[Buku Bahasa Indonesia] Atomic Habits - James Clear
3
Cara Membangun Kebiasaan yang Lebih Baik dalam 4 Langkah Sederhana
Pada tahun 1898, seorang psikolog bernama Edward Thorndike melakukan sebuah eksperimen yang kemudian menjadi landasan bagi pemahaman kita tentang bagaimana kebiasaan terbentuk dan aturan-aturan yang mengarahkan perilaku kita. Thorndike tertarik mempelajari perilaku hewan, dan ia memulainya dengan kucing.
Ia menempatkan setiap kucing ke dalam sebuah alat yang dikenal sebagai puzzle box. Kotak tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga kucing dapat keluar melalui sebuah pintu “melalui suatu tindakan sederhana, seperti menarik sebuah lingkaran tali, menekan tuas, atau menginjak sebuah platform.” Misalnya, dalam salah satu kotak terdapat sebuah tuas yang, ketika ditekan, akan membuka pintu di sisi kotak. Setelah pintu terbuka, kucing dapat berlari keluar dan menuju semangkuk makanan.
Sebagian besar kucing ingin segera keluar begitu mereka ditempatkan di dalam kotak. Mereka akan menyodokkan hidung ke sudut-sudut, memasukkan kaki melalui celah-celah, dan mencakar benda-benda yang longgar. Setelah beberapa menit menjelajah, kucing itu kebetulan menekan tuas ajaib tersebut, pintu pun terbuka, dan mereka berhasil keluar.
Thorndike mencatat perilaku setiap kucing melalui banyak percobaan. Pada awalnya, hewan-hewan tersebut bergerak secara acak di dalam kotak. Namun begitu tuas telah ditekan dan pintu terbuka, proses pembelajaran pun dimulai. Secara bertahap, setiap kucing belajar mengaitkan tindakan menekan tuas dengan imbalan berupa keluar dari kotak dan memperoleh makanan.
Setelah dua puluh hingga tiga puluh percobaan, perilaku ini menjadi begitu otomatis dan habitual sehingga kucing dapat keluar hanya dalam beberapa detik. Sebagai contoh, Thorndike mencatat:
“Kucing 12 memerlukan waktu berikut untuk melakukan tindakan tersebut: 160 detik, 30 detik, 90 detik, 60, 15, 28, 20, 30, 22, 11, 15, 20, 12, 10, 14, 10, 8, 8, 5, 10, 8, 6, 6, 7.”
Pada tiga percobaan pertama, kucing itu keluar dengan rata-rata waktu 1,5 menit. Pada tiga percobaan terakhir, ia keluar dengan rata-rata waktu 6,3 detik. Dengan latihan, setiap kucing melakukan semakin sedikit kesalahan dan tindakannya menjadi lebih cepat serta lebih otomatis. Alih-alih mengulangi kesalahan yang sama, kucing mulai langsung menuju solusi.
Dari penelitiannya, Thorndike menggambarkan proses belajar dengan menyatakan bahwa “perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang memuaskan cenderung diulangi, sedangkan perilaku yang menghasilkan konsekuensi yang tidak menyenangkan cenderung tidak diulangi.”
Karyanya memberikan titik awal yang sempurna untuk membahas bagaimana kebiasaan terbentuk dalam kehidupan kita sendiri. Penelitian itu juga memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar seperti: Apa itu kebiasaan? Dan mengapa otak bersusah payah membangunnya?
Mengapa Otak Anda Membangun Kebiasaan
Kebiasaan adalah perilaku yang telah diulang cukup sering sehingga menjadi otomatis.
Proses pembentukan kebiasaan dimulai melalui coba-coba (trial and error). Setiap kali Anda menghadapi situasi baru dalam hidup, otak Anda harus membuat keputusan: Bagaimana saya harus merespons? Pertama kali Anda menghadapi suatu masalah, Anda belum tahu bagaimana menyelesaikannya. Seperti kucing dalam eksperimen Thorndike, Anda hanya mencoba berbagai hal untuk melihat mana yang berhasil.
Pada periode ini, aktivitas neurologis di otak sangat tinggi. Anda dengan cermat menganalisis situasi dan membuat keputusan sadar tentang bagaimana harus bertindak. Anda menyerap banyak informasi baru dan berusaha memahaminya. Otak sedang sibuk mempelajari tindakan yang paling efektif.
