[Buku Bahasa Indonesia] How To Win Friends&Influence People-Dale Carnegie
BAB 5 : “Jalan Pintas Menuju Keunggulan”
Informasi biografis tentang Dale Carnegie ini ditulis sebagai pengantar untuk edisi asli buku How to Win Friends and Influence People. Tulisan ini dicetak kembali dalam edisi ini untuk memberikan latar belakang tambahan kepada para pembaca tentang Dale Carnegie.
Malam itu adalah malam Januari yang dingin pada tahun 1935, tetapi cuaca tidak mampu menghalangi mereka. Sebanyak dua ribu lima ratus pria dan wanita memadati ruang dansa besar di Hotel Pennsylvania di New York City.
Pada pukul setengah delapan malam, setiap kursi yang tersedia telah terisi penuh. Pada pukul delapan, kerumunan yang bersemangat masih terus berdatangan. Balkon yang luas segera penuh sesak. Bahkan tempat untuk berdiri pun segera menjadi sangat terbatas, dan ratusan orang—yang sudah lelah setelah seharian bekerja—tetap berdiri selama satu setengah jam malam itu untuk menyaksikan apa?
Peragaan busana?
Balap sepeda enam hari?
Atau kemunculan pribadi bintang film Clark Gable?
Bukan.
Orang-orang itu datang karena sebuah iklan di surat kabar. Dua malam sebelumnya mereka melihat pengumuman satu halaman penuh di New York Sun yang seolah menatap langsung ke arah mereka:
Belajar Berbicara Secara Efektif
Mempersiapkan Diri untuk Kepemimpinan
Hal lama? Ya. Tetapi percayalah atau tidak, di kota paling canggih di dunia, pada masa depresi ekonomi ketika 20 persen penduduk hidup dari bantuan sosial, dua ribu lima ratus orang meninggalkan rumah mereka dan bergegas ke hotel itu sebagai tanggapan terhadap iklan tersebut.
Orang-orang yang datang bukanlah masyarakat biasa. Mereka berasal dari lapisan ekonomi atas—para eksekutif, pengusaha, dan profesional.
Mereka datang untuk menyaksikan pembukaan kursus yang sangat modern dan sangat praktis tentang “Berbicara Efektif dan Mempengaruhi Orang dalam Bisnis.” Kursus itu diselenggarakan oleh Dale Carnegie Institute.
Mengapa Mereka Datang?
Mengapa dua ribu lima ratus orang bisnis dan profesional itu hadir?
Apakah karena depresi ekonomi membuat mereka tiba-tiba haus akan pendidikan tambahan?
Tampaknya tidak. Kursus yang sama telah diselenggarakan di New York setiap musim selama dua puluh empat tahun sebelumnya, selalu dengan ruangan penuh.
Selama waktu itu, lebih dari lima belas ribu orang bisnis dan profesional telah mengikuti pelatihan dari Dale Carnegie.
Bahkan organisasi besar yang terkenal hati-hati dan konservatif seperti:
-
Westinghouse Electric Company
-
McGraw-Hill
-
Brooklyn Union Gas Company
-
Brooklyn Chamber of Commerce
-
American Institute of Electrical Engineers
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
-
New York Telephone Company
telah mengadakan pelatihan ini di kantor mereka sendiri untuk para anggota dan eksekutifnya.
Fakta bahwa orang-orang ini—sepuluh atau dua puluh tahun setelah meninggalkan sekolah—masih datang untuk mengikuti pelatihan seperti ini merupakan kritik tajam terhadap kekurangan sistem pendidikan kita.
Apa yang Sebenarnya Ingin Dipelajari Orang Dewasa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, University of Chicago, American Association for Adult Education, dan YMCA melakukan penelitian selama dua tahun.
Hasilnya menarik.
Minat utama orang dewasa adalah kesehatan.
Minat kedua mereka adalah mengembangkan keterampilan dalam hubungan manusia—mereka ingin belajar cara bergaul dan mempengaruhi orang lain.
Mereka tidak ingin mendengarkan ceramah psikologi yang rumit.
Mereka ingin saran praktis yang dapat langsung digunakan dalam bisnis, pergaulan sosial, dan kehidupan rumah tangga.
