[Buku Bahasa Indonesia] Atomic Habits - James Clear

HUKUM KEDUA
Jadikan Menarik
8
Cara Membuat Kebiasaan Menjadi Tak Tertahankan

Pada tahun 1940-an, seorang ilmuwan Belanda bernama Niko Tinbergen melakukan serangkaian eksperimen yang mengubah pemahaman kita tentang apa yang memotivasi perilaku. Tinbergen—yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel atas karyanya—sedang meneliti burung camar herring, burung abu-abu putih yang sering terlihat terbang di sepanjang pantai Amerika Utara.

Camar herring dewasa memiliki titik merah kecil pada paruhnya, dan Tinbergen memperhatikan bahwa anak-anak burung yang baru menetas akan mematuk titik tersebut setiap kali mereka ingin diberi makan. Untuk memulai salah satu eksperimennya, ia membuat sejumlah paruh tiruan dari karton, berupa kepala tanpa tubuh. Ketika induk burung sedang terbang menjauh dari sarang, ia mendekati sarang dan menyodorkan paruh-paruh tiruan itu kepada anak-anak burung. Paruh tersebut jelas tampak palsu, dan ia menduga anak-anak burung itu akan sepenuhnya menolaknya.

Namun ternyata, ketika anak-anak camar kecil itu melihat titik merah pada paruh karton tersebut, mereka mematuknya seolah-olah paruh itu benar-benar milik induk mereka sendiri. Mereka menunjukkan preferensi yang kuat terhadap titik merah tersebut—seakan-akan mereka telah diprogram secara genetik sejak lahir. Tak lama kemudian Tinbergen menemukan bahwa semakin besar titik merah itu, semakin cepat anak-anak burung mematuknya. Pada akhirnya, ia membuat paruh dengan tiga titik merah besar. Ketika ia meletakkannya di atas sarang, anak-anak burung itu menjadi sangat antusias. Mereka mematuk titik-titik merah kecil itu seakan-akan itulah paruh terbaik yang pernah mereka lihat.

Tinbergen dan rekan-rekannya menemukan perilaku serupa pada hewan lain. Misalnya, angsa greylag adalah burung yang membuat sarang di tanah. Terkadang, ketika induk angsa bergerak di sekitar sarang, salah satu telurnya terguling keluar dan berhenti di rumput di dekatnya. Setiap kali hal itu terjadi, angsa tersebut akan berjalan mendekati telur itu dan menggunakan paruh serta lehernya untuk menarik telur kembali ke dalam sarang.

Tinbergen menemukan bahwa angsa ini akan menarik benda bulat apa pun yang berada di dekatnya, seperti bola biliar atau bola lampu, kembali ke sarang. Semakin besar bendanya, semakin kuat responsnya. Bahkan ada seekor angsa yang bersusah payah mencoba menggulingkan bola voli kembali ke sarang lalu duduk di atasnya. Seperti anak camar yang secara otomatis mematuk titik merah, angsa greylag ini mengikuti aturan naluriah:

Jika aku melihat benda bulat di dekatku, aku harus menggulingkannya kembali ke sarang.
Semakin besar benda bulat itu, semakin keras aku harus berusaha mendapatkannya.

Seolah-olah otak setiap hewan telah diprogram dengan seperangkat aturan perilaku tertentu, dan ketika ia menemukan versi yang diperbesar atau dilebih-lebihkan dari aturan tersebut, sistem sarafnya langsung menyala seperti lampu pohon Natal. Para ilmuwan menyebut isyarat yang dilebih-lebihkan ini sebagai supernormal stimuli.

Supernormal stimulus adalah versi realitas yang diperkuat atau dibesar-besarkan—seperti paruh dengan tiga titik merah atau telur sebesar bola voli—yang menimbulkan respons yang lebih kuat daripada rangsangan normal.

Manusia juga rentan terhadap versi realitas yang dilebih-lebihkan. Makanan cepat saji, misalnya, mampu membuat sistem penghargaan di otak kita bekerja sangat aktif. Setelah ratusan ribu tahun berburu dan mengumpulkan makanan di alam liar, otak manusia berevolusi untuk sangat menghargai garam, gula, dan lemak. Makanan-makanan ini biasanya padat kalori dan dahulu sangat jarang ditemukan ketika nenek moyang kita hidup di padang savana. Ketika Anda tidak tahu dari mana makanan berikutnya akan datang, makan sebanyak mungkin merupakan strategi bertahan hidup yang sangat efektif.