Sesekali, seperti kucing yang menekan tuas, Anda secara tidak sengaja menemukan sebuah solusi.
Anda merasa cemas, lalu menyadari bahwa berlari membuat Anda tenang.
Anda lelah secara mental setelah seharian bekerja, lalu menemukan bahwa bermain video game membuat Anda rileks.
Anda terus menjelajah, mencoba, mencoba, mencoba—dan kemudian BAM—sebuah imbalan muncul.
Setelah Anda menemukan imbalan yang tak terduga, Anda mengubah strategi untuk kesempatan berikutnya. Otak Anda segera mulai mencatat peristiwa yang terjadi sebelum imbalan tersebut.
Tunggu sebentar—itu terasa menyenangkan. Apa yang saya lakukan tepat sebelum itu terjadi?
Inilah lingkar umpan balik di balik seluruh perilaku manusia:
mencoba → gagal → belajar → mencoba dengan cara berbeda.
Dengan latihan, gerakan yang tidak berguna akan menghilang dan tindakan yang berguna akan diperkuat. Di situlah kebiasaan mulai terbentuk.
Setiap kali Anda menghadapi masalah yang sama berulang kali, otak Anda mulai mengotomatiskan proses penyelesaiannya. Kebiasaan Anda hanyalah serangkaian solusi otomatis untuk masalah dan tekanan yang Anda hadapi secara rutin.
Seperti yang ditulis ilmuwan perilaku Jason Hreha:
“Kebiasaan pada dasarnya adalah solusi yang andal untuk masalah yang berulang dalam lingkungan kita.”
Ketika kebiasaan terbentuk, tingkat aktivitas di otak menurun. Anda belajar memusatkan perhatian pada isyarat yang memprediksi keberhasilan dan mengabaikan hal-hal lainnya. Ketika situasi serupa muncul di masa depan, Anda langsung tahu apa yang harus dicari. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menganalisis setiap kemungkinan.
Otak Anda melewati proses coba-coba dan menciptakan sebuah aturan mental:
“Jika ini terjadi, maka lakukan itu.”
Skrip kognitif ini dapat dijalankan secara otomatis ketika situasi yang sesuai muncul.
Kini, setiap kali Anda merasa stres, Anda terdorong untuk berlari.
Begitu Anda pulang kerja, Anda langsung mengambil kontroler video game.
Pilihan yang dulu memerlukan usaha kini menjadi otomatis.
Sebuah kebiasaan telah terbentuk.
Kebiasaan adalah jalan pintas mental yang dipelajari dari pengalaman. Dalam arti tertentu, kebiasaan hanyalah ingatan tentang langkah-langkah yang sebelumnya Anda gunakan untuk menyelesaikan suatu masalah.
Ketika kondisi yang sama muncul, Anda dapat mengambil ingatan tersebut dan secara otomatis menerapkan solusi yang sama. Alasan utama otak mengingat masa lalu adalah untuk memprediksi apa yang akan berhasil di masa depan.
Pembentukan kebiasaan sangat berguna karena pikiran sadar adalah bottleneck otak. Ia hanya mampu memusatkan perhatian pada satu masalah dalam satu waktu. Karena itu, otak selalu berusaha menjaga perhatian sadar Anda untuk tugas yang paling penting.
Jika memungkinkan, pikiran sadar akan mendelegasikan tugas kepada pikiran bawah sadar agar dijalankan secara otomatis.
Itulah yang terjadi ketika kebiasaan terbentuk.
Kebiasaan mengurangi beban kognitif dan membebaskan kapasitas mental sehingga Anda dapat mengalokasikan perhatian pada tugas lain.
Apakah Kebiasaan Mengurangi Kebebasan?
Meski sangat efisien, sebagian orang masih meragukan manfaat kebiasaan. Argumennya sering berbunyi seperti ini:
“Apakah kebiasaan akan membuat hidup saya membosankan?
Saya tidak ingin terjebak dalam rutinitas yang tidak saya nikmati.
Bukankah terlalu banyak rutinitas akan menghilangkan spontanitas hidup?”
Tidak juga.
Pertanyaan seperti itu menciptakan dikotomi palsu. Seolah-olah Anda harus memilih antara membangun kebiasaan atau memperoleh kebebasan. Padahal, keduanya justru saling melengkapi.