Namun ketika para peneliti mencari buku pelajaran tentang topik ini, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Selama berabad-abad orang menulis buku ilmiah tentang bahasa Yunani, Latin, dan matematika tingkat tinggi—topik yang sebenarnya tidak terlalu diminati oleh kebanyakan orang dewasa.
Tetapi tentang hubungan manusia, topik yang sangat mereka butuhkan—hampir tidak ada buku praktis sama sekali.
Mengapa Ruangan Itu Penuh?
Inilah yang menjelaskan mengapa dua ribu lima ratus orang memadati ruang dansa Hotel Pennsylvania malam itu.
Mereka percaya bahwa akhirnya mereka menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari.
Di sekolah dan universitas, mereka pernah percaya bahwa pengetahuan saja adalah kunci keberhasilan.
Namun pengalaman di dunia kerja menunjukkan kenyataan lain.
Mereka melihat bahwa banyak kesuksesan besar dalam bisnis diraih oleh orang yang bukan hanya berpengetahuan, tetapi juga mampu:
-
berbicara dengan baik,
-
mempengaruhi cara berpikir orang lain,
-
dan “menjual” diri serta ide-idenya.
Mereka menyadari bahwa jika seseorang ingin memimpin kapal bisnis, maka kepribadian dan kemampuan berbicara jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui tata bahasa Latin atau memiliki ijazah dari Harvard.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Acara yang Penuh Energi
Iklan tersebut menjanjikan acara yang menghibur—dan memang benar.
Delapan belas orang yang pernah mengikuti kursus itu berdiri di depan pengeras suara. Lima belas di antaranya diberi waktu tepat tujuh puluh lima detik untuk menceritakan kisah mereka.
Hanya 75 detik.
Kemudian “Bang!” palu diketukkan dan ketua berkata:
“Waktu habis! Pembicara berikutnya!”
Acara itu bergerak dengan cepat—seperti kawanan kerbau yang berlari melintasi padang.
Para penonton berdiri selama satu setengah jam untuk menyaksikan pertunjukan itu.
Kisah Patrick J. O’Haire
Pembicara pertama bernama Patrick J. O’Haire, seorang imigran Irlandia yang hanya bersekolah selama empat tahun.
Ia datang ke Amerika, bekerja sebagai mekanik lalu sopir.
Ketika berusia empat puluh tahun dan memiliki keluarga besar, ia mencoba menjadi penjual truk. Namun ia memiliki rasa rendah diri yang sangat kuat. Ia bahkan harus berjalan bolak-balik di depan kantor beberapa kali sebelum berani membuka pintu.
Suatu hari ia menerima undangan untuk menghadiri pertemuan kursus Dale Carnegie.
Ia takut datang karena mengira akan bertemu banyak lulusan universitas.
Namun istrinya berkata:
“Pergilah, Pat. Siapa tahu ini bisa menolongmu.”
Awalnya ia sangat gugup ketika berbicara di depan orang lain.
Tetapi perlahan ia kehilangan rasa takutnya terhadap audiens—bahkan mulai menikmati berbicara di depan banyak orang.
Ia juga tidak lagi takut pada atasan. Ia mulai mengemukakan ide-idenya.
Tak lama kemudian ia dipromosikan ke bagian penjualan dan menjadi anggota perusahaan yang dihargai.
Malam itu di Hotel Pennsylvania, Patrick berdiri di depan 2.500 orang dan menceritakan kisah hidupnya dengan cara yang begitu lucu hingga gelombang tawa berkali-kali mengguncang ruangan.
Banyak pembicara profesional pun mungkin tidak dapat menandinginya.
Kisah Godfrey Meyer
Pembicara berikutnya adalah Godfrey Meyer, seorang bankir berambut abu-abu dengan sebelas anak.
Ketika pertama kali mencoba berbicara di kelas, ia benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun kisahnya menunjukkan bagaimana kepemimpinan sering datang kepada orang yang mampu berbicara.
Ia bekerja di Wall Street dan tinggal di Clifton, New Jersey, selama 25 tahun tanpa terlibat dalam kegiatan masyarakat.
Suatu hari ia menerima tagihan pajak yang menurutnya tidak adil. Biasanya ia hanya akan mengeluh di rumah.
Namun kali ini ia menghadiri rapat kota dan menyampaikan protesnya di depan umum.
Akibat pidato tersebut, warga Clifton mendorongnya untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan kota.
