[Buku Bahasa Indonesia] Essentials of Nerve Conduction

E) Studi Hantaran pada Wajah dan Bahu

Parameter Studi Hantaran Saraf Motorik Fasialis:
Hicut Filter: 10 kHz
Locut Filter: 10 Hz
Kecepatan sweep: 2–5 ms/div
Sensitivitas/Gain: 200–1000 µV/div

E-1) Saraf Motorik Fasialis Menggunakan Elektroda Disk

Perekaman: Otot nasalis (NS)
G1: Di atas otot NS, lateral terhadap lubang hidung
G2: Di atas kanthus lateral mata
G0: Dahi atau dagu

S1: Tepat anterior terhadap tragus

Nilai normal:
Latensi: ≤ 4,2 ms (termasuk perbandingan antar sisi)
Amplitudo: ≥ 1,0 mV (termasuk perbandingan antar sisi)

Gambar 53
Stimulasi motorik fasialis pada otot nasalis

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Gambar 54
CMAP fasialis dari otot nasalis dengan stimulasi tepat anterior terhadap tragus

Masalah 37: Kesulitan Menghilangkan Defleksi Positif pada Studi Saraf Motorik Fasialis

Solusi 37
• Pastikan wajah bersih dari minyak atau kosmetik. Minta pasien menutup mata sebelum membersihkan dengan alkohol.
• Elektroda G1 mungkin perlu digeser sedikit ke arah lateral atau medial setelah penempatan awal di atas otot untuk memperoleh respons tanpa defleksi positif awal.
• Coba tempatkan elektroda referensi G2 pada batang hidung atau sisi kontralateral wajah.
• Posisi elektroda G1 dan G2 mungkin perlu disesuaikan beberapa kali hingga diperoleh kombinasi yang menghasilkan respons berkualitas baik.
• Stimulasi dilakukan tepat anterior terhadap daun telinga.
• Tingkatkan intensitas secara bertahap untuk menghindari overstimulasi.
• Jika terlihat kedutan otot wajah pada intensitas tinggi dan latensi respons sangat dini, kemungkinan respons berasal dari stimulasi langsung otot. Hindari overstimulasi untuk mencegah hal ini.

Parameter Studi Hantaran Saraf Motorik Aksesorius Spinal:
Hicut Filter: 10 kHz
Locut Filter: 10 Hz
Kecepatan sweep: 2–5 ms/div
Sensitivitas/Gain: 2000–5000 µV/div
Durasi: 0,2 ms

E-2) Saraf Motorik Aksesorius Spinal Menggunakan Elektroda Bar
(Gambar 55 dan 56)

Perekaman: Otot trapezius (TRAP)
G1: Pada perut otot
G2: Pada prosesus akromion
G0: Pada klavikula di antara S1 dan G1

S1: Leher lateral

Nilai normal:
Latensi: perbandingan antar sisi
Amplitudo: perbandingan antar sisi

Gambar 55
CMAP saraf aksesorius spinal dengan stimulasi pada leher lateral

Gambar 56
Stimulasi motorik saraf aksesorius spinal menggunakan stimulator bar dan stimulator genggam
A: Stimulasi menggunakan stimulator bar
B: Stimulasi menggunakan stimulator genggam

Masalah 38: Kesulitan Mendapatkan Potensial Aksi Otot Majemuk (Compound Muscle Action Potential/CMAP) pada Saraf Aksesorius Spinal