Kebiasaan tidak membatasi kebebasan.
Sebaliknya, kebiasaan menciptakan kebebasan.
Faktanya, orang yang tidak memiliki kebiasaan yang baik sering kali memiliki kebebasan paling sedikit.
- Tanpa kebiasaan finansial yang baik, Anda akan selalu mengejar uang berikutnya.
- Tanpa kebiasaan kesehatan yang baik, Anda akan selalu kekurangan energi.
- Tanpa kebiasaan belajar yang baik, Anda akan selalu merasa tertinggal.
Jika Anda terus-menerus harus memutuskan hal-hal sederhana seperti:
- kapan harus berolahraga
- di mana harus menulis
- kapan harus membayar tagihan
maka waktu Anda untuk kebebasan menjadi jauh lebih sedikit.
Hanya dengan menyederhanakan dasar-dasar kehidupan, Anda dapat menciptakan ruang mental untuk berpikir bebas dan berkreasi.
Sebaliknya, ketika kebiasaan Anda sudah tertata dan hal-hal mendasar dalam hidup sudah tertangani, pikiran Anda bebas untuk fokus pada tantangan baru dan menguasai masalah berikutnya.
Membangun kebiasaan hari ini memungkinkan Anda melakukan lebih banyak hal yang Anda inginkan di masa depan.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Ilmu tentang Cara Kerja Kebiasaan
Proses membangun kebiasaan dapat dibagi menjadi empat langkah sederhana:
- Isyarat (cue)
- Keinginan (craving)
- Respons (response)
- Imbalan (reward)
Memecahnya ke dalam bagian-bagian mendasar ini membantu kita memahami apa itu kebiasaan, bagaimana kebiasaan bekerja, dan bagaimana cara memperbaikinya.
Semua kebiasaan selalu melalui empat tahap ini dalam urutan yang sama.
1. Isyarat (Cue)
Isyarat memicu otak Anda untuk memulai suatu perilaku. Isyarat merupakan sepotong informasi yang memprediksi adanya imbalan.
Nenek moyang prasejarah kita memperhatikan isyarat yang menunjukkan keberadaan imbalan utama seperti:
- makanan
- air
- seks
Saat ini, sebagian besar waktu kita digunakan untuk mempelajari isyarat yang memprediksi imbalan sekunder, seperti:
- uang dan ketenaran
- kekuasaan dan status
- pujian dan pengakuan
- cinta dan persahabatan
- kepuasan pribadi
Pikiran Anda terus-menerus menganalisis lingkungan internal dan eksternal untuk mencari petunjuk tentang di mana imbalan berada.
Karena isyarat adalah tanda pertama bahwa kita mendekati imbalan, maka secara alami ia memunculkan keinginan.
2. Keinginan (Craving)
Keinginan adalah kekuatan motivasi di balik setiap kebiasaan.
Tanpa motivasi atau keinginan—tanpa dorongan untuk berubah—tidak ada alasan bagi kita untuk bertindak.
Yang sebenarnya Anda inginkan bukanlah kebiasaannya, melainkan perubahan keadaan yang dihasilkan oleh kebiasaan tersebut.
Anda tidak menginginkan rokok; Anda menginginkan rasa lega yang diberikannya.
Anda tidak termotivasi untuk menyikat gigi; Anda menginginkan sensasi mulut yang bersih.
Anda tidak ingin menyalakan televisi; Anda ingin terhibur.
Setiap keinginan berkaitan dengan keinginan untuk mengubah keadaan batin Anda.
Namun, keinginan berbeda pada setiap orang.
Secara teori, informasi apa pun dapat memicu keinginan. Tetapi dalam praktiknya, orang tidak termotivasi oleh isyarat yang sama.
Bagi seorang penjudi, suara mesin slot bisa menjadi pemicu kuat yang menimbulkan gelombang keinginan. Bagi orang yang jarang berjudi, suara itu hanyalah kebisingan latar.
Isyarat tidak berarti apa-apa sampai ia ditafsirkan.
Pikiran, perasaan, dan emosi pengamatlah yang mengubah sebuah isyarat menjadi keinginan.
3. Respons (Response)
Respons adalah kebiasaan nyata yang Anda lakukan, yang bisa berupa pikiran maupun tindakan.
