[Buku Bahasa Indonesia] Sapiens: A Brief History of Humankind

15. Perkawinan antara Ilmu Pengetahuan dan Imperium

Seberapa jauh jarak Matahari dari Bumi? Pertanyaan ini memikat rasa ingin tahu banyak astronom pada awal zaman modern, terutama setelah Copernicus berpendapat bahwa Matahari—bukan Bumi—terletak di pusat alam semesta. Sejumlah astronom dan matematikawan berusaha menghitung jarak tersebut, tetapi metode yang mereka gunakan menghasilkan angka yang sangat beragam. Cara pengukuran yang andal baru diajukan pada pertengahan abad kedelapan belas. Setiap beberapa tahun sekali, planet Venus melintas tepat di antara Matahari dan Bumi. Lama waktu transit ini berbeda-beda ketika diamati dari titik-titik yang berjauhan di permukaan Bumi, karena perbedaan kecil dalam sudut pandang pengamat. Jika beberapa pengamatan terhadap transit yang sama dilakukan dari benua-benua yang berbeda, maka dengan trigonometri sederhana kita dapat menghitung secara tepat jarak antara Bumi dan Matahari.

Para astronom meramalkan bahwa transit Venus berikutnya akan terjadi pada tahun 1761 dan 1769. Oleh karena itu, ekspedisi-ekspedisi dikirim dari Eropa ke berbagai penjuru dunia untuk mengamati peristiwa tersebut dari sebanyak mungkin titik yang berjauhan. Pada tahun 1761 para ilmuwan mengamati transit itu dari Siberia, Amerika Utara, Madagaskar, dan Afrika Selatan. Menjelang transit tahun 1769, komunitas ilmiah Eropa mengerahkan upaya besar-besaran, dan para ilmuwan dikirim hingga ke Kanada utara dan California—yang pada masa itu masih berupa belantara. Royal Society of London for the Improvement of Natural Knowledge menilai bahwa langkah tersebut masih belum cukup. Untuk memperoleh hasil yang paling akurat, mutlak diperlukan mengirim seorang astronom hingga ke Samudra Pasifik bagian barat daya.

Royal Society memutuskan untuk mengirim seorang astronom terkemuka, Charles Green, ke Tahiti, dan tidak menyisakan upaya maupun biaya. Namun, karena mereka membiayai sebuah ekspedisi yang begitu mahal, rasanya tidak masuk akal jika perjalanan itu hanya digunakan untuk satu pengamatan astronomi semata. Karena itu, Green didampingi oleh sebuah tim yang terdiri atas delapan ilmuwan lain dari berbagai disiplin, dipimpin oleh para ahli botani Joseph Banks dan Daniel Solander. Tim tersebut juga mencakup para seniman yang ditugaskan membuat gambar wilayah-wilayah baru, tumbuhan, hewan, dan penduduk yang hampir pasti akan mereka jumpai. Dengan perlengkapan instrumen ilmiah paling mutakhir yang dapat dibeli oleh Banks dan Royal Society, ekspedisi ini ditempatkan di bawah komando Kapten James Cook, seorang pelaut berpengalaman sekaligus ahli geografi dan etnografer yang mumpuni.

Ekspedisi itu berangkat dari Inggris pada tahun 1768, mengamati transit Venus dari Tahiti pada tahun 1769, meninjau sejumlah pulau di Pasifik, mengunjungi Australia dan Selandia Baru, lalu kembali ke Inggris pada tahun 1771. Mereka membawa pulang sejumlah besar data astronomi, geografi, meteorologi, botani, zoologi, dan antropologi. Temuan-temuan tersebut memberikan sumbangan penting bagi berbagai disiplin ilmu, membangkitkan imajinasi masyarakat Eropa dengan kisah-kisah menakjubkan tentang Pasifik Selatan, serta mengilhami generasi mendatang para naturalis dan astronom.

Salah satu bidang yang memperoleh manfaat dari ekspedisi Cook adalah kedokteran. Pada masa itu, kapal-kapal yang berlayar menuju negeri-negeri jauh mengetahui bahwa lebih dari setengah awaknya akan tewas selama perjalanan. Musuh utamanya bukanlah penduduk pribumi yang marah, kapal perang musuh, atau kerinduan akan kampung halaman, melainkan penyakit misterius yang disebut skorbut. Para pelaut yang terserang penyakit ini menjadi lesu dan murung, sementara gusi dan jaringan lunak lainnya berdarah. Ketika penyakit berkembang, gigi mereka tanggal, luka-luka terbuka muncul di tubuh, dan mereka mengalami demam, penyakit kuning, serta kehilangan kendali atas anggota tubuh mereka. Antara abad keenam belas dan kedelapan belas, diperkirakan sekitar dua juta pelaut meninggal akibat skorbut. Tidak seorang pun mengetahui penyebabnya, dan apa pun obat yang dicoba, para pelaut tetap mati dalam jumlah besar. Titik balik terjadi pada tahun 1747, ketika seorang dokter Inggris, James Lind, melakukan percobaan terkontrol terhadap para pelaut yang menderita penyakit tersebut. Ia membagi mereka ke dalam beberapa kelompok dan memberikan perlakuan yang berbeda kepada masing-masing kelompok. Salah satu kelompok percobaan diperintahkan memakan buah-buahan sitrus, obat rakyat yang lazim digunakan untuk mengatasi skorbut. Para pasien dalam kelompok ini segera pulih. Lind tidak mengetahui apa yang dimiliki buah sitrus yang tidak dimiliki tubuh para pelaut, tetapi kini kita tahu bahwa zat itu adalah vitamin C. Pola makan khas di kapal pada masa itu sangat miskin makanan yang kaya akan nutrisi penting ini. Dalam pelayaran jarak jauh para pelaut biasanya hanya bertahan hidup dengan biskuit keras dan daging kering, serta hampir tidak mengonsumsi buah maupun sayuran.

Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada awalnya tidak meyakini percobaan Lind, tetapi James Cook mempercayainya. Ia bertekad membuktikan bahwa dokter itu benar. Ia memuat kapal dengan sejumlah besar sauerkraut dan memerintahkan para pelautnya untuk memakan banyak buah dan sayuran segar setiap kali ekspedisi singgah di daratan. Cook tidak kehilangan seorang pun pelautnya akibat skorbut. Dalam beberapa dekade berikutnya, semua angkatan laut di dunia mengadopsi pola makan pelayaran ala Cook, dan nyawa tak terhitung jumlahnya—baik pelaut maupun penumpang—berhasil diselamatkan.

Namun, ekspedisi Cook juga membawa akibat lain yang jauh kurang bersahabat. Cook bukan hanya seorang pelaut dan ahli geografi yang berpengalaman, tetapi juga seorang perwira angkatan laut. Royal Society memang membiayai sebagian besar pengeluaran ekspedisi tersebut, tetapi kapal yang digunakan disediakan oleh Angkatan Laut Kerajaan. Angkatan laut juga menugaskan delapan puluh lima pelaut dan marinir bersenjata lengkap, serta melengkapi kapal dengan artileri, senapan, bubuk mesiu, dan berbagai persenjataan lainnya. Sebagian besar informasi yang dikumpulkan oleh ekspedisi—terutama data astronomi, geografi, meteorologi, dan antropologi—jelas memiliki nilai politik dan militer. Penemuan pengobatan yang efektif untuk skorbut sangat membantu Inggris dalam menguasai samudra-samudra dunia dan dalam kemampuannya mengirim pasukan ke belahan dunia yang jauh. Cook mengklaim bagi Inggris banyak pulau dan wilayah yang “ditemukannya”, terutama Australia. Ekspedisi Cook meletakkan dasar bagi pendudukan Inggris atas Samudra Pasifik barat daya; bagi penaklukan Australia, Tasmania, dan Selandia Baru; bagi pemukiman jutaan orang Eropa di koloni-koloni baru; serta bagi pemusnahan kebudayaan asli dan sebagian besar penduduk pribuminya.

Dalam satu abad setelah ekspedisi Cook, tanah-tanah paling subur di Australia dan Selandia Baru dirampas dari para penghuni sebelumnya oleh para pemukim Eropa. Jumlah penduduk pribumi merosot hingga 90 persen, dan mereka yang tersisa dipaksa hidup di bawah rezim penindasan rasial yang keras. Bagi orang Aborigin di Australia dan suku Maori di Selandia Baru, ekspedisi Cook menandai awal dari suatu bencana yang tidak pernah benar-benar pulih hingga kini.

Nasib yang bahkan lebih buruk menimpa penduduk asli Tasmania. Setelah bertahan hidup selama sepuluh ribu tahun dalam keterasingan yang sempurna, mereka sepenuhnya dimusnahkan—hingga orang terakhir, lelaki, perempuan, dan anak-anak—dalam waktu satu abad setelah kedatangan Cook. Para pemukim Eropa mula-mula mengusir mereka dari bagian-bagian pulau yang paling subur, lalu, karena menginginkan bahkan wilayah liar yang tersisa, memburu dan membunuh mereka secara sistematis. Segelintir yang selamat digiring ke dalam sebuah kamp konsentrasi evangelis, tempat para misionaris yang berniat baik tetapi tidak terlalu berpikiran terbuka berusaha mengindoktrinasi mereka dengan cara-cara dunia modern. Orang-orang Tasmania diajari membaca dan menulis, agama Kristen, serta berbagai “keterampilan produktif” seperti menjahit pakaian dan bertani. Namun mereka menolak untuk belajar. Mereka menjadi semakin murung, berhenti memiliki anak, kehilangan minat terhadap kehidupan, dan akhirnya memilih satu-satunya jalan keluar dari dunia modern yang dipenuhi ilmu pengetahuan dan kemajuan—kematian.