Solusi 38
• Minta pasien mengangkat bahu ke arah telinga untuk mengidentifikasi perut otot trapezius, kemudian tempatkan elektroda G1 di atasnya.
• Elektroda G2 ditempatkan pada prosesus akromion (ujung bahu).
• Elektroda ground (G0) ditempatkan pada tulang klavikula.
• Jika saraf aksesorius sulit ditemukan, minta pasien menekan wajahnya ke tangan pemeriksa sebagai tahanan.
• Otot sternokleidomastoideus (SCM) akan lebih menonjol dengan manuver ini. Tempatkan stimulator tepat posterior terhadap SCM.
• Elektroda bar dapat digunakan untuk stimulasi dan ditempatkan dengan kuat tepat posterior terhadap otot sternokleidomastoideus.
• Minta pasien menjaga kepala dan leher tetap stabil agar elektroda tidak bergeser.
• Untuk perbandingan antar sisi, penggunaan stimulator genggam mungkin lebih mudah.
• Gambar 56-A menunjukkan stimulasi dengan elektroda bar karena saraf ini sering diperiksa dengan stimulasi berulang. Penggunaan elektroda bar lebih praktis dibandingkan memegang stimulator sepanjang prosedur.
• Jika elektroda bar mudah bergeser akibat kurang stabil, penggunaan stimulator genggam dapat lebih efektif karena dapat diposisikan lebih stabil di atas saraf.

Parameter Studi Hantaran Saraf Motorik Aksilaris
Filter frekuensi tinggi (Hicut): 10 kHz
Filter frekuensi rendah (Locut): 10 Hz
Kecepatan sapuan: 2–5 ms/div
Sensitivitas/Penguatan: 2000–5000 µV/div
Durasi: 0,2 ms

E-3) Saraf Motorik Aksilaris Menggunakan Elektroda Disk
(Gambar 57 dan 58)

Perekaman: Otot deltoid
G1: Di atas perut otot
G2: Ditempatkan distal di luar otot
G0: Pada prosesus akromion (ujung lateral klavikula)
S1: Titik Erb

Nilai normal:
Latensi: Perbandingan sisi kanan dan kiri
Amplitudo: Perbandingan sisi kanan dan kiri

Gambar 57
Stimulasi motorik aksilaris menggunakan stimulator monopolar pada otot deltoid.

Gambar 58
CMAP motorik aksilaris dari deltoid dengan stimulasi pada titik Erb.

Masalah 39: Kesulitan Mendapatkan Compound Muscle Action Potential (CMAP) pada Saraf Aksilaris

Solusi 39
• Umumnya lebih mudah melakukan studi hantaran ini dengan pasien dalam posisi duduk.
• Minta pasien mengabduksi lengan melawan tahanan untuk menemukan perut otot deltoid, lalu tempatkan elektroda G1 pada massa otot dan elektroda G2 secara distal di luar otot.
• Gunakan stimulator monopolar dengan mengganti anoda menggunakan satu elektroda disk. Intensitas mungkin perlu ditingkatkan dan durasi diperpanjang untuk memperoleh respons supramaksimal.
• Bandingkan dengan sisi lainnya.

Parameter Studi Refleks Kedip
Filter frekuensi tinggi (Hicut): 5 kHz
Filter frekuensi rendah (Locut): 10 Hz
Sapuan: 10 ms/div
Penguatan/Sensitivitas: 100–500 µV/div
Durasi: 0,1 ms

E-4) Refleks Kedip Menggunakan Elektroda Disk (Gambar 59 dan 60)

Perekaman: Otot orbicularis oculi (OOC) secara bilateral. Diperlukan dua set elektroda disk dan menggunakan kanal satu serta kanal dua. Jika menggunakan instrumen Cadwell Sierra Wave, hubungkan elektroda sisi kiri ke kanal satu dan sisi kanan ke kanal dua. Lakukan stimulasi sisi kiri terlebih dahulu.

G1: Di atas otot orbicularis oculi sejajar langsung dengan pupil
G2: Ditempatkan pada kanthus lateral mata secara bilateral
G0: Ditempatkan pada dahi atau dagu
S1: Insisura supraorbital (SON) / alis medial: menstimulasi cabang supraorbital saraf trigeminus

Nilai normal:
Latensi R1 ipsilateral: < 13 ms (perbedaan sisi < 1,2 ms)
Latensi R2 ipsilateral: < 41 ms (perbedaan sisi < 5 ms)
Latensi R2 kontralateral: < 44 ms (perbedaan sisi < 7 ms)

Gambar 59
Pengaturan refleks kedip dengan stimulasi saraf supraorbital pada SON/alis medial.