Namun saat ini kita hidup di lingkungan yang kaya kalori. Makanan berlimpah, tetapi otak kita masih menginginkannya seolah-olah makanan itu langka. Memberi nilai tinggi pada garam, gula, dan lemak tidak lagi menguntungkan bagi kesehatan kita, tetapi keinginan tersebut tetap bertahan karena pusat penghargaan otak hampir tidak berubah selama sekitar lima puluh ribu tahun. Industri makanan modern memanfaatkan naluri Paleolitik kita jauh melampaui tujuan evolusionernya.

Salah satu tujuan utama ilmu pangan adalah menciptakan produk yang semakin menarik bagi konsumen. Hampir setiap makanan dalam kemasan—baik di kantong, kotak, maupun botol—telah ditingkatkan daya tariknya, setidaknya dengan tambahan perasa. Perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk menemukan tingkat kerenyahan yang paling memuaskan pada keripik kentang atau jumlah gelembung yang sempurna pada minuman soda. Bahkan ada departemen khusus yang didedikasikan untuk mengoptimalkan bagaimana produk terasa di dalam mulut, kualitas yang dikenal sebagai orosensation.

Kentang goreng, misalnya, adalah kombinasi yang sangat kuat: cokelat keemasan dan renyah di luar, tetapi lembut dan halus di dalam.

Makanan olahan lainnya meningkatkan apa yang disebut dynamic contrast, yaitu kombinasi sensasi yang berbeda dalam satu makanan—misalnya renyah sekaligus lembut. Bayangkan keju leleh yang lengket di atas kerak pizza yang renyah, atau kerenyahan biskuit Oreo yang berpadu dengan isi krim yang lembut.

Pada makanan alami yang tidak diproses, Anda cenderung merasakan sensasi yang sama berulang kali—bagaimana rasanya gigitan kale yang ketujuh belas? Setelah beberapa menit, otak kehilangan minat dan Anda mulai merasa kenyang. Namun makanan dengan dynamic contrast membuat pengalaman makan tetap terasa baru dan menarik, sehingga mendorong Anda untuk terus makan.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Pada akhirnya, strategi-strategi ini memungkinkan ilmuwan pangan menemukan apa yang disebut “bliss point” untuk setiap produk—yaitu kombinasi garam, gula, dan lemak yang paling tepat untuk memicu kesenangan di otak dan membuat Anda terus kembali mengonsumsinya. Akibatnya, kita sering makan berlebihan karena makanan yang sangat menggugah selera (hyperpalatable foods) jauh lebih menarik bagi otak manusia. Seperti yang dikatakan oleh Stephan Guyenet, seorang ahli saraf yang meneliti perilaku makan dan obesitas:

“Kita telah menjadi terlalu ahli dalam menekan tombol kesenangan kita sendiri.”

Industri makanan modern—dan kebiasaan makan berlebihan yang ditimbulkannya—hanyalah salah satu contoh dari Hukum ke-2 Perubahan Perilaku: Jadikan Menarik.

Semakin menarik suatu peluang, semakin besar kemungkinan ia menjadi kebiasaan.

Lihatlah sekeliling Anda. Masyarakat modern dipenuhi dengan versi realitas yang telah direkayasa agar lebih menarik daripada dunia tempat nenek moyang kita berevolusi.

Toko-toko memajang manekin dengan pinggul dan dada yang dilebih-lebihkan untuk menjual pakaian. Media sosial memberikan lebih banyak “like” dan pujian dalam beberapa menit daripada yang mungkin kita dapatkan di kantor atau di rumah. Pornografi daring menggabungkan adegan-adegan yang sangat merangsang dengan kecepatan yang mustahil terjadi dalam kehidupan nyata. Iklan dibuat dengan pencahayaan sempurna, riasan profesional, dan penyuntingan Photoshop—bahkan modelnya sendiri tidak tampak seperti dirinya dalam gambar akhir.