Namun sayangnya, ilmu pengetahuan dan kemajuan mengejar mereka bahkan hingga ke alam baka. Jenazah orang-orang Tasmania terakhir dirampas atas nama ilmu pengetahuan oleh para antropolog dan kurator museum. Tubuh-tubuh itu dibedah, ditimbang, dan diukur, lalu dianalisis dalam berbagai artikel ilmiah. Tengkorak dan kerangka mereka kemudian dipamerkan di museum serta koleksi antropologi. Baru pada tahun 1976 Museum Tasmania menyerahkan kerangka Truganini—penduduk asli Tasmania terakhir yang wafat seratus tahun sebelumnya—untuk dimakamkan. Royal College of Surgeons di Inggris bahkan masih menyimpan sampel kulit dan rambutnya hingga tahun 2002.

Apakah kapal Cook merupakan ekspedisi ilmiah yang dilindungi kekuatan militer, atau justru ekspedisi militer yang hanya diikuti beberapa ilmuwan? Pertanyaan itu sama saja seperti menanyakan apakah tangki bensin Anda setengah kosong atau setengah penuh. Ia adalah keduanya sekaligus. Revolusi Ilmiah dan imperialisme modern tidak dapat dipisahkan. Orang-orang seperti Kapten James Cook dan ahli botani Joseph Banks hampir tidak membedakan antara ilmu pengetahuan dan kekaisaran. Begitu pula Truganini yang malang.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Mengapa Eropa?

Fakta bahwa orang-orang dari sebuah pulau besar di Atlantik Utara berhasil menaklukkan sebuah pulau besar di selatan Australia merupakan salah satu kejanggalan paling mencolok dalam sejarah. Tidak lama sebelum ekspedisi Cook, Kepulauan Britania dan Eropa Barat pada umumnya hanyalah daerah terpencil di pinggiran dunia Mediterania. Hampir tidak ada peristiwa penting yang pernah terjadi di sana. Bahkan Kekaisaran Romawi—satu-satunya kekaisaran Eropa pra-modern yang benar-benar besar—memperoleh sebagian besar kekayaannya dari provinsi-provinsi di Afrika Utara, Balkan, dan Timur Tengah. Provinsi-provinsi Romawi di Eropa Barat hanyalah semacam “Wild West” yang miskin, yang tidak banyak menyumbang selain mineral dan budak. Eropa Utara bahkan begitu tandus dan liar sehingga tidak dianggap layak untuk ditaklukkan.

Baru pada akhir abad kelima belas Eropa menjelma menjadi pusat perkembangan militer, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang penting. Antara tahun 1500 dan 1750, Eropa Barat memperoleh momentum dan menjadi penguasa “Dunia Luar”, yakni dua benua Amerika serta lautan-lautan dunia. Namun bahkan pada masa itu Eropa masih belum sebanding dengan kekuatan-kekuatan besar Asia. Bangsa Eropa berhasil menaklukkan Amerika dan memperoleh supremasi di laut terutama karena kekuatan-kekuatan Asia hampir tidak menaruh minat terhadap mereka. Era modern awal merupakan zaman keemasan bagi Kesultanan Utsmani di kawasan Mediterania, Kekaisaran Safawi di Persia, Kekaisaran Mughal di India, serta Dinasti Ming dan Qing di Tiongkok. Mereka memperluas wilayahnya secara signifikan dan menikmati pertumbuhan demografis serta ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 1775 Asia menyumbang sekitar 80 persen perekonomian dunia. Perekonomian India dan Tiongkok saja secara bersama-sama mewakili dua pertiga dari total produksi global. Dibandingkan dengan itu, Eropa hanyalah kerdil secara ekonomi.

Pusat kekuasaan dunia baru bergeser ke Eropa antara tahun 1750 dan 1850, ketika bangsa-bangsa Eropa mempermalukan kekuatan-kekuatan Asia dalam serangkaian peperangan dan menaklukkan sebagian besar wilayah Asia. Pada tahun 1900 bangsa Eropa telah menguasai secara kukuh perekonomian dunia serta sebagian besar wilayahnya. Pada tahun 1950 Eropa Barat dan Amerika Serikat bersama-sama menyumbang lebih dari setengah produksi global, sementara porsi Tiongkok telah merosot hingga hanya sekitar 5 persen.

Di bawah naungan Eropa, suatu tatanan global dan kebudayaan global yang baru pun muncul. Dewasa ini semua manusia—jauh lebih besar daripada yang biasanya ingin mereka akui—adalah orang Eropa dalam cara berpakaian, berpikir, dan dalam selera mereka. Mereka mungkin sangat anti-Eropa dalam retorika, tetapi hampir setiap orang di planet ini memandang politik, kedokteran, perang, dan ekonomi melalui mata Eropa, serta mendengarkan musik yang ditulis dalam pola musikal Eropa dengan kata-kata dalam bahasa-bahasa Eropa. Bahkan perekonomian Tiongkok yang kini sedang berkembang pesat—yang mungkin segera kembali menduduki posisi teratas dunia—dibangun di atas model produksi dan keuangan yang berasal dari Eropa.

Bagaimana mungkin orang-orang dari ujung Eurasia yang dingin ini berhasil keluar dari sudut terpencil dunia dan menaklukkan seluruh bumi? Para ilmuwan Eropa sering kali memperoleh sebagian besar pujian atas hal ini. Tidak diragukan bahwa sejak tahun 1850 dominasi Eropa sebagian besar bertumpu pada kompleks militer–industri–ilmiah serta kecanggihan teknologi. Semua kekaisaran modern akhir yang berhasil menumbuhkan penelitian ilmiah dengan harapan memanen inovasi teknologi, dan banyak ilmuwan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan senjata, obat-obatan, serta mesin bagi para penguasa imperium mereka. Di kalangan para serdadu Eropa yang menghadapi musuh di Afrika beredar sebuah ungkapan: “Apa pun yang terjadi, kita memiliki senapan mesin, sedangkan mereka tidak.”

Teknologi sipil tidak kalah pentingnya. Makanan kaleng memberi makan para prajurit; rel kereta api dan kapal uap mengangkut pasukan beserta logistik mereka; sementara berbagai jenis obat baru menyembuhkan para serdadu, pelaut, dan insinyur lokomotif. Kemajuan logistik ini memainkan peranan yang bahkan lebih besar dalam penaklukan Eropa atas Afrika dibandingkan senapan mesin.

Namun keadaan itu belum berlaku sebelum tahun 1850. Kompleks militer–industri–ilmiah masih berada pada tahap awal pertumbuhannya; buah-buah teknologi dari Revolusi Ilmiah masih belum matang; dan kesenjangan teknologi antara kekuatan Eropa, Asia, dan Afrika relatif kecil. Pada tahun 1770, James Cook memang memiliki teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan penduduk Aborigin Australia, tetapi demikian pula halnya dengan bangsa Tiongkok dan Ottoman. Mengapa, kalau begitu, Australia dijelajahi dan dijajah oleh Kapten James Cook dan bukan oleh Kapten Wan Zhengse atau Kapten Hussein Pasha? Lebih penting lagi, jika pada tahun 1770 bangsa Eropa tidak memiliki keunggulan teknologi yang berarti atas kaum Muslim, orang India, dan orang Tiongkok, bagaimana mereka dalam abad berikutnya berhasil membuka jurang perbedaan yang begitu besar antara diri mereka dan seluruh dunia?

Mengapa kompleks militer–industri–ilmiah berkembang pesat di Eropa dan bukan di India? Ketika Inggris melompat maju, mengapa Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat segera menyusul, sementara Tiongkok tertinggal? Ketika jurang antara negara industri dan nonindustri menjadi faktor ekonomi dan politik yang jelas, mengapa Rusia, Italia, dan Austria berhasil menutupnya, sedangkan Persia, Mesir, dan Kekaisaran Ottoman gagal? Bagaimanapun, teknologi gelombang industri pertama relatif sederhana. Apakah benar begitu sulit bagi orang Tiongkok atau Ottoman untuk merekayasa mesin uap, memproduksi senapan mesin, dan membangun jalur kereta api?

Jalur kereta api komersial pertama di dunia dibuka pada tahun 1830 di Inggris. Pada tahun 1850, negara-negara Barat telah dipenuhi oleh hampir 40.000 kilometer rel kereta api—tetapi di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin hanya terdapat sekitar 4.000 kilometer rel. Pada tahun 1880, dunia Barat telah memiliki lebih dari 350.000 kilometer jalur kereta api, sedangkan di seluruh bagian dunia lainnya hanya ada sekitar 35.000 kilometer (dan sebagian besar di antaranya dibangun oleh Inggris di India). Rel kereta api pertama di Tiongkok baru dibuka pada tahun 1876. Panjangnya hanya dua puluh lima kilometer dan dibangun oleh orang Eropa—pemerintah Tiongkok menghancurkannya pada tahun berikutnya. Pada tahun 1880 Kekaisaran Tiongkok bahkan tidak mengoperasikan satu pun jalur kereta api. Jalur kereta api pertama di Persia baru dibangun pada tahun 1888, menghubungkan Teheran dengan sebuah situs suci Muslim sekitar sepuluh kilometer di selatan ibu kota. Jalur itu dibangun dan dioperasikan oleh sebuah perusahaan Belgia. Pada tahun 1950, keseluruhan jaringan kereta api Persia masih hanya sekitar 2.500 kilometer, padahal luas negara itu tujuh kali lipat dari Inggris.

Orang Tiongkok dan Persia tidak kekurangan penemuan teknologi seperti mesin uap (yang sebenarnya dapat dengan mudah ditiru atau dibeli). Yang tidak mereka miliki adalah nilai-nilai, mitos, perangkat hukum, dan struktur sosiopolitik yang selama berabad-abad terbentuk dan matang di Barat—dan yang tidak dapat dengan cepat disalin maupun diinternalisasi. Prancis dan Amerika Serikat dapat segera mengikuti jejak Inggris karena orang Prancis dan Amerika telah berbagi mitos serta struktur sosial Inggris yang paling penting. Orang Tiongkok dan Persia tidak dapat mengejar dengan cepat karena mereka berpikir dan menata masyarakatnya secara berbeda.