Gambar 60
Respons kedip: perekaman bilateral yang diperoleh dari stimulasi saraf trigeminus pada insisura supraorbital

Bagian atas (a & b): Stimulasi sisi kiri
a. R1 ipsilateral dengan respons R2 ipsilateral
b. Respons R2 kontralateral

Bagian bawah (c & d): Stimulasi sisi kanan
c. R1 ipsilateral dengan respons R2 ipsilateral
d. Respons R2 kontralateral

Masalah 40: Kesulitan Mendapatkan Respons Kedip

Solusi 40
• Pastikan area dibersihkan secara lembut dengan alkohol sebelum pemasangan elektroda.
• Gunakan potongan kecil plester untuk menahan elektroda G1 di atas otot orbicularis oculi, tepat distal dari garis pupil.
• Elektroda G2 ditempatkan pada kanthus lateral mata.
• Lakukan stimulasi pada insisura supraorbital tepat di medial alis.
• Stimulator pediatrik dapat digunakan untuk pemeriksaan refleks kedip.
• Beberapa stimulator memungkinkan ujung elektroda didekatkan untuk menghasilkan stimulator yang lebih kecil.
• Stimulator pada Gambar 59 memungkinkan anoda dilepas dan dipasang kembali sehingga menjadi stimulator pediatrik.

• Usahakan pasien tetap rileks semaksimal mungkin untuk menghilangkan artefak otot yang dapat mengaburkan respons.
• Minta pasien berkedip, kemudian segera lakukan stimulasi setelahnya, yang dapat membantu memicu respons.
• Pastikan memberi jeda beberapa detik antar rangsangan untuk mencegah habituasi (pasien terbiasa terhadap respons).
• Temuan normal adalah R1 ipsilateral, serta R2 ipsilateral dan kontralateral.

F) Respons Lambat (Gambar 61 dan 62)

Parameter Studi Gelombang F:
Filter frekuensi tinggi (Hicut): 10 kHz
Filter frekuensi rendah (Locut): 20 Hz
Sapuan: 5 ms/div
Penguatan/Sensitivitas: 200–500 µV/div
Durasi: 0,2 ms

F-1) Respons Gelombang F dari Saraf Motorik Menggunakan Elektroda Disk

Perekaman: Dari otot distal yang dipilih
G1: Pada perut otot yang diperiksa
G2: Pada tonjolan tulang (area tidak aktif di luar otot)
G0: Di antara S1 dan G1
S1: Titik stimulasi distal dengan polaritas terbalik (anoda di distal)

Harus diperoleh 5–10 respons yang dapat direproduksi.

Nilai normal:
Latensi: Tibialis dan peroneal: ≤ 56 ms
Median: ≤ 31 ms
Ulnaris: ≤ 32 ms

Gambar 61
Perolehan respons gelombang F melalui stimulasi motorik tibialis

Gambar 62
Perekaman respons gelombang F melalui stimulasi motorik tibialis.

Masalah 41: Kesulitan Memunculkan Gelombang F dari Saraf Motorik

Solusi 41
• Jika CMAP normal telah diperoleh dari saraf motorik, maka gelombang F seharusnya juga dapat diperoleh.
• Gunakan manuver distraksi, misalnya pasien mengaitkan jari tangan dan mencoba menariknya terpisah sambil mengatupkan gigi (manuver Jendrassik atau manuver penguatan). Pasien juga dapat diminta menghitung mundur dari 100 atau mengangkat satu kaki untuk membantu memunculkan respons gelombang F.