Apakah respons itu terjadi atau tidak tergantung pada dua hal:
- tingkat motivasi Anda
- tingkat kesulitan perilaku tersebut
Jika suatu tindakan membutuhkan usaha fisik atau mental yang lebih besar daripada yang bersedia Anda keluarkan, maka Anda tidak akan melakukannya.
Respons juga bergantung pada kemampuan Anda.
Kebiasaan hanya dapat terjadi jika Anda mampu melakukannya. Jika Anda ingin melakukan slam dunk dalam bola basket tetapi tidak bisa melompat cukup tinggi untuk mencapai ring, maka Anda tidak akan berhasil.
4. Imbalan (Reward)
Respons menghasilkan imbalan, dan imbalan adalah tujuan akhir dari setiap kebiasaan.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
- Isyarat adalah tentang menyadari adanya imbalan.
- Keinginan adalah tentang menginginkan imbalan.
- Respons adalah tentang memperoleh imbalan.
Kita mengejar imbalan karena dua alasan:
- Imbalan memuaskan kita
- Imbalan mengajari kita
Pertama, imbalan memuaskan keinginan Anda.
Makanan dan air memberi energi untuk bertahan hidup. Promosi memberi uang dan penghormatan. Tubuh yang bugar meningkatkan kesehatan dan peluang hubungan.
Namun manfaat yang paling segera adalah bahwa imbalan menghilangkan rasa keinginan dan memberikan kepuasan, setidaknya untuk sementara.
Kedua, imbalan mengajarkan kepada kita tindakan mana yang layak diingat untuk masa depan.
Otak Anda adalah detektor imbalan. Sepanjang hidup Anda, sistem saraf sensorik terus memantau tindakan mana yang memberi kesenangan dan memenuhi keinginan.
Perasaan senang dan kecewa adalah bagian dari mekanisme umpan balik yang membantu otak membedakan tindakan yang berguna dan yang tidak.
Imbalan menutup lingkaran umpan balik dan menyelesaikan siklus kebiasaan.
Jika suatu perilaku gagal pada salah satu dari empat tahap ini, maka ia tidak akan menjadi kebiasaan.
- Hilangkan isyarat, kebiasaan tidak akan pernah dimulai.
- Kurangi keinginan, motivasi tidak cukup untuk bertindak.
- Buat perilaku menjadi sulit, Anda tidak akan melakukannya.
- Jika imbalan tidak memuaskan, Anda tidak akan mengulanginya.
Tanpa tiga langkah pertama, perilaku tidak akan terjadi.
Tanpa keempatnya, perilaku tidak akan pernah diulang.
Lingkaran Kebiasaan (The Habit Loop)
GAMBAR 6: Empat tahap kebiasaan paling tepat digambarkan sebagai sebuah lingkaran umpan balik. Keempatnya membentuk siklus tanpa akhir yang terus berjalan setiap saat selama Anda hidup. Habit loop ini terus-menerus memindai lingkungan, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, mencoba berbagai respons, dan belajar dari hasilnya.
Singkatnya, isyarat memicu keinginan, yang memotivasi respons, yang kemudian memberikan imbalan, yang memuaskan keinginan dan pada akhirnya diasosiasikan dengan isyarat tersebut. Bersama-sama, keempat langkah ini membentuk lingkaran umpan balik neurologis—isyarat, keinginan, respons, imbalan; isyarat, keinginan, respons, imbalan—yang pada akhirnya memungkinkan Anda membentuk kebiasaan otomatis. Siklus ini dikenal sebagai habit loop atau lingkaran kebiasaan.
Proses empat langkah ini bukanlah sesuatu yang terjadi sesekali, melainkan lingkaran umpan balik tanpa akhir yang aktif setiap saat selama Anda hidup—bahkan saat ini. Otak terus memindai lingkungan, memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya, mencoba berbagai respons, dan belajar dari hasilnya. Seluruh proses ini berlangsung dalam sepersekian detik, dan kita menggunakannya berulang kali tanpa menyadari semua proses yang telah terjadi dalam momen sebelumnya.
Kita dapat membagi empat langkah ini menjadi dua fase:
fase masalah dan fase solusi.