Penjelasan ini memberikan cahaya baru pada periode antara tahun 1500 hingga 1850. Pada masa itu Eropa tidak menikmati keunggulan teknologi, politik, militer, ataupun ekonomi yang jelas dibandingkan kekuatan-kekuatan Asia, namun benua tersebut sedang membangun sebuah potensi unik yang arti pentingnya baru tampak jelas sekitar tahun 1850. Kesetaraan yang tampak antara Eropa, Tiongkok, dan dunia Muslim pada tahun 1750 sebenarnya hanyalah fatamorgana. Bayangkan dua orang pembangun yang masing-masing sedang mendirikan menara yang sangat tinggi. Yang satu menggunakan kayu dan bata lumpur, sedangkan yang lain menggunakan baja dan beton. Pada awalnya tampak seolah-olah tidak ada perbedaan berarti antara kedua metode itu, karena kedua menara tumbuh dengan kecepatan yang hampir sama dan mencapai ketinggian yang serupa. Namun ketika sebuah ambang kritis terlampaui, menara kayu dan bata lumpur itu tidak mampu menahan tekanan lalu runtuh, sedangkan menara baja dan beton terus menjulang lantai demi lantai sejauh mata memandang.

Potensi apakah yang dikembangkan Eropa pada masa awal zaman modern sehingga memungkinkan mereka mendominasi dunia modern kemudian? Ada dua jawaban yang saling melengkapi terhadap pertanyaan ini: sains modern dan kapitalisme. Orang Eropa telah terbiasa berpikir dan bertindak secara ilmiah dan kapitalistis bahkan sebelum mereka menikmati keunggulan teknologi yang berarti. Ketika ledakan teknologi akhirnya terjadi, bangsa Eropa mampu memanfaatkannya jauh lebih baik daripada siapa pun. Karena itu, bukanlah kebetulan bahwa sains dan kapitalisme menjadi warisan paling penting yang ditinggalkan imperialisme Eropa bagi dunia pasca-Eropa abad kedua puluh satu. Eropa dan orang-orang Eropa mungkin tidak lagi memerintah dunia, tetapi ilmu pengetahuan dan modal semakin hari semakin kuat. Kemenangan kapitalisme dibahas dalam bab berikutnya. Bab ini didedikasikan bagi kisah cinta antara imperialisme Eropa dan sains modern.

Mentalitas Penaklukan

Sains modern berkembang di dalam—dan berkat—kekaisaran-kekaisaran Eropa. Disiplin ini tentu berutang besar kepada tradisi ilmiah kuno, seperti yang berkembang di Yunani klasik, Tiongkok, India, dan dunia Islam. Namun watak khasnya baru mulai terbentuk pada awal zaman modern, seiring dengan ekspansi imperium Spanyol, Portugis, Inggris, Prancis, Rusia, dan Belanda. Selama periode modern awal, orang Tiongkok, India, Muslim, penduduk asli Amerika, dan orang Polinesia tetap memberikan sumbangan penting bagi Revolusi Ilmiah. Gagasan para ekonom Muslim dipelajari oleh Adam Smith dan Karl Marx; pengobatan yang dipelopori oleh tabib penduduk asli Amerika masuk ke dalam teks kedokteran Inggris; dan data yang diperoleh dari informan Polinesia merevolusi antropologi Barat. Namun hingga pertengahan abad kedua puluh, orang-orang yang mengumpulkan berbagai penemuan ilmiah ini—sekaligus membentuk disiplin-disiplin ilmiah—adalah para elite penguasa dan intelektual dari imperium Eropa global. Timur Jauh dan dunia Islam menghasilkan pikiran-pikiran yang sama cerdas dan ingin tahunya dengan yang dimiliki Eropa. Akan tetapi, antara tahun 1500 dan 1950 mereka tidak menghasilkan sesuatu yang sebanding dengan fisika Newtonian atau biologi Darwinian.

Hal ini tidak berarti bahwa orang Eropa memiliki gen khusus bagi sains, ataupun bahwa mereka akan selamanya mendominasi kajian fisika dan biologi. Sebagaimana Islam pada mulanya merupakan monopoli orang Arab tetapi kemudian diambil alih oleh bangsa Turki dan Persia, demikian pula sains modern bermula sebagai keahlian khas Eropa, namun kini semakin menjadi usaha multietnis.

Apa yang menempa ikatan historis antara sains modern dan imperialisme Eropa? Teknologi memang merupakan faktor penting pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, tetapi pada masa awal zaman modern perannya masih terbatas. Faktor kuncinya adalah bahwa ahli botani yang mencari tanaman dan perwira angkatan laut yang mencari koloni berbagi pola pikir yang serupa. Baik ilmuwan maupun penakluk memulai langkahnya dengan mengakui ketidaktahuan—keduanya berkata, “Aku tidak tahu apa yang ada di luar sana.” Keduanya merasa terdorong untuk berangkat dan melakukan penemuan baru. Dan keduanya berharap bahwa pengetahuan baru yang diperoleh itu akan menjadikan mereka penguasa dunia.

Imperialisme Eropa sepenuhnya berbeda dari semua proyek kekaisaran lain dalam sejarah. Para pencari kekaisaran sebelumnya cenderung beranggapan bahwa mereka telah memahami dunia. Penaklukan hanya dimaksudkan untuk memanfaatkan dan menyebarkan pandangan dunia mereka. Bangsa Arab, sebagai contoh, tidak menaklukkan Mesir, Spanyol, atau India untuk menemukan sesuatu yang belum mereka ketahui. Bangsa Romawi, Mongol, dan Aztek dengan rakus menaklukkan wilayah-wilayah baru demi kekuasaan dan kekayaan—bukan demi pengetahuan. Sebaliknya, para imperialis Eropa berlayar ke negeri-negeri jauh dengan harapan memperoleh pengetahuan baru sekaligus wilayah baru.

James Cook bukanlah penjelajah pertama yang berpikir demikian. Para pelaut Portugis dan Spanyol pada abad kelima belas dan keenam belas telah melakukannya lebih dahulu. Pangeran Henry sang Navigator dan Vasco da Gama menjelajahi pesisir Afrika dan, sembari melakukannya, merebut kendali atas pulau-pulau dan pelabuhan. Christopher Columbus “menemukan” Amerika dan segera mengklaim kedaulatan atas wilayah-wilayah baru itu bagi raja-raja Spanyol. Ferdinand Magellan menemukan jalur mengelilingi dunia, sekaligus meletakkan dasar bagi penaklukan Spanyol atas Filipina.

Seiring berjalannya waktu, penaklukan pengetahuan dan penaklukan wilayah menjadi semakin erat terjalin. Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas, hampir setiap ekspedisi militer penting yang berangkat dari Eropa menuju negeri-negeri jauh membawa serta para ilmuwan di dalam kapalnya—mereka berangkat bukan untuk berperang, melainkan untuk membuat penemuan ilmiah. Ketika Napoleon menyerbu Mesir pada tahun 1798, ia membawa 165 sarjana bersamanya. Di antara berbagai pencapaian lainnya, mereka mendirikan sebuah disiplin ilmu yang sama sekali baru, yaitu Egyptologi, serta memberikan kontribusi penting bagi kajian agama, linguistik, dan botani.

Pada tahun 1831 Angkatan Laut Kerajaan mengirim kapal HMS Beagle untuk memetakan pesisir Amerika Selatan, Kepulauan Falkland, dan Kepulauan Galapagos. Angkatan laut memerlukan pengetahuan ini agar lebih siap menghadapi kemungkinan perang. Kapten kapal tersebut, yang juga seorang ilmuwan amatir, memutuskan menambahkan seorang ahli geologi dalam ekspedisi itu untuk mempelajari formasi geologi yang mungkin mereka temui di sepanjang perjalanan. Setelah beberapa ahli geologi profesional menolak undangannya, sang kapten menawarkan pekerjaan itu kepada seorang lulusan Cambridge berusia dua puluh dua tahun, Charles Darwin. Darwin sebenarnya belajar untuk menjadi pendeta Anglikan, tetapi ia jauh lebih tertarik pada geologi dan ilmu-ilmu alam daripada pada Alkitab. Ia segera menerima kesempatan tersebut—dan selebihnya menjadi sejarah. Sang kapten menghabiskan waktunya selama pelayaran dengan menggambar peta militer, sementara Darwin mengumpulkan data empiris dan merumuskan gagasan-gagasan yang kelak berkembang menjadi teori evolusi.

Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat di permukaan Bulan. Dalam bulan-bulan menjelang ekspedisi tersebut, para astronot Apollo 11 berlatih di sebuah gurun terpencil di bagian barat Amerika Serikat yang menyerupai lanskap Bulan. Daerah itu merupakan tempat tinggal beberapa komunitas penduduk asli Amerika, dan terdapat sebuah kisah—atau legenda—yang menceritakan pertemuan antara para astronot dan salah seorang penduduk setempat.

Suatu hari ketika sedang berlatih, para astronot bertemu dengan seorang pria tua dari suku penduduk asli. Orang itu bertanya apa yang mereka lakukan di sana. Mereka menjawab bahwa mereka adalah bagian dari sebuah ekspedisi penelitian yang sebentar lagi akan berangkat untuk menjelajahi Bulan. Mendengar hal itu, lelaki tua tersebut terdiam beberapa saat, lalu bertanya apakah para astronot bersedia melakukan sebuah permintaan.

“Apa yang Anda inginkan?” tanya mereka.

“Begini,” kata lelaki tua itu, “orang-orang dari suku saya percaya bahwa roh-roh suci tinggal di Bulan. Saya ingin tahu apakah kalian bisa menyampaikan sebuah pesan penting dari bangsa saya kepada mereka.”

“Apa pesannya?” tanya para astronot.

Lelaki itu kemudian mengucapkan sesuatu dalam bahasa sukunya, lalu meminta para astronot mengulanginya berulang-ulang sampai mereka menghafalnya dengan benar.

“Apa artinya?” tanya para astronot.

“Oh, saya tidak bisa memberitahukannya kepada kalian. Itu rahasia yang hanya boleh diketahui oleh suku kami dan roh-roh Bulan.”