• Pastikan respons F bersifat supramaksimal dengan terlebih dahulu memperoleh respons M yang supramaksimal.
• Gelombang F harus dapat direproduksi; umumnya diperoleh 5–10 respons. Jejak dapat ditampilkan secara berurutan (raster) atau ditumpangtindihkan (superimposisi). Jejak yang ditumpangtindihkan memudahkan penentuan latensi paling awal.
• Gelombang F biasanya lebih mudah diperoleh dari saraf tibialis dibanding peroneal, dan dari saraf ulnaris dibanding median. Dalam banyak kasus, pemeriksaan dari satu ekstremitas atas dan satu ekstremitas bawah sudah memadai; oleh karena itu, saraf ulnaris untuk ekstremitas atas dan tibialis untuk ekstremitas bawah dapat dipilih.
• Stimulasi tidak boleh dilakukan terlalu cepat. Beri jeda satu hingga dua detik antar stimulasi untuk mencegah habituasi.
• Tempatkan penanda latensi pada latensi minimum, kecuali laboratorium menggunakan nilai rata-rata.
• Gelombang F dapat dilakukan pada semua studi hantaran saraf motorik rutin. Untuk mengingatnya, gunakan mnemonik “Ford motor.” Gelombang F tidak dilakukan pada saraf sensorik.

Masalah 42: Bagaimana Jika Semua Gelombang F Terlihat Sama?

Solusi 42
• Gelombang F bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan latensi, sehingga diperlukan banyak respons.
• Jika semua respons identik, kemungkinan besar itu adalah refleks akson (Gambar 63).
• Tingkatkan intensitas untuk memastikan stimulasi telah mencapai supramaksimal.
• Stimulasi submaksimal dapat memunculkan refleks akson tetapi bukan gelombang F.

Gambar 63
Perekaman refleks akson dengan dan tanpa superimposisi jejak.
a. Refleks akson dengan jejak ditumpangtindihkan yang menunjukkan tidak adanya variasi ukuran, bentuk, dan amplitudo
b. Refleks akson tanpa superimposisi jejak

 

Parameter Studi Refleks H:
Filter frekuensi tinggi (Hicut): 10 kHz
Filter frekuensi rendah (Locut): 20 Hz
Sapuan: 5 ms/div
Penguatan/Sensitivitas: 2000 µV/div
Durasi: 1000 µsec

F-2) Refleks H Menggunakan Elektroda Disk (Gambar 64 dan 65)

Perekaman: Otot soleus
G1: Pada pertemuan otot gastroknemius medial dan lateral di bagian distal otot soleus
G2: Secara distal dekat tendon Achilles
G0: Pada tungkai, di antara S1 dan G1
S1: Fossa poplitea di atas saraf tibialis dengan polaritas terbalik (anoda di distal)

Nilai normal:
Latensi: Perbandingan sisi kanan dan kiri

Gambar 64
Demonstrasi refleks H yang menunjukkan respons M minimum dengan respons H maksimum pada enam jejak teratas, dan sebaliknya pada enam jejak terbawah.

Gambar 65
Stimulasi refleks H pada fossa poplitea dengan dan tanpa penguatan.
A: Stimulasi refleks H tanpa penguatan
B: Stimulasi refleks H dengan penguatan melalui plantar fleksi melawan tahanan (dengan meminta pasien “menginjak pedal gas”).

Masalah 43: Kesulitan Mendapatkan Respons H

Solusi 43
• Tingkatkan arus secara perlahan hingga terlihat gelombang M. Respons otot dari otot soleus akan muncul di sisi kiri layar. Setelah gelombang M terlihat, turunkan intensitas secara perlahan dan respons H akan muncul.
• Seiring mengecilnya gelombang M, gelombang H akan membesar.
• Perlu diingat:
M maksimum = H minimum; H maksimum = M minimum
• Jika gelombang H tidak muncul setelah gelombang M diperoleh dan intensitas telah diturunkan, gunakan teknik “penguatan”. Untuk itu, minta pasien berpura-pura “menginjak pedal gas”. Lakukan dengan meminta pasien menekan bagian depan kaki ke tangan pemeriksa, seolah-olah tangan tersebut adalah pedal gas.
• Pastikan tidak keliru membedakan gelombang F dengan gelombang H.
• Refleks H bersifat identik, sedangkan gelombang F bervariasi dalam ukuran, bentuk, latensi, dan amplitudo. Refleks H akan saling menumpuk secara identik.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait
The midday swim

GOLONGAN DARAH

Comments (0)

Leave a comment