[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman
Kesimpulan
Saya memulai buku ini dengan memperkenalkan dua tokoh fiktif, kemudian meluangkan waktu membahas dua spesies, dan akhirnya menutupnya dengan dua diri. Dua tokoh itu adalah Sistem 1 yang intuitif—yang melakukan pemikiran cepat—dan Sistem 2 yang lebih lambat serta menuntut upaya, yang melakukan pemikiran lambat, memantau Sistem 1, dan berusaha mempertahankan kendali sebaik mungkin dalam keterbatasan sumber dayanya.
Dua spesies tersebut adalah para Econs yang bersifat fiktif, yang hidup di dunia teori, dan para Humans, yang bertindak di dunia nyata. Dua diri yang dimaksud adalah diri yang mengalami, yang menjalani kehidupan, dan diri yang mengingat, yang mencatat hasil serta membuat pilihan. Dalam bab terakhir ini saya mempertimbangkan beberapa penerapan dari ketiga pembedaan tersebut, dengan membahasnya dalam urutan terbalik.
Dua Diri
Kemungkinan terjadinya konflik antara diri yang mengingat dan kepentingan diri yang mengalami ternyata merupakan persoalan yang lebih rumit daripada yang saya bayangkan semula. Dalam salah satu eksperimen awal, yaitu studi tangan dalam air dingin, kombinasi antara pengabaian durasi dan aturan puncak–akhir menghasilkan pilihan yang jelas-jelas tidak masuk akal. Mengapa orang dengan sukarela membiarkan diri mereka mengalami rasa sakit yang tidak perlu?
Para peserta kami menyerahkan pilihan itu kepada diri yang mengingat. Mereka lebih memilih mengulangi percobaan yang meninggalkan kenangan yang lebih baik, meskipun percobaan tersebut melibatkan rasa sakit yang lebih besar. Memilih berdasarkan kualitas kenangan mungkin dapat dibenarkan dalam kasus ekstrem—misalnya ketika ada kemungkinan munculnya gangguan stres pascatrauma—tetapi pengalaman tangan dalam air dingin itu sama sekali tidak traumatis. Seorang pengamat objektif yang membuat pilihan bagi orang lain hampir pasti akan memilih paparan yang lebih singkat, demi kepentingan diri yang mengalami.
Pilihan yang dibuat orang bagi diri mereka sendiri secara wajar dapat disebut sebagai kesalahan. Pengabaian durasi dan aturan puncak–akhir dalam evaluasi cerita—baik dalam pengalaman menonton opera maupun dalam penilaian terhadap kehidupan Jen—sama-sama tidak dapat dipertahankan. Tidak masuk akal menilai seluruh kehidupan berdasarkan saat-saat terakhirnya, atau sama sekali tidak memberi bobot pada durasi ketika memutuskan kehidupan mana yang lebih diinginkan.
Diri yang mengingat merupakan konstruksi dari Sistem 2. Namun ciri khas cara ia mengevaluasi episode dan kehidupan sebenarnya merupakan karakteristik dari memori kita. Pengabaian durasi dan aturan puncak–akhir berasal dari Sistem 1 dan tidak selalu selaras dengan nilai-nilai Sistem 2. Kita percaya bahwa durasi itu penting, tetapi ingatan kita memberi tahu sebaliknya.
Aturan-aturan yang mengatur evaluasi masa lalu merupakan panduan yang buruk bagi pengambilan keputusan, karena waktu memang penting. Fakta paling mendasar dari keberadaan kita adalah bahwa waktu merupakan sumber daya yang pada akhirnya terbatas, tetapi diri yang mengingat mengabaikan kenyataan itu. Pengabaian durasi yang berpadu dengan aturan puncak–akhir menimbulkan bias yang lebih menyukai periode singkat kebahagiaan yang sangat intens dibandingkan periode panjang kebahagiaan yang sedang.
Bayangan cerminan dari bias yang sama membuat kita lebih takut pada periode singkat penderitaan yang sangat intens tetapi masih dapat ditoleransi daripada pada periode yang jauh lebih panjang dari rasa sakit yang sedang. Pengabaian durasi juga membuat kita cenderung menerima periode panjang ketidaknyamanan ringan karena akhirnya akan lebih baik, serta membuat kita rela melepaskan kesempatan menikmati masa bahagia yang panjang jika kemungkinan akhirnya buruk.
Untuk mendorong gagasan ini hingga terasa agak mengganggu, pertimbangkan nasihat yang sering kita dengar: “Jangan lakukan itu, kamu akan menyesal.” Nasihat itu terdengar bijaksana karena penyesalan yang diantisipasi merupakan putusan dari diri yang mengingat, dan kita cenderung menerima penilaian semacam itu sebagai keputusan akhir yang pasti. Namun kita tidak boleh lupa bahwa perspektif diri yang mengingat tidak selalu benar.
Seorang pengamat objektif yang melihat profil hedonimeter—dengan mempertimbangkan kepentingan diri yang mengalami—mungkin akan memberikan nasihat yang berbeda. Pengabaian durasi oleh diri yang mengingat, penekanannya yang berlebihan pada puncak dan akhir, serta kerentanannya terhadap bias hindsight berpadu menghasilkan refleksi yang terdistorsi tentang pengalaman kita yang sebenarnya.
Sebaliknya, konsep kesejahteraan yang memberi bobot pada durasi memperlakukan semua momen kehidupan secara setara, baik yang diingat maupun yang tidak. Beberapa momen memang akhirnya memiliki bobot lebih besar daripada yang lain, entah karena mudah diingat atau karena memiliki makna penting. Waktu yang dihabiskan orang untuk mengenang suatu momen harus dimasukkan ke dalam durasinya, sehingga menambah bobotnya.
Sebuah momen juga dapat memperoleh makna penting dengan mengubah pengalaman pada momen-momen berikutnya. Misalnya, satu jam berlatih biola dapat memperkaya pengalaman bermain atau mendengarkan musik selama berjam-jam di tahun-tahun berikutnya. Demikian pula, peristiwa singkat yang sangat buruk yang menyebabkan PTSD harus diberi bobot berdasarkan keseluruhan durasi penderitaan jangka panjang yang ditimbulkannya.
Dalam perspektif yang memberi bobot pada durasi, kita baru dapat menentukan setelah peristiwa berlalu apakah suatu momen benar-benar berkesan atau bermakna. Pernyataan seperti “Aku akan selalu mengingat ini…” atau “Ini adalah momen yang bermakna” seharusnya dipahami sebagai janji atau prediksi—yang bisa saja keliru, dan sering kali memang demikian—bahkan ketika diucapkan dengan ketulusan penuh. Sangat mungkin bahwa banyak hal yang kita yakini akan selalu kita ingat justru telah terlupakan sepuluh tahun kemudian.
Logika pembobotan berdasarkan durasi sangat meyakinkan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai teori kesejahteraan yang lengkap, karena individu mengidentifikasi diri mereka dengan diri yang mengingat dan peduli pada kisah hidup mereka. Teori kesejahteraan yang mengabaikan apa yang diinginkan orang tidak dapat dipertahankan. Di sisi lain, teori yang mengabaikan apa yang sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan orang dan hanya berfokus pada apa yang mereka pikirkan tentang kehidupan mereka juga tidak dapat dipertahankan.
Diri yang mengingat dan diri yang mengalami harus sama-sama diperhitungkan, karena kepentingan keduanya tidak selalu sejalan. Para filsuf dapat bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini untuk waktu yang sangat lama.
Persoalan mengenai diri mana yang lebih penting bukan hanya pertanyaan bagi para filsuf; ia juga memiliki implikasi bagi kebijakan dalam berbagai bidang, terutama kedokteran dan kesejahteraan sosial. Pertimbangkan investasi yang seharusnya dilakukan dalam penanganan berbagai kondisi medis, termasuk kebutaan, ketulian, atau gagal ginjal.
Apakah investasi tersebut seharusnya ditentukan oleh seberapa besar orang takut terhadap kondisi-kondisi itu? Apakah investasi harus dipandu oleh penderitaan yang benar-benar dialami pasien? Atau seharusnya mengikuti kuatnya keinginan pasien untuk terbebas dari kondisi tersebut serta pengorbanan yang bersedia mereka lakukan untuk mencapainya?
Urutan tingkat keparahan antara kebutaan dan ketulian, atau antara kolostomi dan dialisis, sangat mungkin berbeda tergantung pada ukuran penderitaan mana yang digunakan. Tidak ada solusi yang mudah terlihat, tetapi persoalan ini terlalu penting untuk diabaikan.
Kemungkinan menggunakan ukuran kesejahteraan sebagai indikator untuk membimbing kebijakan pemerintah belakangan ini menarik perhatian besar, baik di kalangan akademisi maupun di beberapa pemerintahan di Eropa. Kini dapat dibayangkan—sesuatu yang bahkan beberapa tahun lalu belum terpikirkan—bahwa suatu indeks mengenai jumlah penderitaan dalam masyarakat suatu hari akan dimasukkan ke dalam statistik nasional, bersama dengan ukuran pengangguran, disabilitas fisik, dan pendapatan. Proyek ini telah menempuh perjalanan yang panjang.







Comments (0)