Ketika kembali ke pangkalan mereka, para astronot mencari dan terus mencari hingga akhirnya menemukan seseorang yang dapat berbicara dalam bahasa suku tersebut, lalu memintanya menerjemahkan pesan rahasia itu. Ketika mereka mengulang kalimat yang telah mereka hafal dengan begitu saksama, sang penerjemah langsung tertawa terbahak-bahak. Setelah ia berhasil menenangkan diri, para astronot bertanya apa arti kalimat itu. Orang itu menjelaskan bahwa kalimat yang telah mereka hafalkan dengan penuh perhatian itu berarti, “Jangan percaya sepatah kata pun dari apa yang mereka katakan kepada kalian. Mereka datang untuk mencuri tanah kalian.”

Peta-Peta Kosong

Mentalitas modern “menjelajah dan menaklukkan” tergambar dengan jelas dalam perkembangan peta-peta dunia. Jauh sebelum zaman modern, banyak kebudayaan telah menggambar peta dunia. Tentu saja tidak satu pun dari mereka benar-benar mengetahui seluruh dunia. Tidak ada kebudayaan Afro-Asia yang mengetahui tentang Amerika, dan tidak ada kebudayaan Amerika yang mengetahui tentang Afro-Asia. Namun wilayah-wilayah yang tidak dikenal biasanya hanya dibiarkan tidak tergambar, atau diisi dengan gambaran makhluk-makhluk khayal serta keajaiban-keajaiban imajiner. Peta-peta itu tidak memiliki ruang kosong. Semuanya memberi kesan seolah-olah seluruh dunia telah dikenal.

Pada abad kelima belas dan keenam belas, orang Eropa mulai menggambar peta dunia yang dipenuhi ruang kosong—sebuah tanda berkembangnya pola pikir ilmiah sekaligus dorongan imperial Eropa. Peta-peta yang kosong ini merupakan terobosan psikologis dan ideologis: sebuah pengakuan yang jelas bahwa orang Eropa tidak mengetahui sebagian besar wilayah dunia.

Titik balik yang menentukan terjadi pada tahun 1492, ketika Christopher Columbus berlayar ke arah barat dari Spanyol untuk mencari rute baru menuju Asia Timur. Columbus masih mempercayai peta-peta dunia lama yang “lengkap” itu. Berdasarkan peta tersebut, Columbus memperkirakan bahwa Jepang seharusnya terletak sekitar 7.000 kilometer di sebelah barat Spanyol. Kenyataannya, lebih dari 20.000 kilometer dan sebuah benua yang sama sekali tidak dikenal memisahkan Asia Timur dari Spanyol. Pada 12 Oktober 1492, sekitar pukul dua dini hari, ekspedisi Columbus menabrak benua yang tak dikenal itu. Juan Rodríguez Bermejo, yang berjaga di tiang kapal Pinta, melihat sebuah pulau di wilayah yang sekarang kita sebut Bahama dan berteriak, “Darat! Darat!”

Columbus percaya bahwa ia telah mencapai sebuah pulau kecil di lepas pantai Asia Timur. Ia menyebut penduduk yang ditemuinya sebagai “Indian” karena ia mengira telah tiba di Hindia—yang sekarang kita sebut Hindia Timur atau kepulauan Indonesia. Columbus mempertahankan kekeliruan ini sepanjang hidupnya. Gagasan bahwa ia telah menemukan sebuah benua yang sama sekali tak dikenal tidak dapat ia bayangkan, begitu pula bagi banyak orang sezamannya. Selama ribuan tahun, bukan hanya para pemikir dan sarjana terbesar, tetapi juga Kitab Suci yang tak mungkin salah, hanya mengenal tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Mungkinkah semuanya keliru? Mungkinkah Alkitab telah mengabaikan setengah dari dunia? Keadaan itu akan serupa dengan jika pada tahun 1969, dalam perjalanannya menuju Bulan, Apollo 11 justru menabrak sebuah bulan lain yang sebelumnya tidak diketahui yang mengelilingi Bumi—sebuah bulan yang entah bagaimana luput dari semua pengamatan sebelumnya. Dalam penolakannya untuk mengakui ketidaktahuan, Columbus tetap merupakan seorang manusia abad pertengahan. Ia yakin bahwa dirinya telah mengetahui seluruh dunia, dan bahkan penemuannya yang begitu besar pun tidak mampu menggoyahkan keyakinan itu.

Sebuah peta dunia Eropa dari tahun 1459 (Eropa berada di sudut kiri atas). Peta ini dipenuhi berbagai detail, bahkan ketika menggambarkan wilayah-wilayah yang sama sekali tidak dikenal oleh orang Eropa, seperti Afrika bagian selatan.

Manusia modern pertama adalah Amerigo Vespucci, seorang pelaut Italia yang ikut serta dalam beberapa ekspedisi ke Amerika pada tahun-tahun 1499–1504. Antara tahun 1502 dan 1504, dua teks yang menggambarkan ekspedisi-ekspedisi tersebut diterbitkan di Eropa. Keduanya dikaitkan dengan Vespucci. Teks-teks itu menyatakan bahwa wilayah-wilayah baru yang ditemukan oleh Columbus bukanlah pulau-pulau di lepas pantai Asia Timur, melainkan sebuah benua yang sama sekali tidak dikenal oleh Kitab Suci, para ahli geografi klasik, maupun orang-orang Eropa pada masa itu. Pada tahun 1507, setelah diyakinkan oleh argumen tersebut, seorang pembuat peta terkemuka bernama Martin Waldseemüller menerbitkan peta dunia yang diperbarui—yang pertama menampilkan tempat pendaratan armada Eropa yang berlayar ke arah barat sebagai sebuah benua tersendiri. Setelah menggambarnya, Waldseemüller harus memberinya sebuah nama. Karena secara keliru mengira bahwa Amerigo Vespucci-lah yang menemukannya, Waldseemüller menamai benua itu untuk menghormatinya—Amerika. Peta Waldseemüller menjadi sangat populer dan disalin oleh banyak kartografer lain, sehingga nama yang ia berikan bagi daratan baru itu menyebar luas. Ada semacam keadilan puitis dalam kenyataan bahwa seperempat dunia, dan dua dari tujuh benuanya, dinamai menurut seorang Italia yang tidak begitu dikenal, yang satu-satunya klaim ketenarannya adalah keberaniannya mengatakan, “Kita tidak tahu.”

Penemuan Amerika merupakan peristiwa fundamental bagi Revolusi Ilmiah. Peristiwa ini bukan saja mengajarkan orang Eropa untuk lebih mengutamakan pengamatan masa kini daripada tradisi masa lampau, tetapi juga—karena dorongan untuk menaklukkan Amerika—memaksa mereka mencari pengetahuan baru dengan kecepatan yang luar biasa. Jika mereka benar-benar ingin menguasai wilayah-wilayah baru yang begitu luas itu, mereka harus mengumpulkan sejumlah besar data baru mengenai geografi, iklim, flora, fauna, bahasa, kebudayaan, dan sejarah benua tersebut. Kitab Suci Kristen, buku-buku geografi lama, serta tradisi lisan kuno tidak banyak membantu.

Sejak saat itu bukan hanya para ahli geografi Eropa, tetapi juga para sarjana Eropa di hampir semua bidang pengetahuan mulai menggambar peta dengan ruang-ruang kosong yang harus diisi. Mereka mulai mengakui bahwa teori-teori mereka tidaklah sempurna dan bahwa ada banyak hal penting yang belum mereka ketahui.

Orang Eropa tertarik pada ruang-ruang kosong di peta seakan-akan ruang itu adalah magnet, dan mereka segera mulai mengisinya. Selama abad kelima belas dan keenam belas, ekspedisi-ekspedisi Eropa mengitari Afrika, menjelajahi Amerika, menyeberangi Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta membangun jaringan pangkalan dan koloni di seluruh dunia. Mereka mendirikan kekaisaran global pertama yang sejati dan merajut jaringan perdagangan global pertama. Ekspedisi-ekspedisi imperial Eropa itu mengubah sejarah dunia: dari rangkaian sejarah masyarakat dan kebudayaan yang terpisah-pisah, sejarah manusia berubah menjadi sejarah satu masyarakat manusia yang terpadu.

Peta Dunia Salviati, 1525. Sementara peta dunia tahun 1459 dipenuhi oleh benua, pulau, dan berbagai penjelasan terperinci, peta Salviati sebagian besar kosong. Mata mengikuti garis pantai Amerika ke arah selatan hingga akhirnya menghilang ke dalam kekosongan. Siapa pun yang memandang peta itu dan memiliki sedikit saja rasa ingin tahu akan terdorong untuk bertanya, “Apa yang ada setelah titik ini?” Peta tersebut tidak memberikan jawaban. Ia mengundang pengamatnya untuk berlayar dan mencari tahu sendiri.

Ekspedisi eksplorasi dan penaklukan Eropa ini begitu akrab bagi kita sehingga kita cenderung mengabaikan betapa luar biasanya peristiwa-peristiwa tersebut. Tidak pernah ada hal serupa sebelumnya. Kampanye penaklukan jarak jauh bukanlah sesuatu yang alami. Sepanjang sejarah, sebagian besar masyarakat manusia begitu sibuk dengan konflik lokal dan pertikaian dengan tetangga terdekat sehingga mereka tidak pernah mempertimbangkan untuk menjelajahi dan menaklukkan negeri-negeri yang jauh. Sebagian besar kekaisaran besar memperluas kendalinya hanya atas wilayah di sekitar mereka—mereka mencapai daerah-daerah yang jauh hanya karena lingkungan terdekat mereka terus meluas.

Demikianlah bangsa Romawi menaklukkan Etruria untuk mempertahankan Roma (sekitar 350–300 SM). Mereka kemudian menaklukkan Lembah Po untuk mempertahankan Etruria (sekitar 200 SM). Setelah itu mereka menaklukkan Provence untuk mempertahankan Lembah Po (sekitar 120 SM), Galia untuk mempertahankan Provence (sekitar 50 SM), dan Britania untuk mempertahankan Galia (sekitar tahun 50 M). Mereka membutuhkan waktu 400 tahun untuk mencapai dari Roma ke London. Pada tahun 350 SM, tidak ada orang Romawi yang membayangkan berlayar langsung ke Britania dan menaklukkannya.