Semua itu adalah supernormal stimuli dunia modern. Mereka memperbesar ciri-ciri yang secara alami menarik bagi kita, dan akibatnya naluri kita menjadi sangat aktif—mendorong kita ke dalam kebiasaan belanja berlebihan, penggunaan media sosial berlebihan, konsumsi pornografi, makan berlebihan, dan banyak kebiasaan lainnya.

Jika sejarah menjadi petunjuk, peluang di masa depan akan semakin menarik dibandingkan hari ini. Kecenderungannya adalah bahwa imbalan akan semakin terkonsentrasi dan rangsangan semakin menggoda.

Makanan cepat saji adalah bentuk kalori yang lebih terkonsentrasi dibandingkan makanan alami. Minuman keras adalah bentuk alkohol yang lebih terkonsentrasi dibandingkan bir. Video game adalah bentuk permainan yang lebih terkonsentrasi dibandingkan permainan papan.

Dibandingkan dengan alam, pengalaman yang sarat kesenangan seperti ini sangat sulit ditolak. Kita memiliki otak nenek moyang, tetapi menghadapi godaan yang tidak pernah mereka alami.

Jika Anda ingin meningkatkan kemungkinan suatu perilaku terjadi, maka Anda harus membuatnya menarik.

Sepanjang pembahasan tentang Hukum ke-2, tujuan kita adalah mempelajari cara membuat kebiasaan menjadi tak tertahankan. Walaupun tidak mungkin mengubah setiap kebiasaan menjadi supernormal stimulus, kita tetap dapat membuat kebiasaan apa pun menjadi lebih menggoda.

Untuk melakukannya, kita harus mulai dengan memahami apa itu craving (dorongan keinginan) dan bagaimana ia bekerja.

Kita akan memulainya dengan meneliti ciri biologis yang dimiliki semua kebiasaan—lonjakan dopamin (dopamine spike).

LOOP UMPAN BALIK YANG DIGERAKKAN DOPAMIN

Para ilmuwan dapat melacak momen yang sangat tepat ketika sebuah hasrat muncul dengan mengukur suatu neurotransmiter yang disebut dopamin.* Pentingnya dopamin mulai disadari pada tahun 1954 ketika para ahli saraf James Olds dan Peter Milner melakukan sebuah eksperimen yang mengungkap proses neurologis di balik hasrat dan keinginan. Dengan menanamkan elektroda pada otak tikus, para peneliti itu menghambat pelepasan dopamin. Di luar dugaan para ilmuwan, tikus-tikus tersebut kehilangan seluruh kehendak untuk hidup. Mereka tidak mau makan. Mereka tidak mau kawin. Mereka tidak menginginkan apa pun. Dalam beberapa hari, hewan-hewan itu mati karena kehausan.

Dalam penelitian lanjutan, para ilmuwan lain juga menghambat bagian otak yang melepaskan dopamin, tetapi kali ini mereka meneteskan butiran kecil gula ke dalam mulut tikus yang kekurangan dopamin tersebut. Wajah kecil para tikus itu seketika berseri dengan senyum kenikmatan dari rasa manis yang mereka kecap. Meskipun dopamin diblokir, mereka tetap menyukai gula sama seperti sebelumnya; hanya saja mereka tidak lagi menginginkannya. Kemampuan untuk merasakan kenikmatan tetap ada, tetapi tanpa dopamin, keinginan pun mati. Dan tanpa keinginan, tindakan berhenti.

Ketika para peneliti lain membalik proses ini dan membanjiri sistem penghargaan di otak dengan dopamin, hewan-hewan itu melakukan kebiasaan dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam sebuah penelitian, tikus menerima lonjakan dopamin yang kuat setiap kali mereka menyodokkan hidungnya ke dalam sebuah kotak. Dalam hitungan menit, tikus-tikus itu mengembangkan hasrat yang begitu kuat hingga mereka mulai menyodokkan hidung ke dalam kotak tersebut delapan ratus kali per jam. (Manusia tidak jauh berbeda: rata-rata pemain mesin slot akan memutar roda enam ratus kali per jam.)

Kebiasaan adalah sebuah loop umpan balik yang digerakkan oleh dopamin. Setiap perilaku yang sangat mudah menjadi kebiasaan—mengonsumsi narkoba, memakan makanan cepat saji, bermain video gim, menjelajahi media sosial—berkaitan dengan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Hal yang sama berlaku pula bagi perilaku kebiasaan paling mendasar kita seperti makan, minum, berhubungan seks, dan berinteraksi secara sosial.