Selama berminggu-minggu ia berbicara di berbagai pertemuan, mengecam pemborosan dan pengeluaran kota yang berlebihan.
Ada sembilan puluh enam kandidat dalam pemilihan itu. Ketika suara dihitung, ternyata nama Godfrey Meyer berada di urutan teratas, melampaui semua kandidat lainnya. Hampir dalam semalam ia menjadi tokoh publik di antara empat puluh ribu penduduk komunitasnya.
Sebagai hasil dari pidato-pidatonya, dalam enam minggu ia mendapatkan delapan puluh kali lebih banyak teman daripada yang berhasil ia peroleh selama dua puluh lima tahun sebelumnya.
Gajinya sebagai anggota dewan kota berarti bahwa ia memperoleh pengembalian sebesar 1.000 persen per tahun atas investasinya mengikuti kursus Carnegie.
Kisah Pembicara Ketiga
Pembicara ketiga adalah kepala sebuah asosiasi nasional besar para produsen makanan. Ia menceritakan bagaimana dahulu ia tidak mampu berdiri dan menyampaikan gagasannya dalam rapat dewan direksi.
Namun setelah belajar berpikir cepat dan berbicara spontan, dua hal yang menakjubkan terjadi.
Ia segera diangkat menjadi presiden asosiasinya, dan dalam posisi tersebut ia harus berpidato dalam berbagai pertemuan di seluruh United States.
Kutipan dari pidato-pidatonya disiarkan melalui jaringan berita Associated Press dan dimuat di surat kabar serta majalah perdagangan di seluruh negeri.
Dalam waktu dua tahun, setelah belajar berbicara dengan lebih efektif, ia memperoleh publisitas gratis bagi perusahaannya dan produk-produknya lebih banyak daripada yang sebelumnya dapat ia peroleh dengan pengeluaran iklan langsung sebesar seperempat juta dolar.
Ia juga mengakui bahwa sebelumnya ia ragu untuk menelepon para eksekutif bisnis penting di Manhattan dan mengundang mereka makan siang.
Namun setelah memperoleh prestise melalui pidato-pidatonya, justru para eksekutif itulah yang meneleponnya, mengundangnya makan siang, dan bahkan meminta maaf karena telah menyita waktunya.
Kemampuan Berbicara: Jalan Pintas Menuju Keunggulan
Kemampuan berbicara adalah jalan pintas menuju keunggulan.
Kemampuan ini menempatkan seseorang di bawah sorotan, mengangkatnya lebih tinggi dari kerumunan.
Dan seseorang yang mampu berbicara dengan baik biasanya diberi penghargaan atas kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang sebenarnya ia miliki.
Gerakan pendidikan orang dewasa sedang menyapu seluruh negeri, dan kekuatan paling spektakuler dalam gerakan itu adalah Dale Carnegie—seorang pria yang telah mendengarkan dan mengkritik lebih banyak pidato orang dewasa daripada siapa pun.
Menurut sebuah kartun karya Robert Ripley dalam seri Ripley's Believe It or Not!, Dale Carnegie telah mengkritik 150.000 pidato.
Jika angka itu belum cukup mengesankan, ingatlah bahwa jumlah tersebut berarti satu pidato untuk hampir setiap hari sejak Christopher Columbus menemukan Amerika.
Atau dengan kata lain: jika semua orang yang berbicara di hadapannya masing-masing hanya berbicara tiga menit, dan muncul secara bergiliran tanpa henti, maka diperlukan sepuluh bulan penuh, siang dan malam, hanya untuk mendengarkan semuanya.
Kehidupan Dale Carnegie
Karier Dale Carnegie sendiri—yang penuh kontras tajam—merupakan contoh mencolok tentang apa yang dapat dicapai seseorang ketika ia terobsesi oleh gagasan orisinal dan dipenuhi semangat.
Ia lahir di sebuah pertanian di Missouri, sepuluh mil dari rel kereta api. Ia bahkan tidak pernah melihat trem sampai berusia dua belas tahun.
Namun ketika berusia empat puluh enam tahun, ia telah mengenal berbagai penjuru dunia—dari Hong Kong hingga Hammerfest—dan pada suatu waktu ia pernah berada lebih dekat ke Kutub Utara daripada markas Richard E. Byrd di Little America terhadap Kutub Selatan.