Sesekali seorang penguasa atau petualang yang ambisius memang melancarkan kampanye penaklukan jarak jauh, tetapi kampanye semacam itu biasanya mengikuti jalur-jalur kekaisaran atau perdagangan yang sudah lama dilalui. Kampanye Aleksander Agung, misalnya, tidak menghasilkan pendirian sebuah kekaisaran baru, melainkan perebutan kekuasaan atas kekaisaran yang sudah ada—yaitu Kekaisaran Persia. Preseden yang paling mendekati kekaisaran Eropa modern adalah kekaisaran maritim kuno Athena dan Kartago, serta kekaisaran maritim Majapahit pada abad pertengahan, yang menguasai sebagian besar wilayah Indonesia pada abad keempat belas. Namun bahkan kekaisaran-kekaisaran ini jarang menjelajah ke laut yang benar-benar tidak dikenal—eksploitasi maritim mereka tetap bersifat lokal jika dibandingkan dengan usaha global bangsa Eropa modern.

Banyak sarjana berpendapat bahwa pelayaran Laksamana Zheng He dari Dinasti Ming di Tiongkok mendahului bahkan melampaui pelayaran penemuan bangsa Eropa. Antara tahun 1405 dan 1433, Zheng He memimpin tujuh armada besar dari Tiongkok hingga ke penjuru jauh Samudra Hindia. Armada terbesar terdiri dari hampir 300 kapal dan membawa hampir 30.000 orang. Mereka mengunjungi Indonesia, Sri Lanka, India, Teluk Persia, Laut Merah, dan Afrika Timur. Kapal-kapal Tiongkok berlabuh di Jedda, pelabuhan utama wilayah Hejaz, dan di Malindi di pantai Kenya. Armada Columbus pada tahun 1492—yang hanya terdiri dari tiga kapal kecil dengan 120 awak—ibarat tiga nyamuk dibandingkan dengan kawanan naga milik Zheng He.

Namun ada perbedaan yang sangat penting. Zheng He menjelajahi samudra dan membantu para penguasa yang pro-Tiongkok, tetapi ia tidak berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang ia kunjungi. Selain itu, ekspedisi Zheng He tidak berakar kuat dalam politik dan kebudayaan Tiongkok. Ketika faksi yang berkuasa di Beijing berubah pada tahun 1430-an, para penguasa baru secara tiba-tiba menghentikan operasi tersebut. Armada besar itu dibongkar, pengetahuan teknis dan geografis yang penting hilang, dan tidak ada lagi penjelajah dengan kedudukan dan sumber daya sebesar itu yang berangkat dari pelabuhan Tiongkok. Para penguasa Tiongkok pada abad-abad berikutnya, seperti kebanyakan penguasa Tiongkok sebelumnya, membatasi kepentingan dan ambisi mereka pada wilayah sekitar Negeri Tengah.

Ekspedisi Zheng He membuktikan bahwa Eropa tidak memiliki keunggulan teknologi yang luar biasa. Yang membuat orang Eropa istimewa adalah ambisi mereka yang tak tertandingi dan tak pernah terpuaskan untuk menjelajah dan menaklukkan. Meskipun mungkin memiliki kemampuan untuk melakukannya, bangsa Romawi tidak pernah mencoba menaklukkan India atau Skandinavia, bangsa Persia tidak pernah mencoba menaklukkan Madagaskar atau Spanyol, dan bangsa Tiongkok tidak pernah mencoba menaklukkan Indonesia atau Afrika. Sebagian besar penguasa Tiongkok bahkan membiarkan Jepang yang berada di dekatnya berjalan dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang aneh dengan hal itu. Yang justru aneh adalah bahwa orang Eropa pada awal zaman modern seolah terserang demam yang mendorong mereka berlayar ke negeri-negeri yang jauh dan sama sekali tidak dikenal, yang dipenuhi budaya asing, lalu setelah menjejakkan kaki di pantainya segera menyatakan, “Aku mengklaim seluruh wilayah ini untuk rajaku!”

Invasi dari Luar Angkasa

Sekitar tahun 1517, para kolonis Spanyol di kepulauan Karibia mulai mendengar desas-desus samar tentang sebuah kekaisaran kuat di suatu tempat di tengah daratan Meksiko. Hanya empat tahun kemudian, ibu kota Aztek telah menjadi puing-puing yang masih mengepul, Kekaisaran Aztek tinggal kenangan, dan Hernán Cortés berkuasa atas sebuah Kekaisaran Spanyol baru yang luas di Meksiko.

Orang-orang Spanyol tidak berhenti untuk memberi selamat kepada diri mereka sendiri, bahkan tidak sempat menarik napas. Mereka segera memulai operasi eksplorasi dan penaklukan ke segala arah. Para penguasa sebelumnya di Amerika Tengah—bangsa Aztek, Toltek, dan Maya—hampir tidak mengetahui keberadaan Amerika Selatan, dan selama 2.000 tahun tidak pernah berusaha menaklukkannya. Namun hanya sedikit lebih dari sepuluh tahun setelah penaklukan Spanyol atas Meksiko, Francisco Pizarro telah menemukan Kekaisaran Inka di Amerika Selatan dan menaklukkannya pada tahun 1532.

Seandainya bangsa Aztek dan Inka menunjukkan sedikit saja minat terhadap dunia di sekitar mereka—dan mengetahui apa yang telah dilakukan orang Spanyol terhadap tetangga mereka—mungkin mereka akan melawan penaklukan Spanyol dengan lebih gigih dan lebih berhasil. Dalam tahun-tahun antara perjalanan pertama Christopher Columbus ke Amerika (1492) dan pendaratan Cortés di Meksiko (1519), orang Spanyol telah menaklukkan sebagian besar kepulauan Karibia dan mendirikan rangkaian koloni baru. Bagi penduduk asli yang ditaklukkan, koloni-koloni ini adalah neraka di bumi. Mereka diperintah dengan tangan besi oleh para kolonis yang serakah dan tidak bermoral, yang memperbudak mereka dan memaksa mereka bekerja di tambang dan perkebunan, serta membunuh siapa pun yang memberikan perlawanan sekecil apa pun. Sebagian besar penduduk asli segera meninggal, baik karena kondisi kerja yang keras maupun karena penyakit-penyakit mematikan yang ikut menumpang ke Amerika bersama kapal-kapal penakluk. Dalam waktu dua puluh tahun, hampir seluruh penduduk asli Karibia telah musnah. Para kolonis Spanyol kemudian mulai mengimpor budak Afrika untuk mengisi kekosongan tersebut.

Genosida ini terjadi tepat di depan pintu Kekaisaran Aztek, namun ketika Cortés mendarat di pantai timur kekaisaran itu, bangsa Aztek tidak mengetahui apa pun tentangnya. Kedatangan orang Spanyol bagi mereka setara dengan invasi makhluk asing dari luar angkasa. Bangsa Aztek yakin bahwa mereka mengenal seluruh dunia dan bahwa mereka menguasai sebagian besarnya. Bagi mereka tidak terbayangkan bahwa di luar wilayah kekuasaan mereka dapat ada sesuatu seperti orang-orang Spanyol ini. Ketika Cortés dan anak buahnya mendarat di pantai cerah yang kini dikenal sebagai Vera Cruz, untuk pertama kalinya bangsa Aztek bertemu dengan suatu bangsa yang sepenuhnya asing.

Bangsa Aztek tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Mereka kesulitan menentukan makhluk macam apa para pendatang ini. Tidak seperti semua manusia yang mereka kenal, para “alien” itu berkulit putih. Mereka juga memiliki banyak rambut di wajah. Sebagian bahkan berambut sewarna matahari. Mereka juga berbau sangat menyengat. (Kebersihan penduduk asli jauh lebih baik daripada kebersihan orang Spanyol. Ketika orang Spanyol pertama kali tiba di Meksiko, penduduk asli yang membawa pembakar dupa ditugaskan untuk menemani mereka ke mana pun mereka pergi. Orang Spanyol mengira itu merupakan tanda penghormatan ilahi. Dari sumber-sumber penduduk asli kita mengetahui bahwa sebenarnya mereka tidak tahan dengan bau para pendatang itu.)

Kebudayaan material para “alien” itu bahkan lebih membingungkan. Mereka datang dengan kapal-kapal raksasa yang belum pernah dibayangkan oleh bangsa Aztek, apalagi dilihat. Mereka menunggangi hewan-hewan besar yang menakutkan dan berlari secepat angin. Mereka dapat menghasilkan kilat dan guntur dari tongkat logam yang berkilau. Mereka memiliki pedang panjang berkilat dan baju zirah yang tak tertembus, yang membuat pedang kayu dan tombak batu milik penduduk asli tidak berguna.

Sebagian orang Aztek mengira mereka adalah dewa. Yang lain berpendapat bahwa mereka adalah iblis, roh orang mati, atau penyihir yang sangat kuat. Alih-alih memusatkan seluruh kekuatan yang ada untuk memusnahkan orang Spanyol, bangsa Aztek justru berunding, menunda-nunda, dan bernegosiasi. Mereka tidak melihat alasan untuk terburu-buru. Lagi pula Cortés hanya membawa sekitar 550 orang Spanyol. Apa yang dapat dilakukan 550 orang terhadap sebuah kekaisaran yang berpenduduk jutaan?

Cortés sama tidak tahunya tentang bangsa Aztek, tetapi ia dan anak buahnya memiliki beberapa keunggulan penting. Sementara bangsa Aztek tidak memiliki pengalaman apa pun untuk mempersiapkan kedatangan para “alien” berwajah aneh dan berbau busuk ini, orang Spanyol mengetahui bahwa bumi dipenuhi kerajaan-kerajaan manusia yang belum dikenal, dan tidak ada yang lebih berpengalaman daripada mereka dalam menyerbu negeri asing serta menghadapi situasi yang sepenuhnya tidak mereka pahami. Bagi penakluk Eropa modern—seperti juga bagi ilmuwan Eropa modern—terjun ke dalam yang tidak diketahui justru terasa menggairahkan.