Selama bertahun-tahun para ilmuwan mengira dopamin semata-mata berkaitan dengan kenikmatan, tetapi kini kita mengetahui bahwa zat ini memainkan peran sentral dalam banyak proses neurologis, termasuk motivasi, pembelajaran dan memori, hukuman dan penghindaran, serta gerakan sukarela.

Dalam kaitannya dengan kebiasaan, pelajaran pentingnya adalah ini: dopamin dilepaskan bukan hanya ketika Anda mengalami kenikmatan, tetapi juga ketika Anda mengantisipasinya. Para pecandu judi mengalami lonjakan dopamin tepat sebelum mereka memasang taruhan, bukan setelah mereka menang. Para pecandu kokain mengalami gelombang dopamin ketika mereka melihat serbuknya, bukan setelah mereka mengonsumsinya. Setiap kali Anda memprediksi bahwa suatu peluang akan memberikan ganjaran, tingkat dopamin Anda akan melonjak sebagai bentuk antisipasi. Dan setiap kali dopamin meningkat, motivasi Anda untuk bertindak pun meningkat.

Bukan pemenuhan ganjaran yang mendorong kita bertindak, melainkan antisipasi terhadapnya.

Menariknya, sistem penghargaan yang diaktifkan di otak ketika Anda menerima ganjaran adalah sistem yang sama yang diaktifkan ketika Anda mengantisipasi ganjaran tersebut. Inilah salah satu alasan mengapa menantikan sebuah pengalaman sering kali terasa lebih menyenangkan daripada benar-benar mengalaminya. Sewaktu kecil, membayangkan pagi hari Natal dapat terasa lebih menyenangkan daripada membuka hadiah-hadiah itu sendiri. Saat dewasa, melamun tentang liburan yang akan datang dapat terasa lebih menyenangkan daripada benar-benar berada di dalam liburan itu. Para ilmuwan menyebut perbedaan ini sebagai perbedaan antara “menginginkan” (wanting) dan “menyukai” (liking).

LONJAKAN DOPAMIN

GAMBAR 9: Sebelum suatu kebiasaan dipelajari (A), dopamin dilepaskan ketika ganjaran dialami untuk pertama kalinya. Pada kesempatan berikutnya (B), dopamin meningkat sebelum tindakan diambil, segera setelah suatu isyarat dikenali. Lonjakan ini menimbulkan rasa ingin dan dorongan kuat untuk bertindak setiap kali isyarat tersebut muncul. Setelah suatu kebiasaan dipelajari, dopamin tidak lagi meningkat ketika ganjaran dialami karena Anda sudah mengharapkannya. Namun, jika Anda melihat suatu isyarat dan mengharapkan ganjaran tetapi tidak mendapatkannya, maka dopamin akan menurun karena kekecewaan (C). Sensitivitas respons dopamin tampak jelas ketika sebuah ganjaran diberikan terlambat (D). Mula-mula, isyarat dikenali dan dopamin meningkat seiring tumbuhnya hasrat. Selanjutnya, sebuah respons dilakukan, tetapi ganjaran tidak datang secepat yang diharapkan sehingga dopamin mulai menurun. Akhirnya, ketika ganjaran itu datang sedikit lebih lambat daripada yang Anda harapkan, dopamin kembali melonjak. Seolah-olah otak berkata, “Lihat! Aku tahu aku benar. Jangan lupa mengulangi tindakan ini lain kali.”

Otak Anda memiliki jauh lebih banyak sirkuit saraf yang dialokasikan untuk menginginkan ganjaran daripada untuk menyukainya. Pusat-pusat keinginan di otak sangat luas: batang otak, nucleus accumbens, area tegmental ventral, striatum dorsal, amigdala, serta sebagian korteks prefrontal. Sebagai perbandingan, pusat-pusat kesukaan di otak jauh lebih kecil. Bagian ini sering disebut sebagai “titik panas hedonik” dan tersebar seperti pulau-pulau kecil di seluruh otak. Misalnya, para peneliti menemukan bahwa 100 persen nucleus accumbens aktif selama proses wanting. Sementara itu, hanya 10 persen dari struktur tersebut yang aktif selama proses liking.