Fase Masalah
- Isyarat (Cue)
- Keinginan (Craving)
Fase Solusi
- Respons (Response)
- Imbalan (Reward)
Semua perilaku didorong oleh keinginan untuk memecahkan suatu masalah. Kadang-kadang masalahnya adalah Anda melihat sesuatu yang baik dan ingin mendapatkannya. Kadang-kadang masalahnya adalah Anda merasakan ketidaknyamanan atau rasa sakit dan ingin meredakannya. Apa pun bentuknya, tujuan dari setiap kebiasaan adalah menyelesaikan masalah yang Anda hadapi.
Pada tabel di halaman berikutnya, Anda dapat melihat beberapa contoh bagaimana proses ini terjadi dalam kehidupan nyata.
Bayangkan Anda memasuki ruangan gelap lalu menyalakan sakelar lampu. Anda telah melakukan kebiasaan sederhana ini begitu sering sehingga ia terjadi tanpa berpikir. Anda melewati keempat tahap tersebut dalam sepersekian detik. Dorongan untuk bertindak muncul secara otomatis.
Contoh Habit Loop dalam Kehidupan Sehari-hari
Fase Masalah
- Isyarat: Ponsel Anda bergetar menandakan ada pesan baru.
- Keinginan: Anda ingin mengetahui isi pesan tersebut.
Fase Solusi
- Respons: Anda mengambil ponsel dan membaca pesan.
- Imbalan: Keinginan Anda untuk mengetahui isi pesan terpenuhi. Mengambil ponsel menjadi diasosiasikan dengan bunyi notifikasi.
Fase Masalah
- Isyarat: Anda sedang membalas email.
- Keinginan: Anda mulai merasa stres dan kewalahan oleh pekerjaan. Anda ingin merasa lebih terkendali.
Fase Solusi
- Respons: Anda menggigit kuku.
- Imbalan: Keinginan untuk meredakan stres terpenuhi. Menggigit kuku menjadi diasosiasikan dengan membalas email.
Fase Masalah
- Isyarat: Anda bangun tidur.
- Keinginan: Anda ingin merasa lebih segar dan waspada.
Fase Solusi
- Respons: Anda minum secangkir kopi.
- Imbalan: Keinginan untuk merasa lebih waspada terpenuhi. Minum kopi menjadi diasosiasikan dengan bangun tidur.
Fase Masalah
- Isyarat: Anda mencium aroma toko donat saat berjalan di dekat kantor.
- Keinginan: Anda mulai menginginkan donat.
Fase Solusi
- Respons: Anda membeli dan memakan donat.
- Imbalan: Keinginan untuk memakan donat terpenuhi. Membeli donat menjadi diasosiasikan dengan berjalan di dekat kantor.
Fase Masalah
- Isyarat: Anda mengalami kebuntuan dalam proyek pekerjaan.
- Keinginan: Anda merasa frustrasi dan ingin meredakan perasaan tersebut.
Fase Solusi
- Respons: Anda mengambil ponsel dan memeriksa media sosial.
- Imbalan: Keinginan untuk merasa lega terpenuhi. Mengecek media sosial menjadi diasosiasikan dengan perasaan buntu saat bekerja.
Fase Masalah
- Isyarat: Anda masuk ke ruangan yang gelap.
- Keinginan: Anda ingin dapat melihat.
Fase Solusi
- Respons: Anda menekan sakelar lampu.
- Imbalan: Keinginan untuk melihat terpenuhi. Menyalakan lampu menjadi diasosiasikan dengan berada di ruangan gelap.
Pada saat kita mencapai usia dewasa, kita jarang menyadari kebiasaan-kebiasaan yang mengendalikan kehidupan kita. Kebanyakan dari kita tidak pernah memikirkan lagi fakta bahwa kita selalu mengikat sepatu yang sama terlebih dahulu setiap pagi, atau mencabut pemanggang roti setelah digunakan, atau selalu berganti ke pakaian yang lebih nyaman setelah pulang kerja. Setelah puluhan tahun pemrograman mental, kita secara otomatis masuk ke pola-pola berpikir dan bertindak tersebut.
Empat Hukum Perubahan Perilaku
Dalam bab-bab berikutnya, kita akan berulang kali melihat bagaimana empat tahap—isyarat, keinginan, respons, dan imbalan—memengaruhi hampir semua hal yang kita lakukan setiap hari. Namun sebelum itu, kita perlu mengubah empat langkah ini menjadi kerangka praktis yang dapat kita gunakan untuk merancang kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk.