Karena itu ketika Cortés berlabuh di pantai cerah itu pada Juli 1519, ia tidak ragu untuk bertindak. Seperti makhluk asing dalam cerita fiksi ilmiah yang keluar dari pesawat ruang angkasanya, ia menyatakan kepada penduduk lokal yang tertegun:

“Kami datang dengan damai. Bawa kami kepada pemimpin kalian.”

Cortés menjelaskan bahwa ia adalah utusan damai dari raja besar Spanyol dan meminta pertemuan diplomatik dengan penguasa Aztek, Montezuma II. (Ini adalah kebohongan yang sangat terang-terangan. Cortés memimpin ekspedisi independen para petualang yang serakah. Raja Spanyol bahkan belum pernah mendengar tentang Cortés, apalagi tentang bangsa Aztek.) Cortés diberi pemandu, makanan, dan bahkan bantuan militer oleh musuh-musuh lokal bangsa Aztek. Ia kemudian bergerak menuju ibu kota Aztek, metropolis besar Tenochtitlan.

Bangsa Aztek membiarkan para “alien” itu berjalan sampai ke ibu kota, lalu dengan hormat mengantar pemimpin mereka untuk bertemu Kaisar Montezuma. Di tengah pertemuan itu, Cortés memberi isyarat, dan orang-orang Spanyol bersenjata baja membantai para pengawal Montezuma (yang hanya bersenjatakan tongkat kayu dan bilah batu). Tamu yang dihormati itu kemudian menjadikan tuan rumahnya sebagai tawanan.

Cortés kini berada dalam situasi yang sangat genting. Ia telah menangkap sang kaisar, tetapi dikelilingi oleh puluhan ribu prajurit musuh yang marah, jutaan penduduk sipil yang bermusuhan, dan seluruh benua yang hampir tidak ia ketahui sama sekali. Ia hanya memiliki beberapa ratus orang Spanyol, sementara bala bantuan Spanyol terdekat berada di Kuba, lebih dari 1.500 kilometer jauhnya.

Cortés menahan Montezuma di istana, namun membuatnya seolah-olah sang kaisar tetap bebas dan berkuasa, seakan-akan “duta besar Spanyol” itu hanyalah seorang tamu. Kekaisaran Aztek adalah negara yang sangat terpusat, dan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuatnya lumpuh. Montezuma terus bertindak seolah-olah ia masih memerintah kekaisaran, dan elite Aztek tetap mematuhinya—yang berarti mereka sebenarnya mematuhi Cortés.

Situasi ini berlangsung selama beberapa bulan. Selama waktu itu Cortés menginterogasi Montezuma dan para pengiringnya, melatih para penerjemah dalam berbagai bahasa lokal, serta mengirim ekspedisi kecil Spanyol ke berbagai arah untuk mempelajari lebih jauh Kekaisaran Aztek serta berbagai suku, bangsa, dan kota yang berada di bawah kekuasaannya.

Akhirnya elite Aztek memberontak terhadap Cortés dan Montezuma, memilih kaisar baru, dan mengusir orang-orang Spanyol dari Tenochtitlan. Namun saat itu banyak retakan telah muncul dalam bangunan kekaisaran. Cortés memanfaatkan pengetahuan yang telah ia peroleh untuk memperlebar retakan tersebut dan memecah kekaisaran dari dalam. Ia meyakinkan banyak bangsa yang berada di bawah kekuasaan Aztek untuk bergabung dengannya melawan elite penguasa Aztek.

Bangsa-bangsa taklukan itu melakukan kesalahan besar dalam perhitungan mereka. Mereka membenci bangsa Aztek, tetapi tidak mengetahui apa pun tentang Spanyol atau genosida di Karibia. Mereka mengira dengan bantuan Spanyol mereka dapat melepaskan diri dari penindasan Aztek. Mereka bahkan tidak pernah membayangkan bahwa Spanyol akan mengambil alih kekuasaan. Mereka yakin jika Cortés dan beberapa ratus anak buahnya menimbulkan masalah, mereka bisa dengan mudah dihancurkan.

Bangsa-bangsa pemberontak itu memberi Cortés pasukan puluhan ribu tentara lokal. Dengan bantuan mereka, Cortés mengepung Tenochtitlan dan menaklukkan kota tersebut.

Pada tahap ini semakin banyak tentara dan pemukim Spanyol berdatangan ke Meksiko, sebagian dari Kuba, sebagian lagi langsung dari Spanyol. Ketika penduduk lokal menyadari apa yang sebenarnya terjadi, semuanya sudah terlambat. Dalam waktu satu abad setelah pendaratan di Vera Cruz, populasi penduduk asli Amerika menyusut sekitar 90 persen, terutama akibat penyakit-penyakit asing yang dibawa oleh para penyerbu. Para penyintas mendapati diri mereka berada di bawah kekuasaan rezim yang rakus dan rasis, yang bahkan lebih buruk daripada pemerintahan Aztek.

Sepuluh tahun setelah Cortés mendarat di Meksiko, Pizarro tiba di pantai Kekaisaran Inka. Ia membawa jauh lebih sedikit prajurit daripada Cortés—ekspedisinya hanya berjumlah 168 orang. Namun Pizarro memperoleh keuntungan dari semua pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dalam invasi-invasi sebelumnya. Sebaliknya, bangsa Inka tidak mengetahui apa pun tentang nasib bangsa Aztek.

Pizarro meniru strategi Cortés. Ia menyatakan dirinya sebagai utusan damai raja Spanyol, mengundang penguasa Inka Atahualpa untuk pertemuan diplomatik, lalu menculiknya. Setelah itu Pizarro menaklukkan kekaisaran yang telah lumpuh itu dengan bantuan sekutu-sekutu lokal.

Seandainya bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Inka mengetahui nasib penduduk Meksiko, mereka tidak akan berpihak kepada para penyerbu. Tetapi mereka tidak mengetahuinya.

Penduduk asli Amerika bukan satu-satunya yang harus membayar harga mahal karena pandangan mereka yang sempit. Kekaisaran-kekaisaran besar Asia—Ottoman, Safawi, Mughal, dan Tiongkok—dengan cepat mendengar bahwa orang Eropa telah menemukan sesuatu yang besar. Namun mereka menunjukkan sedikit sekali minat terhadap penemuan tersebut. Mereka tetap percaya bahwa dunia berpusat pada Asia, dan tidak berusaha bersaing dengan bangsa Eropa untuk menguasai Amerika atau jalur-jalur laut baru di Samudra Atlantik dan Pasifik. Bahkan kerajaan-kerajaan Eropa yang kecil seperti Skotlandia dan Denmark mengirim beberapa ekspedisi eksplorasi dan penaklukan ke Amerika, tetapi tidak satu pun ekspedisi eksplorasi atau penaklukan pernah dikirim ke Amerika dari dunia Islam, India, atau Tiongkok.

Kekuatan non-Eropa pertama yang mencoba mengirim ekspedisi militer ke Amerika adalah Jepang. Hal itu terjadi pada Juni 1942, ketika sebuah ekspedisi Jepang menaklukkan Kiska dan Attu, dua pulau kecil di lepas pantai Alaska, dan dalam prosesnya menangkap sepuluh tentara Amerika Serikat serta seekor anjing. Orang Jepang tidak pernah berhasil mendekati daratan utama.

Sulit untuk berpendapat bahwa bangsa Ottoman atau Tiongkok terlalu jauh, atau bahwa mereka kekurangan kemampuan teknologi, ekonomi, atau militer. Sumber daya yang memungkinkan Zheng He berlayar dari Tiongkok ke Afrika Timur pada tahun 1420-an seharusnya cukup untuk mencapai Amerika. Orang Tiongkok hanya tidak tertarik. Peta dunia Tiongkok pertama yang menunjukkan Amerika baru diterbitkan pada tahun 1602—dan itu pun oleh seorang misionaris Eropa.

Selama 300 tahun, bangsa Eropa menikmati penguasaan yang tak terbantahkan atas Amerika dan Oseania, serta atas Samudra Atlantik dan Pasifik. Satu-satunya konflik besar di wilayah-wilayah itu hanyalah persaingan antar kekuatan Eropa sendiri. Kekayaan dan sumber daya yang dikumpulkan bangsa Eropa pada akhirnya memungkinkan mereka menyerbu Asia, mengalahkan kekaisaran-kekaisarannya, dan membaginya di antara mereka sendiri. Ketika bangsa Ottoman, Persia, India, dan Tiongkok akhirnya sadar dan mulai memperhatikan, semuanya sudah terlambat.

Baru pada abad kedua puluh kebudayaan non-Eropa mengadopsi visi yang benar-benar global. Ini merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan runtuhnya hegemoni Eropa. Dalam Perang Kemerdekaan Aljazair (1954–1962), misalnya, gerilyawan Aljazair berhasil mengalahkan tentara Prancis yang memiliki keunggulan besar dalam jumlah, teknologi, dan ekonomi. Orang Aljazair menang karena mereka didukung oleh jaringan antikolonial global dan karena mereka berhasil memanfaatkan media dunia untuk mendukung perjuangan mereka—serta memengaruhi opini publik di Prancis sendiri. Kekalahan yang diderita raksasa Amerika Serikat di tangan Vietnam Utara juga didasarkan pada strategi serupa. Pasukan gerilya ini menunjukkan bahwa bahkan negara adidaya pun dapat dikalahkan jika sebuah perjuangan lokal berubah menjadi isu global.

Menarik untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi jika Montezuma mampu memanipulasi opini publik di Spanyol dan memperoleh bantuan dari salah satu rival Spanyol—Portugal, Prancis, atau Kekaisaran Ottoman.