Fakta bahwa otak mengalokasikan begitu banyak ruang berharga bagi wilayah yang bertanggung jawab atas hasrat dan keinginan memberikan bukti lebih lanjut tentang betapa krusialnya peran proses-proses ini. Keinginan adalah mesin yang menggerakkan perilaku. Setiap tindakan diambil karena adanya antisipasi yang mendahuluinya. Hasratlah yang menuntun pada respons.

Wawasan ini menyingkap pentingnya Hukum Kedua Perubahan Perilaku. Kita perlu menjadikan kebiasaan kita menarik, karena harapan akan pengalaman yang memberi ganjaranlah yang sejak awal memotivasi kita untuk bertindak. Di sinilah sebuah strategi yang dikenal sebagai temptation bundling berperan.

CARA MENGGUNAKAN TEMPTATION BUNDLING UNTUK MEMBUAT KEBIASAAN LEBIH MENARIK

Ronan Byrne, seorang mahasiswa teknik elektro di Dublin, Irlandia, gemar menonton Netflix, tetapi ia juga tahu bahwa ia seharusnya lebih sering berolahraga. Dengan memanfaatkan keterampilan tekniknya, Byrne meretas sepeda statis miliknya dan menghubungkannya dengan laptop serta televisinya. Lalu ia menulis sebuah program komputer yang membuat Netflix hanya dapat berjalan jika ia mengayuh sepeda pada kecepatan tertentu. Jika ia memperlambat kayuhan terlalu lama, tayangan apa pun yang sedang ia tonton akan berhenti sampai ia kembali mengayuh. Ia, dalam kata-kata salah satu penggemarnya, “menghapus obesitas satu maraton Netflix pada satu waktu.”

Ia juga sedang menerapkan temptation bundling untuk membuat kebiasaan berolahraganya lebih menarik. Temptation bundling bekerja dengan cara mengaitkan tindakan yang ingin Anda lakukan dengan tindakan yang perlu Anda lakukan. Dalam kasus Byrne, ia menggabungkan menonton Netflix (hal yang ingin ia lakukan) dengan mengayuh sepeda statisnya (hal yang perlu ia lakukan).

Perusahaan-perusahaan adalah ahli dalam menerapkan temptation bundling. Sebagai contoh, ketika American Broadcasting Company, yang lebih dikenal sebagai ABC, meluncurkan jajaran program televisi Kamis malam untuk musim 2014–2015, mereka mempromosikan temptation bundling dalam skala besar.

Setiap Kamis malam, perusahaan itu menayangkan tiga acara yang diciptakan oleh penulis skenario Shonda Rhimes—Grey’s Anatomy, Scandal, dan How to Get Away with Murder. Mereka memberi merek acara tersebut sebagai “TGIT on ABC” (TGIT adalah singkatan dari Thank God It’s Thursday).

Selain mempromosikan acara-acara itu, ABC juga mendorong para penonton untuk membuat popcorn, meminum anggur merah, dan menikmati malam mereka.

Andrew Kubitz, kepala penjadwalan ABC, menjelaskan gagasan di balik kampanye tersebut: “Kami melihat Kamis malam sebagai peluang penonton, baik pasangan maupun perempuan yang menonton sendiri, yang ingin duduk, melarikan diri sejenak, bersenang-senang, meminum anggur merah, dan menikmati popcorn.”

Kejeniusan strategi ini terletak pada fakta bahwa ABC mengaitkan hal yang mereka butuhkan dari penonton (menonton acara mereka) dengan aktivitas yang memang sudah ingin dilakukan oleh para penonton (bersantai, minum anggur, dan makan popcorn).

Seiring waktu, orang-orang mulai menghubungkan menonton ABC dengan perasaan santai dan terhibur. Jika Anda meminum anggur merah dan makan popcorn setiap Kamis pukul delapan malam, maka pada akhirnya “Kamis pukul delapan malam” akan berarti relaksasi dan hiburan. Ganjaran itu menjadi terkait dengan isyaratnya, dan kebiasaan menyalakan televisi pun menjadi semakin menarik.