Saya menyebut kerangka ini sebagai Empat Hukum Perubahan Perilaku (The Four Laws of Behavior Change), yang menyediakan seperangkat aturan sederhana untuk membangun kebiasaan baik dan memutus kebiasaan buruk.
Anda dapat menganggap setiap hukum sebagai tuas yang memengaruhi perilaku manusia. Ketika tuas-tuas ini berada pada posisi yang tepat, membangun kebiasaan baik menjadi mudah. Ketika posisinya salah, hal itu menjadi hampir mustahil.
Cara Membangun Kebiasaan Baik
Hukum 1 (Isyarat): Jadikan jelas (Make it obvious)
Hukum 2 (Keinginan): Jadikan menarik (Make it attractive)
Hukum 3 (Respons): Jadikan mudah (Make it easy)
Hukum 4 (Imbalan): Jadikan memuaskan (Make it satisfying)
Cara Menghentikan Kebiasaan Buruk
Kita dapat membalik hukum-hukum tersebut untuk mempelajari cara menghentikan kebiasaan buruk.
Pembalikan Hukum 1 (Isyarat): Jadikan tidak terlihat
Pembalikan Hukum 2 (Keinginan): Jadikan tidak menarik
Pembalikan Hukum 3 (Respons): Jadikan sulit
Pembalikan Hukum 4 (Imbalan): Jadikan tidak memuaskan
Tentu saja, akan tidak bertanggung jawab jika saya mengklaim bahwa empat hukum ini merupakan kerangka yang sepenuhnya lengkap untuk mengubah setiap perilaku manusia. Namun saya percaya bahwa kerangka ini sangat mendekati.
Seperti yang akan Anda lihat nanti, Empat Hukum Perubahan Perilaku dapat diterapkan di hampir setiap bidang—mulai dari olahraga hingga politik, seni hingga kedokteran, komedi hingga manajemen. Hukum-hukum ini dapat digunakan apa pun tantangan yang Anda hadapi. Tidak diperlukan strategi yang sepenuhnya berbeda untuk setiap kebiasaan.
Setiap kali Anda ingin mengubah perilaku, Anda cukup bertanya pada diri sendiri:
- Bagaimana saya dapat membuatnya jelas?
- Bagaimana saya dapat membuatnya menarik?
- Bagaimana saya dapat membuatnya mudah?
- Bagaimana saya dapat membuatnya memuaskan?
Jika Anda pernah bertanya:
- “Mengapa saya tidak melakukan apa yang saya katakan akan saya lakukan?”
- “Mengapa saya tidak berhasil menurunkan berat badan?”
- “Mengapa saya tidak berhenti merokok?”
- “Mengapa saya tidak menabung untuk masa pensiun?”
- “Mengapa saya tidak memulai bisnis sampingan?”
- “Mengapa saya mengatakan sesuatu itu penting tetapi tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukannya?”
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan di dalam empat hukum ini.
Kunci untuk membangun kebiasaan baik dan memutus kebiasaan buruk adalah memahami hukum-hukum dasar ini dan menyesuaikannya sesuai kebutuhan Anda. Setiap tujuan akan gagal jika bertentangan dengan sifat dasar manusia.
Kebiasaan Anda dibentuk oleh sistem dalam kehidupan Anda. Dalam bab-bab berikutnya, kita akan membahas hukum-hukum ini satu per satu dan menunjukkan bagaimana Anda dapat menggunakannya untuk menciptakan sistem di mana kebiasaan baik muncul secara alami dan kebiasaan buruk perlahan-lahan menghilang.
Ringkasan Bab
- Kebiasaan adalah perilaku yang telah diulang cukup sering hingga menjadi otomatis.
- Tujuan utama kebiasaan adalah menyelesaikan masalah kehidupan dengan energi dan usaha sekecil mungkin.
- Setiap kebiasaan dapat diuraikan menjadi lingkaran umpan balik yang terdiri dari empat langkah: isyarat, keinginan, respons, dan imbalan.
- Empat Hukum Perubahan Perilaku adalah seperangkat aturan sederhana untuk membangun kebiasaan yang lebih baik:
- Jadikan jelas
- Jadikan menarik
- Jadikan mudah
- Jadikan memuaskan.







Comments (0)