Laba-laba Langka dan Aksara yang Terlupakan

Sains modern dan kekaisaran modern sama-sama didorong oleh perasaan gelisah bahwa mungkin ada sesuatu yang penting di balik cakrawala—sesuatu yang harus dijelajahi dan dikuasai. Namun hubungan antara sains dan kekaisaran jauh lebih dalam dari sekadar motivasi. Bukan hanya dorongan mereka, tetapi juga praktik para pembangun kekaisaran terjalin erat dengan praktik para ilmuwan. Bagi orang Eropa modern, membangun kekaisaran merupakan proyek ilmiah, sementara membangun suatu disiplin ilmu merupakan proyek imperial.

Ketika kaum Muslim menaklukkan India, mereka tidak membawa para arkeolog untuk secara sistematis mempelajari sejarah India, para antropolog untuk mempelajari kebudayaan India, para ahli geologi untuk mempelajari tanah India, atau para ahli zoologi untuk mempelajari fauna India. Ketika bangsa Inggris menaklukkan India, mereka melakukan semua hal tersebut.

Pada 10 April 1802, diluncurkan proyek Great Survey of India. Proyek ini berlangsung selama enam puluh tahun. Dengan bantuan puluhan ribu pekerja, sarjana, dan pemandu lokal, bangsa Inggris memetakan seluruh wilayah India dengan sangat teliti—menandai batas-batas wilayah, mengukur jarak, bahkan untuk pertama kalinya menghitung secara tepat ketinggian Gunung Everest dan puncak-puncak Himalaya lainnya. Bangsa Inggris meneliti sumber daya militer provinsi-provinsi India dan lokasi tambang emasnya, tetapi mereka juga meluangkan waktu untuk mengumpulkan informasi tentang laba-laba India yang langka, mengatalogkan kupu-kupu berwarna-warni, menelusuri asal-usul kuno bahasa-bahasa India yang telah punah, serta menggali reruntuhan yang telah lama terlupakan.

Mohenjo-daro merupakan salah satu kota utama peradaban Lembah Indus, yang berkembang pada milenium ketiga SM dan hancur sekitar tahun 1900 SM. Tidak satu pun penguasa India sebelum masa Inggris—baik dinasti Maurya, Gupta, para sultan Delhi, maupun para penguasa Mughal—memberi perhatian khusus pada reruntuhan tersebut. Namun sebuah survei arkeologi Inggris memperhatikan lokasi itu pada tahun 1922. Sebuah tim Inggris kemudian menggali situs tersebut dan menemukan peradaban besar pertama India—yang sebelumnya tidak disadari oleh orang India sendiri.

Contoh lain yang mencolok dari rasa ingin tahu ilmiah Inggris adalah keberhasilan menguraikan aksara paku (cuneiform). Aksara ini merupakan sistem tulisan utama di Timur Tengah selama hampir 3.000 tahun, tetapi orang terakhir yang mampu membacanya kemungkinan meninggal pada awal milenium pertama Masehi. Sejak saat itu, penduduk wilayah tersebut sering menemukan prasasti aksara paku pada monumen, tugu, reruntuhan kuno, dan pecahan tembikar. Namun mereka tidak tahu cara membacanya dan, sejauh yang kita ketahui, tidak pernah mencoba menguraikannya.

Aksara paku menarik perhatian orang Eropa pada tahun 1618, ketika duta besar Spanyol di Persia mengunjungi reruntuhan kota kuno Persepolis, di mana ia melihat prasasti-prasasti yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun kepadanya. Berita tentang tulisan yang tidak dikenal ini menyebar di kalangan sarjana Eropa dan membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Pada tahun 1657, para sarjana Eropa menerbitkan transkripsi pertama dari teks aksara paku di Persepolis. Semakin banyak transkripsi kemudian dibuat, dan selama hampir dua abad para sarjana Barat berusaha menguraikannya—namun tidak berhasil.

Pada tahun 1830-an, seorang perwira Inggris bernama Henry Rawlinson dikirim ke Persia untuk membantu shah melatih tentaranya dengan gaya militer Eropa. Pada waktu senggangnya, Rawlinson menjelajahi Persia, dan suatu hari pemandu lokal membawanya ke sebuah tebing di Pegunungan Zagros dan menunjukkan kepadanya Prasasti Behistun yang sangat besar. Tingginya sekitar lima belas meter dan lebarnya dua puluh lima meter, dan dipahat tinggi di dinding tebing atas perintah Raja Darius I sekitar tahun 500 SM. Prasasti itu ditulis dengan aksara paku dalam tiga bahasa: Persia Kuno, Elam, dan Babilonia. Prasasti ini dikenal oleh penduduk setempat, tetapi tidak seorang pun mampu membacanya.

Rawlinson yakin bahwa jika ia dapat menguraikan tulisan tersebut, ia dan para sarjana lain akan mampu membaca banyak prasasti dan teks yang saat itu sedang ditemukan di seluruh Timur Tengah, sehingga membuka pintu menuju dunia kuno yang telah lama terlupakan.

Langkah pertama untuk menguraikan tulisan itu adalah membuat salinan yang akurat agar dapat dikirim ke Eropa. Rawlinson mempertaruhkan nyawanya untuk melakukannya, memanjat tebing curam itu untuk menyalin huruf-huruf aneh tersebut. Ia menyewa beberapa penduduk lokal untuk membantunya, terutama seorang anak laki-laki Kurdi yang memanjat bagian tebing yang paling sulit dijangkau untuk menyalin bagian atas prasasti. Pada tahun 1847 proyek tersebut selesai, dan salinan lengkap serta akurat dikirim ke Eropa.

Rawlinson tidak berhenti sampai di situ. Sebagai seorang perwira militer ia memiliki berbagai tugas militer dan politik, tetapi setiap kali memiliki waktu luang ia terus memikirkan teka-teki tulisan rahasia itu. Ia mencoba berbagai metode dan akhirnya berhasil menguraikan bagian Persia Kuno dari prasasti tersebut. Bagian ini paling mudah, karena bahasa Persia Kuno tidak terlalu berbeda dari bahasa Persia modern yang telah ia kuasai. Pemahaman terhadap bagian Persia Kuno memberinya kunci untuk membuka rahasia bagian Elam dan Babilonia.

Pintu besar itu pun terbuka, dan dari dalamnya mengalir kembali suara-suara kuno yang hidup—keramaian pasar Sumeria, pengumuman para raja Asyur, serta perdebatan para birokrat Babilonia. Tanpa upaya para imperialis Eropa modern seperti Rawlinson, kita mungkin tidak akan mengetahui banyak hal tentang nasib kekaisaran-kekaisaran kuno di Timur Tengah.

Tokoh sarjana imperialis lain yang terkenal adalah William Jones. Jones tiba di India pada September 1783 untuk bertugas sebagai hakim di Mahkamah Agung Bengal. Ia begitu terpesona oleh keajaiban India sehingga dalam waktu kurang dari enam bulan setelah kedatangannya ia telah mendirikan Asiatic Society. Organisasi akademik ini didedikasikan untuk mempelajari kebudayaan, sejarah, dan masyarakat Asia, khususnya India. Dalam waktu dua tahun Jones menerbitkan pengamatannya mengenai bahasa Sanskerta, yang menjadi pelopor ilmu linguistik komparatif.

Dalam publikasi-publikasinya, Jones menunjukkan kemiripan mengejutkan antara Sanskerta—bahasa India kuno yang kemudian menjadi bahasa suci dalam ritual Hindu—dengan bahasa Yunani dan Latin, serta kesamaan antara semua bahasa tersebut dengan bahasa Gotik, Keltik, Persia Kuno, Jerman, Prancis, dan Inggris. Misalnya, dalam Sanskerta kata “ibu” adalah matar, dalam Latin mater, dan dalam bahasa Keltik Kuno mathir. Jones menyimpulkan bahwa semua bahasa ini pasti memiliki asal-usul yang sama, berkembang dari satu nenek moyang bahasa kuno yang kini telah terlupakan. Dengan demikian ia menjadi orang pertama yang mengidentifikasi apa yang kemudian dikenal sebagai keluarga bahasa Indo-Eropa.

Penelitian Jones merupakan tonggak penting bukan hanya karena hipotesisnya yang berani (dan ternyata benar), tetapi juga karena metodologi sistematis yang ia kembangkan untuk membandingkan bahasa. Metode ini kemudian diadopsi oleh para sarjana lain sehingga memungkinkan mereka mempelajari perkembangan bahasa-bahasa di seluruh dunia secara sistematis.

Ilmu linguistik memperoleh dukungan besar dari kekaisaran. Kekaisaran Eropa percaya bahwa untuk memerintah secara efektif mereka harus memahami bahasa dan kebudayaan rakyat yang mereka kuasai. Para perwira Inggris yang tiba di India diwajibkan menghabiskan hingga tiga tahun belajar di sebuah perguruan tinggi di Kalkuta, di mana mereka mempelajari hukum Hindu dan Muslim di samping hukum Inggris; bahasa Sanskerta, Urdu, dan Persia di samping Yunani dan Latin; serta kebudayaan Tamil, Bengali, dan Hindustani bersama matematika, ekonomi, dan geografi. Studi linguistik sangat membantu dalam memahami struktur dan tata bahasa lokal.

Berkat karya tokoh-tokoh seperti William Jones dan Henry Rawlinson, para penakluk Eropa mengenal wilayah kekaisaran mereka dengan sangat baik—bahkan jauh lebih baik daripada para penakluk sebelumnya, atau bahkan penduduk asli sendiri. Pengetahuan superior ini memberikan keuntungan praktis yang jelas. Tanpa pengetahuan tersebut, sangat kecil kemungkinan sejumlah kecil orang Inggris dapat memerintah, menindas, dan mengeksploitasi ratusan juta orang India selama dua abad. Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, kurang dari 5.000 pejabat Inggris, sekitar 40.000–70.000 tentara Inggris, serta mungkin sekitar 100.000 pengusaha, pengikut, istri, dan anak-anak Inggris sudah cukup untuk menaklukkan dan memerintah hingga 300 juta penduduk India.