Anda lebih mungkin menganggap suatu perilaku menarik jika pada saat yang sama Anda dapat melakukan salah satu hal favorit Anda. Mungkin Anda ingin mengikuti gosip selebritas terbaru, tetapi Anda perlu menjadi lebih bugar. Dengan menggunakan temptation bundling, Anda bisa hanya membaca tabloid dan menonton acara realitas saat berada di gym. Mungkin Anda ingin melakukan pedikur, tetapi Anda perlu membersihkan kotak masuk email Anda. Solusinya: lakukan pedikur hanya ketika Anda sedang memproses email pekerjaan yang tertunda.

Temptation bundling adalah salah satu cara menerapkan teori psikologi yang dikenal sebagai Prinsip Premack. Dinamai berdasarkan karya profesor David Premack, prinsip ini menyatakan bahwa “perilaku yang lebih mungkin dilakukan akan memperkuat perilaku yang kurang mungkin dilakukan.” Dengan kata lain, meskipun Anda sebenarnya tidak terlalu ingin memproses email pekerjaan yang tertunda, Anda akan terkondisikan untuk melakukannya jika hal itu berarti Anda dapat melakukan sesuatu yang benar-benar Anda inginkan pada saat yang sama.

Anda bahkan dapat menggabungkan temptation bundling dengan strategi habit stacking yang telah kita bahas dalam Bab 5 untuk menciptakan seperangkat aturan yang membimbing perilaku Anda.

Rumus habit stacking + temptation bundling adalah:

  1. Setelah [KEBIASAAN SAAT INI], saya akan [KEBIASAAN YANG SAYA PERLUKAN].
  2. Setelah [KEBIASAAN YANG SAYA PERLUKAN], saya akan [KEBIASAAN YANG SAYA INGINKAN].

Jika Anda ingin membaca berita, tetapi Anda perlu lebih banyak mengekspresikan rasa syukur:

  1. Setelah saya mendapatkan kopi pagi saya, saya akan menyebutkan satu hal yang saya syukuri yang terjadi kemarin (perlu).
  2. Setelah saya menyebutkan satu hal yang saya syukuri, saya akan membaca berita (ingin).

Jika Anda ingin menonton olahraga, tetapi Anda perlu melakukan panggilan penjualan:

  1. Setelah saya kembali dari istirahat makan siang, saya akan menelepon tiga calon klien (perlu).
  2. Setelah saya menelepon tiga calon klien, saya akan membuka ESPN (ingin).

Jika Anda ingin memeriksa Facebook, tetapi Anda perlu lebih banyak berolahraga:

  1. Setelah saya mengeluarkan ponsel saya, saya akan melakukan sepuluh burpee (perlu).
  2. Setelah saya melakukan sepuluh burpee, saya akan memeriksa Facebook (ingin).

Harapannya adalah bahwa pada akhirnya Anda akan menantikan menelepon tiga klien atau melakukan sepuluh burpee karena hal itu berarti Anda dapat membaca berita olahraga terbaru atau memeriksa Facebook. Melakukan hal yang perlu Anda lakukan berarti Anda dapat melakukan hal yang Anda inginkan.

Kita memulai bab ini dengan membahas stimulus supernormal, yaitu versi realitas yang diperkuat yang meningkatkan hasrat kita untuk bertindak. Temptation bundling adalah salah satu cara untuk menciptakan versi yang diperkuat dari suatu kebiasaan dengan menghubungkannya dengan sesuatu yang memang sudah Anda inginkan. Merancang kebiasaan yang benar-benar tak tertahankan memang tugas yang sulit, tetapi strategi sederhana ini dapat digunakan untuk membuat hampir semua kebiasaan menjadi lebih menarik daripada sebelumnya.

Ringkasan Bab

  • Hukum Kedua Perubahan Perilaku adalah menjadikannya menarik.
  • Semakin menarik suatu peluang, semakin besar kemungkinan ia menjadi kebiasaan.
  • Kebiasaan adalah sebuah loop umpan balik yang digerakkan oleh dopamin. Ketika dopamin meningkat, motivasi kita untuk bertindak pun meningkat.
  • Yang mendorong kita bertindak bukanlah pemenuhan ganjaran, melainkan antisipasinya. Semakin besar antisipasi, semakin besar lonjakan dopamin.
  • Temptation bundling adalah salah satu cara untuk membuat kebiasaan lebih menarik. Strateginya adalah memasangkan tindakan yang ingin Anda lakukan dengan tindakan yang perlu Anda lakukan.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment