.
- Namun mereka belum bisa menggunakannya karena teknologi yang ada masih terlalu lambat.
Jika produk kita diluncurkan dengan teknologi baru yang lebih cepat, mereka akan:
- Menggunakan produk kita.
- Memberitahukan teman-temannya.
- Dan kita akan memenangkan pasar.
Inti dari Pendekatan Lean Startup
Pendekatan yang lebih tepat bukanlah langsung membangun teknologi dan berharap pelanggan datang.
Sebaliknya:
Pertama-tama lakukan pengujian empiris.
Kita perlu memastikan bahwa:
- benar-benar ada pelanggan yang “lapar” akan solusi tersebut, dan
- mereka bersedia menggunakannya ketika tersedia.







Comments (0)