Namun keuntungan praktis bukanlah satu-satunya alasan mengapa kekaisaran membiayai penelitian linguistik, botani, geografi, dan sejarah. Yang tidak kalah penting adalah bahwa sains memberikan pembenaran ideologis bagi kekaisaran. Orang Eropa modern mulai percaya bahwa memperoleh pengetahuan baru selalu merupakan hal yang baik. Fakta bahwa kekaisaran menghasilkan aliran pengetahuan baru secara terus-menerus membuatnya tampak sebagai proyek yang progresif dan positif. Bahkan hingga sekarang, sejarah ilmu pengetahuan seperti geografi, arkeologi, dan botani hampir tidak bisa menghindari pemberian penghargaan—setidaknya secara tidak langsung—kepada kekaisaran Eropa. Sejarah botani, misalnya, jarang membahas penderitaan penduduk asli Australia, tetapi biasanya tetap memuji tokoh-tokoh seperti James Cook dan Joseph Banks.

Selain itu, pengetahuan baru yang dikumpulkan oleh kekaisaran secara teoritis memungkinkan mereka memberi manfaat kepada masyarakat yang ditaklukkan dan membawa “kemajuan” bagi mereka—menyediakan obat-obatan dan pendidikan, membangun jalur kereta api dan kanal, serta menjamin keadilan dan kemakmuran. Para imperialis mengklaim bahwa kekaisaran mereka bukanlah proyek eksploitasi besar-besaran, melainkan proyek altruistik demi kepentingan ras-ras non-Eropa—dalam kata-kata Rudyard Kipling, “Beban Orang Kulit Putih” (The White Man’s Burden).

Namun kenyataannya sering kali bertentangan dengan mitos tersebut. Inggris menaklukkan Bengal—provinsi terkaya di India—pada tahun 1764. Para penguasa baru hampir tidak tertarik pada apa pun selain memperkaya diri sendiri. Mereka menerapkan kebijakan ekonomi yang buruk yang beberapa tahun kemudian memicu Great Bengal Famine. Bencana itu dimulai pada 1769, mencapai puncak kehancuran pada 1770, dan berlangsung hingga 1773. Sekitar 10 juta orang Bengal—sepertiga dari populasi provinsi tersebut—meninggal dunia.

Pada kenyataannya, baik narasi penindasan dan eksploitasi maupun narasi “Beban Orang Kulit Putih” tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Kekaisaran Eropa melakukan begitu banyak hal dalam skala yang sangat besar sehingga kita dapat menemukan banyak contoh untuk mendukung hampir setiap pandangan tentang mereka. Jika kita menganggap kekaisaran itu sebagai monster jahat yang menyebarkan kematian dan penindasan, kita dapat dengan mudah mengisi sebuah ensiklopedia dengan daftar kejahatan mereka. Namun jika kita ingin berargumen bahwa mereka memperbaiki kondisi rakyat jajahan melalui obat-obatan baru, kondisi ekonomi yang lebih baik, dan keamanan yang lebih besar, kita juga bisa mengisi ensiklopedia lain dengan pencapaian mereka.

Karena kerja sama erat mereka dengan sains, kekaisaran-kekaisaran ini memiliki kekuatan yang sangat besar dan mengubah dunia sedemikian rupa sehingga mungkin tidak bisa sekadar dilabeli baik atau jahat. Mereka menciptakan dunia seperti yang kita kenal sekarang—termasuk ideologi yang kita gunakan untuk menilai mereka.

Namun sains juga digunakan oleh kaum imperialis untuk tujuan yang lebih gelap. Para ahli biologi, antropolog, bahkan linguistik memberikan “bukti ilmiah” bahwa orang Eropa lebih unggul daripada semua ras lain, dan karena itu memiliki hak—bahkan mungkin kewajiban—untuk memerintah mereka.

Setelah William Jones berpendapat bahwa semua bahasa Indo-Eropa berasal dari satu bahasa kuno yang sama, banyak sarjana tertarik untuk mengetahui siapa penutur bahasa tersebut. Mereka memperhatikan bahwa penutur Sanskerta paling awal—yang menyerbu India dari Asia Tengah lebih dari 3.000 tahun lalu—menyebut diri mereka Arya. Penutur bahasa Persia kuno menyebut diri mereka Airiia. Para sarjana Eropa kemudian menyimpulkan bahwa bangsa yang menuturkan bahasa purba yang melahirkan Sanskerta dan Persia (serta Yunani, Latin, Gotik, dan Keltik) pasti menyebut diri mereka Arya atau Aryan. Mereka bertanya-tanya: mungkinkah kebetulan bahwa para pendiri peradaban besar India, Persia, Yunani, dan Romawi semuanya adalah Arya?

Selanjutnya para sarjana Inggris, Prancis, dan Jerman menggabungkan teori linguistik tentang bangsa Arya dengan teori Charles Darwin tentang seleksi alam, lalu menyatakan bahwa bangsa Arya bukan sekadar kelompok bahasa melainkan juga entitas biologis—sebuah ras. Dan bukan sembarang ras, melainkan ras unggul: manusia tinggi, berambut terang, bermata biru, rajin bekerja, dan sangat rasional, yang muncul dari kabut wilayah utara untuk meletakkan dasar kebudayaan dunia.

Sayangnya—menurut teori tersebut—bangsa Arya yang menyerbu India dan Persia kemudian menikah dengan penduduk lokal, sehingga kehilangan kulit cerah dan rambut pirang mereka, sekaligus kehilangan rasionalitas dan ketekunan mereka. Akibatnya peradaban India dan Persia mengalami kemunduran. Di Eropa, sebaliknya, bangsa Arya dianggap berhasil mempertahankan kemurnian rasialnya. Inilah sebabnya orang Eropa mampu menaklukkan dunia dan dianggap layak memerintahnya—selama mereka berhati-hati agar tidak bercampur dengan ras yang dianggap lebih rendah.

Teori-teori rasialis semacam ini, yang selama beberapa dekade dianggap terhormat dan ilmiah, kini telah menjadi sesuatu yang sangat ditolak oleh ilmuwan maupun politisi. Orang-orang terus berjuang melawan rasisme tanpa menyadari bahwa medan pertempuran telah bergeser, dan bahwa posisi rasisme dalam ideologi imperial kini sering digantikan oleh sesuatu yang bisa disebut “kulturalisme.”

Istilah itu sebenarnya belum lazim, tetapi mungkin sudah saatnya digunakan. Di kalangan elit masa kini, pernyataan mengenai perbedaan antara berbagai kelompok manusia hampir selalu dijelaskan melalui perbedaan budaya dan sejarah, bukan lagi perbedaan biologis antar ras. Kita tidak lagi berkata, “Itu ada dalam darah mereka.”

Sebaliknya kita berkata, “Itu ada dalam budaya mereka.”

Dengan demikian, partai-partai sayap kanan Eropa yang menentang imigrasi Muslim biasanya berhati-hati untuk menghindari penggunaan terminologi rasial. Para penulis pidato Marine Le Pen kemungkinan besar akan langsung dipecat seandainya mereka menyarankan agar pemimpin Front National itu tampil di televisi dan menyatakan, “Kami tidak menginginkan orang-orang Semit yang inferior itu mencemari darah Arya kami dan merusak peradaban Arya kami.”

Sebaliknya, Front National di Prancis, Party for Freedom di Belanda, Alliance for the Future of Austria, dan partai-partai sejenis cenderung berargumen bahwa budaya Barat—sebagaimana berkembang di Eropa—ditandai oleh nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan kesetaraan gender. Sebaliknya, budaya Muslim yang berkembang di Timur Tengah dianggap ditandai oleh politik yang hierarkis, fanatisme, dan misogini. Karena kedua budaya tersebut sangat berbeda, dan karena banyak imigran Muslim tidak bersedia (dan mungkin juga tidak mampu) mengadopsi nilai-nilai Barat, mereka seharusnya tidak diizinkan masuk, agar tidak memicu konflik internal serta menggerogoti demokrasi dan liberalisme Eropa.

Argumen-argumen kulturalis semacam itu diperkuat oleh studi-studi ilmiah dalam bidang humaniora dan ilmu sosial yang menyoroti apa yang disebut sebagai “benturan peradaban” serta perbedaan mendasar antara berbagai kebudayaan. Tidak semua sejarawan dan antropolog menerima teori-teori tersebut atau mendukung penggunaannya dalam ranah politik. Namun sementara para ahli biologi saat ini relatif mudah menolak rasisme—cukup dengan menjelaskan bahwa perbedaan biologis antara populasi manusia masa kini sangat kecil—para sejarawan dan antropolog jauh lebih sulit menolak kulturalisme. Bagaimanapun juga, jika perbedaan antarbudaya manusia itu sepele, mengapa kita harus membayar para sejarawan dan antropolog untuk mempelajarinya?

Para ilmuwan telah menyediakan proyek imperial dengan pengetahuan praktis, pembenaran ideologis, serta berbagai perangkat teknologi. Tanpa kontribusi ini, sangat diragukan apakah orang Eropa dapat menaklukkan dunia. Sebagai balasannya, para penakluk memberikan para ilmuwan informasi dan perlindungan, mendukung berbagai proyek yang aneh sekaligus menarik, serta menyebarkan cara berpikir ilmiah ke pelosok-pelosok dunia. Tanpa dukungan imperium, diragukan apakah sains modern akan berkembang sejauh ini. Sangat sedikit disiplin ilmiah yang tidak memulai kehidupannya sebagai pelayan bagi pertumbuhan imperium, dan yang tidak berutang sebagian besar penemuan, koleksi, bangunan, serta beasiswanya pada bantuan murah hati para perwira militer, kapten angkatan laut, dan gubernur kolonial.

Tentu saja, ini bukan keseluruhan cerita. Ilmu pengetahuan juga didukung oleh lembaga-lembaga lain, bukan hanya oleh imperium. Dan imperium-imperium Eropa bangkit serta berkembang bukan hanya berkat sains. Di balik kebangkitan luar biasa baik sains maupun imperium terdapat satu kekuatan yang sangat penting: kapitalisme. Tanpa para pengusaha yang ingin mencari keuntungan, Christopher Columbus tidak akan mencapai Amerika, James Cook tidak akan mencapai Australia, dan Neil Armstrong tidak akan pernah mengambil langkah kecil itu di permukaan bulan.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment