PERAN PEPTIDA NATRIURETIK ATRIUM DALAM MENGENDALIKAN EKSKRESI GINJAL
Sampai sejauh ini, pembahasan terutama berfokus pada peran hormon yang menahan natrium dan air dalam mengendalikan volume cairan ekstraseluler. Namun, beberapa hormon natriuretik juga dapat berkontribusi terhadap regulasi volume. Salah satu yang paling penting adalah peptida yang disebut atrial natriuretic peptide (ANP), yang dilepaskan oleh serabut otot atrium jantung.
Rangsangan utama pelepasan peptida ini adalah peningkatan peregangan atrium, yang dapat terjadi akibat kelebihan volume darah. Setelah dilepaskan oleh atrium jantung, ANP memasuki sirkulasi dan bekerja pada ginjal untuk menyebabkan sedikit peningkatan GFR, penurunan sekresi renin dan pembentukan Ang II, serta penurunan reabsorpsi natrium oleh duktus pengumpul. Gabungan efek ANP ini menyebabkan peningkatan ekskresi garam dan air, yang membantu mengompensasi kelebihan volume darah.
Perubahan kadar ANP membantu meminimalkan perubahan volume darah selama berbagai gangguan, seperti peningkatan asupan garam dan air. Namun, produksi ANP yang berlebihan maupun tidak adanya ANP sama sekali tidak menyebabkan perubahan besar pada volume darah karena efek tersebut dapat diatasi oleh perubahan kecil tekanan darah melalui mekanisme natriuresis tekanan.
Sebagai contoh, infus ANP dalam jumlah besar pada awalnya meningkatkan ekskresi garam dan air melalui urin serta menyebabkan sedikit penurunan volume darah. Dalam waktu kurang dari 24 jam, efek ini diimbangi oleh sedikit penurunan tekanan darah yang mengembalikan pengeluaran urin mendekati normal meskipun kelebihan ANP tetap berlanjut.
RESPONS TERPADU TERHADAP PERUBAHAN ASUPAN NATRIUM
Integrasi berbagai sistem pengendalian yang mengatur ekskresi natrium dan cairan dalam kondisi normal dapat dirangkum dengan meninjau respons homeostatik terhadap peningkatan bertahap asupan natrium dalam makanan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ginjal memiliki kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan ekskresi garam dan air dengan asupannya, yang dapat berkisar dari sepersepuluh normal hingga 10 kali normal.
Asupan Natrium Tinggi Menekan Sistem Antinatriuretik dan Mengaktifkan Sistem Natriuretik
Ketika asupan natrium meningkat, pengeluaran natrium pada awalnya sedikit tertinggal dibandingkan asupan. Keterlambatan waktu ini menyebabkan sedikit peningkatan keseimbangan natrium kumulatif yang selanjutnya menimbulkan sedikit peningkatan volume cairan ekstraseluler. Terutama peningkatan kecil volume cairan ekstraseluler inilah yang memicu berbagai mekanisme tubuh untuk meningkatkan ekskresi natrium.
Mekanisme tersebut meliputi:
- Aktivasi refleks reseptor bertekanan rendah yang berasal dari reseptor regangan atrium kanan dan pembuluh darah paru. Sinyal dari reseptor regangan menuju batang otak dan menghambat aktivitas saraf simpatis ke ginjal sehingga menurunkan reabsorpsi natrium oleh tubulus. Mekanisme ini paling penting dalam beberapa jam pertama, atau mungkin hari pertama, setelah peningkatan besar asupan garam dan air.
- Penekanan pembentukan Ang II dan aldosteron, yang disebabkan oleh peningkatan tekanan arteri dan ekspansi volume cairan ekstraseluler, menurunkan reabsorpsi natrium tubular dengan menghilangkan efek normal Ang II dan aldosteron yang meningkatkan reabsorpsi natrium.
- Stimulasi sistem natriuretik, terutama ANP, semakin berkontribusi terhadap peningkatan ekskresi natrium. Dengan demikian, kombinasi aktivasi sistem natriuretik dan penekanan sistem penahan natrium dan air menyebabkan peningkatan ekskresi natrium ketika asupan natrium meningkat. Perubahan yang berlawanan terjadi ketika asupan natrium menurun di bawah tingkat normal.
- Peningkatan kecil tekanan arteri, yang disebabkan oleh ekspansi volume, dapat terjadi pada peningkatan besar asupan natrium, terutama pada individu yang sensitif terhadap garam. Mekanisme ini meningkatkan ekskresi natrium melalui natriuresis tekanan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, jika mekanisme saraf, hormonal, dan intrarenal berfungsi efektif, peningkatan tekanan darah yang dapat diukur mungkin tidak terjadi bahkan dengan peningkatan besar asupan natrium selama beberapa hari. Namun, jika asupan natrium tinggi berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, ginjal dapat mengalami kerusakan dan menjadi kurang efektif dalam mengekskresikan natrium, sehingga diperlukan peningkatan tekanan darah untuk mempertahankan keseimbangan natrium melalui mekanisme natriuresis tekanan.
KONDISI YANG MENYEBABKAN PENINGKATAN BESAR VOLUME DARAH DAN VOLUME CAIRAN EKSTRASELULER
Meskipun terdapat mekanisme regulasi yang kuat untuk mempertahankan volume darah dan volume cairan ekstraseluler tetap relatif konstan, terdapat kondisi abnormal yang dapat menyebabkan peningkatan besar pada kedua variabel tersebut. Hampir semua kondisi ini berasal dari kelainan sirkulasi.
PENINGKATAN VOLUME DARAH DAN VOLUME CAIRAN EKSTRASELULER AKIBAT PENYAKIT JANTUNG
Pada penderita gagal jantung kongestif, volume darah dapat meningkat sebesar 15% hingga 20%, dan volume cairan ekstraseluler kadang-kadang meningkat hingga 200% atau lebih. Penyebab peningkatan ini dapat dipahami dengan meninjau kembali Gambar 30-14.
Pada awalnya, gagal jantung menurunkan curah jantung dan akibatnya menurunkan tekanan arteri. Efek ini kemudian mengaktifkan berbagai sistem penahan natrium, terutama sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) dan sistem saraf simpatis. Selain itu, tekanan darah yang rendah sendiri menyebabkan ginjal menahan garam dan air. Oleh karena itu, ginjal menahan cairan dalam upaya mengembalikan tekanan arteri dan curah jantung mendekati normal.
Jika gagal jantung tidak terlalu berat, peningkatan volume darah sering kali dapat mengembalikan curah jantung dan tekanan arteri hampir sepenuhnya ke tingkat normal, dan ekskresi natrium akhirnya kembali normal meskipun volume darah dan volume cairan ekstraseluler tetap meningkat untuk mempertahankan fungsi pompa jantung yang telah melemah.
Namun, jika jantung sangat lemah, tekanan arteri mungkin tidak dapat meningkat cukup tinggi untuk mengembalikan pengeluaran urin ke tingkat normal. Bila hal ini terjadi, ginjal terus menahan cairan hingga timbul kongesti sirkulasi yang berat, dan pasien akhirnya dapat meninggal akibat edema paru kecuali dilakukan tindakan korektif.
Pada gagal miokard, penyakit katup jantung, dan kelainan kongenital jantung, peningkatan volume darah berfungsi sebagai kompensasi sirkulasi yang penting untuk membantu mengembalikan curah jantung dan tekanan darah mendekati normal. Kompensasi ini memungkinkan jantung yang telah melemah tetap mempertahankan tingkat curah jantung yang cukup untuk menunjang kehidupan.
PENINGKATAN VOLUME DARAH AKIBAT PENINGKATAN KAPASITAS VASKULAR
Setiap kondisi yang meningkatkan kapasitas vaskular juga akan menyebabkan peningkatan volume darah untuk mengisi kapasitas tambahan tersebut. Peningkatan kapasitas vaskular pada awalnya menurunkan tekanan pengisian sirkulasi rata-rata (mean circulatory filling pressure), yang menyebabkan penurunan curah jantung dan tekanan arteri. Penurunan tekanan ini menyebabkan retensi garam dan air oleh ginjal sampai volume darah meningkat cukup untuk mengisi kapasitas tambahan tersebut.
Selama kehamilan, peningkatan kapasitas vaskular uterus, plasenta, dan organ-organ tubuh ibu yang mengalami pembesaran umumnya meningkatkan volume darah sebesar 15% hingga 25%.
Demikian pula, pada pasien dengan varises besar pada tungkai, yang dalam kasus jarang dapat menampung hingga satu liter darah tambahan, volume darah meningkat untuk mengisi kapasitas vaskular tambahan tersebut. Dalam keadaan ini, garam dan air ditahan oleh ginjal sampai seluruh sistem vaskular terisi cukup untuk meningkatkan tekanan darah ke tingkat yang diperlukan guna menyeimbangkan pengeluaran cairan ginjal dengan asupan cairan harian.
KONDISI YANG MENYEBABKAN PENINGKATAN BESAR VOLUME CAIRAN EKSTRASELULER DENGAN VOLUME DARAH NORMAL ATAU MENURUN
Pada beberapa kondisi, volume cairan ekstraseluler meningkat secara nyata, tetapi volume darah tetap normal atau bahkan sedikit menurun. Kondisi-kondisi ini biasanya diawali oleh kebocoran cairan dan protein ke interstitium yang cenderung menurunkan volume darah.
Respons ginjal terhadap kondisi ini serupa dengan respons setelah perdarahan, yaitu ginjal menahan garam dan air dalam upaya mengembalikan volume darah mendekati normal. Namun, sebagian besar cairan tambahan tersebut kembali bocor ke interstitium sehingga menyebabkan edema yang semakin berat.
SINDROM NEFROTIK: KEHILANGAN PROTEIN PLASMA MELALUI URIN DAN RETENSI NATRIUM OLEH GINJAL
Mekanisme umum yang menyebabkan edema ekstraseluler telah dibahas dalam Bab 25. Salah satu penyebab klinis penting edema adalah sindrom nefrotik.
Pada sindrom nefrotik, kapiler glomerulus membocorkan sejumlah besar protein ke dalam filtrat dan urin akibat peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus. Sebanyak 30 hingga 50 gram protein plasma dapat hilang melalui urin setiap hari, kadang-kadang menyebabkan konsentrasi protein plasma turun hingga kurang dari sepertiga nilai normal dan menurunkan tekanan osmotik koloid plasma ke tingkat yang sangat rendah.
Efek ini menyebabkan kapiler di seluruh tubuh memfiltrasi sejumlah besar cairan ke berbagai jaringan, yang selanjutnya menimbulkan edema dan menurunkan volume plasma.
Retensi natrium oleh ginjal pada sindrom nefrotik terjadi melalui berbagai mekanisme yang diaktifkan oleh kebocoran protein dan cairan dari plasma ke cairan interstisial, termasuk stimulasi berbagai sistem penahan natrium seperti RAAS dan sistem saraf simpatis.
Ginjal terus menahan natrium dan air sampai volume plasma hampir kembali normal. Namun, karena retensi natrium dan air yang besar, konsentrasi protein plasma menjadi semakin encer, sehingga lebih banyak cairan lagi bocor ke jaringan tubuh. Hasil akhirnya adalah retensi cairan masif oleh ginjal hingga terjadi edema ekstraseluler yang sangat berat, kecuali dilakukan terapi untuk memulihkan kadar protein plasma.
SIROSIS HATI: PENURUNAN SINTESIS PROTEIN PLASMA OLEH HATI DAN RETENSI NATRIUM OLEH GINJAL
Pada sirosis hati, penurunan konsentrasi protein plasma terjadi akibat kerusakan sel hati yang mengurangi kemampuan hati untuk mensintesis protein plasma dalam jumlah yang cukup.
Sirosis juga berhubungan dengan pembentukan jaringan fibrosa dalam jumlah besar di struktur hati yang sangat menghambat aliran darah portal melalui hati. Hambatan ini meningkatkan tekanan kapiler di seluruh sistem vaskular portal, yang selanjutnya berkontribusi terhadap kebocoran cairan dan protein ke rongga peritoneum, suatu kondisi yang disebut asites.
Setelah cairan dan protein hilang dari sirkulasi, respons ginjal serupa dengan yang diamati pada kondisi lain yang berhubungan dengan penurunan volume plasma. Ginjal terus menahan garam dan air sampai volume plasma dan tekanan arteri kembali normal.
Pada beberapa kasus, volume plasma bahkan dapat meningkat melebihi normal karena peningkatan kapasitas vaskular pada sirosis; tekanan tinggi dalam sirkulasi portal dapat menyebabkan distensi vena yang besar dan dengan demikian meningkatkan kapasitas vaskular.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander RT, Cordat E, Chambrey R, Dimke H, Eladari D: Acidosis and urinary calcium. J Am Soc Nephrol 27:3511, 2016.
Aronson PS, Giebisch G: Effects of pH on potassium: new explanations for old observations. J Am Soc Nephrol 22:1981, 2011.
Biber J, Murer H, Mohebbi N, Wagner CA: Renal handling of phosphate and sulfate. Compr Physiol 4:771, 2014.
Bie P: Natriuretic peptides and normal body fluid regulation. Compr Physiol 8:1211, 2018.
Blaine J, Chonchol M, Levi M: Renal control of calcium, phosphate, and magnesium homeostasis. Clin J Am Soc Nephrol 10:1257, 2015.
Cowley AW Jr: Long-term control of arterial pressure. Physiol Rev 72:231, 1992.
Curry JN, Yu ASL: Magnesium handling in the kidney. Adv Chronic Kidney Dis 25:236, 2018.
de Baaij JH, Hoenderop JG, Bindels RJ: Magnesium in man: implications for health and disease. Physiol Rev 95:1, 2015.
DuBose TD Jr: Regulation of potassium homeostasis in CKD. Adv Chronic Kidney Dis 24:305, 2017.
Ellison DH, Felker GM: Diuretic treatment in heart failure. N Engl J Med 377:1964, 2017.
Ferrè S, Hoenderop JG, Bindels RJ: Sensing mechanisms involved in Ca²? and Mg²? homeostasis. Kidney Int 82:1157, 2012.
Guyton AC: Blood pressure control: special role of the kidneys and body fluids. Science 252:1813, 1991.
Hall JE: The kidney, hypertension, and obesity. Hypertension 41:625, 2003.
Hall JE, do Carmo JM, da Silva AA, Wang Z, Hall ME: Obesity, kidney dysfunction and hypertension: mechanistic links. Nature Reviews Nephrology 15:367, 2019.
Hall JE, Granger JP, do Carmo JM, et al: Hypertension: physiology and pathophysiology. Compr Physiol 2:2393, 2012.
Hebert SC, Desir G, Giebisch G, Wang W: Molecular diversity and regulation of renal potassium channels. Physiol Rev 85:319, 2005.
Kamel KS, Schreiber M, Halperin ML: Renal potassium physiology: integration of the renal response to dietary potassium depletion. Kidney Int 93:41, 2018.
McDonough AA, Youn JH: Potassium homeostasis: the knowns, the unknowns, and the health benefits. Physiology (Bethesda) 32:100, 2017.
Moe SM: Calcium homeostasis in health and in kidney disease. Compr Physiol 6:1781, 2016.
Mullens W, Verbrugge FH, Nijst P, Tang WHW: Renal sodium avidity in heart failure: from pathophysiology to treatment strategies. Eur Heart J 38:1872, 2017.
Palmer BF: Regulation of potassium homeostasis. Clin J Am Soc Nephrol 10:1050, 2015.
Rossier BC, Baker ME, Studer RA: Epithelial sodium transport and its control by aldosterone: the story of our internal environment revisited. Physiol Rev 95:297, 2015.
Staruschenko A: Beneficial effects of high potassium: contribution of renal basolateral K? channels. Hypertension 71:1015, 2018.
Whelton PK, Appel LJ, Sacco RL, et al: Sodium, blood pressure, and cardiovascular disease: further evidence supporting the American Heart Association sodium reduction recommendations. Circulation 126:2880, 2012.
Young DB: Quantitative analysis of aldosterone’s role in potassium regulation. Am J Physiol 255:F811, 1988.
Comments (0)