Anak desa Missouri yang dahulu memetik stroberi dan mencabuti gulma berduri dengan upah lima sen per jam ini kemudian menjadi pelatih bergaji tinggi bagi para eksekutif perusahaan besar dalam seni mengekspresikan diri.
Pria yang pernah menjadi koboi di South Dakota barat—menangani ternak, memberi cap pada anak sapi, dan memeriksa pagar peternakan—kemudian pergi ke London untuk mengadakan pertunjukan di bawah perlindungan keluarga kerajaan.
Orang yang gagal total beberapa kali pertama ketika mencoba berbicara di depan umum itu kemudian menjadi manajer pribadi saya.
Sebagian besar kesuksesan saya sendiri berasal dari pelatihan yang saya terima dari Dale Carnegie.
Masa Muda yang Penuh Kesulitan
Carnegie muda harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan.
Nasib buruk seolah terus menghantam pertanian keluarganya di Missouri barat laut. Tahun demi tahun Sungai 102 meluap, menenggelamkan ladang jagung dan menghanyutkan jerami.
Musim demi musim, babi-babi gemuk mereka mati karena kolera. Harga ternak jatuh, dan bank mengancam akan menyita tanah mereka.
Akhirnya keluarga itu menjual pertanian mereka dan membeli yang lain di dekat State Teachers’ College di Warrensburg, Missouri.
Biaya makan dan penginapan di kota hanya satu dolar per hari, tetapi Carnegie muda tidak mampu membayarnya.
Karena itu ia tetap tinggal di pertanian dan menunggang kuda sejauh tiga mil ke kampus setiap hari.
Di rumah ia:
-
memerah susu sapi
-
memotong kayu
-
memberi makan babi
-
dan mempelajari kata kerja Latin di bawah cahaya lampu minyak batu bara sampai matanya kabur.
Bahkan ketika ia tidur tengah malam, ia memasang alarm pukul tiga pagi.
Ayahnya memelihara babi ras Duroc-Jersey, dan pada malam musim dingin yang sangat dingin anak-anak babi bisa mati kedinginan.
Maka anak-anak babi itu dimasukkan ke dalam keranjang, ditutup karung, dan diletakkan di belakang kompor dapur.
Pada pukul tiga pagi, Carnegie harus bangun, membawa keranjang itu keluar agar anak babi menyusu pada induknya, lalu mengembalikannya lagi ke dekat kompor agar tetap hangat.
Mencari “Jalan Pintas Menuju Keunggulan”
Di kampus ada enam ratus mahasiswa, dan Carnegie termasuk segelintir mahasiswa yang terlalu miskin untuk tinggal di kota.
Ia merasa malu karena harus pulang ke pertanian setiap malam untuk memerah susu sapi. Ia juga malu pada mantelnya yang terlalu sempit dan celananya yang terlalu pendek.
Perasaan rendah diri mulai tumbuh dalam dirinya.
Karena itu ia mencari jalan pintas menuju keunggulan.
Ia segera menyadari bahwa mahasiswa yang memiliki pengaruh dan prestise adalah:
-
pemain sepak bola
-
pemain baseball
-
dan pemenang lomba debat serta pidato.
Karena ia tidak berbakat dalam olahraga, ia memutuskan untuk memenangkan lomba pidato.
Ia berlatih tanpa henti.
Ia berlatih saat menunggang kuda ke kampus,
saat memerah susu sapi,
dan bahkan berdiri di atas bal jerami di lumbung, berpidato dengan penuh semangat kepada burung-burung merpati yang ketakutan.
Namun meskipun berlatih keras, ia mengalami kekalahan demi kekalahan.
Pada usia delapan belas tahun, ia begitu putus asa hingga sempat berpikir untuk bunuh diri.
Baca Juga: Penemuan artefakUFO dan alien di Guanajuato
Tetapi kemudian tiba-tiba ia mulai menang—bukan hanya satu lomba, melainkan semua lomba pidato di kampus.
Mahasiswa lain memintanya melatih mereka—dan mereka pun menang.
Kursus itu pun berkembang. Cabang-cabang YMCA lainnya mulai mendengar tentangnya, lalu para pengamat dan kritikus pendidikan juga memperhatikannya.
Segera Dale Carnegie menjadi semacam “pengkhotbah keliling” modern yang berkeliling dari satu kota ke kota lain—mengajar di New York City, Philadelphia, Baltimore, dan kemudian bahkan hingga London serta Paris.
Semua buku teks yang tersedia saat itu ternyata terlalu akademis dan tidak praktis bagi para pelaku bisnis yang menghadiri kursusnya. Karena itulah Carnegie menulis bukunya sendiri yang berjudul Public Speaking and Influencing Men in Business.
Buku tersebut kemudian menjadi buku teks resmi bagi berbagai lembaga YMCA, serta digunakan oleh organisasi seperti:
-
American Bankers Association
-
National Association of Credit Men
Semua Orang Bisa Berbicara
Carnegie sering mengatakan bahwa setiap orang sebenarnya bisa berbicara ketika ia marah.
Ia pernah berkata bahwa jika Anda memukul orang paling tidak terpelajar di kota hingga jatuh, orang itu akan bangkit dan berbicara dengan kepiawaian, emosi, dan penekanan yang dapat menyaingi orator terkenal dunia William Jennings Bryan pada puncak kariernya.
Menurut Carnegie, hampir setiap orang dapat berbicara dengan baik di depan umum jika ia memiliki dua hal:
-
Kepercayaan diri, dan
-
Gagasan yang benar-benar bergolak di dalam pikirannya.
Cara Membangun Kepercayaan Diri
Menurut Carnegie, cara mengembangkan kepercayaan diri adalah:
melakukan hal yang kita takuti, lalu mengumpulkan pengalaman keberhasilan dari tindakan tersebut.
Karena itu, dalam kursusnya ia memaksa setiap peserta berbicara pada setiap sesi.
Para pendengar selalu bersimpati, karena mereka semua berada dalam situasi yang sama.
Melalui latihan yang terus-menerus, para peserta mengembangkan:
-
keberanian
-
kepercayaan diri
-
dan antusiasme
yang kemudian terbawa ke dalam kehidupan mereka sehari-hari ketika berbicara dengan orang lain.
Bukan Sekadar Mengajar Berbicara
Carnegie sendiri sering mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia tidak sebenarnya mencari nafkah dengan mengajarkan pidato di depan umum—itu hanyalah bagian kecil dari pekerjaannya.
Pekerjaan utamanya adalah:
membantu orang mengalahkan rasa takut dan mengembangkan keberanian.
Awalnya ia hanya berniat mengadakan kursus berbicara di depan umum.
Namun para peserta yang datang kebanyakan adalah pria dan wanita dunia bisnis. Banyak di antara mereka tidak pernah masuk ruang kelas selama tiga puluh tahun.
Sebagian besar bahkan membayar biaya kursus dengan sistem cicilan.
Mereka menginginkan hasil yang cepat—hasil yang dapat mereka gunakan keesokan harinya dalam:
-
wawancara bisnis
-
pertemuan kerja
-
atau pidato di depan kelompok.
Metode Pelatihan yang Unik
Karena itulah Carnegie terpaksa membuat metode yang cepat dan praktis.
Ia mengembangkan sebuah sistem pelatihan yang unik—sebuah kombinasi yang kuat antara:
-
pidato di depan umum,
-
keterampilan menjual,
-
hubungan manusia, dan
-
psikologi terapan.
Tanpa terikat oleh aturan kaku, ia menciptakan kursus yang senyata penyakit campak—dan dua kali lebih menyenangkan.
Dampak Kursusnya
Setelah kursus selesai, para lulusannya sering membentuk klub sendiri dan terus bertemu dua minggu sekali selama bertahun-tahun.
Sebuah kelompok beranggotakan sembilan belas orang di Philadelphia bahkan bertemu dua kali sebulan selama tujuh belas tahun.
Banyak peserta rela menempuh perjalanan lima puluh hingga seratus mil hanya untuk menghadiri kelas.
Seorang peserta bahkan setiap minggu pergi pulang dari Chicago ke New York City demi mengikuti kursus tersebut.
Potensi Manusia yang Terpendam
Psikolog terkenal William James dari Harvard University pernah mengatakan bahwa rata-rata manusia hanya mengembangkan sekitar 10 persen dari kemampuan mental terpendamnya.
Dengan membantu para pria dan wanita dunia bisnis mengembangkan potensi mereka yang tersembunyi, Dale Carnegie telah menciptakan salah satu gerakan paling penting dalam pendidikan orang dewasa.







Comments (0)